RSS

Monthly Archives: May 2013

Manusia yang Tidak Tampak

ImageManusia adalah manusia yang tidak tampak. Manusia tahu dan percaya kalau ia punya jantung, paru-paru, ginjal, empedu, dan lain-lain, tanpa pernah melihat langsung organ tubuhnya yang tidak tampak itu. Manusia hanya bisa percaya semua organ dalam itu tanpa pernah merasa perlu untuk membuktikannya.

Untuk bisa melihatnya, perlu alat bantu tembus pandang. Alat bantu itu pun hanya sanggup memperlihatkan imaji, bukan realita. Untuk melihat realita, dibutuhkan pembedahan. Untuk menjalani pembedahan pun manusia harus dalam keadaan tidak sadar. Baru setelah sadar, sang pembedah akan menunjukkan sebagian atau salah satu organ tubuhnya –yang kadang sudah tidak karuan lagi bentuk rupanya sehingga harus diangkat.

Manusia adalah manusia yang tidak tampak. Jika segalanya diukur dari yang tampak dari penglihatan, pernahkah manusia melihat suaranya? Melihat pikirannya? Melihat perasaannya. Manusia percaya bahwa ia hidup selama hayat masih dikandung badan. Akan tetapi, pernahkah manusia melihat nyawanya sendiri?

Betapa yang tidak tampak itu adalah hal terpenting bagi hidup manusia dan menjadi motor penggerak bagi yang tampak. Apa yang tidak tampak menguasai yang tampak.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2013 in Random Thought

 

Tags:

Ketika Alayers Menjadi “Penguasa Negeri”

ImageTulisan ini saya posting hanya beberapa menit setelah XFactor Indonesia, kontes adu bakat menyanyi yang katanya paling keren itu, mendapatkan pemenang untuk kali pertama. Saya (sedikit) kecewa dengan hasilnya. Fatin berhasil mengalahkan Novita Dewi.

Menurut saya, secara kualitas musikalitas, Novita jauh di atas Fatin. Bahkan, melajunya Fatin ke babak 3 besar – mengalahkan jagoan saya, Shena, bisa menjadi sinyal-sinyal nggak beres. Belum lagi ketika voting pemirsa memungkinkan si ABG unyu Mikha menumbangkan Isa Raja yang top banget (tapi mukanya udah mulai keriput) itu.

Tapi, gimana lagi, kontes musik yang ditayangkan di televisi selalu berbasis vote pemirsa. Kontestan akan dianggap “terbaik” sesuai selera pemirsa. Sialnya, dari sekian puluh juta pemirsa televisi yang punya banyak tenaga dan waktu (dan keisengan) untuk memilih via SMS itu para ABG.

Jempol-jempol mereka sepertinya lebih lincah untuk mengetik nama jagoan yang dianggap paling unyu dan paling dekat di hatinya. Walhasil, ketika ada kontestan yang memiliki kualitas lebih baik, namun tidak sesuai selera para ABG ini ya harus tersingkir.

Kemenangan Fatin bukan pertanda pertama betapa berkuasanya para alayers di negeri ini. Baru-baru ini, SM*SH dianggap sebagai grup musik terbaik di negeri ini, dari award televisi tetangga. Hello?

Jutaan pemirsa lainnya, yang enggan memilih, harus bertekuk lutut di bawah kedigdayaan para alayers ini. Pihak televisi tentu akan “menyalahkan” mengapa pemirsa tidak memberikan dukungan kepada jagoannya.

Beberapa tahun lalu, ketika kontes menyanyi berbasis vote SMS dilakukan pertama kalinya di Indonesia, saya sempat menulis mengenai perputaran uang di bisnis SMS Premium. Dalam semalam, provider SMS premium mendapatkan miliaran rupiah dari pesan singkat yang dikirimkan pemirsanya. Bahkan, kalau tidak salah ingat, pada saat Grand Final Indonesian Idol tahun 2004, terkumpul sekitar Rp8 M. Dari nominal ini akan dibagi tiga, yakni ke kantong provider, operator telepon selular, dan pihak televisi.

Jadi pihak televisi tak akan ambil pusing mengenai kualitas. Selama SMS mengalir ke nomor pendek yang selalu tertera di layar kaca setelah si kontestan menyanyi, mereka akan mendapatkan limpahan duit. Sebodo teuing siapa yang dipilih.

Kejadian-kejadian semacam ini membuat saya makin males nonton tayangan televisi lokal, yang (kadang) hanya mengurangi kualitas kecerdasan dan taste masyarakat. Entah ini disengaja atau tidak, tapi yang jelas masyarakat Indonesia makin kecil kemungkinannya untuk mendapatkan suguhan berkualitas. Sejenak, lupakan tentang jargon mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ah, sudahlah, saya bukan pengamat pertelevisian atau perkontesan. Saya hanya pemirsa biasa yang kecewa atas berkuasanya jari-jari mungil itu di media pandang dan dengar negeri ini. Semoga, kelak di kemudian hari, para adek-adek tercinta itu akan memahami apa itu kualitas. Bukan sekadar keunyuan kontestan.

“I find television very educating. Every time somebody turns on the set, I go into the other room and read a book.” (Groucho Marx)

 
2 Comments

Posted by on May 25, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Image

Red Thread of Fate

Red Thread of Fate

There’s an ancient Chinese myth about the Red Thread of Fate. It says that the Gods have tied a red thread around everyone of our ankles and attached it to all the people whose lives we are destined to touch. The thread may stretch of tangle, but will never break.

 
Leave a comment

Posted by on May 25, 2013 in Random Thought

 

Tags: , ,

Cinta Absurd

Image “Oahem, nyam..nyam…” Segera aku mengucek mataku yang imut ini. Tengok kiri, tengok kanan. Tak ada kehadiran ibu dan saudara-saudaraku. Sepertinya aku ditinggal lagi malam ini.

Aku terbatuk-batuk karena tak sengaja mengirup debu yang menempel di celana jins Fabian. “Uh, ini udah berapa hari nggak dicuci, sih? Bau banget. Banyak debu.” Segera aku menjauh dari jins warna biru dongker itu.

Setelah kesadaranku kembali penuh, segera aku meninggalkan kamar Fabian. Saatnya mencari mangsa!

Matahari baru saja tenggelam. Ini waktu yang tepat untuk melakukan ritual kaum kami. Sesuai wasiat nenek buyut, selain merapalkan mantra, kami harus mengasup doping setiap kali akan meninggalkan tempat persembunyian.

Segera aku menyuntikkan vaksin anti racun serangga. Sampai saat ini aku masih heran mengapa para manusia, terutama Boys Got No Brain bisa mengetahui kalau bangsa kami sudah dibekali vaksin anti racun serangga. Perburuan kami tak mudah dihalangi hanya oleh sekaleng Baygon.

Nguinggg!! Aku tersenyum bangga. Suara kepakan sayapku oke juga. Baru minggu lalu aku beli tape yang membantu suara kepakan sayapku makin stereo. Paling keren di antara para nyamuk di komplek perumahan ini.

Baru satu kali melakukan putaran di telinga Fabian, tangannya sudah sibuk menggapai-gapai udara. Bodoh sekali dia. Melawan aku saja dia nggak bisa. Gimana kalau dia menghadapi Bowo, yang badannya dua kali lebih besar darinya? Bisa-bisa sekali pukul dia akan menggelepar di tanah.

Menurut istilah manusia, dia sedang belajar. Aku baru saja mendapatkan kamus pintar dari bibiku yang baru pindah dari perkampungan kumuh itu. Bibiku memberikan tips manuver terbang dan bersembunyi yang lebih keren daripada yang diajarkan ibuku yang terbiasa hidup di lingkungan bersih ini.

Mumpung tak ada kakak-kakakku yang selalu menghina manuver terbangku, aku segera menjejakkan kaki di pipi Fabiah. Ih, seperti mau menciumnya. Jadi malu. Tapi, belum juga aku menikmati pipinya yang penuh jerawat itu, tangan Fabian tampak mendekati tubuhku. Segera aku terbang. Aih! Nyaris kena.

Dari kejauhan aku melihat ia kesakitan karena tangannya memukul pipinya sendiri. “Nah lo, rasain. Sakit kan? Makanya, jangan suka menyiksa kami. Toh kami hanya mengambil sedikit darah. Tak sampai satu liter. Anggap saja donor darah..” Dari balik kelambu, aku menggerutu. Aku tak mengerti mengapa manusia begitu pelit untuk berbagi.

Aku berdiri di atas bukunya yang tebal itu. Masih bau toko. Masih baru. Aku tak yakin Fabian akan membaca ensiklopedia tebal itu. Kasihan papanya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelikan putra semata wayangnya satu set ensiklopedia mahal itu.

Kembali aku memperhatikan Fabian. “Cakep juga,” gumanku. Sebagai nyamuk cerdas, aku tahu kriteria manusia cakep itu seperti apa. Hanya satu kekurangan Fabian, hidungnya pesek. Ah, tak apa. Setiap makhluk ciptaan Tuhan selalu memiliki kekurangan.

Aku suka mata Fabian. Matanya besar dan memiliki tatapan tajam. Terus terang, aku takut jika melihatku dengan mata tajamnya itu. Takut jika ia akan menyerangku dengan tiba-tiba. Ah, andai saja ada nyamuk jantan yang memiliki mata sebagus itu. Aku pasti mau kawin dengannya. Bangsaku matanya imut, seimut tubuh kami.

Krucuk, krucuk, krucuk. Aku mendengar suara perutku. Aduh, sialan ini perutku nggak bisa diajak kompromi. Kan aku sedang menikmati kegantengan Fabian. Tapi, apa daya. Urusan perut nomor satu. Huh, aku harus menunaikan hajatku. “Sorry, Yan. Kuminta sedikit darahmu,” bisikku, sembari mengepakkan sayap.

Aku terbang perlahan. Setelah memperhitungkan medan, aku rasa pipinya adalah tempat mendarat paling strategis. Kalau ada serangan mendadak, aku bisa segera terbang dan bersembunyi di rambut kribonya itu.

Segera aku terbang menuju pipinya. Mencari tempat yang tak ada jerawatnya. “Ah, kenapa manusia seumuran Fabian selalu bermasalah dengan jerawat sih? Apa dia sudah punya pacar sehingga harus tumbuh jerawat?” keluhku. Ahoy! Di arah pukul 13 dari tempatku terbang saat ini ada tempat kosong. Serbu!

Tak lupa aku mematikan bunyi stereo sayapku. Ini misi diam-diam. Aku harus bisa mengambil darahnya tanpa diketahui musuh. Yak, berhasil mendarat dengan sempurna. Segera aku menyeruput darahnya, glek glek glek.. Wareg.

Aku kekenyangan. Jadinya ngantuk. Dan, ah tubuhku jadi lebih berat. Aku tak bisa mengepakkan sayapku. Sial. Bagaimana ini? Aku lupa, sebagai nyamuk betina aku harus tetap menjaga penampilanku.

Kucoba mengepakkan sayapku. Aku ingin segera menyingkir dari pipi Fabian. Ini sudah terlampau lama bagiku berada di tempat yang sama dalam suatu misi. Dengan susah payah kugerakkan sayapku. Satu, dua, tiga. “Hore, bisa terbang!” Bahagia rasanya.

Tapi, oh, apa itu? PLAAKK!

Tangan Fabian berhasil mengenai tubuhku. “Aduh, sakit,” aku merintih perih. Salah satu sayapku patah. Dengan segenap kemampuan yang tersisa aku coba menyingkir dari pipinya. Aku terlalu lama berada di permukaan kulitnya. Ia merasakan kehadiranku akibat gatal yang kutimbulkan.

Tanpa ampun dia memungut tubuh mungilku dan menaruhnya di meja. “Please, jangan sakiti aku,” pintaku. Ia memandangiku dengan mata tajamnya. Ada senyum manis tersungging di bibirnya. Kuharap ia mendengar pintaku.

Jimat dari nenek buyutku tak berfungsi. Aku mati bukan karena racun serangga. Aku mati karena tangan manusia. Manual dan efektif. Aku tahu ini detik terakhirku. Aku menikmati kegantengan wajah Fabian untuk terakhir kalinya, pria yang aku cintai selama beberapa minggu terakhir. Aku bahagia mati di tubuhnya. Setidaknya, itu bentuk cintaku padanya.

(Ini sepertinya adalah bentuk keisengan yang paling nampol. Cerpen ini saya tulis untuk majalah sekolah, Kritisi, Desember 1996)

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2013 in Random Thought

 
Image

Jamaah Thariqah Al Insomniyah

Jamaah Thariqah Al Insomniyah

“O sleep, O gentle sleep, Nature’s soft nurse, how have I frightened thee, 1710. That thou no more will weigh my eyelids down, And steep my senses in forgetfulness?”

(William Shakespeare, on Henry IV, Part 2)

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2013 in Random Thought

 

Tags:

Lebaran Masih Lama, Tapi Tiket Udah Ludes..

Image

Tahun ini saya tidak terburu-buru memburu tiket lebaran. Sebab, saya tak lagi dipusingkan dengan aturan Cuti Bersama Lebaran yang membuat para karyawan di seluruh negeri mendadak memiliki jadwal keberangkatan hampir sama. Sekarang, mau mudik kapan pun bisa. Sudah berangan-angan bakal mudik sekitar dua minggu sebelum Hari H Lebaran. Mudah-mudahan masih bisa mendapatkan tiket kereta.

Sejak 2-3 tahun belakangan, PT KAI membuka kesempatan pembelian tiket H-90. Ini berarti jika Lebaran 2013 jatuh di bulan Agustus maka perburuan tiket sudah dimulai sejak Mei 2013. Bahkan ketika pakbos belum sempat memikirkan dana THR, para karyawan udah kasak-kusuk mengais-ngais rupiah untuk membeli selembar tiket. Haish!

Tahun lalu saya sempat meminta tolong OB untuk menukarkan tiket kereta elektronik yang dikeluarkan minimarket depan kantor ke stasiun Gambir. Jangan kaget. Sebab, sejak dua tahun terakhir, penjualan tiket kereta api tidak hanya dipusatkan di stasiun. Masyarakat bisa membeli tiket kereta via online, call center, minimarket, sampai kantor pos.

Sayangnya, kita masih harus menukarkan tiket elektronik itu ke bentuk “tiket beneran” di stasiun, paling lambat 24 jam sebelum keberangkatan. Mudah-mudahan sebentar lagi kita tak perlu direpotkan dengan urusan penukaran tiket semacam ini. Seperti perjalanan naik pesawat terbang itu lah.. Cukup tunjukin print-print-an tiket, atau bahkan hanya menunjukkan e-mail konfirmasi lewat gadget, kita bisa check in dan terbang. Toh sekarang di pintu stasiun kita harus menunjukkan KTP dan tiket. Persis seperti aturan check in di bandara.

Sistem ini memang bikin nyaman, kita gak perlu antre mengular di depan loket. Saya masih sempat mengalaminya tuh antre 2 jam lebih demi mendapatkan selembar tiket. Waktu itu pemesanan tiket Lebaran dipusatkan samping Stasiun Juanda. Bener-bener seperti di televisi. Antrean mengular sampai ke halaman gedung. Masih untung pihak KAI berbaik hati menyewa “tenda kawinan” biar gak ada yang pingsan karena harus berdiri berjam-jam di bawah terik mentari.

Kalau melewati kolong rel antara stasiun Juanda dan Istiqlal, saya suka senyum sendiri. Belasan tahun lalu, saya merupakan salah satu calon pemudik yang memadati sebuah gedung di samping stasiun. Rela berdesak-desakan demi selembar tiket untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Alhamdulillah saya pernah merasakan susahnya pulang kampung. Mulai dari antre tiket berjam-jam, ekstra waspada dari aksi copet yang terkutuk, adu garang dengan bapak-bapak yang mencoba menyerobot antrean, saling sikut di depan loket, menulis pemesanan di secarik kertas kecil untuk disodorkan ke mbak penjaga loket biar dia gak salah ngetik stasiun tujuan, dan kemudian mendapati harga tiket melambung tinggi karena ada aturan “tuslah” (menurut saya, “tuslah” ini bener-bener aturan bego yang menunjukkan pemerintah mau ambil untung gede dari permintaan super duper tinggi).

Alhamdulillah sekarang saya tak lagi harus merasakan itu semua. Tapi, apapun yang terjadi, dari dulu sampai sekarang, saya benar-benar gak mau mudik dengan menenteng kardus dan tas kresek. Kesannya kayak orang udik banget hahahaha..

“Where there is no struggle, there is no strength.” (Oprah Winfrey)

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Gengsi Warung Kopi

Image

Sebagai mobile worker, saya sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di kedai kopi. Bukan untuk minum kopi, karena saya udah dilarang dokter untuk menyesap minuman paling nikmat sedunia itu, melainkan untuk bekerja. Yup, mencari wangsit di tengah keramaian.

Sepertinya kalau udah menemukan posisi paling wuenak (baca: pewe), di pojokan dan dekat colokan, dunia rasanya berada dalam genggaman. Abaikan keriuhan orang-orang di sekitar dan musik yang kadar keberisikannya belum sangat mengganggu itu. Anggap saja sebagai latihan konsentrasi.

Bermodal beberapa pecahan uang puluhan ribu, saya bisa menikmati meja kerja yang cukup nyaman berjam-jam. Beberapa orang mungkin akan mempekerjakan “jeng wifi” habis-habisan, tapi saya tetap setia dengan “mbak modem”.

Budaya ngopi tidak bisa diklaim milik bangsa atau suku tertentu. Hampir bangsa di seluruh dunia memiliki budaya ngopi.

Sebagai daerah dengan produksi kopi dan tradisi minum kopi tertua, budaya kopi Arab Saudi memiliki sejarah yang panjang seperti peradabannya. Di Arab Saudi, kalau Anda diundang ke rumah seseorang untuk minum kopi, hal itu menandakan tuan rumah mengekspresikan rasa hormatnya kepada Anda dengan cara paling tulus.

Masyarakat Eropa Selatan dan Amerika Latin biasanya minum secangkir kopi dua kali sehari, di pagi dan malam hari. Demennya kopi setengah pahit atau agak hangus. Kesukaan yang aneh hehehe.. Menurut mereka terbaik adalah kopi tubruk dengan mesin Espresso; warnanya gelap dan aromatik, dengan lapisan busa di atas dan butiran-butiran halus di dasar cangkir.

Budaya minum kopi menjadi populer selama Perang Dunia II di Amerika Utara. Untuk menurunkan biaya kopi, kopi khas Amerika dibuat dari satu panci besar dan disimpan di dalam mesin penghangat. Akibatnya, rasa kopi sangat ringan. Beda banget dengan kegemaran orang Indonesia yang hobi dengan menu “kopi tubruk”-nya. Meski sekarnag sudah agak-agak bergeser ke kopi sachet yang lebih praktis. Tinggal tuang, kasih air panas, beres.

Kalau kilas balik ke masa lalu, di jaman nom-noman biyen, kalau dengar kata “warung kopi” itu identik dengan bapak-bapak duduk jegrang (baca: kaki di angkat sebelah ke atas kursi) sambil menikmati kopi hitam dan mengepulkan asap rokok. Jauh dari kesan feminin. Kesannya malah tempat kumpulnya preman hehehe.. Baru setelah ada Warkop DKI, saya lalu mengidentikan warung kopi dengan pelawak. Ah, ini mah makin ngaco.

Baru kemudian setelah kedai kopi asal luar negeri itu hadir, saya jadi mengerti mengapa banyak orang (bule) menciptakan karyanya di kedai kopi. Entah itu ilmuwan, pemikir, atau penulis buku macam JK Rowling yang melahirkan Harry Potter di serbet kertas kedai kopi.

Bagi sebagian orang, nongkrong di kedai kopi adalah gengsi tersendiri. Mungkin ada benarnya. Secara satu cangkir kopi di kedai kopi internasional harganya bisa berlipat-lipat dari kedai kopi tradisional di kampung. Kata teori pemasaran yang pernah saya pelajari, itu semua demi membeli atmosfer. Menikmati secangkir kopi penuh gengsi.

“At Starbucks I like ordering a “Tall venti in a grande cup.” That’s basically me asking for a small large in a medium cup.
”  (Jarod Kintz, This Book Has No Title)

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2013 in Random Thought

 

Tags: ,