RSS

Pendulum Nusantara

23 Jul

Debat CapresRiuh rendah kampanye presiden telah usai. Pertama kali dalam sejarah bangsa, kita disuguhi program Debat Capres. Nggak cuma kampanye berkoar-koar yang diakhiri dengan joget dangdut. Kemarin, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan kalau pasangan capres nomor 2, Jokowi-JK resmi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019.

Pas debat kemarin, pak Jokowi banyak bercerita mengenai program tol laut. Apa sih itu? Apa artinya kita bakal membangun jalan tol di tengah laut — seperti tol Suramadu yang membelah Selat Madura untuk menghubungkan pulau Jawa dan Madura? Ternyata bukan itu.

Tol laut yang dibilang pak Jokowi sebenarnya adalah sistem transportasi barang dengan menggunakan kapal berukuran besar (kapasitas 3.000 hingga TEU) yang melewati jalur utama dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, secara rutin. Karena pola gerakan dari barat ke timur lalu kemudian berbalik timur ke barat, seperti gerakan pendulum, maka program ini disebut Pendulum Nusantara.

pendulum nusantara

Konsep Pendulum Nusantara (atau secara sederhana disebut “tol laut”) sebenernya bukan program baru. Melainkan sudah menjadi bagian dari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang diluncurkan pada 27 Mei 2011. Tujuannya untuk mengintegrasikan pelabuhan utama di Indonesia. Nah, kalo kita (eh saya ding..) baru denger barusan, sepertinya saya gak update banget, mungkin saya sempat jalan-jalan ke Mars tiga tahun terakhir.

Pendulum Nusantara adalah cikal bakal kesiapan Indonesia dalam menyambut konektivitas antarpelabuhan se-ASEAN. Secara garis besar, konsep Pendulum Nusantara bertujuan menciptakan efisiensi transportasi barang sehingga dapat menurunkan biaya logistik nasional, yang pada akhirnya mendorong tumbuhnya industri dan terjadinya pemerataan ekonomi, terutama untuk wilayah Indonesia bagian timur. Sepertinya udah banyak yang paham ya kalo harga semen satu sak di Papua bisa mencapai jutaan rupiah. Ongkir ke sono mahal, cyn..

Setidaknya, akan ada lima pelabuhan utama yang disinggahi kapal besar itu, yaitu Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar (Sulawesi), dan Sorong (Papua). Lima pelabuhan ini akan menjadi hub regional untuk daerah di sekitarnya (disebut dengan loop). Nantinya, barang dikirim ke pelabuhan sekitar dengan menggunakan kapal lebih kecil.

Akhir 2013 lalu, konsep Pendulum Nusantara sudah diuji coba di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pada uji coba dapat dilihat mengenai data real time pergerakan kapal besar dari satu titik ke titik lain, termasuk isi dan berat muatan, serta waktu sandar kapal.

Konsep ini membuat keseluruhan proses menjadi lebih transparan dan akuntabel, sehingga bisa menekan biaya logistik via laut dan membasmi pungutan liar. Selama ini komponen biaya logistik terbesar ada di pelabuhan, yakni mencapai 60%. Biaya tersebut untuk stuffing, storage, bongkar muat, serta trucking. Adapun biaya pelayaran, di luar biaya pelabuhan, sekitar Rp2-2,5 juta. Biaya itu dibebankan untuk bahan baku, kru, pengadaan dan maintenance kapal, serta biaya pandu dan sandar di pelabuhan. Nantinya, biaya pengiriman logistik via laut bisa ditekan hingga 50%. Manteb to?

 

“To reach a port we must set sail. Sail, not tie at anchor. Sail, not drift.”  (Franklin D. Roosevelt)

 

 
2 Comments

Posted by on July 23, 2014 in Random Thought

 

2 responses to “Pendulum Nusantara

  1. Hamba

    November 25, 2014 at 1:13 pm

    ijin kutip …

     
    • naningisme

      November 25, 2014 at 1:25 pm

      Monggo. Senang bisa berbagi🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: