RSS

Ketika Alayers Menjadi “Penguasa Negeri”

25 May

ImageTulisan ini saya posting hanya beberapa menit setelah XFactor Indonesia, kontes adu bakat menyanyi yang katanya paling keren itu, mendapatkan pemenang untuk kali pertama. Saya (sedikit) kecewa dengan hasilnya. Fatin berhasil mengalahkan Novita Dewi.

Menurut saya, secara kualitas musikalitas, Novita jauh di atas Fatin. Bahkan, melajunya Fatin ke babak 3 besar – mengalahkan jagoan saya, Shena, bisa menjadi sinyal-sinyal nggak beres. Belum lagi ketika voting pemirsa memungkinkan si ABG unyu Mikha menumbangkan Isa Raja yang top banget (tapi mukanya udah mulai keriput) itu.

Tapi, gimana lagi, kontes musik yang ditayangkan di televisi selalu berbasis vote pemirsa. Kontestan akan dianggap “terbaik” sesuai selera pemirsa. Sialnya, dari sekian puluh juta pemirsa televisi yang punya banyak tenaga dan waktu (dan keisengan) untuk memilih via SMS itu para ABG.

Jempol-jempol mereka sepertinya lebih lincah untuk mengetik nama jagoan yang dianggap paling unyu dan paling dekat di hatinya. Walhasil, ketika ada kontestan yang memiliki kualitas lebih baik, namun tidak sesuai selera para ABG ini ya harus tersingkir.

Kemenangan Fatin bukan pertanda pertama betapa berkuasanya para alayers di negeri ini. Baru-baru ini, SM*SH dianggap sebagai grup musik terbaik di negeri ini, dari award televisi tetangga. Hello?

Jutaan pemirsa lainnya, yang enggan memilih, harus bertekuk lutut di bawah kedigdayaan para alayers ini. Pihak televisi tentu akan “menyalahkan” mengapa pemirsa tidak memberikan dukungan kepada jagoannya.

Beberapa tahun lalu, ketika kontes menyanyi berbasis vote SMS dilakukan pertama kalinya di Indonesia, saya sempat menulis mengenai perputaran uang di bisnis SMS Premium. Dalam semalam, provider SMS premium mendapatkan miliaran rupiah dari pesan singkat yang dikirimkan pemirsanya. Bahkan, kalau tidak salah ingat, pada saat Grand Final Indonesian Idol tahun 2004, terkumpul sekitar Rp8 M. Dari nominal ini akan dibagi tiga, yakni ke kantong provider, operator telepon selular, dan pihak televisi.

Jadi pihak televisi tak akan ambil pusing mengenai kualitas. Selama SMS mengalir ke nomor pendek yang selalu tertera di layar kaca setelah si kontestan menyanyi, mereka akan mendapatkan limpahan duit. Sebodo teuing siapa yang dipilih.

Kejadian-kejadian semacam ini membuat saya makin males nonton tayangan televisi lokal, yang (kadang) hanya mengurangi kualitas kecerdasan dan taste masyarakat. Entah ini disengaja atau tidak, tapi yang jelas masyarakat Indonesia makin kecil kemungkinannya untuk mendapatkan suguhan berkualitas. Sejenak, lupakan tentang jargon mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ah, sudahlah, saya bukan pengamat pertelevisian atau perkontesan. Saya hanya pemirsa biasa yang kecewa atas berkuasanya jari-jari mungil itu di media pandang dan dengar negeri ini. Semoga, kelak di kemudian hari, para adek-adek tercinta itu akan memahami apa itu kualitas. Bukan sekadar keunyuan kontestan.

“I find television very educating. Every time somebody turns on the set, I go into the other room and read a book.” (Groucho Marx)

 
2 Comments

Posted by on May 25, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

2 responses to “Ketika Alayers Menjadi “Penguasa Negeri”

  1. Ayren

    February 9, 2014 at 9:20 pm

    yeah , saya juga agak cukup kecewa dengan itu . bahkan saat nama fatin diumumkan sebagai pemenangnya , kami jadi melongo gak percaya …. “HAH?!?” gitu reaksiku :l

     
  2. naningisme

    February 10, 2014 at 11:28 pm

    Ya ya.. tapi gimana lagi? Kemenangan Fatin adalah keputusan para pemirsa televisi — tentunya yang punya waktu dan pulsa untuk pilih dia. Musik soal selera. Mungkin itu selera pasar. Gak bisa dipungkiri kalo fansnya banyak hehehe..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: