RSS

Ojek: Pahlawan di Tengah Kemacetan

09 Mar

<pOjek>Menjadi seorang mobile worker menuntut saya berada di beberapa tempat sekaligus dalam satu hari. Menclok sana, menclok sini. Meeting di sana, presentasi di sini. Kalau sudah begini, hanya satu moda yang saya andalkan: Ojek! Sejenak lupakan taksi karena kemacetan Jakarta yang menggila. Taksi hanya digunakan saat badan sudah superlelah, jarak waktu antarmeeting di atas 2 jam, dan hujan lebat. Selebihnya saya memilih moda transportasi umum informal.

Dibilang informal karena ojek tak menggunakan plat kuning, seperti alat transportasi formal lainnya. Tak ada ijin resmi dari pemerintah dan  tak ada ijin untuk pengoperasiannya. Sepertinya, hanya di Jakarta saja saya bisa menemukan ojek. Mungkin karena faktor “keterpaksaan konsumen akibat buruknya transportasi umum dan kemacetan lalu lintas yang makin menggila”.

Soal harga juga tak ada standar pasti. Semua ditentukan dengan tawar menawar dan faktor kebiasaan. Kadang, harga yang mereka tawarkan bikin saya terkejut. Bukan terkejut karena mahalnya, tapi murahnya hehehehe.. Maklum, selama ini jadi miss taxi. Seperti kemarin, dari Slipi ke Cikini si abang tukang ojek buka harga Rp25.000. Waks, kalo naik taksi bisa dua sampe tiga kali lipatnya. Saya iyain aja deh. Toh, saya juga buru-buru. Naik taksi gak bakalan bisa keburu.

Tapi, soal buru-buru tak usah disampaikan ke abangnya. Lebih bijak bilang, “Ati-ati, ya bang” sebelum naik. Soalnya sekalinya kita bilang “Buruan, bang!” Mereka bakal berubah jadi Pembalap MotoGP. Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi, lewaattt.. Gas pol, nyelip-nyelip mobil yang lagi pasrah kena macet, dan kalo perlu nglawan arus. Sport jantung sebenar-benarnya (selain ikut kebut-kebutan Metromini).

Saya pernah tuh waktu mau liputan ke Medan Merdeka dari kantor di kawasan SCBD, saya bilang buru-buru ke abangnya. Bener sih gak sampai10 menit udah nyampe tujuan. Tapi, begitu turun dari motor saya gak bisa berdiri sempurna. Dengkul gemeteran hebat dan jantung serasa mau copot. Bisa jadi waktu itu saya masih trauma. Maklum, tiga bulan sebelumnya saya baru saja mengalami kecelakaan motor. Kesrempet Metromini. Pas jatuh sih gak kerasa, begitu juga pas keseret sekian meter, tapi setelahnya baru kerasa. Kejadian itu meninggalkan enam jahitan di wajah, gak berani diajakin ngebut (kalo pegang kendaraan sendiri malah berani), gak bisa lagi pake rok, dan –bisa jadi– tingkat kreativitas plus kadar kegendengan bertambah sejak saat itu. Hmmm..

Naik ojek itu seperti gambling. Kita gak bisa tau dapet tukang ojek yang doyan ngebut, asal-asalan bawanya, atau bijaksana. Karena di pangkalan ojek biasanya ada sistem urutan. Tapi, ada juga pangkalan ojek yang menggunakan sistem bebas, penumpang bisa asal tunjuk dan diantar ke tujuan. Dan, lagi-lagi di JCC, saya kemarin baru ketemu satu tukang ojek yang ngajak doa bersama dulu sebelum naik kendaraan. “Kita sama-sama berdoa ya mbak. Biar sama-sama slamet sampe tujuan,” katanya. Ah, jadi terharu..

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: