RSS

Monthly Archives: April 2013

Iklan Lowongan Kerja Jaman Belanda

kerja-rodi-jaman-belanda

PENGOEMOEMAN !!!

DAG INLANDER,. ..HAJOO URANG MELAJOE,.KOWE MAHU KERDJA??? GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

  1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
  2. Kowe poenja njali gede
  3. Kowe poenja moeka kasar
  4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
  5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
  6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.
  7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS :

  1. Keliling rawa Senajan 3 kali
  2. Angkat badan liwat 30 kali
  3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo,Tanamera, Batam, Soerabaja, Batavia en Riaoeeiland.

Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :

  1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
  2. Istirahat siang 1 uur.
  3. Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago.

Haastig kalaoe kowe mahoe..

Pertanggal 31 Maart 1889 Niet Laat te Zijn Hoor.. Batavia 1889 Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij*

(Iklan Lowongan Kerja ini benar adanya. Dipublikasikan di sebuah surat kabar 1889 (file Perpustakaan Nasional). Bayangin kalau nenek moyangmu direkrut dengan cara seperti ini..)

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2013 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags:

Image

Kreatif adalah Bisa Mencari Jalan Keluar

Kreatif adalah Bisa Mencari Jalan Keluar

“Creativity requires the courage to let go of certainties.”
(Erich Fromm)

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2013 in Random Thought

 

Tags: ,

Memperingati Hari Kartini Tanpa Sanggul

menari

Saat duduk di bangku sekolah, terutama saat TK dan SD, sekitar seminggu sebelum 21 April, ibu saya sudah pontang-panting mencari penyewaan baju daerah. Dan, tepat di tanggal “keramat” itu, pagi-pagi sekali, ibu saya sudah mengantarkan saya ke salon untuk di-make up dan disanggul. Yup, peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April itu selalu saya kenang sebagai hari paling riweh sedunia.

Baru di bangku sekolah menengah, kehebohan pake kebaya dan konde sudah berkurang. Namun hari itu selalu dipenuhi dengan kegiatan non pelajaran, seperti bazar atau pentas seni. Sepertinya menyenangkan. Sehari tanpa pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia membuat hidup pelajar lebih indah hehehehe..

Sialnya, sampai sekarang peringatan Hari Kartini masih selalu diidentikkan dengan kebaya dan konde! Mengapa selalu kebaya dan konde? Apakah karena RA Kartini binti Sosroningrat mengenakan kedua hal itu di official picture-nya? Bagi perempuan yang hidup di masanya, kebaya dan sanggul adalah hal wajib, dress code.

Sampai sekarang saya selalu bertanya-tanya mengapa peringatan Hari Kartini selalu dikaitkan seremoni, entah itu yang berkaitan dengan kebaya dan kode, atau hal-hal yang berbau perempuan lainnya. Mengapa bukan bukan membahas surat-surat Kartini yang amat kritis di jamannya, bahkan sampai sekarang.

Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya meneriakkan soal emansipasi perempuan. Tapi juga soal isu sosial dan agama. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami.

Ia juga mengungkapkan pendapat bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama. Sebab, menurutnya, dunia akan lebih damai jika tidak agama yang sering dijadikan alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. Ia pernah menulis, “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa. Tapi, berapa banyak dosa diperbuat orang atas nama agama itu.”

Dalam surat-suratnya, ia mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum adam untuk berpoligami. Bagi Kartini yang priyayi itu, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Damn! That’s so true. Suara Kartini di era 1890-an, yang berarti berselang sekitar 120 tahun ini, sepertinya masih cukup relevan hingga kini. Oh, what’s wrong with this country?

Jargon emansipasi yang disuarakan Kartini seakan hanya sebatas perempuan Indonesia sekarang boleh sekolah dan mencapai karir setinggi langit. Tapi soal kesetaraan antara pria dan wanita belum sepenuhnya terjadi. Masih banyak perempuan Indonesia yang justru menempatkan diri di posisi marginal, baik ia sadari maupun tidak.

Sebagai perempuan yang terlahir sebagai priyayi, saya sangat berterima kasih kepada jeng Kartini yang begitu kuat bersuara menentang keningratan yang ditunjukkan dengan laku dodok, bersuara pelan, dan bersikap nerimo.

Saat ini, tidak banyak orang yang bisa mengenali keberadaan darah biru yang mengalir dalam darah saya. Karena saya cenderung gedubrakan dan bersuara lantang. Berkat Kartini pula, saya boleh memutuskan sesuatu, menjejakkan kaki ke mana pun saya mau, termasuk menuntut ilmu ke Eropa. Jauh dari gambaran priyayi Jawa seperti yang dituliskan jeng Kartini.

Berikut penggalan surat Kartini yang membuat saya trenyuh dan bersyukur terlahir (sebagai priyayi) di masa modern:

“Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Kalau boleh jujur, para priyayi saat ini sudah modern (setidaknya mulai generasi ibu saya). Kami masih menerapkan sopan santun tingkat dewa dalam skala wajar. Memang masih ada hal-hal yang masih harus dipertahankan seperti yang jeng Kartini tulis, tapi tidak setiap saat harus dijalankan. Hanya di kesempatan dan tempat tertentu saja.

Ketika saya kembali ke dalam benteng Keraton, mau tak mau saya harus berubah menjadi perempuan Jawa yang berperangai dan bertutur lemah lembut. Bagi saya, it’s normal. We have to know where we stand, isn’t it?

Sayangnya, sekarang ini justru banyak non-priyayi yang tingkahnya melebihi priyayi jaman dulu. Banyak orang kaya baru bukan priyayi yang ingin menjadi “priyayi”. Mereka ingin para “abdi dalem dan jongosnya” memberi penghormatan kepada si juragan. Mereka ingin menempatkan diri di kasta lebih tinggi dan menciptakan eksklusivitas khas priyayi jaman dulu. Hal ekstrem selanjutnya adalah beberapa dari orang kaya ini membeli gelar kebangsawanan dari “keraton tetangga”. Iki piye jal?

Bagi saya ada dua macam bangsawan, yakni bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang hanya membanggakan asal keturunannya. (Kartini, 18 Agustus 1899)

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leaving on the Kopajaplane

Image

Mari kita mulai tulisan di blog ini dengan pelajaran Geografi.

Republik Indonesia merupakan sebuah negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki sekitar 17.508 pulau (menurut buku-buku pelajaran versi Pemerintah). Adapun menurut kitab Wikipedia yang disediakan Eyang Google, Indonesia ‘cuma’ punya 13.487 pulau, dengan 6.000 pulau di antaranya tidak berpenghuni. Meski ada perbedaan angka yang mencapai ribuan, tetap saja membuat Indonesia berhak menyandang gelar sebagai Negara Kepulauan Terbesar di dunia.

Sementara itu, jarak antara Sabang dan Merauke – titik paling barat dan paling timur negeri ini mencapai 5.236 km, lebih jauh dari jarak Boston ke Lisbon melewati Samudera Atlantik. Sedangkan jarak dari Miangas sampai Rote – titik paling utara dan paling selatan negeri ini sekitar 1.950 km, setara dengan jarak Istanbul ke Moskwa.

Negeri yang wow? Absolutely.

Kalau kita memakai logika seorang insinyur Bacharuddin Jusuf Habibie, ribuan pulau yang terbentang di negara seluas 1.919.440 km2 ini idealnya terkoneksi dengan pesawat terbang. Bukan kapal, apalagi gethek. Tapi, yah, begitulah, sudah pada nonton film Habibie dan Ainun kan?

Saat ini sudah banyak maskapai yang menawarkan tarif murah. Alhamdulillah, hal itu memungkinkan makin banyak orang naik pesawat. Tapi, sayangnya, para penumpang itu belum sepenuhnya “sadar pesawat” dan punya manner yang baik. Contoh paling gampang adalah susah banget nyuruh mereka matiin ponsel sampai pesawat bener-bener berhenti.

Saya sering dongkol luar biasa ketika roda pesawat baru saja menyentuh landasan, sebagian penumpang serempak menyalakan ponsel masing-masing. Walhasil, saat pilot pesawat masih berusaha mengerem laju si burung besi, segala rupa ringtone sudah menggema di seluruh sudut pesawat. Sound familiar?

Jantung saya pernah nyaris copot ketika bunyi SMS nyaring terdengar dari kursi sebelah begitu pesawat baru saja landing. Kenceng bener. Ternyata, si bapak yang sudah sepuh di sebelah saya ini lupa mematikan ponselnya sepanjang perjalanan udara. Modyarrr!! Untung Gusti Allah masih memberikan keselamatan bagi kami semua siang itu.

Soal bahaya menggunakan ponsel di pesawat kayaknya nggak perlu diulas lagi ya. Pasti pada bosen. Apalagi di tiap ada insiden yang melibatkan pesawat, sudah banyak berita atau blog yang mengulas hal itu. Intinya sih jangan menyalakan ponsel karena faktor frekuensi. Kalau kurang jelas, silakan tanya Eyang Google (jangan ke Eyang Subur!).

Saya lagi pengen ngomongin “ke-absurd-an” penumpang Indonesia yang saya temui di penerbangan, baik domestik maupun luar negeri. Salah satu kejadian super konyol di mata saya adalah ketika seorang penumpang perempuan, tanpa bermaksud menjelekkan citra TKW, yang enggan duduk bersebelahan dengan penumpang pria. Saat itu, kami berada di maskapai asing yang melayani penerbangan dari Singapore ke Indonesia.

Si ibu ini mendadak histeris ketika mengetahui penumpang yang duduk di sebelahnya adalah pria. Dia meminta pramugari memindah penumpang sebelah ke kursi lain. “Saya nggak mau duduk sama laki-laki… Saya nggak mau duduk sama laki-laki,” katanya, sembari merapalkan doa minta mohon ampun.

Dengan adanya manifest penumpang, tentu tidak mudah bagi kru pesawat untuk memindah duduk penumpangnya secara sembarangan. Setelah melalui “perundingan alot” di tengah histeria si ibu, seorang pramugari (dengan bahasa Indonesia sederhana) dengan sopan meminta si ibu menunjukkan boarding pass-nya.

Ternyata oh ternyata, si ibu ini salah membaca nomor tempat duduk. Seharusnya dia duduk di antara rekan-rekannya –yang bisa dipastikan perempuan semua– tiga baris di depan tempat duduk si bapak ini. Dan, berakhirlah insiden pengusiran tempat duduk itu dengan damai.

Kekonyolan berikutnya lagi-lagi terjadi di maskapai asing. Tapi kali ini dengan rute penerbangan Amsterdam-Jakarta. Semula, saya girang ketika mengetahui orang-orang yang duduk di sekitar saya ini ternyata saudara sebangsa dan setanah air. Maklum, selama beberapa bulan sebelumnya saya sempat tidak aktif menggunakan Bahasa Indonesia.

Tapi, kegirangan saya ini hanya berlangsung sebentar. Hampir sepanjang18 jam perjalanan, saya dibuat malu melihat kelakuan norak beberapa orang kita ini. Kalau melihat gaya dan obrolannya, sepertinya mereka baru selesai mengikuti tour.

Malu #1 mereka super cerewet. Berisik banget. Mungkin mereka tidak sadar bahwa mereka berada di pesawat Boeing 777 yang mampu mengangkut 407 penumpang sekali jalan. Mungkin mereka mengira masih berada di tour bus dengan kapasitas 20 penumpang saja. Beberapa kali pandangan sinis penumpang lain tertuju ke deretan kursi mereka. Tapi, ya gimana lagi, siapa yang nggak bangga pamer pengalaman jalan-jalan ke Eropa cyynn..

Malu #2 mereka ngobrol sambil berdiri dan duduk ndelosor di depan pintu darurat. Sumpah, ini keadaan yang sungguh terjadi di penerbangan internasional itu. Padahal maskapai yang kami naiki itu tarif-nya premium, bukan penerbangan murah. Kontan, mbak-mbak pramugari berambut pirang itu segera menegur dan meminta mereka untuk duduk di kursi masing-masing. Ampun dah! Norak abis. Sekalian aja mereka duduk di lantai pesawat, main domino, sambil makan kacang dan ngrokok.

Malu #3 mereka menawar barang yang dijajakan di atas pesawat. Anjrit! Tongkrongan sih oke, liburan sih ke luar negeri. Tapi kelakuan tetep aja.. Saya masih ingat benar, mereka menawar biskuit berbentuk wind mollen yang harganya EUR20 ke angka UER10.

Kalau diterjemahkan secara bebas percakapan si tante dengan pramugari kira-kira begini.

“Mbak, ini biskuitnya harganya nggak bisa kurang?” tanya si tante.

“Wah, nggak bisa bu. Ini semua harga pas. Ibu bisa lihat di katalognya,” kata mbak pramugari.

“Haduh mbak, ini kalengnya aja udah penyok. Harusnya penumpang bisa dapet harga diskon dong..”

“Maaf ibu, ini memang harga pas. Terserah ibu jadi membeli atau tidak.”

Dan, ending-nya sodara-sodara,si tante ini akhirnya gak jadi beli soalnya duitnya kurang! Mungkin stok Euro-nya udah abis buat jalan-jalan keliling Eropa hehehe..

 
Leave a comment

Posted by on April 18, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,

Image

Beda Tipis Antara Kreativitas dan Inovasi

Beda Tipis Antara Kreativitas dan Inovasi

“Creativity is thinking up new things. Innovation is doing new things.” (Theodore Levitt)

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2013 in Random Thought

 

Tags:

Asik-asik KRL Jabodetabek Beroperasi 22 Jam Sehari

KRL malam

Saya masih ingat pernah buru-buru naik ojek dari Plasa Semanggi untuk mengejar kereta tujuan Bogor keberangkatan terakhir dari stasiun Cawang pukul 23.05. Pokoke kebut baaangg!!

Akhirnya, dengan nafas tersengal-sengal, karena menuruni tangga stasiun yang memiliki puluhan anak itu, akhirnya saya bisa naik kereta AC di gerbong perempuan. Herannya, di kereta terakhir itu saya masih juga gak dapet kursi empuk. Maka ndelosorlah saya di lantai kereta yang bersih dan wangi itu. What a life. Udah hampir tengah malam tetep aja gak dapet duduk di kereta.

Kejadian buru-buru mengejar kereta mungkin tak akan terulang lagi. Sebab, PT KAI telah memperpanjang jam operasional KRL Jabodetabek sejak 1 April 2013.Total jam operasional kereta menjadi 22 jam, dari sebelumnya sekitar 20 jam per hari. Jam keberangkatan terakhir berbeda-beda untuk tiap stasiun tujuan.

Jadwal Kereta Terakhir:

  1. KRL tujuan Bogor keberangkatan terakhir dari Stasiun Jakarta Kota pukul 00.25.
  2. KRL tujuan Bekasi keberangkatan terakhir dari Stasiun Jakarta Kota pukul 22.25.
  3. KRL tujuan Serpong keberangkatan terakhir dari Stasiun Tanah Abang pukul 23.30.
  4. KRL tujuan Tangerang keberangkatan terakhir dari Stasiun Duri pukul 21.35.

Jadwal Kereta Pertama:

  1. KRL tujuan Jakarta Kota keberangkatan pertama dari Stasiun Bogor pukul 04.00.
  2. KRL tujuan Jatinegara keberangkatan pertama dari Stasiun Bogor pukul 04.37.
  3. KRL tujuan Jakarta Kota keberangkatan pertama dari Stasiun Bekasi pukul 05.27.
  4. KRL tujuan Duri keberangkatan pertama dari Stasiun Tangerang pukul 5.40.

Bagi penikmat blog naningisme yang ingin jadwal keberangkatan KRL Jabodetabek (update 1 April 2013) bisa langsung ke TKP. Nanti bisa langsung mengunduh di situs resmi KRL Jabodetabek atau klik link yang udah saya sediakan.

Sebenernya kita mah sebagai penumpang pasrah aja, mau dikasih jadwal tambahan baru ya seneng-seneng aja. Tapi harapan para roker (rombongan kereta) sederhana aja: AC di gerbong berfungsi. Superkonyol kalau manajemen KAI lupa mengubah settingan heater ke AC pas beli gerbong bekas dari Jepang.

Selain itu, kita pengen satu gerbong dengan manusia –bukan dengan keranjang buah dan sayur, kandang ayam, atau karung isi sandal dan baju hasil kulakan dari pasar. As simple as that. Ini juga PR buat manajemen KAI buat mikirin kenyamanan penumpang, dengan segala kebutuhannya.

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,

Sistem Tarif Progresif: Tiap Tiga Stasiun Rp500*

loket stasiun

Setelah di tulisan sebelumnya saya menulis pihak KAI menganggap seluruh penumpang sama kaya di depan loket – dengan (berencana) menghapus keberadaan KRL Ekonomi, di tulisan ini saya menulis mengenai PT KAI yang mempunyai terobosan luar biasa cerdas: Sistem Tarif Progresif.

Sebenarnya apa sih sistem tarif progresif itu? Kalau dijelaskan secara sederhana, sistem tarif progresif berarti makin jauh jarak yang ditempuh penumpang, mereka harus bayar ongkos lebih mahal.

Sistem tarif progresif di dunia perkeretaapian bukan barang baru. Kalau penikmat blog naningisme pernah jalan-jalan menikmati MRT atau subway atau kereta bawah tanah di Singapore, Kuala Lumpur, Hongkong, atau negara di Eropa sana, pasti bisa membayangkan.

Kalau versi PT KAI, begini perhitungannya: untuk 5 stasiun pertama dari stasiun keberangkatan, penumpang dikenai tarif Rp3.000. Selanjutnya, setiap 3 stasiun, penumpang. Misalnya begini, dari stasiun awal ke stasiun akhir, penumpang melewati 8 stasiun, berarti dia harus bayar Rp4.000 (5 stasiun awal bayar Rp3.000 + 3 stasiun selanjutnya Rp1.000).

Sistem tarif progresif ini rencananya bakal dimulai Juni 2013, menggantikan sistem single tarif Rp8.000-Rp9.000 (jauh-dekat) yang berlaku selama ini.

Peta Rute KRL Jabodetabek

Apakah sistem tarif progresif ini ada kemungkinan lebih mahal dari single tarif? Yup. Perjalanan dari Bogor ke Kota melewati 24 stasiun. Kalau menggunakan sistem tarif progresif penumpang harus bayar Rp10.000, lebih mahal Rp1.000 dari sebelumnya Rp9.000.

Perhitungannya begini 5 stasiun pertama penumpang dikenai Rp3.000. Adapun 19 stasiun selanjutnya (19 : 3 = 6,3 dibulatkan jadi 7) penumpang bayar Rp7.000. Total yang harus dibayarkan penumpang yang melewati 24 stasiun Rp10.000. Asal tahu saja Bogor-Jakarta merupakan rute terjauh yang dimiliki KRL Jabodetabek.

Untuk membeli tiket di loket, penumpang cukup menyebutkan stasiun tujuan. Ingat di Indonesia (baca: Jabodetabek) pembelian tiket masih sistem “cangkem” alias ngomong ke petugas tiket. Setelah itu, petugas akan memasukkan data stasiun keberangkatan dan tujuan di tiket elektronik (bukan tiket kertas atau tiket sobek). Beda dengan di luar negeri yang tinggal tekan stasiun tujuan, masukin duit, dan nanti mesin akan mengeluarkan tiket.

Adanya sistem ini berarti penumpang hanya bisa turun di stasiun tujuan (atau sebelumnya). kalau kebablasan atau tidak sesuai dengan yang tertulis di smart card (itu julukan yang dikasih PT KAI ya, bukan saya yang ngarang), penumpang tidak akan bisa keluar peron stasiun. Karena gate/pintu tidak akan terbuka.

Kemungkinan besar, smart card ini adalah versi terbaru dari Commet. Selain single trip, smart card juga untuk multi trip yang bisa diisi ulang (dan yang penting gak ada expired-nya hehehehe..).

Di atas kertas sih sistem ini bakal bagus. Yak, mari kita liat pas program ini dijalankan yaaa.. Benernya udah gak sabar menantikan stasiun kereta Jabodetabek kayak stasiun di luar negeri itu. Selama ini yang udah keren dan mirip stasiun di luar negeri cuma Stasiun Sudirman aja sih..

*) CATATAN DAN REVISI: Biar nggak pada salah menghitung ongkos kereta, per 1 Juli 2013, PT KRL Commuter Line Jabodetabek (KCJ) menerapkan tarif progresif yang sudah mendapatkan subsidi pemerintah. Dengan demikian, untuk LIMA STASIUN PERTAMA penumpang cukup membayar Rp2.000 dan TIAP TIGA STASIUN berikutnya dihitung Rp500. Aturan perhitungan seperti yang ada di atas (tulisan dipublikasikan 15 April 2013). Tapi, pengguna harus bayar Uang Jaminan Tiket Rp5.000 yang bisa di-refund di stasiun tujuan. Misalnya, Anda hanya naik kereta dari Tebet ke Cikini, yang berarti hanya berselang dua stasiun, Anda harus bayar Rp2.000 + Rp5.000 = Rp7.000. Nantinya, di stasiun Cikini, Anda kasih tuh tiket warna putih ke loket untung mendapatkan duit Rp5.000. Thanks.

 
13 Comments

Posted by on April 15, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , , ,