RSS

Monthly Archives: March 2013

Ojek: Pahlawan di Tengah Kemacetan

<pOjek>Menjadi seorang mobile worker menuntut saya berada di beberapa tempat sekaligus dalam satu hari. Menclok sana, menclok sini. Meeting di sana, presentasi di sini. Kalau sudah begini, hanya satu moda yang saya andalkan: Ojek! Sejenak lupakan taksi karena kemacetan Jakarta yang menggila. Taksi hanya digunakan saat badan sudah superlelah, jarak waktu antarmeeting di atas 2 jam, dan hujan lebat. Selebihnya saya memilih moda transportasi umum informal.

Dibilang informal karena ojek tak menggunakan plat kuning, seperti alat transportasi formal lainnya. Tak ada ijin resmi dari pemerintah danĀ  tak ada ijin untuk pengoperasiannya. Sepertinya, hanya di Jakarta saja saya bisa menemukan ojek. Mungkin karena faktor “keterpaksaan konsumen akibat buruknya transportasi umum dan kemacetan lalu lintas yang makin menggila”.

Soal harga juga tak ada standar pasti. Semua ditentukan dengan tawar menawar dan faktor kebiasaan. Kadang, harga yang mereka tawarkan bikin saya terkejut. Bukan terkejut karena mahalnya, tapi murahnya hehehehe.. Maklum, selama ini jadi miss taxi. Seperti kemarin, dari Slipi ke Cikini si abang tukang ojek buka harga Rp25.000. Waks, kalo naik taksi bisa dua sampe tiga kali lipatnya. Saya iyain aja deh. Toh, saya juga buru-buru. Naik taksi gak bakalan bisa keburu.

Tapi, soal buru-buru tak usah disampaikan ke abangnya. Lebih bijak bilang, “Ati-ati, ya bang” sebelum naik. Soalnya sekalinya kita bilang “Buruan, bang!” Mereka bakal berubah jadi Pembalap MotoGP. Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi, lewaattt.. Gas pol, nyelip-nyelip mobil yang lagi pasrah kena macet, dan kalo perlu nglawan arus. Sport jantung sebenar-benarnya (selain ikut kebut-kebutan Metromini).

Saya pernah tuh waktu mau liputan ke Medan Merdeka dari kantor di kawasan SCBD, saya bilang buru-buru ke abangnya. Bener sih gak sampai10 menit udah nyampe tujuan. Tapi, begitu turun dari motor saya gak bisa berdiri sempurna. Dengkul gemeteran hebat dan jantung serasa mau copot. Bisa jadi waktu itu saya masih trauma. Maklum, tiga bulan sebelumnya saya baru saja mengalami kecelakaan motor. Kesrempet Metromini. Pas jatuh sih gak kerasa, begitu juga pas keseret sekian meter, tapi setelahnya baru kerasa. Kejadian itu meninggalkan enam jahitan di wajah, gak berani diajakin ngebut (kalo pegang kendaraan sendiri malah berani), gak bisa lagi pake rok, dan –bisa jadi– tingkat kreativitas plus kadar kegendengan bertambah sejak saat itu. Hmmm..

Naik ojek itu seperti gambling. Kita gak bisa tau dapet tukang ojek yang doyan ngebut, asal-asalan bawanya, atau bijaksana. Karena di pangkalan ojek biasanya ada sistem urutan. Tapi, ada juga pangkalan ojek yang menggunakan sistem bebas, penumpang bisa asal tunjuk dan diantar ke tujuan. Dan, lagi-lagi di JCC, saya kemarin baru ketemu satu tukang ojek yang ngajak doa bersama dulu sebelum naik kendaraan. “Kita sama-sama berdoa ya mbak. Biar sama-sama slamet sampe tujuan,” katanya. Ah, jadi terharu..

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags:

Pak Bos yang Berwibawa

ImageSuatu hari, seorang pimpinan tertinggi sebuah perusahaan tiba-tiba melakukan sidak ke pabrik untuk melihat kinerja para pegawai. Di pabrik, ia menemukan seorang pria muda yang sehat dan bugar tengah duduk santai di lantai, dengan punggung bersandar ke dinding. Sementara di ruangan itu semua pegawai sedang sibuk bekerja.

Si bos segera menghampiri pria muda yang sedang bersantai itu. Si pemuda segera berdiri. Ia gugup melihat para petinggi perusahaan menuju ke arahnya.

“Berapa kau dapat penghasilan sebulan?” tanya pak bos dengan nada suara berat, menahan amarah.

“Du.. du.. dua juta per bulan, pak. Maaf, ada apa ya pak?” tanya si pemuda, kebingungan.

Tanpa banyak bicara, si bos segera mengeluarkan dompet dan mengambil pecahan Rp100.000-an. Ia lalu mengulurkan beberapa lembar kepada si pemuda. “Ini gajimu tiga bulan ke depan, Rp6 juta. Pesangonmu. Cepat keluar. Pergi dari sini. Awas, jangan kembali lagi!” kata si bos, bersungut-sungut.

Dengan gugup dan setengah takut, si pemuda itu segera meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak bicara dan tanpa menoleh ke belakang.

Lalu, dengan gesture dan wajah berwibawa, si bos mendekati pegawai lain yang menyaksikan adegan tersebut. Si bos berkata, “Itulah nasib karyawan yang bersantai di pabrik ini. Saya akan berhentikan saat ini juga. Tidak ada tawar menawar. Tidak ada ampun. Kalian semua mengerti?”

“Mengerti, pak” sahut para pegawai pabrik itu.

Kemudian si bos melanjutkan sidak. Ia kemudian bertanya kepada manajer pabrik yang sedari tadi berdiri mematung di sampingnya. “Anda tahu, dari divisi mana pemuda tadi?”

Semua hening. Dengan ragu-ragu, manajer itu berkata, “Dia tidak bekerja di sini, pak. Dia penjual es cendol keliling yang sedang menunggu gelasnya….”

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2013 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

17 Ways to Tie Shoes

Setelah berusaha mengukuhkan hati untuk tidak membeli dan mengenakan sneaker maskulin (biar keliatan perempuan gitu lho), ternyata hati saya gak kuat juga. Bulan lalu, saya bertandang ke toko sepatu sejuta umat. Dengan langkah gagah perkasa, saya segera menuju rak sepatu pria. Hanya butuh 3 menit untuk mengeksekusi pembelian. Aha! Mengapa sepatu cowok lebih nyaman dipake ya?

Dan, untuk melengkapi ke-error-an otak saya beberapa minggu terakhir, saya unggah postingan foto paling gak mutu: Tips Mengikat Tali Sepatu dengan 17 Gaya. Selamat mencoba!

Image

 
Leave a comment

Posted by on March 1, 2013 in How to..

 

Tags: