RSS

Penghapusan KRL Ekonomi: Semua Penumpang Dianggap Sama Kaya

08 Apr

ImageDi atas kertas, menghapus KRL Ekonomi berarti mencongkel benalu dari tubuh perusahaan. Menurut manajemen KAI, suku cadang KRL Ekonomi harganya mahal karena sudah tidak tersedia lagi di pasar. Maklum, kereta yang dimiliki Kementerian Perhubungan ini sudah uzur.

Karena faktor uzur inilah KRL Ekonomi keseringan mogok sehingga makin merugikan perusahaan. Sepanjang 2012, kereta odong-odong itu tercatat telah mengalami 1.226 kasus mogok di tengah jalan, yang artinya kereta harus menghentikan operasional perjalanan.

Manajemen KAI beranggapan kondisi kereta sudah tidak layak, baik dari sisi kenyamanan maupun keamanan. Dirut PT KAI Ignatius Jonan meminta masyarakat melihat sendiri kondisi KRL Ekonomi yang tidak ada pintu, kadang tanpa kaca jendela, tidak ada AC (kipas angin kadang hanya jadi pajangan di langit-langit kereta), dan penumpang meluber hingga atap. Jadi, harus diganti dengan kereta yang lebih layak dan memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan Kementerian Perhubungan.

Kalau melihat data dan fakta di atas kertas, tampaknya manajemen KAI pengertian sekali. Tapi, tunggu dulu, kita harus melihat kondisi riil di lapangan…

Menghapus keberadaan KRL Ekonomi dan mengganti semuanya dengan KRL Commuter Line (KRL AC) bisa diartikan manajemen KAI menganggap semua penumpang memiliki daya beli yang sama. Semua penumpang dianggap kaya di depan loket.

Tidak adanya KRL Ekonomi berarti memaksa penumpang eks kereta ekonomi mengeluarkan duit lebih demi selembar tiket yang membawanya ke tempat tujuan. Kereta AC tidak mendapatkan subsidi.

Asal tahu saja, tarif KRL Ekonomi “paling mahal” hanya Rp2.000 untuk rute Bogor-Jakarta, dan sebaliknya. Sementara tarif KRL AC “paling mahal” mencapai Rp9.000 untuk rute perjalanan yang sama.

Bagi mereka yang tak pernah merasakan susahnya hidup di Jakarta, apalah arti Rp7.000? Tapi, bagi mereka yang kekurangan, penambahan ongkos sekali jalan hampir lima kali lipat itu akan menggerus hampir seperempat UMR yang mereka peroleh. Sebab komponen biaya transportasi tidak hanya untuk membeli tiket kereta, tapi juga ojek atau angkot – entah itu perjalanan dari rumah ke stasiun atau stasiun ke tempat kerja, dan sebaliknya.

Saya masih ingat wajah tukang buah yang ketinggalan kereta terakhir menuju Bogor, malam itu. Ia menunjukkan ekspresi mau nangis di depan loket. Si bapak yang memanggul keranjang superbesar itu kelihatan kelimpungan memeriksa saku celana dan kresek hitam yang dibawanya. Ia mencari tambahan Rp3.000 demi menggenapi Rp9.000 agar ia bisa menaiki kereta terakhir, yang kebetulan AC itu. Miris.

Keberadaan para atapers (orang-orang yang duduk di atas) atau gandolers (orang-orang yang nggandol di pintu kereta) yang menantang maut bukan untuk sok-sokan. Mereka melakukan itu karena tak ada ruang lagi di dalam gerbong.

Para penumpang KRL Ekonomi rela menggadai keamanan dan kenyamanan karena kondisi keuangan yang tak memungkinkan. Yang penting sampai tujuan. Masalah selamat, itu urusan nanti. Wong cuma mbayar Rp2.000.

Daripada mengambil “langkah mudah dan indah di atas kertas” dengan menghapus keberadaan KRL Ekonomi, menurut saya akan lebih bijaksana kalau manajemen KAI memberikan opsi transportasi sesuai kemampuan penumpang. Segmentasi.

Bagi mereka yang tak mampu membeli tiket KRL AC, sediakan saja kereta murah meriah asalkan tetap aman dan nyaman. Modelnya seperti apa? Ya, manajemen KAI yang harus mikir. Mereka digaji untuk memikirkan sistem transportasi masal bukan?

Adalah hak setiap penumpang untuk mendapatkan fasilitas keamanan dan kenyamanan transportasi. Tapi ada hak juga bagi penumpang tidak mampu untuk mendapatkan subsidi yang selama ini berbentuk KRL Ekonomi. Toh itu adalah Public Service Obligation (PSO) dari perusahaan perkeretaapian negara.

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: