RSS

Selera Pasar

22 Feb

Image

Suatu siang, saya makan siang bareng seorang sahabat di Taman Ismail Marzuki. Santi adalah mantan wapemred sebuah koran nasional (tapi memilih ‘turun pangkat’ menjadi redaktur karena alasan idealis), seorang penulis buku politik — yang sekarang kayaknya salah satu karyanya udah masuk best seller, sekaligus mantan tetangga kamar kos.

Setelah ngobrol ngalor ngidul ngomongin project menulis masing-masing, kita sampai pada topik kualitas karya. Ya, kami senang banyak penulis baru di negeri ini. Hal ini menggembirakan karena bisa mendongkrak jumlah judul buku di Indonesia, yang selama ini cuma 18.000 judul per tahun. Jauh di bawah China yang mampu menerbitkan lebih dari 160.000 judul buku per tahun.

Tapi, ya ujung-ujungnya kembali ke Kualitas itu tadi. Kita mau pilih meningkatkan kuantitas atau kualitas? Bukan berarti kami berdua mencoba membuat kasta penulis (yang saya rasa, saya pun masih di papan tengah karena belum sehebat Alberthiene Endah atau Yuswohady. Saya hanya mantan jurnalis ekonomi biasa).

To tell the truth kami masih menemukan buku-buku asal jadi dengan kualitas seadanya. Buku dengan topik seringan kapas dan ditulis dengan teknik penulisan yang masih dangkal banyak dijual di toko buku. Tapi, ironisnya juga buku-buku itu lebih laku dari pada buku yang disusun dengan proses panjang, seperti riset atau investigasi lapangan.

Ini mengingatkan kami pada analogi sinetron atau acara joget-joget geje yang ratingnya lebih tinggi ketimbang serial dokumenter yang digagas dan disiarkan di stasiun swasta nasional. Selera pasar.

Ada dua opsi yang terbentang di hadapan kami, mau tetep idealis atau ngikut selera pasar. Idealis bisa diartikan sebagai tetap menyajikan topik berat sesuai background dan kemampuan kami, misalnya ekonomi atau politik, dengan teknik penulisan tinggi diiringi riset/investigasi mendalam. Kalo mengikuti selera pasar berarti nulis hal-hal ringan bin geje seputar topik yang lagi naik daun, gak perlu teknik tinggi, yang penting judul dan tampilannya keren. Satu catatan positif untuk para penulis itu adalah mereka bisa memanfaatkan momentum dan selera pasar.

Nggak mudah, memang, ketika seorang penulis dihadapkan pada kedua opsi itu. Ada semacam kewajiban moral di pundak penulis untuk tetap memberikan yang terbaik bagi masyarakat, yang kadang in return justru gak bagus bagus amat. Kalo penulis gak menulis tentang topik berat (yang kadang jarang dilirik), gimana nasib pembaca yang memang membutuhkan pengetahuan yang kita miliki?

Ini mungkin menjawab pertanyaan kenapa buku-buku bisnis yang bagus (dan jadi rujukan) justru banyak berupa terjemahan dari luar negeri. Sebab, di negeri ini, tulisan tentang strategi bisnis atau paparan ekonomi banyak yang berakhir di jurnal kampus atau ruang meeting korporasi. Belum banyak penulis yang mampu dan mau menyajikan analisa ekonomi bisnis dengan bagus. Ah, beruntung Indonesia punya seorang Yuswohady yang ilmu seputar bisnisnya oke dan kemampuan menulisnya juga oke.

Dari pada ikut-ikutan nulis chick lit (yang kadang saya tergelitik juga buat bikin bukunya hehehe..), saya dan Santi memilih untuk mengambil jalur aman. Tetap menyajikan topik berat, tapi ditulis dengan gaya ringan. Atau membantu para ahli di negeri ini untuk menyusun buku yang bakal dilirik masyarakat (hidup ghostwriter!). Mungkin itu cara kami untuk “menyiasati” selera pasar.

“The purpose of a writer is to keep civilization from destroying itself.”
(Albert Camus)

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: