RSS

Mari Belajar Menulis

17 Jul

Image

Sekali lagi saya harus menjadi mentor menulis. Saat ini saya sedang mendapatkan project penulisan buku dari seorang kawan – yang sebenarnya bisa disebut sebagai mentor dan senior saya.

Project-nya cukup mudah, “hanya” menulis profil perusahaan sepanjang 20 halaman. Buat penulis profesional, it’s a piece of cake. Karena standar penulisan satu buku itu 200 halaman (format A5 atau B5, tergantung keinginan klien/penerbit).

Tentu saja, project yang kami kerjakan bukan untuk satu naskah profil saja. Tapi, untuk 12 naskah profil. Saya memiliki tim penulis buku. Untuk project ini, saya mengambil layer penulis dengan pengalaman basic. Mereka pernah punya pengalaman 1-2 tahun sebagai reporter, bukan redaktur.

Pemilihan layer penulis dengan kemampuan basic ini tentu saja menimbulkan potensi risiko yang cukup besar, yakni soal kualitas. Mau tak mau saya harus menyediakan waktu untuk mengajari menulis sesuai standar kualitas yang telah saya tetapkan. Learning by doing. Cukup pelik dan membutuhkan kesabaran ekstra.

Untuk menjadi penulis sebenarnya cukup mudah. Penulis harus memahami apa yang ditulisnya. Itu saja. Titik. Kalau nggak paham gimana? Itu sebabnya dalam proses penulisan buku (atau artikel apapun itu) ada yang namanya proses wawancara dan riset. Bertanya pada narasumber dan membaca data. Lebih baik kita malu di depan narasumber karena menanyakan hal-hal sepele daripada malu di depan ratusan-ribuan-atau puluhan ribu pembaca buku/majalah kita.

Itu baru dari sisi ketersediaan data dan fakta. Lalu, bagaimana soal penyampaian message-nya? Penulis pemula biasanya kagok saat akan menulis. Hasilnya tulisannya lebih pantas disebut copas bahan baku, karena hanya comot bahan mentah tanpa ada polesan entah berupa penambahan quotation narasumber atau yaaa.. menulis.. Deskripsikan, terangkan, jelaskan hingga sebuah tulisan ini menjadi enak dibaca dan perlu.

Satu tips lagi bagi penulis pemula, ketika menulis bayangkan yang akan membaca tulisan kita ini adalah keponakan kita yang masih berusia 10 tahun dan ibu kita yang sudah berusia 60 tahun. Pastikan mereka memahami tulisan kita. Kalau ada istilah teknis, terangan dalam bahasa mudah. Ubah istilah langitan ke bahasa yang membumi, begitu saya sering bilang ke kawan penulis pemula.

Whoosah.. Tarik nafas panjang. Ini belum termasuk mengajari soal standar baku penulisan, seperti soal EYD dan gak boleh ada typo error. Mengajari orang itu tidak mudah. Harus sabar. Tapi, ketika mereka berhasil, itu menciptakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri.

“He who learns but does not think, is lost. He who think but does not learn is in great danger.” (Confucius)

 
4 Comments

Posted by on July 17, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

4 responses to “Mari Belajar Menulis

  1. ouchzine.wordpress.com

    September 1, 2013 at 12:12 pm

    saya jadi banyak belajar, mbak mampir ya kapan-kapan di majalah online saya🙂 salam

     
    • naningisme

      September 4, 2013 at 2:14 pm

      Siaapp!!

      Oya, saya mau sharing quotation dari Dr. Seuss, “The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go.” So, enjoy reading and learning new things.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: