RSS

Rebutan Kursi

17 Apr

Image

Seharian kemarin, di media sosial (bahkan sampai masuk TV dan website koran nasional) rame banget memberitakan sebuah akun Path yang bikin komen nggak simpatik dengan ibu hamil di KRL. Intinya sih si Dinda ini nggak seneng ada ibu hamil yang ujug-ujug minta prioritas duduk.

Sebagai roker sejati, saya memilih berada di posisi netral. Nggak pro Dinda, dan gak kontra Dinda. Apa yang dikeluhkan Dinda memang hampir selalu terjadi, setiap hari. Dengan berat hati, saya mengakui bahwa masih ada orang-orang bebal yang nggak mau kasih tempat duduk ke penumpang prioritas. Tapi, di sisi lain, saya juga menyayangkan ada juga penumpang prioritas yang jumawa dengan keprioritasannya.

Sayangnya, banyak yang langsung bereaksi keras kepada Dinda, menyerangnya. Mengapa kita tidak melihat latar belakang kenapa masalah itu bisa terjadi? Kok bisa seorang ibu hamil, yang jelas-jelas penumpang prioritas, sampai minta duduk sama orang yang duduk di depannya. Kok bisa penumpang yang duduk enggan ngasih tempat duduknya? Emang Indonesia udah berubah jadi negara barbar, apa?

Saya justru melihat akar masalah yang terjadi adalah ketidakmampuan PT KAI menyediakan sarana transportasi umum yang manusiawi dan tepat waktu. Selain masalah moral dan budi pekerti, tentu saja.

Memang, sekarang perjalanan dan rangkaian kereta makin banyak (eh, sekarang udah 10 gerbong lho, tadinya cuma 8 gerbong aja). Tapi, apakah seluruh perjalanan itu tepat waktu? Nggak usah jauh-jauh, sebulan terakhir ini aja, kereta error sering terjadi. Bayangkan, penumpang yang seharusnya naik KRL jam 5 pagi harus menanti kereta yang entah kapan datang, yang pada akhirnya harus berebutan masuk gerbong dengan penumpang yang seharusnya naik kereta jam 8 pagi.

Tiga jam penantian sia-sia di stasiun. Entah berapa rangkaian yang seharusnya lewat. FYI, dalam kondisi normal, di jam sibuk, kalo sesuai jadwal, tiap 5-10 menit sekali kereta masuk stasiun. Nah, kalo kereta error ya wassalam. Jadwal berubah semua. Saya yakin para penumpang juga punya kepentingan dan jadwal mepet (kalo telat potong gaji). Bukan saya membela Dinda, tapi dengan kondisi fisik dan psikologis yang sudah diombang-ambing perusahaan perkeretaapian negara, siapa yang nggak emosi?

Saya paham atas hak priveledge ibu hamil. Mereka harus menjaga dua nyawa dalam satu tubuh, dengan kondisi tubuh yang istimewa pula. Saya justru kasihan ketika para bumil ini berdesakan di kereta. Beberapa kawan sampai bela-belain berangkat 30-60 menit lebih awal, naik “kereta balik” (arah sebaliknya) biar bisa duduk sejak stasiun awal. Beberapa kawan lain menunda waktu pulang 30-60 menit dari jam pulang kantor biar bisa dapat kereta yang agak lega. Saya salut kepada mbak-mbak bumil yang seperti ini karena dia menyayangi diri dan bayi yang dikandungnya.

Ketika semuanya tak berjalan seperti rencana, termasuk perjalanan kereta yang selalu error itu, kita memang harus selalu berkepala dingin. Sabar. Kita harus memahami bahwa ada jutaan penumpang dengan jutaan sikap pula. Tapi, satu hal yang pasti, kita  harus bisa menempatkan diri dengan bijak. Kalau misalnya nanti kita hamil, mau nggak kita dicuekin? Dan sebaliknya. Seringkali kita abai dengan akar masalah yang terjadi karena terlalu emosi menanggapi apa yang terjadi di permukaan.

 

“Why is patience so important? Because it makes us pay attention.” (Paulo Coelho)

 

 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: