RSS

Monthly Archives: March 2014

Video

Satu Hari yang Cerah: Kisah Langit Biru

Ketahuan banget kalo saya lagi males nulis blog, jadilah saya mengunggah video klip yang asik. Temanya  masih soal alam. Video musik yang ada di atas berjudul “Satu Hari yang Cerah” punya Budi Doremi.

Konsep video musik ini sederhana. Si pria yang bernama asli Syahbudin Syukur ini keliling Indonesia bawa gitar, kayak pengamen. Selain bernyanyi sendiri, ia juga mengajak bernyanyi warga lokal dan sejumlah wisatawan asing. Setidaknya sembilan lokasi di kawasan Indonesia bagian Timur dijadikan tempat syuting, termasuk Pulau Komodo, Pulau Kalong, Pulau Kanawa, Labuhan Bajo, Tanjungan, dan Gili Air.

Ide dasar pembuatan video musik ini dari keprihatinan Budi (dan para video maker, tentunya) tentang banyaknya orang Indonesia yang justru banyak menghabiskan waktu berlibur ke luar negeri hanya untuk menikmati keindahan alamnya. Padahal, keindahan alam ada di hampir seluruh pelosok negeri. Video Satu Hari yang Cerah dirilis 7 Januari 2013.

“Kalau lu tahu Indonesia itu indah, nggak akan ada waktu lagi buat galau,”

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on March 24, 2014 in Musiclicious

 

Tags: , , , ,

Video

Waltz Musim Pelangi

Terlalu lelah walau ‘tuk sekedar bermimpi…

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2014 in Musiclicious

 

Tags: , , ,

Image

Little Things We Need

Little Things She Needs

Sometimes beautiful things come into our lives out of nowhere. We can’t always understand them, but we have to trust in them. I know you want to question everything, but sometimes it pays to just have a little faith.

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2014 in Random Thought

 

Tags: , ,

Berburu Bintang di Langit

Image

Saya lagi pengen ngobrol soal alam. Jujur, dengan tingkat polusi yang makin mengkhawatirkan, saya nggak pengen menjadi generasi terakhir yang pernah melihat langit biru, kerlip bintang di langit, lari-lari ngejar kunang-kunang, atau kejebur sungai dengan air yang masih bening.

Saya ingin berbagi cerita. Mudah-mudahan anak cucu saya kelak masih bisa baca blog emak atau eyangnya ini. AMIN. *eh, internet bakal punah gak sih?*

Sepertinya baru kemarin saya berkemah di lapangan dekat rumah, duduk bareng tetangga (yang kini udah mencar entah ke mana), dan liat bintang di langit. Well, ini bukan cerita gombal di kisah-kisah fiksi tentang bintang jatuh. It was quite clear sky that we found ourself treated to an amazing view of the night sky. Stars!

Kalau sekarang kita ngeluh nggak bisa lihat bintang, bukan berarti bintang lagi ngambek. Selain faktor polusi udara, juga soal polusi cahaya. Kalau kata scienceblog.com, kondisi kita susah liat bintang karena cahaya lampu di malam hari sudah di atas natural brightness level. Dengan kata lain cahaya bintang udah kesaing ama cahaya lampu. Mungkin kita masih bisa lihat bintang kalo datang ke desa terpencil atau lagi berada di rig di tengah laut sono.

Mungkin karena masih jadi korban film-film kartun, waktu masih kecil, saya pikir Tuhan lagi iseng ngedip-ngedipin senter di langit. Lha wong bintang bisa kelip-kelip gitu hehehe.. Tapi kemudian setelah dapat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), saya akhirnya tahu kalau bintang yang keliatannya imut itu sesungguhnya benda langit berukuran raksasa yang berisi gas yang sedang terbakar dahsyat.

Bisa dikatakan, bintang adalah bola api raksasa yang sedang menyala dengan suhu jutaan derajat celcius. Ebuset! Hanya karena jaraknya yang jauh aja makanya keliatan kecil dan kedip-kedip. Bintang terdekat dengan bumi berjarak 8 tahun cahaya. Padahal kecepatan cahaya 300.000 km per detik.

Jadi kalau cahaya aja butuh delapan tahun untuk sampai ke Bumi maka perhitungannya 8 tahun x 356 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x 300.000 km/detik = 75.686.400.000.000 km. Yak, sodara-sodara, Anda melihat benda langit yang jaraknya 75 triliun kilometer.

Itu yang paling deket, 8 tahun cahaya. Lha kalo jaraknya 100 tahun cahaya, 1.000 tahun cahaya, 1 juta tahun cahaya, atau 100 miliar tahun cahaya? Berarti kita liat bintang yang lagi ‘ngebul-ngebul’ 100 tahun lalu, 1.000 tahun lalu, atau 100 miliar tahun lalu yang cahayanya baru nyampe malam ini. Jadi, kalo kita lihat bintang malam ini, sebenarnya bukan kondisi langit saat ini, tapi puluhan atau miliaran tahun lalu.

Ah, mana USS Enterprise? Saya mau berkeliling bareng Mister Spock dan rombongan Startrek.

“Not just beautiful, though–the stars are like the trees in the forest, alive and breathing. And they’re watching me.”  (Haruki Murakami)

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Rindu Langit Biru

Image

Dahulu kala, sekitar dua dasawarsa silam, saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (berasa sudah tua!), selalu ada pertanyaan seputar musim. Let me share some of the questions, “Anak-anak, di Indonesia ada berapa musim?” dan seluruh siswa akan menjawab, “Dua, bu guru. Musim hujan dan musim kemarau.”

Lalu, pertanyaan berikutnya akan seputar kapan musim penghujan atau musim kemarau itu berlangsung. Sambil mengacungkan tangan, beberapa siswa akan menjawab, “Musim penghujan di bulan Maret sampai Oktober, bu guru.. Lalu, musim kemarau di bulan April sampai September.”

Seorang siswa akan kembali mengangkat tangannya untuk melengkapi jawaban kawannya, “Di antaranya ada musim pancaroba, bu guru.. Pergantian musim. Biasanya kita akan sering kena penyakit kalo pas musim pancaroba..” kata siswa cerdas tadi. Semua tertawa dan bu guru yang berdiri di depan kelas akan tersenyum dan manggut-manggut, memuji para siswanya. “Kalian semua pintar!”

Tapi, itu dulu. Lain dahulu, tentu lain sekarang. Saya nggak tahu, di SD sekarang ini apakah masih ‘musim’ seorang guru menanyakan perihal dua musim di negeri ini, yang penghujan dan kemarau itu. Kalau masih, tentu para siswa cerdas justru akan mem-bully gurunya. Bilang kalau pelajaran IPA tak sahih lagi. Mengingat sekarang kita tak lagi bisa membedakan bulan ini kita berada di musim penghujan atau kemarau.

Kadang, hujan mendadak datang tanpa permisi. Air sekonyong-konyong jatuh dari langit, disertai gemuruh guruh dan petir yang menyambar. Setelah itu, wuzz.. awan gelap seakan tersingkap dan dimulailah momen matahari yang lagi sale. Terang benderang, panas menyengat.

Atau malah seperti beberapa minggu belakangan ini, mendung menggelayut di langit Jakarta. Mungkin kalau saya vampir, saya akan senang hati menanti mas Edward Cullen yang (katanya) ganteng itu untuk minum teh di teras rumah. “Hey, ini Jakarta apa Forks sih?” (note: Forks bukan garpu, tapi kota rekaan tempat para vampire di novel Twilight itu tinggal).

Karena seringnya awan hitam menghiasi langit Jakarta di siang hari, saya jadi benar-benar rindu keberadaan langit biru dengan awan putih. Suhu di Jakarta pun makin dingin. Sekarang, di siang hari bolong saat saya menulis blog ini (di ruangan tanpa AC), termometer menunjuk angka 26 derajat dengan angin sepoi-sepoi galau. Kadang, saya bertanya dalam hati, “Saya masih tinggal di Indonesia kan? Yang letaknya di Khatulistiwa itu..”

Lalu apa penyebab di balik semua ini? Meski katanya ini merupakan proses alamiah, tetapi adakah campur tangan manusia sehingga menyebabkan ‘kegalauan’ antara matahari dan hujan ini? Tentu saja ada. Banyaknya polusi, baik dari asap kendaraan bermotor atau pabrik – selain makin banyaknya gedung pencakar langit, membuat sirkulasi angin berubah.

Baiklah, perubahan iklim (climate change) yang kita alami ini adalah akibat dari pemanasan global (global warming). Mau tak mau, siap tak siap, suka tak suka, akhirnya kita bertemu dengan si Global Warming itu.  *salaman*  *tuker kartu nama*

“The sky grew darker, painted blue on blue, one stroke at a time, into deeper and deeper shades of night.”  (Haruki Murakami)

 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , ,

The Emotional Rollercoaster of Being an Entrepreneur

roller coaster

Entrepreneurship is definitely not for everyone and especially not for the faint of heart. Some people are born to be entrepreneurs, while others will fall into it naturally. If you can’t see yourself leaving the comfort of a solid corporate salary and starting a new brand from scratch, then maybe the entrepreneurial lifestyle isn’t best for you.

Entrepreneurship takes a lot of time and sacrifice. You literally need to be ready to give up everything from job security, financial stability, social life and sometimes even friendships to dedicate however long it takes to build the business. Expect to work long hours with little pay, and always be on high alert for whatever you might be faced with.

You must have an unwavering belief that what you are doing will succeed. Ultimately, entrepreneurship is started and driven forward by passion, and businesses who aren’t fueled by it will have a hard time becoming notable. It is clear and inspiring when companies are operating for a greater purpose other than profit.

It is very possible that despite your best efforts it may not work out, and you have to be ready and willing to accept failure. Failure is extremely important in the process, and with it comes invaluable lessons and experiences which will carry on throughout your time as an entrepreneur. Remember, you’re probably going to fall down, but the world doesn’t care how many times it happens as long as it’s one fewer than the number of times you get back up.

Successful entrepreneurs are comfortable with taking on a massive responsibility load, being challenged and trailblazing their way through the roller coaster ride. Honestly ask yourself whether or not you’re able to handle the constant stress and unexpected twists and turns that the ride will no doubt take. You have to not only be able to take it as it comes, but thrive on it and change the course yourself.

Ini curcol akut. Sekian. Terima kasih. Huffftt.. *ngelapkeringet*

“It’s been quite a roller coaster ride, but I’ve grown and learned a lot about myself.”
(Christina Aguilera)

 
Leave a comment

Posted by on March 4, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , ,