RSS

Lebaran Masih Lama, Tapi Tiket Udah Ludes..

21 May

Image

Tahun ini saya tidak terburu-buru memburu tiket lebaran. Sebab, saya tak lagi dipusingkan dengan aturan Cuti Bersama Lebaran yang membuat para karyawan di seluruh negeri mendadak memiliki jadwal keberangkatan hampir sama. Sekarang, mau mudik kapan pun bisa. Sudah berangan-angan bakal mudik sekitar dua minggu sebelum Hari H Lebaran. Mudah-mudahan masih bisa mendapatkan tiket kereta.

Sejak 2-3 tahun belakangan, PT KAI membuka kesempatan pembelian tiket H-90. Ini berarti jika Lebaran 2013 jatuh di bulan Agustus maka perburuan tiket sudah dimulai sejak Mei 2013. Bahkan ketika pakbos belum sempat memikirkan dana THR, para karyawan udah kasak-kusuk mengais-ngais rupiah untuk membeli selembar tiket. Haish!

Tahun lalu saya sempat meminta tolong OB untuk menukarkan tiket kereta elektronik yang dikeluarkan minimarket depan kantor ke stasiun Gambir. Jangan kaget. Sebab, sejak dua tahun terakhir, penjualan tiket kereta api tidak hanya dipusatkan di stasiun. Masyarakat bisa membeli tiket kereta via online, call center, minimarket, sampai kantor pos.

Sayangnya, kita masih harus menukarkan tiket elektronik itu ke bentuk “tiket beneran” di stasiun, paling lambat 24 jam sebelum keberangkatan. Mudah-mudahan sebentar lagi kita tak perlu direpotkan dengan urusan penukaran tiket semacam ini. Seperti perjalanan naik pesawat terbang itu lah.. Cukup tunjukin print-print-an tiket, atau bahkan hanya menunjukkan e-mail konfirmasi lewat gadget, kita bisa check in dan terbang. Toh sekarang di pintu stasiun kita harus menunjukkan KTP dan tiket. Persis seperti aturan check in di bandara.

Sistem ini memang bikin nyaman, kita gak perlu antre mengular di depan loket. Saya masih sempat mengalaminya tuh antre 2 jam lebih demi mendapatkan selembar tiket. Waktu itu pemesanan tiket Lebaran dipusatkan samping Stasiun Juanda. Bener-bener seperti di televisi. Antrean mengular sampai ke halaman gedung. Masih untung pihak KAI berbaik hati menyewa “tenda kawinan” biar gak ada yang pingsan karena harus berdiri berjam-jam di bawah terik mentari.

Kalau melewati kolong rel antara stasiun Juanda dan Istiqlal, saya suka senyum sendiri. Belasan tahun lalu, saya merupakan salah satu calon pemudik yang memadati sebuah gedung di samping stasiun. Rela berdesak-desakan demi selembar tiket untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Alhamdulillah saya pernah merasakan susahnya pulang kampung. Mulai dari antre tiket berjam-jam, ekstra waspada dari aksi copet yang terkutuk, adu garang dengan bapak-bapak yang mencoba menyerobot antrean, saling sikut di depan loket, menulis pemesanan di secarik kertas kecil untuk disodorkan ke mbak penjaga loket biar dia gak salah ngetik stasiun tujuan, dan kemudian mendapati harga tiket melambung tinggi karena ada aturan “tuslah” (menurut saya, “tuslah” ini bener-bener aturan bego yang menunjukkan pemerintah mau ambil untung gede dari permintaan super duper tinggi).

Alhamdulillah sekarang saya tak lagi harus merasakan itu semua. Tapi, apapun yang terjadi, dari dulu sampai sekarang, saya benar-benar gak mau mudik dengan menenteng kardus dan tas kresek. Kesannya kayak orang udik banget hahahaha..

“Where there is no struggle, there is no strength.” (Oprah Winfrey)

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: