RSS

Mereka Ada di Luar Sana..

16 Dec

Image

Saya menulis artikel ini di tengah ‘tsunami naskah’. Di mana saya harus menyelesaikan editing puluhan naskah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Percayalah, ini bukan artikel curcol mengenai sulitnya mengedit naskah yang ditulis bukan oleh jurnalis profesional atau deadline mepet. Tapi saya ingin sharing mengenai keadaan di luar sana yang tertulis di artikel-artikel yang sedang saya hadapi saat ini.

Kebetulan saya menemukan beberapa artikel mengenai kegiatan Posyandu. Yup, kegiatan timbang menimbang bayi dan balita di Pos Pelayanan Terpadu itu. Di beberapa artikel, ibu-ibu Persatuan Istri Karyawan dan Bidan Kecamatan mengeluhkan bagaimana Kader Posyandu yang turn over-nya tinggi dan nggak paham dengan materi dasar Posyandu. Mereka pun lalu menggagas pelatihan privat bagi para kader, one on one, agar para kader paham bener dan gak malu buat bertanya.

Materi yang diberikan antara lain mengenai dasar-dasar kesehatan bayi dan balita (oke lah, kan ini Posyandu). Selain itu, mereka juga mengajari kader untuk mengisi dan mengolah data. Baiklah, mengolah data memang sedikit sulit, harus ada tekniknya, tapi mengisi data? Uhm, bukankah itu hanya mengisi kolom yang ada? Menurut bu Bidan memang seperti itu, hanya mengisi kolom. Tapi, masalahnya di desa-desa di pedalaman sana, kadang para Kader yang tidak memiilki pendidikan tinggi pun kesulitan untuk menentukan apa yang mau ditulis.

Mereka juga mengajari para kader mengenai 5 Langkah Kegiatan Posyandu, yakni tugas-tugas kader di hari buka Posyandu. Mulai menulis nama bayi/balita dan ibunya, menimbang bayi/balita, mencatat berat, mengisi KMS, memberikan sosialisasi kesehatan, imunisasi, pelayanan KB, memberikan makanan tambahan dan vitamin, dsb. Okelah, soal ini orang awam seperti saya pun harus belajar biar ngerti.

Kemudian, mereka juga mengajari cara mengatur meja, alur pergerakan para peserta Posyandu (abis dari meja ini trus ke meja itu, dsb), dan soal menerapkan disiplin kepada ibu-ibu yang datang. Sebab, selama ini para peserta Posyandu berebutan menimbang bayi dan balitanya, lalu buru-buru mengambil jatah makanan tambahan, lalu pulang. That’s it. Tanpa mau mendengarkan sosialisasi kesehatan.

Sesaat setelah membaca kalimat demi kalimat dalam artikel itu, saya tercenung…

Banyak hal yang membuat saya berpikir dan tersadar. Pertama, tidak semua orang beruntung mendapatkan pendidikan tinggi dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Selama ini seringkali saya menyamakan orang lain bisa mengikuti cara berpikir saya. Saya suka bete kalo ketemu orang yang udah diajari tapi nggak ngeh-ngeh juga.

Selama ini saya mendapatkan ‘kenikmatan’  karena berada di lingkungan yang memilki kebiasaan, cara berpikir, dan tingkat pendidikan/kecerdasan yang hampir setara. Saya salut kepada rekan-rekan yang berada di lapangan, di luar sana, di desa antah berantah, di pulau yang mungkin tidak tertera di peta Republik Indonesia, yang sering berinteraksi dengan mereka yang kurang beruntung dalam hal pendidikan namun tetap sabar. Ternyata, secara tidak sadar, saya sudah menjadi ‘orang kota yang menyebalkan’…

Kedua, ini yang paling krusial, soal sosialisasi kesehatan. Kalimat “para peserta Posyandu (yang datang) berebutan menimbang bayi dan balitanya, lalu buru-buru mengambil jatah makanan tambahan, lalu pulang” membuka mata saya bahwa masih banyak perempuan di luar sana yang ‘hanya’ peduli makanan tambahan (yang sehat dan pasti gratis – hal kedua yang paling penting), tanpa peduli ilmu tambahan.

Bagaimana ibu-ibu itu bisa memastikan kesehatan anak-anaknya kalau mereka nggak ngerti apa yang harus dilakukan? Saya nggak yakin mereka bakal buru-buru ke dokter, baca buku/majalah kesehatan, apalagi googling mengenai penyakit yang diderita keluarganya. Paling banter beli obat OTC di warung terdekat, yang nggak ngerti expired-nya udah lewat apa belum atau malah apes dapet obat palsu.

Ibu adalah kunci dari keberlangsungan sebuah bangsa. Rusaklah mental dan moral seorang ibu, maka rusaklah mental dan moral sebuah negara (hello, thanks to sinetron yang berhasil ‘merusak nalar’ ibu-ibu di negeri ini). Sebab, di tangannyalah anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dibentuk. Ketika seorang ibu mendidik anak secara salah, maka seumur hidup anak itu akan kehilangan arah (beruntung kalau si anak pas gede bisa nyadar). Kalau terus dibiarkan, ini bakal menjadi siklus yang tak terputus.

Maka, wahai kalian, kalo ada program pemberdayaan wanita, jangan dicemooh. Masih banyak perempuan di luar sana yang gak dapat akses informasi, pendidikan, kesehatan, dsb. Kalau ada perempuan di luar sana yang berhasil, saya akan mengangkat topi lebih tinggi karena mereka mampu menghadapi rintangan lebih banyak daripada yang dihadapi orang kota. Mungkin perempuan kota merasa sudah berdaya dan setara dengan pria. Tapi, di luar sana belum tentu. Kita harus sadar sesadar-sadarnya kalau Indonesia bukan cuma Jawa, apalagi Jakarta.

 

“You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation.” (Brigham Young)

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: