RSS

Berburu Bintang di Langit

13 Mar

Image

Saya lagi pengen ngobrol soal alam. Jujur, dengan tingkat polusi yang makin mengkhawatirkan, saya nggak pengen menjadi generasi terakhir yang pernah melihat langit biru, kerlip bintang di langit, lari-lari ngejar kunang-kunang, atau kejebur sungai dengan air yang masih bening.

Saya ingin berbagi cerita. Mudah-mudahan anak cucu saya kelak masih bisa baca blog emak atau eyangnya ini. AMIN. *eh, internet bakal punah gak sih?*

Sepertinya baru kemarin saya berkemah di lapangan dekat rumah, duduk bareng tetangga (yang kini udah mencar entah ke mana), dan liat bintang di langit. Well, ini bukan cerita gombal di kisah-kisah fiksi tentang bintang jatuh. It was quite clear sky that we found ourself treated to an amazing view of the night sky. Stars!

Kalau sekarang kita ngeluh nggak bisa lihat bintang, bukan berarti bintang lagi ngambek. Selain faktor polusi udara, juga soal polusi cahaya. Kalau kata scienceblog.com, kondisi kita susah liat bintang karena cahaya lampu di malam hari sudah di atas natural brightness level. Dengan kata lain cahaya bintang udah kesaing ama cahaya lampu. Mungkin kita masih bisa lihat bintang kalo datang ke desa terpencil atau lagi berada di rig di tengah laut sono.

Mungkin karena masih jadi korban film-film kartun, waktu masih kecil, saya pikir Tuhan lagi iseng ngedip-ngedipin senter di langit. Lha wong bintang bisa kelip-kelip gitu hehehe.. Tapi kemudian setelah dapat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), saya akhirnya tahu kalau bintang yang keliatannya imut itu sesungguhnya benda langit berukuran raksasa yang berisi gas yang sedang terbakar dahsyat.

Bisa dikatakan, bintang adalah bola api raksasa yang sedang menyala dengan suhu jutaan derajat celcius. Ebuset! Hanya karena jaraknya yang jauh aja makanya keliatan kecil dan kedip-kedip. Bintang terdekat dengan bumi berjarak 8 tahun cahaya. Padahal kecepatan cahaya 300.000 km per detik.

Jadi kalau cahaya aja butuh delapan tahun untuk sampai ke Bumi maka perhitungannya 8 tahun x 356 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x 300.000 km/detik = 75.686.400.000.000 km. Yak, sodara-sodara, Anda melihat benda langit yang jaraknya 75 triliun kilometer.

Itu yang paling deket, 8 tahun cahaya. Lha kalo jaraknya 100 tahun cahaya, 1.000 tahun cahaya, 1 juta tahun cahaya, atau 100 miliar tahun cahaya? Berarti kita liat bintang yang lagi ‘ngebul-ngebul’ 100 tahun lalu, 1.000 tahun lalu, atau 100 miliar tahun lalu yang cahayanya baru nyampe malam ini. Jadi, kalo kita lihat bintang malam ini, sebenarnya bukan kondisi langit saat ini, tapi puluhan atau miliaran tahun lalu.

Ah, mana USS Enterprise? Saya mau berkeliling bareng Mister Spock dan rombongan Startrek.

“Not just beautiful, though–the stars are like the trees in the forest, alive and breathing. And they’re watching me.”  (Haruki Murakami)

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: