RSS

Monthly Archives: July 2013

Ngomyang Emang Gampang

ImagePernah gak ngikut acara seminar atau nonton tipi yang isinya ada orang pinter lagi ngomong? Kayaknya keren banget. Apalagi kalo motivator lagi ngomong, wuah rasanya dunia semulus paha cherrybelle. Nggak ada bopeng kesusahan apalagi gelambir masalah.

Saya mungkin salah satu orang yang nggak begitu suka ngikutin acara-acara motivasi kayak gitu. Entah itu motivasi hidup, motivasi bisnis, bla bla bla. Apalagi kalo disuruh bayar. Adakalanya kata-kata indah yang keluar dari mulut seseorang memang dibutuhkan untuk mendongkrak semangat. Tapi, kalau hanya hal-hal yang text book (baca: semua orang juga tau kalo itu bener) dan pada kondisi ideal (gak ada disclaimer pake tanda bintang dengan huruf-huruf super imut), menurut saya kurang asik.

Kita harus selalu belajar untuk melihat dunia dalam kondisi seimbang. Nggak ada hitam atau putih saja. Kadang ada abu-abu, yang prosentasenya antara 1% sampe 99%. Ada juga warna-warna lain. Begitu juga soal ngasih pendapat. Kalo sekadar ngasih petunjuk secara garis besar, semua orang juga bisa. Kalo laper, makan. Kalo haus, minum. Kalo ngantuk, tidur. Kalo marah, kudu sabar. Kalo patah hati, cari pacar lagi. Kalo sedih, cheer up. Kalo suntuk, semangat!

Well, guys, ngomyang emang gampang. Solusi instan itu emang seenak Indomie goreng pake telur ceplok dan kornet. Gimana kalo kita sendiri yang berada di dalam kondisi laper, haus, ngantuk tapi gak bisa makan, minum, atau tidur? Gimana kita bisa sabar kalo ternyata orang yang kita omelin sudah sepatutnya mendapatkan pelajaran? Atau gimana kalo tenaga yang tersisa udah bukan lagi dalam taraf nol tapi udah minus?

Mungkin enak kali ya kalo kita dibayar untuk ngomong hal-hal yang indah-indah aja. Padahal yang paling mahal itu kasih solusi. Berperan sebagai coach yang bagi-bagi teknik, strategi, pengetahuan dan pengalaman, itu kayaknya lebih keren ketimbang orang yang cuma ngasih semangat doang. Apa bedanya ama cheerleader yang bawa pom-pom coba? Ketahuilah wahai sodara, hidup itu tak seindah omongan mario teguh (Ah, ini mah semua udah tahu..).

“Words are, of course, the most powerful drug used by mankind.” (Rudyard Kipling)

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2013 in Random Thought

 

Tags: ,

Turunin Sedikit Standar Lo! #eh

ImageBanyak yang bilang saya saklek, idealis, dan suka menyiksa diri (dan orang lain). Terutama soal pekerjaan. Saya bisa jadi orang yang super duper galak kalau nemuin orang yang gak bisa kerja sesuai standar yang saya tetapkan. Merepet gak karuan dan kemudian ujung-ujungnya, selain menyiksa mereka (baca: reporter atau apalah sebutan anak buah saya saat ini), saya juga menyiksa diri untuk memperbaiki hasil akhir. Ah, menyebalkan!

Entahlah, saya memang selalu memberi batasan kualitas paling tinggi terhadap diri saya. Pokoknya harus bikin yang paling bagus, paling keren, paling berkualitas. Terutama untuk pekerjaan yang sudah saya incar jauh-jauh hari. Must be totally amazing! Dan itu akhirnya saya menganggap orang lain harus bisa mengikuti standar yang saya tetapkan.

Orang kadang bilang, udah lah ikutin argo. Jangan terlalu idealis. Iya sih, you pay peanut, you’ll get monkey. Tapi, kadang ada semacam rasa untuk sekadar menjaga nama dan kualitas. Saya percaya akan ada mata yang memperhatikan soal standar tertinggi yang selalu saya tawarkan. Kalau sudah begini, saya memilih mengambil jalan tengah. Lebih baik saya tidak mengambil project dengan bayaran minim (kecuali memang niat untuk “CSR”) hehehe.. Setuju?  *Setujuuuuu…*

 

“Raise your quality standards as high as you can live with, avoid wasting your time on routine problems, and always try to work as closely as possible at the boundary of your abilities. Do this, because it is the only way of discovering how that boundary should be moved forward.” (Edsger W. Dijkstra)

 
Leave a comment

Posted by on July 22, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , , ,

Mari Belajar Menulis

Image

Sekali lagi saya harus menjadi mentor menulis. Saat ini saya sedang mendapatkan project penulisan buku dari seorang kawan – yang sebenarnya bisa disebut sebagai mentor dan senior saya.

Project-nya cukup mudah, “hanya” menulis profil perusahaan sepanjang 20 halaman. Buat penulis profesional, it’s a piece of cake. Karena standar penulisan satu buku itu 200 halaman (format A5 atau B5, tergantung keinginan klien/penerbit).

Tentu saja, project yang kami kerjakan bukan untuk satu naskah profil saja. Tapi, untuk 12 naskah profil. Saya memiliki tim penulis buku. Untuk project ini, saya mengambil layer penulis dengan pengalaman basic. Mereka pernah punya pengalaman 1-2 tahun sebagai reporter, bukan redaktur.

Pemilihan layer penulis dengan kemampuan basic ini tentu saja menimbulkan potensi risiko yang cukup besar, yakni soal kualitas. Mau tak mau saya harus menyediakan waktu untuk mengajari menulis sesuai standar kualitas yang telah saya tetapkan. Learning by doing. Cukup pelik dan membutuhkan kesabaran ekstra.

Untuk menjadi penulis sebenarnya cukup mudah. Penulis harus memahami apa yang ditulisnya. Itu saja. Titik. Kalau nggak paham gimana? Itu sebabnya dalam proses penulisan buku (atau artikel apapun itu) ada yang namanya proses wawancara dan riset. Bertanya pada narasumber dan membaca data. Lebih baik kita malu di depan narasumber karena menanyakan hal-hal sepele daripada malu di depan ratusan-ribuan-atau puluhan ribu pembaca buku/majalah kita.

Itu baru dari sisi ketersediaan data dan fakta. Lalu, bagaimana soal penyampaian message-nya? Penulis pemula biasanya kagok saat akan menulis. Hasilnya tulisannya lebih pantas disebut copas bahan baku, karena hanya comot bahan mentah tanpa ada polesan entah berupa penambahan quotation narasumber atau yaaa.. menulis.. Deskripsikan, terangkan, jelaskan hingga sebuah tulisan ini menjadi enak dibaca dan perlu.

Satu tips lagi bagi penulis pemula, ketika menulis bayangkan yang akan membaca tulisan kita ini adalah keponakan kita yang masih berusia 10 tahun dan ibu kita yang sudah berusia 60 tahun. Pastikan mereka memahami tulisan kita. Kalau ada istilah teknis, terangan dalam bahasa mudah. Ubah istilah langitan ke bahasa yang membumi, begitu saya sering bilang ke kawan penulis pemula.

Whoosah.. Tarik nafas panjang. Ini belum termasuk mengajari soal standar baku penulisan, seperti soal EYD dan gak boleh ada typo error. Mengajari orang itu tidak mudah. Harus sabar. Tapi, ketika mereka berhasil, itu menciptakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri.

“He who learns but does not think, is lost. He who think but does not learn is in great danger.” (Confucius)

 
4 Comments

Posted by on July 17, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Dapet Piala Virtual dari WordPress

Image

Happy Anniversary!
You registered on WordPress.com 3 years ago!
Thanks for flying with us. Keep up the good blogging!

 

Ya ya, hari ini tiga tahun lalu, saya mulai ngblog di WordPress. Waktu itu cuma sekadar bikin, nulis, lalu melupakan. Baru Mei dua tahun lalu saya aktif menulis kembali. Blog naningisme ini bukan yang pertama. Sebelumnya – sekitar 2005-an saya punya akun di Blogspot. Nulisnya sok-sokan pake bahasa Inggris, tapi kemudian repot sendiri.

Males aja harus menuangkan inspirasi bukan dengan bahasa ibu. Sepertinya, otak saya gak punya kemampuan sebagai kamus elektronik atau translator yang baik. Parahnya lagi, saya lupa ID dan password-nya. Jadilah akun blogspot saya jadi sampah dunia maya.

Sejak tahun lalu, setelah aktif kembali ngeblog di akun ini, saya ingin mendedikasikan blog saya sebagai tempat belajar melihat dan menikmati kehidupan. Saya nggak mau ngoyo menjadikan blog saya khusus sebagai sumber ilmu pengetahuan rujuan orang-orang yang meminta petunjuk Eyang Google (ngaku aja, kita juga sering begitu kan, kalo gak tau sesuatu dikit-dikit langsung googling).

Saya pun nggak mau menjadikan blog ini sebagai wadah pencitraan. Kalau soal “jual diri” dan pencitraan, saya sudah membikin website khusus (Website ya, dengan akhiran dotkom setelah nama saya. Bukan blog gratisan). Blog ini juga bukan lapak dagangan karena saya juga sudah bikin blog terpisah untuk urusan bisnis.

Meski banyak faktor “bukan ini-bukan itu” ini blog betulan. Seperti yang sudah saya tulis di menu abouttheblog, blog naningisme ini berisi kumpulan catatan, tulisan, editan (yang kadang merupakan re-write dari sebuah artikel milik reporter-reporter saya) dan curahan isi otak seorang pengamat kehidupan, yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis. Saya mencoba merangkum sisi kehidupan manusia, yang dilihat dari sudut pandang seorang Naning.

Kalau ada yang tanya apa ciri khas blog ini? Hm, mungkin quotation yang ada di akhir tulisan kali yaa.. Enjoy reading, enjoy life, enjoy your journey!

“Let your mind start a journey through a strange new world. Leave all thoughts of the world you knew before. Let your soul take you where you long to be. Close your eyes, let your spirit start to soar, and you’ll live as you’ve never lived before.” (Erich Fromm)

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2013 in Random Thought

 

Tags: , ,

Image

The World as We Know

The World as We Know

“There are things known and there are things unknown, and in between are the doors of perception.” (Aldous Huxley)

 
Leave a comment

Posted by on July 9, 2013 in Dunia Dalam Berita

 

Tags: , , ,

Sunlight Mama Lemon…

Image

Sumpah, saya pengen ngakak pas gak sengaja denger seorang pramuniaga melantunkan lirik “Sunlight mama lemon.. Sunlight mama lemon…” saat lagu Diamond punya Rihanna diputer kenceng-kenceng.

Bukan apa-apa sih, si mbak ini bukan pramuniaga cairan pencuci piring. Dia lagi cover version lirik lagu itu menjadi lagu original punya si mbak. Lirik aslinya yang “Shine bright like a diamond” dengan cerdas diubah jadi “Sunlight mama lemon”. Kasih jempol buat mbaknya deh…

Ada yang istimewa dengan pusat perbelanjaan di Indonesia. Mereka gemar banget pasang musik kenceng-kenceng, kadang sampe batas kuping pekak. Nggak bisa ya volumenya dikecilin dikit?

Sejumlah pusat perbelanjaan kadang tak memiliki konsep musik yang jelas – jika mereka mau memasukkan musik sebagai salah satu strategi ritel (baca: mendongkrak hasrat belanja). Sepertinya, kalo mau suudzon, si ‘music director’ asal puter CD bajakan musik sesuai selera mereka.

Pernah, di sebuah mal di kawasan Jakarta coret, saya mendapati lagu-lagu mellow diputar di Sabtu siang – tentang patah hati lah, diselingkuhi lah, cinta bertepuk sebelah tangan lah.. Hello, you are trying to capitalize music to boost a shopping experience. Bukan mengusir pengunjungnya biar cepet-cepet pulang trus nangis-nangis geje di pojokan.

Pengelola pusat perbelanjaan dan restoran di Indonesia mungkin harus belajar lebih banyak soal musik dan perilaku pelanggan. Bisa jadi mereka melihat keberadaan musik hanya sebagai pelengkap, biar gak terkesan sunyi senyap (sampe kunci jatuh pun kedengeran). Padahal, musik bisa mempengaruhi hasrat belanja dan kondisi mood pelanggan.

Tapi, ada juga yang sudah memperhatikan soal backsound ini dengan baik dan benar. Contohnya Toko Buku Gramedia. Di surga belanja buku itu, tidak sembarang musik bisa diputar. Sudah ada aturan baku yang ditetapkan manajemen pusat. Semuanya merupakan musik-musik bertempo lambat dan tenang, dengan volume yang tidak keras tapi bisa menjangkau ruang dengar seluruh ruangan. Sebanyak 80% merupakan musik instrumen dan simfoni, sisanya lagu pop barat, dan hanya memberi jatah sedikit untuk lagu pop Indonesia.

Buat yang calon entrepreneur yang males riset soal penggunaan musik di bisnis ritel, nih saya kasih kisi-kisinya, sumbernya dari http://www.businessinsider.com. Nanti tinggal googling sendiri untuk penjelasan lebih lanjut.

1. Musik bertempo tinggi yang diputar dengan volume tinggi akan membuat konsumen bergerak lebih cepat (misalnya berkeliling rak dalam sebuah supermarket), tanpa mengurangi volume penjualan. Penelitian Cain-Smith & Curnow (1966).

2.  Musik dengan tempo rendah akan membuat konsumen bergerak lebih lambat, tapi mereka akan membeli lebih banyak barang. Termasuk di restoran, musik yang diperdengarkan lamat-lamat akan membuat pengunjung betah dan mengorder lebih banyak menu. Penelitian Milliman (1982 & 1986); Caldwell & Hibbert (1999).

3. Musik klasik cenderung mempengaruhi konsumen untuk membeli lebih banyak barang-barang berharga mahal (mewah). Penelitian Areni & Kim (1993).

4. Musik klasik di sebuah restoran akan membuat konsumen memesan lebih banyak menu (dan lebih mahal), ketimbang saat restoran tersebut memutar musik pop atau tanpa memutar musik. Penelitian Shilcock & Hargreaves (2003).

5. Namun, tidak semua ritel cocok menggunakan musik klasik sebagai perangsang mood berbelanja. Sebab, musik klasik selalu diidentikkan dengan toko yang hanya menawarkan barang-barang mewah saja. Penelitian Yalch & Spangenberg (1993).

6. Musik Perancis yang diputar di sebuah toko wine akan membuat konsumen membeli wine Perancis. Sedangkan musik Jerman yang diputar di toko wine yang sama, akan membuat konsumen membeli wine Jerman. Penelitian North, Hargreaves & McKendrick (1999).

7. Konsumen merasa seakan-akan merasa antrean atau pelayanan dilakukan dalam waktu singkat saat mereka menengar musik yang disukai. Penelitian Stratton (1992).

8. Calon konsumen akan cenderung membatalkan niat berbelanja (atau mempercepat waktu berbelanja) jika mendapati toko yang memutar musik yang tidak disukainya. Penelitian Bruno Brookes – Immedia (2011).

Nah, kan bener kan.. Kalo musik gak bikin betah, mending cari tempat lain deh.. Masalahnya, kebanyakan mal di Indonesia demen banget muter musik kenceng. Tapi, eh, kenapa tulisan ini jadi mirip artikel berita ya?

“The well-satisfied customer will bring the repeat sale that counts.” (James Cash Penney)

 
5 Comments

Posted by on July 7, 2013 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,

Video

Cintai Musiknya, Cintai Iklannya, Belum Tentu Beli Produknya..

Aarrggghh.. Setiap kali ada iklan kamera Canon EOS M di televisi saya tergerak untuk membesarkan volume, kalo perlu sampe tahap notok jedok paling kenceng. Saya sampai bela-belain googling dan nyari di youtube untuk nyari judul lagunya. Dan, sodara-sodara, lagu yang dipake untuk iklan itu judulnya Secret dari One Republic. Niat bener yak..

Entahlah, saya suka memperhatikan iklan, entah itu di televisi, radio, atau majalah. Di jaman kuliah dulu, saya sampai ambil mata kuliah periklanan selama satu semester. Bahkan, skripsi saya pun topiknya soal iklan.

Dulu cita-citanya pengen kerja di perusahaan periklanan (orang yang bikin iklan, bukan orang yang nyari iklan ya, catet!). Nggak meleset jauh sih, pekerjaan saya akhirnya masih berhubungan dengan iklan. Tapi, iklan sebagai penggerak majalah tempat saya bekerja. Gak ada iklan, gak ada pemasukan, ujung-ujungnya gak bisa gajian. Bagi sebuah perusahaan media, as simple as that.

Tapi, saya nggak mau ngobrolin susahnya nyari iklan untuk sebuah perusahaan media. Saya lagi pengen nulis soal lagu-lagu yang ada di iklan. Kalo menurut ilmu yang pernah saya pelajari, musik merupakan komponen penting dalam periklanan yang berbasis voice (entah itu televisi atau radio). Jingle, musik latar, tune, atau aransemen klasik digunakan dalam iklan digunakan untuk menarik perhatian masyarakat. Saya mungkin salah satu korban iklan Canon EOS M.

Selain itu, musik juga bisa berguna untuk menetapkan nada emosi dan mempengaruhi perasaan masyarakat, disamping menyampaikan titik penjualan. Kalo menurut para akademisi periklanan, berbagai variasi musik digunakan untuk fungsi komunikasi, identitas promosi produksi, gambaran segmentasi produk, penguat pesan, artistik, dan tentu saja, seperti yang udah ditulis di paragraf sebelumnya: menarik perhatian khalayak ramai.

Ini seperti strategi simbiosis mutualisme. Di satu sisi produk bisa diingat berkat sebuah lagu, di sisi lain lagu juga bisa diingat dari sebuah iklan. Banyak band-band kurang terkenal yang kemudian jadi terkenal berkat sebuah perusahaan menggunakan lagu mereka untuk iklannya, seperti Apple (iPod dan iTunes) yang memilih lagu Are you Gonna Be My Girlfriend dari Jet atau Mizone yang pakai lagu Great DJ dari The Ting Tings.

Sebaliknya, ada juga lagu-lagu yang udah familiar di kuping dipake untuk iklan. Kayak iklan Bebelac 3 yang pake lagu Barry White yang judulnya You’re the First, the Last, my Everything; Gulaku pake lagunya The Archier (Sugar, Sugar); atau iklan Vaseline (atau Nivea ya?) jadul pake lagunya The Verve yang Bitter Sweet Memories — intro stringnya mirip banget ama musik klasik yang judulnya saya lupa hehehe..

Atau ada juga iklan yang pakai lagu yang lagi booming semacam Secret-nya One Republic, seperti Everything at Once (Lenka) di iklan Window 8 atau Sweet Disposition (Temper Trap) untuk iklan Toyota Yaris (di TVC Indonesia), iklan Diet Coke dan Chrysler di Amrik sono.

Satu hal yang menarik, ada sebuah lagu yang tadinya digunakan untuk iklan tapi kemudian dirilis secara terpisah menjadi milik si penyanyi karena lagunya jadi ikutan booming. Kayak lagu Techicolor dari Paloma Faith untuk Samsung Corby. Jadi kepikiran, bayarannya berapa ya? Secara harga pasaran di Indonesia kalo bikin jingle iklan durasi 30 detik itu minimal Rp8 jutaan.

Ujung-ujungnya, kalo sesuai teori iklan, musik yang digunakan bisa jadi penggerak masyarakat untuk membeli produknya. Meski suka banget ama lagu Secret (versi The Piano Guys lebih nampol) dan Sweet Disposition, belum tentu saya beli Canon EOS M dan Toyota Yaris. Pengen sih pasti, tapi duitnya belum ada cyn… Ada yang bersedia mbeliin? hehehehe.. Peace!

“Without music, life would be a mistake.” (Friedrich Nietzsche

 
 

Tags: , , , ,