RSS

Memperingati Hari Kartini Tanpa Sanggul

21 Apr

menari

Saat duduk di bangku sekolah, terutama saat TK dan SD, sekitar seminggu sebelum 21 April, ibu saya sudah pontang-panting mencari penyewaan baju daerah. Dan, tepat di tanggal “keramat” itu, pagi-pagi sekali, ibu saya sudah mengantarkan saya ke salon untuk di-make up dan disanggul. Yup, peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April itu selalu saya kenang sebagai hari paling riweh sedunia.

Baru di bangku sekolah menengah, kehebohan pake kebaya dan konde sudah berkurang. Namun hari itu selalu dipenuhi dengan kegiatan non pelajaran, seperti bazar atau pentas seni. Sepertinya menyenangkan. Sehari tanpa pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia membuat hidup pelajar lebih indah hehehehe..

Sialnya, sampai sekarang peringatan Hari Kartini masih selalu diidentikkan dengan kebaya dan konde! Mengapa selalu kebaya dan konde? Apakah karena RA Kartini binti Sosroningrat mengenakan kedua hal itu di official picture-nya? Bagi perempuan yang hidup di masanya, kebaya dan sanggul adalah hal wajib, dress code.

Sampai sekarang saya selalu bertanya-tanya mengapa peringatan Hari Kartini selalu dikaitkan seremoni, entah itu yang berkaitan dengan kebaya dan kode, atau hal-hal yang berbau perempuan lainnya. Mengapa bukan bukan membahas surat-surat Kartini yang amat kritis di jamannya, bahkan sampai sekarang.

Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya meneriakkan soal emansipasi perempuan. Tapi juga soal isu sosial dan agama. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami.

Ia juga mengungkapkan pendapat bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama. Sebab, menurutnya, dunia akan lebih damai jika tidak agama yang sering dijadikan alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. Ia pernah menulis, “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa. Tapi, berapa banyak dosa diperbuat orang atas nama agama itu.”

Dalam surat-suratnya, ia mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum adam untuk berpoligami. Bagi Kartini yang priyayi itu, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Damn! That’s so true. Suara Kartini di era 1890-an, yang berarti berselang sekitar 120 tahun ini, sepertinya masih cukup relevan hingga kini. Oh, what’s wrong with this country?

Jargon emansipasi yang disuarakan Kartini seakan hanya sebatas perempuan Indonesia sekarang boleh sekolah dan mencapai karir setinggi langit. Tapi soal kesetaraan antara pria dan wanita belum sepenuhnya terjadi. Masih banyak perempuan Indonesia yang justru menempatkan diri di posisi marginal, baik ia sadari maupun tidak.

Sebagai perempuan yang terlahir sebagai priyayi, saya sangat berterima kasih kepada jeng Kartini yang begitu kuat bersuara menentang keningratan yang ditunjukkan dengan laku dodok, bersuara pelan, dan bersikap nerimo.

Saat ini, tidak banyak orang yang bisa mengenali keberadaan darah biru yang mengalir dalam darah saya. Karena saya cenderung gedubrakan dan bersuara lantang. Berkat Kartini pula, saya boleh memutuskan sesuatu, menjejakkan kaki ke mana pun saya mau, termasuk menuntut ilmu ke Eropa. Jauh dari gambaran priyayi Jawa seperti yang dituliskan jeng Kartini.

Berikut penggalan surat Kartini yang membuat saya trenyuh dan bersyukur terlahir (sebagai priyayi) di masa modern:

“Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Kalau boleh jujur, para priyayi saat ini sudah modern (setidaknya mulai generasi ibu saya). Kami masih menerapkan sopan santun tingkat dewa dalam skala wajar. Memang masih ada hal-hal yang masih harus dipertahankan seperti yang jeng Kartini tulis, tapi tidak setiap saat harus dijalankan. Hanya di kesempatan dan tempat tertentu saja.

Ketika saya kembali ke dalam benteng Keraton, mau tak mau saya harus berubah menjadi perempuan Jawa yang berperangai dan bertutur lemah lembut. Bagi saya, it’s normal. We have to know where we stand, isn’t it?

Sayangnya, sekarang ini justru banyak non-priyayi yang tingkahnya melebihi priyayi jaman dulu. Banyak orang kaya baru bukan priyayi yang ingin menjadi “priyayi”. Mereka ingin para “abdi dalem dan jongosnya” memberi penghormatan kepada si juragan. Mereka ingin menempatkan diri di kasta lebih tinggi dan menciptakan eksklusivitas khas priyayi jaman dulu. Hal ekstrem selanjutnya adalah beberapa dari orang kaya ini membeli gelar kebangsawanan dari “keraton tetangga”. Iki piye jal?

Bagi saya ada dua macam bangsawan, yakni bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang hanya membanggakan asal keturunannya. (Kartini, 18 Agustus 1899)

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: