RSS

Gengsi Warung Kopi

17 May

Image

Sebagai mobile worker, saya sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di kedai kopi. Bukan untuk minum kopi, karena saya udah dilarang dokter untuk menyesap minuman paling nikmat sedunia itu, melainkan untuk bekerja. Yup, mencari wangsit di tengah keramaian.

Sepertinya kalau udah menemukan posisi paling wuenak (baca: pewe), di pojokan dan dekat colokan, dunia rasanya berada dalam genggaman. Abaikan keriuhan orang-orang di sekitar dan musik yang kadar keberisikannya belum sangat mengganggu itu. Anggap saja sebagai latihan konsentrasi.

Bermodal beberapa pecahan uang puluhan ribu, saya bisa menikmati meja kerja yang cukup nyaman berjam-jam. Beberapa orang mungkin akan mempekerjakan “jeng wifi” habis-habisan, tapi saya tetap setia dengan “mbak modem”.

Budaya ngopi tidak bisa diklaim milik bangsa atau suku tertentu. Hampir bangsa di seluruh dunia memiliki budaya ngopi.

Sebagai daerah dengan produksi kopi dan tradisi minum kopi tertua, budaya kopi Arab Saudi memiliki sejarah yang panjang seperti peradabannya. Di Arab Saudi, kalau Anda diundang ke rumah seseorang untuk minum kopi, hal itu menandakan tuan rumah mengekspresikan rasa hormatnya kepada Anda dengan cara paling tulus.

Masyarakat Eropa Selatan dan Amerika Latin biasanya minum secangkir kopi dua kali sehari, di pagi dan malam hari. Demennya kopi setengah pahit atau agak hangus. Kesukaan yang aneh hehehe.. Menurut mereka terbaik adalah kopi tubruk dengan mesin Espresso; warnanya gelap dan aromatik, dengan lapisan busa di atas dan butiran-butiran halus di dasar cangkir.

Budaya minum kopi menjadi populer selama Perang Dunia II di Amerika Utara. Untuk menurunkan biaya kopi, kopi khas Amerika dibuat dari satu panci besar dan disimpan di dalam mesin penghangat. Akibatnya, rasa kopi sangat ringan. Beda banget dengan kegemaran orang Indonesia yang hobi dengan menu “kopi tubruk”-nya. Meski sekarnag sudah agak-agak bergeser ke kopi sachet yang lebih praktis. Tinggal tuang, kasih air panas, beres.

Kalau kilas balik ke masa lalu, di jaman nom-noman biyen, kalau dengar kata “warung kopi” itu identik dengan bapak-bapak duduk jegrang (baca: kaki di angkat sebelah ke atas kursi) sambil menikmati kopi hitam dan mengepulkan asap rokok. Jauh dari kesan feminin. Kesannya malah tempat kumpulnya preman hehehe.. Baru setelah ada Warkop DKI, saya lalu mengidentikan warung kopi dengan pelawak. Ah, ini mah makin ngaco.

Baru kemudian setelah kedai kopi asal luar negeri itu hadir, saya jadi mengerti mengapa banyak orang (bule) menciptakan karyanya di kedai kopi. Entah itu ilmuwan, pemikir, atau penulis buku macam JK Rowling yang melahirkan Harry Potter di serbet kertas kedai kopi.

Bagi sebagian orang, nongkrong di kedai kopi adalah gengsi tersendiri. Mungkin ada benarnya. Secara satu cangkir kopi di kedai kopi internasional harganya bisa berlipat-lipat dari kedai kopi tradisional di kampung. Kata teori pemasaran yang pernah saya pelajari, itu semua demi membeli atmosfer. Menikmati secangkir kopi penuh gengsi.

“At Starbucks I like ordering a “Tall venti in a grande cup.” That’s basically me asking for a small large in a medium cup.
”  (Jarod Kintz, This Book Has No Title)

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2013 in Random Thought

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: