RSS

Rindu Langit Biru

12 Mar

Image

Dahulu kala, sekitar dua dasawarsa silam, saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (berasa sudah tua!), selalu ada pertanyaan seputar musim. Let me share some of the questions, “Anak-anak, di Indonesia ada berapa musim?” dan seluruh siswa akan menjawab, “Dua, bu guru. Musim hujan dan musim kemarau.”

Lalu, pertanyaan berikutnya akan seputar kapan musim penghujan atau musim kemarau itu berlangsung. Sambil mengacungkan tangan, beberapa siswa akan menjawab, “Musim penghujan di bulan Maret sampai Oktober, bu guru.. Lalu, musim kemarau di bulan April sampai September.”

Seorang siswa akan kembali mengangkat tangannya untuk melengkapi jawaban kawannya, “Di antaranya ada musim pancaroba, bu guru.. Pergantian musim. Biasanya kita akan sering kena penyakit kalo pas musim pancaroba..” kata siswa cerdas tadi. Semua tertawa dan bu guru yang berdiri di depan kelas akan tersenyum dan manggut-manggut, memuji para siswanya. “Kalian semua pintar!”

Tapi, itu dulu. Lain dahulu, tentu lain sekarang. Saya nggak tahu, di SD sekarang ini apakah masih ‘musim’ seorang guru menanyakan perihal dua musim di negeri ini, yang penghujan dan kemarau itu. Kalau masih, tentu para siswa cerdas justru akan mem-bully gurunya. Bilang kalau pelajaran IPA tak sahih lagi. Mengingat sekarang kita tak lagi bisa membedakan bulan ini kita berada di musim penghujan atau kemarau.

Kadang, hujan mendadak datang tanpa permisi. Air sekonyong-konyong jatuh dari langit, disertai gemuruh guruh dan petir yang menyambar. Setelah itu, wuzz.. awan gelap seakan tersingkap dan dimulailah momen matahari yang lagi sale. Terang benderang, panas menyengat.

Atau malah seperti beberapa minggu belakangan ini, mendung menggelayut di langit Jakarta. Mungkin kalau saya vampir, saya akan senang hati menanti mas Edward Cullen yang (katanya) ganteng itu untuk minum teh di teras rumah. “Hey, ini Jakarta apa Forks sih?” (note: Forks bukan garpu, tapi kota rekaan tempat para vampire di novel Twilight itu tinggal).

Karena seringnya awan hitam menghiasi langit Jakarta di siang hari, saya jadi benar-benar rindu keberadaan langit biru dengan awan putih. Suhu di Jakarta pun makin dingin. Sekarang, di siang hari bolong saat saya menulis blog ini (di ruangan tanpa AC), termometer menunjuk angka 26 derajat dengan angin sepoi-sepoi galau. Kadang, saya bertanya dalam hati, “Saya masih tinggal di Indonesia kan? Yang letaknya di Khatulistiwa itu..”

Lalu apa penyebab di balik semua ini? Meski katanya ini merupakan proses alamiah, tetapi adakah campur tangan manusia sehingga menyebabkan ‘kegalauan’ antara matahari dan hujan ini? Tentu saja ada. Banyaknya polusi, baik dari asap kendaraan bermotor atau pabrik – selain makin banyaknya gedung pencakar langit, membuat sirkulasi angin berubah.

Baiklah, perubahan iklim (climate change) yang kita alami ini adalah akibat dari pemanasan global (global warming). Mau tak mau, siap tak siap, suka tak suka, akhirnya kita bertemu dengan si Global Warming itu.  *salaman*  *tuker kartu nama*

“The sky grew darker, painted blue on blue, one stroke at a time, into deeper and deeper shades of night.”  (Haruki Murakami)

 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: