RSS

Life is a Journey of Going Home..

23 Oct

Image

Jarang saya terburu-buru saat pulang kantor. Saya menikmati momen menunggu kereta, melihat mbak-mbak dan mas-mas berdesakan yang memaksa masuk ke gerbong biar bisa mencapai rumah secepat mungkin. Tak ada yang salah. Mungkin mereka ingin cepat kembali ke rumah, bertemu keluarga, memasak makan malam untuk anak dan suami, buru-buru istirahat karena besok harus berangkat subuh, atau mau nonton sinetron geje di televisi. Kalau saya, buat apa buru-buru toh tak ada yang memburu. Apalagi kereta lewat tiap 10-20 menit. Jadilah saya orang yang setia dan sabar menanti di peron demi mendapatkan kereta yang tak penuh sesak.

Menjadi komuter yang selalu naik KRL commuter line, benar-benar memangkas waktu perjalanan. Kalau dulu, saat saya masih naik bus, perjalanan pulang kembali ke rumah bisa mencapai 2-3 jam (tidak termasuk waktu menunggu di halte yang banyak nyamuknya itu). Waktu tempuh nggak jauh beda kalau naik taksi, cuma beda di ongkos (dan kenyamanan) aja. Sedangkan perjalanan naik kereta paling lama cuma satu jam, kalau lancar malah cuma 20 menit dari stasiun keberangkatan sampai tujuan. It nice, isn’t?

Rekor perjalanan terpanjang untuk sampai kembali ke rumah yang pernah saya alami adalah 22 jam. Perjalanan dari Berlin menuju Jakarta, sudah termasuk waktu transit di Amsterdam dan Singapore. Mati gaya di pesawat dan di airport? Pasti. Tapi, tak apalah. jaraknya emang jauh. Kalau menurut distance-calculator.co.uk, jarak antara dua kota itu 10.676 kilometer.

Gak seberapa bete kalo dibandingkan dengan perjalanan naik kereta api kelas ekonomi, dari Jakarta ke Surabaya, pas masa mudik Lebaran. Bisa lebih dari 24 jam. Padahal jarak tempuhnya 674 kilometer. Sebuah pengalaman yang nggak pengen banget diulangi. Begitu keluar kereta, badan kremethek kayak rempeyek abis diinjek-injek.

Akan tetapi, tak ada yang mengalahkan waktu tempuh pulang ke rumah keluarga besar di Yogyakarta yang mencapai *drum roll, please* 36 jam! Bisa diduga perjalanan itu dilakukan pas mudik lebaran, lebih tepatnya waktu puncak mudik. Karena waktu perjalanan normal Jakarta – Yogyakarta cuma sekitar delapan jam untuk jarak tempuh sekitar 443 kilometer. Memang sih waktu itu banyak berhentinya, seperti makan dulu di restoran, numpang nyolok charger di mesjid, plus nyasar-nyasar karena gak bawa peta (apalagi GPS). At that time, we just enjoyed the journey and the traffic jam.

Namun, sesungguhnya, perjalanan terjauh menuju pulang adalah ke dalam diri sendiri. Tiada perbedaan jarak, tapi waktu tempuhnya begitu lama. Bisa berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Ujung dari perjalanan ke dalam diri sendiri, yang berhilir pada mawas diri dan berhulu pada kenal diri, adalah samudra makrifat berupa pengalaman syahadat.

“When the traveler goes alone, he gets acquainted with himself.” (Liberty Hyde Bailey)

 
Leave a comment

Posted by on October 23, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: