RSS

Cinta Absurd

24 May

Image “Oahem, nyam..nyam…” Segera aku mengucek mataku yang imut ini. Tengok kiri, tengok kanan. Tak ada kehadiran ibu dan saudara-saudaraku. Sepertinya aku ditinggal lagi malam ini.

Aku terbatuk-batuk karena tak sengaja mengirup debu yang menempel di celana jins Fabian. “Uh, ini udah berapa hari nggak dicuci, sih? Bau banget. Banyak debu.” Segera aku menjauh dari jins warna biru dongker itu.

Setelah kesadaranku kembali penuh, segera aku meninggalkan kamar Fabian. Saatnya mencari mangsa!

Matahari baru saja tenggelam. Ini waktu yang tepat untuk melakukan ritual kaum kami. Sesuai wasiat nenek buyut, selain merapalkan mantra, kami harus mengasup doping setiap kali akan meninggalkan tempat persembunyian.

Segera aku menyuntikkan vaksin anti racun serangga. Sampai saat ini aku masih heran mengapa para manusia, terutama Boys Got No Brain bisa mengetahui kalau bangsa kami sudah dibekali vaksin anti racun serangga. Perburuan kami tak mudah dihalangi hanya oleh sekaleng Baygon.

Nguinggg!! Aku tersenyum bangga. Suara kepakan sayapku oke juga. Baru minggu lalu aku beli tape yang membantu suara kepakan sayapku makin stereo. Paling keren di antara para nyamuk di komplek perumahan ini.

Baru satu kali melakukan putaran di telinga Fabian, tangannya sudah sibuk menggapai-gapai udara. Bodoh sekali dia. Melawan aku saja dia nggak bisa. Gimana kalau dia menghadapi Bowo, yang badannya dua kali lebih besar darinya? Bisa-bisa sekali pukul dia akan menggelepar di tanah.

Menurut istilah manusia, dia sedang belajar. Aku baru saja mendapatkan kamus pintar dari bibiku yang baru pindah dari perkampungan kumuh itu. Bibiku memberikan tips manuver terbang dan bersembunyi yang lebih keren daripada yang diajarkan ibuku yang terbiasa hidup di lingkungan bersih ini.

Mumpung tak ada kakak-kakakku yang selalu menghina manuver terbangku, aku segera menjejakkan kaki di pipi Fabiah. Ih, seperti mau menciumnya. Jadi malu. Tapi, belum juga aku menikmati pipinya yang penuh jerawat itu, tangan Fabian tampak mendekati tubuhku. Segera aku terbang. Aih! Nyaris kena.

Dari kejauhan aku melihat ia kesakitan karena tangannya memukul pipinya sendiri. “Nah lo, rasain. Sakit kan? Makanya, jangan suka menyiksa kami. Toh kami hanya mengambil sedikit darah. Tak sampai satu liter. Anggap saja donor darah..” Dari balik kelambu, aku menggerutu. Aku tak mengerti mengapa manusia begitu pelit untuk berbagi.

Aku berdiri di atas bukunya yang tebal itu. Masih bau toko. Masih baru. Aku tak yakin Fabian akan membaca ensiklopedia tebal itu. Kasihan papanya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelikan putra semata wayangnya satu set ensiklopedia mahal itu.

Kembali aku memperhatikan Fabian. “Cakep juga,” gumanku. Sebagai nyamuk cerdas, aku tahu kriteria manusia cakep itu seperti apa. Hanya satu kekurangan Fabian, hidungnya pesek. Ah, tak apa. Setiap makhluk ciptaan Tuhan selalu memiliki kekurangan.

Aku suka mata Fabian. Matanya besar dan memiliki tatapan tajam. Terus terang, aku takut jika melihatku dengan mata tajamnya itu. Takut jika ia akan menyerangku dengan tiba-tiba. Ah, andai saja ada nyamuk jantan yang memiliki mata sebagus itu. Aku pasti mau kawin dengannya. Bangsaku matanya imut, seimut tubuh kami.

Krucuk, krucuk, krucuk. Aku mendengar suara perutku. Aduh, sialan ini perutku nggak bisa diajak kompromi. Kan aku sedang menikmati kegantengan Fabian. Tapi, apa daya. Urusan perut nomor satu. Huh, aku harus menunaikan hajatku. “Sorry, Yan. Kuminta sedikit darahmu,” bisikku, sembari mengepakkan sayap.

Aku terbang perlahan. Setelah memperhitungkan medan, aku rasa pipinya adalah tempat mendarat paling strategis. Kalau ada serangan mendadak, aku bisa segera terbang dan bersembunyi di rambut kribonya itu.

Segera aku terbang menuju pipinya. Mencari tempat yang tak ada jerawatnya. “Ah, kenapa manusia seumuran Fabian selalu bermasalah dengan jerawat sih? Apa dia sudah punya pacar sehingga harus tumbuh jerawat?” keluhku. Ahoy! Di arah pukul 13 dari tempatku terbang saat ini ada tempat kosong. Serbu!

Tak lupa aku mematikan bunyi stereo sayapku. Ini misi diam-diam. Aku harus bisa mengambil darahnya tanpa diketahui musuh. Yak, berhasil mendarat dengan sempurna. Segera aku menyeruput darahnya, glek glek glek.. Wareg.

Aku kekenyangan. Jadinya ngantuk. Dan, ah tubuhku jadi lebih berat. Aku tak bisa mengepakkan sayapku. Sial. Bagaimana ini? Aku lupa, sebagai nyamuk betina aku harus tetap menjaga penampilanku.

Kucoba mengepakkan sayapku. Aku ingin segera menyingkir dari pipi Fabian. Ini sudah terlampau lama bagiku berada di tempat yang sama dalam suatu misi. Dengan susah payah kugerakkan sayapku. Satu, dua, tiga. “Hore, bisa terbang!” Bahagia rasanya.

Tapi, oh, apa itu? PLAAKK!

Tangan Fabian berhasil mengenai tubuhku. “Aduh, sakit,” aku merintih perih. Salah satu sayapku patah. Dengan segenap kemampuan yang tersisa aku coba menyingkir dari pipinya. Aku terlalu lama berada di permukaan kulitnya. Ia merasakan kehadiranku akibat gatal yang kutimbulkan.

Tanpa ampun dia memungut tubuh mungilku dan menaruhnya di meja. “Please, jangan sakiti aku,” pintaku. Ia memandangiku dengan mata tajamnya. Ada senyum manis tersungging di bibirnya. Kuharap ia mendengar pintaku.

Jimat dari nenek buyutku tak berfungsi. Aku mati bukan karena racun serangga. Aku mati karena tangan manusia. Manual dan efektif. Aku tahu ini detik terakhirku. Aku menikmati kegantengan wajah Fabian untuk terakhir kalinya, pria yang aku cintai selama beberapa minggu terakhir. Aku bahagia mati di tubuhnya. Setidaknya, itu bentuk cintaku padanya.

(Ini sepertinya adalah bentuk keisengan yang paling nampol. Cerpen ini saya tulis untuk majalah sekolah, Kritisi, Desember 1996)

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2013 in Random Thought

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: