RSS

Monthly Archives: October 2014

The End is the Beginning

moving day

Today is my last day at South Jakarta. I’ve been living here for nearly 12 years and it’s been a blast and super enjoyable life. But, it’s time for me to move to a new place, to live a new life, to enjoy a new experience.

Ketahuilah sodara-sodaraaa.. bahwa pindahan itu rempong. Apalagi bagi tipe-tipe orang sensitif nan melankolis seperti saya — dijamin banyak yang gak percaya kalo saya juga suka mellow-mellow geje. Proses pindahan mungkin simpel. Hanya butuh sekian jam untuk memindahkan kardus-kardus ke tempat baru. Tapi, butuh berhari-hari meneguhkan hati memasukkan mana barang yang perlu dibawa dan mana yang bisa dibuang.

Setelah kardus-kardus itu dibawa pergi, kadang kita baru menyadari bahwa sebanyak apapun barang yang kita miliki, tak semuanya kita butuhkan. KIta bisa kok hanya hidup dengan barang-barang primer aja. Tapi, begitulah.. manusia kadang menginginkan banyak hal untuk mewarnai hidupnya. Kadang hanya demi gengsi atau ikut-ikutan tetangga sebelah atau akibat godaan SALE yang terkutuk.

Melewati hari-hari terakhir, hanya dengan barang minim (bahkan saya lupa menyisakan piring, mangkok, dan pisau, yang membuat saya harus “tega” menaruh pisang goreng di mug yang ada di meja), kembali menyadarkan saya apa itu esensi hidup dan memiliki. Saya makin menyadari bahwa harta paling berharga di hidup ini adalah kesehatan, persahabatan, dan keluarga.

Well, saya tak bisa lagi menulis panjang lebar. Karena semua barang harus segera dikemasi dan saya harus melangkah pergi. Bye for now.

“The end is the beginning of all things. Suppressed and hidden. Awaiting be to released through the rhythm of pain and pleasure.” (Jiddu Khrisnamurti)

 
1 Comment

Posted by on October 31, 2014 in Random Thought

 

Tags:

Invisible Hand -repost

Stasiun Jakarta Kota

Saya tidak sedang membicarakan teori Adam Smith. Tapi saya ingin mengisahkan seorang tukang cuci yang berhasil menjelaskan teori invisible hand versinya – yang berhasil membuat hati saya mencelos.

Siang itu, didorong oleh keisengan akut (yang dibelakangnya ada tekanan kegalauan akut), saya menghabiskan waktu di stasiun Jakarta Kota. Senang rasanya bisa menikmati arsitektur peninggalan jaman Belanda. Adem bin semilir. Selain itu, saya selalu menikmati peran sebagai pengamat kehidupan. Cukup duduk manis di kursi tunggu stasiun, melihat hiruk pikuk di sekitaran. Terdiam di keramaian. Bagi saya itulah universitas kehidupan sebenar-benarnya.

Hampir satu jam duduk manis dan melewatkan tiga perjalanan kereta, membuat ibu yang duduk di sebelah bertanya-tanya, hendak ke mana mbak-mbak satu ini. Percakapan pun tercipta dari hanya sekadar menanyakan tujuan dan jam keberangkatan kereta. Dari situ saya mengenal si ibu, yang tololnya saya lupa bertanya siapa namanya, adalah tukang cuci di salah satu keluarga keturunan Arab yang bermukim di wilayah Kota. “Saya nggak perlu jauh-jauh ke Arab udah jadi bisa TKW. Majikan saya orang Arab, mbak,” kata si ibu, yang saya perkirakan berusia sekitar 60 tahun ini, terkekeh, memamerkan gigi ompongnya.

Dulu, ia adalah korban gempa Yogyakarta, pada 2006. Seluruh keluarganya meninggal, kecuali dia dan dua cucu kembarnya yang masih berusia 3 bulan. Kebingungan melanjutkan hidup, dia hijrah ke ibukota, ke tempat anak bungsunya. Apa daya, si anak bungsu tak sanggup memuliakan ibundanya dengan kehidupan sebaik ketika beliau di kampung halaman. Seorang tetangga pun menawarkan pekerjaan. Tak perlu ijasah, tak perlu pengalaman, cukup skill. Ada lowongan menjadi tukang cuci!

Merasa itu pekerjaan yang ia mampu lakukan, si ibu pun mengambil kesempatan. Masalah berakhir? Belum. Rumah anak bungsu si ibu ini ada di Bekasi, sedangkan tempat kerjanya di Jakarta Kota. Untuk menghemat biaya, si ibu naik kereta ekonomi dengan jadwal keberangkatan pukul 5.15. Sampai stasiun Kota satu jam kemudian, ia lalu melanjutkan berjalan kaki sampai rumah majikan. Hitung-hitung olah raga pagi, katanya.

“Kalau pagi saya naik angkot, ongkos nggak nyampai mbak. Saya naik angkotnya kalau pulang aja. Udah capek kerja. Kalau naik angkot harus oper dua kali. Bisa-bisa saya pulang gak bawa uang,” akunya, polos. Meski si majikan menawarkan gaji bulanan, si ibu bersikeras mengambil gaji harian. Menurutnya itu lebih bisa menyenangkan anak cucunya. Hampir separo gaji harian yang Rp20.000 itu dihabiskan untuk ongkos perjalanan.

Dia bercerita, majikannya sering membawakan makanan dan perlengkapan sekolah untuk cucu kembarnya. Bahkan, siang itu, dengan bangga, ia menunjukkan dua pasang kaos kaki putih dan tempat pensil murah meriah yang terbungkus tas kresek hitam dari majikannya. “Majikan perempuan sebenarnya kasihan sama saya, sudah tua harus kerja. Udah gitu rumahnya jauh lagi. Tapi saya bilang, kalau saya diberhentikan, anak cucu saya makan apa?”

Plak! Tamparan pertama seakan mendarat di pipi saya. Setahun terakhir saya merajuk ingin berhenti bekerja hanya gara-gara masalah kantor yang carut marut dan berhasil memarut tingkat kewarasan saya. Dengan ego setinggi Monas tumpuk tujuh, saya bersikeras mundur meski bakal miskin mendadak karena tak lagi terima duit bulanan. *ketok meja tiga kali, naudzubillahimindzalik* Kalimat si ibu langsung terngiang, tapi kali ini dengan dubbing suara saya, “Nanti saya dan orang tua saya makan apa?” Jleb!

“Setiap pekerjaan selalu ada masalah, mbak” kata si ibu, seakan bisa membaca pikiran saya. Mungkin di jidat saya ada tulisan Lagi Banyak Masalah. Si ibu melanjutkan ceritanya, bagaimana dia sebenarnya sudah tidak mampu lagi berdiri lama saat menyetrika baju dan kakinya yang sering pedih terkena air bekas cucian.

Untung si majikan yang budiman tahu diri, tak seperti oknum majikan garang yang sering menyiksa TKW di luar negeri sono. Si ibu hanya mencuci dan menyetrika baju harian, sisanya di-laundry atau dicuci sendiri oleh si anak majikan dengan mesin cuci canggihnya. Itu pun berselang-seling, hari ini si bu mencuci, besok menyetrika, dan seterusnya.

“Memang ibu masih kuat bekerja?” tanya saya, menyelidik. Saya tak yakin dengan penampilan ringkih di balik baju muslimah amat sederhana itu. “Ya dikuat-kuatin lah mbak. Saya kerja juga banyak dibantu sama tangan-tangan yang nggak kelihatan, mbak. Niat ingsun saja. Bismillah,” kata dia. Plak! Tamparan kedua seakan mendarat di pipi. Aduh, ibu, cukuupp.. cukuuupp.. Teriak batin saya.

Dia bilang tangan-tangan yang nggak kelihatan itu yang membantunya masuk gerbong kereta kelas ekonomi super penuh, meringankan langkah kakinya ke rumah majikan, melancarkan pekerjaannya, hingga memberinya rejeki yang tak diduga-duga. Ia memamerkan tas kresek putih yang dibawanya, “Ini barusan ada ibu-ibu ngasih saya mangga. Cucu saya pasti senang.”  Katanya, ibu-ibu ini mengaku sering bertemu dengannya di stasiun Kota. Oh, ibu, mungkin pemberi buah itu adalah seorang malaikat.

“Rejeki sudah ada yang mengatur, mbak,” kata si ibu, dengan senyum sumringah. Ia melanjutkan, Gusti Allah selalu paring rejeki dari pintu yang tak terduga. Kadang apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan. Tapi kita justru mendapatkan lebih dari yang kita harapkan.

“Kalau itu rejeki kita, mau dikorupsi sama orang lain, kita pasti dapat gantinya,” kata si ibu, yang saya yakin juga enek dengan berita korupsi pejabat. Gusti Allah sudah mengatur rejeki, jodoh, dan mati manusia, lanjut dia. Tangan-tangan yang tidak kelihatan itulah yang bekerja, memberi kita rejeki atau memberikan jalan mendapatkan rejeki.

Percakapan terus berlanjut. Dengan hati dan pikiran yang seakan dikucek-kucek, saya mendengarkan obrolan si ibu dengan saksama. Namun, begitu mendengar pengumuman kereta AC jurusan Depok akan tiba, saya segera minta ijin untuk menuju peron. Ia mengatakan harus menunggu 10 menit lagi untuk jadwal keberangkatan kereta ekonomi Bekasi pukul 15.15. Bukan tak ingin menemaninya lebih lama, buru-buru saya ijin pulang karena sudah ada cairan yang mulai menggenangi sudut mata.

Bahasan mata kuliah Invisible Hand disampaikan tepat 30 menit. Ibu ‘dosen’ yang kebetulan tukang cuci korban gempa itu benar-benar menyampaikan materi kuliah dengan studi kasus yang nyata. Kalau saya ibarat baju yang ia cuci, mungkin saya udah digiles berulang kali di penggilesan, dicelup ke air sabun berulang-ulang, dikucek, diperas, dan dijemur di terik matahari sebelum disemprot Trika dan disetrika. Benak yang tadinya menghitam jadi putih kembali.

Entah mengapa langkah saya menuju kereta menjadi lebih ringan. Terima kasih, ibu. Ketika saya menengok ke arah kursi tunggu, si ibu masih di sana dan memberikan senyum terbaiknya. Mungkin dia malaikat. Mungkin dia God’s invisible hand yang membimbing saya. Siapa tahu.

“You cannot open a book without learning something.” (Confucius)

Catatan: (1) Invisible hand merupakan pemikiran ekonomi modern dari Adam Smith dalam The Wealth of Nations, pada 1776. Adam Smith menyatakan bahwa sebuah sistem besar akan mengatur dirinya sendiri, dengan aktivitas masing-masing, tanpa harus mendapatkan arahan tertentu. Pemikiran invisible hand masih menjadi pusat gagasan ekonomi pasar dan kapitalisme hingga saat ini. (2) Tulisan ini merupakan reposting dari artikel di blog naningisme dua tahun lalu, tepatnya 27 November 2012. Artikel saya unggah lagi karena banyak follower blog ini yang mengaku “kena tampol” setelah membacanya 🙂

 
1 Comment

Posted by on October 25, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Teknologi yang Sok Pintar

Wayne Checks In/Durham

Sedari kecil saya selalu berkata bahwa, “Teknologi merupakan hasil pemikiran para pemalas.” Tapi, kemudian banyak yang protes. Ah, mana mungkin pemalas mana mau susah-susah berpikir, apalagi sampai melakukan percobaan ratusan bahkan ribuan kali untuk sebuah penemuan penting? Weit, dengarkan penjelasan saya dulu, maksud saya adalah teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup manusia — yang makin lama makin males bin manja.

Tak percaya, baiklah kita kupas beberapa contoh. Dahulu kala, ketika manusia kecapekan mengangkat barang, seorang pemalas (tapi cerdas) yang hidup di antara mereka segera menatah batu hingga berbentuk roda. Hasilnya, gelindingkan saja roda maka proses angkat junjung gak ribet lagi. Capek dengan dorong dan tarik, lagi-lagi seorang pemalas bin cerdas segera mengungkapkan ide untuk menciptakan mesin yang akan dipasang di roda tersebut. Maka, jadilah mobil. Wuzzz..

Tentu saja, evolusi roda ke mobil gak seinstan itu. Saya hanya menggambarkan betapa teknologi memang diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Tapi, ada juga teknologi yang sepertinya memudahkan, tapi justru merepotkan. Salah satunya adalah teknologi touchscreen dan auto text yang ada di ponsel.

Iya sih, touch screen di ponsel atau komputer bakal membuat tugas jari lebih ringan. Tak perlu effort terlalu besar untuk menekan keypad atau mengarahkan kursor ke titik tujuan. Cukup sentuh, tunjuk, beres. Tapi, kita harus ingat bahwa jari bukanlah penunjuk yang presisi. Apalagi kalau jari tangan kita tak selentik jari para model cincin kawin itu. Walhasil typo error sering terjadi saat jari segede jahe tak compatible dengan layar touchscreen ukuran mini.

Selain typo error akibat ukuran jari segede jahe, kesalahan juga sering diakibatkan “terlalu pintarnya” ponsel. Ponsel jaman sekarang tuh banyak yang sotoy dan sok jadi cenayang. Mereka mencoba menawarkan fungsi autotext. Paling menyebalkan kalau mereka sok tau dan mengubah seenak udel hasil ketikan kita menjadi hasil pikiran mereka.

Misalnya kalau kita ketik “hr” yang di bahasa Indonesia berarti “hari” di layar suka muncul “hour”. Gak lucu kan kita maksudnya mau tanya “Kamu datang hari apa” tapi tertulis “Kamu datang hour apa?” Errr.. semacam bahasa Melayu salah kalimat tanya. Atau penyakit BlackBerry yang gak menyulitkan menyingkat kata “lantai”. Kalau saya tulis “lt” secara otomatis mereka bakal kasih kode latitude, Hadeehhh..

Ponsel-ponsel canggih juga secara otomatis menyimpan tambahan kosa kata yang sering kita pakai. Autotext yang canggih.Tapi, akibat kecanggihan auttext, seorang kawan pernah dibikin ketawa ngakak ketika namanya berubah menjadi nama hewan.

Ceritanya, anak buah kawan saya hendak menulis, “Nanti meeting jam berapa, bu tam?” (si kawan saya ini bernama Tami). Tapi, karena terburu-buru send dan tak mengecek hasil yang tertera di layar, berdasarkan autotext kalimat tersebut berubah menjadi “Nanti meeting jam berapa, bu ayam?” Waks, bosnya dipanggil ayam hahaha..

“I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” (Albert Einstein)

 
Leave a comment

Posted by on October 16, 2014 in Random Thought

 

Tags: ,

Anak Baru

Learn-to-Fly

Pagi tadi saya mendapatkan telepon dari provider televisi berbayar. Saya sudah berlangganan sejak lama dan si mbak telemarketer ini menawarkan tambahan paket. Agak belepotan saat ia menjelaskan. Campuran antara grogi dan tak fasih menyebutkan judul-judul program yang memang kebanyakan berbahasa Inggris. Saya tersenyum mendengarkan.

Pernah pula, belum juga tepat pukul 9 pagi, saya mendapatkan telepon dari sebuah bank asing. Saya memang pakai kartu kredit dari mereka. Mungkin karena saya langsung menjawab telepon di nada panggil pertama, kentara sekali kalau si mbak sempat gugup. Ia menyapa selamat pagi dengan terbata-bata lalu menawarkan produk baru, masih dengan suara bergetar. Saya tak menghentikan pembicaraan telepon itu dan mendengarkan saja dengan tersenyum.

Anak baru. Begitu pikir saya. Mungkin saya termasuk urutan awal orang-orang yang harus mereka hubungi di hari pertama bekerja. Jadilah saya “harus menikmati” kegugupan on their first assignments.

Jujur, saya sangat menghargai usaha para anak-anak baru ini. Saya justru memilih untuk mendengarkan dengan baik, tersenyum di balik gagang telepon, lalu menolak dengan halus (kalau memang harus menolak tawaran mereka), dan mengucapkan salam sambil berkata, “Thank you and have a nice day!” Biar mereka nyaman dan semangat lagi.

Kondisi mungkin berbeda kalau saya dihubungi oleh rekan mereka yang lebih berpengalaman (kelihatan banget dari cara dan nada suaranya), saya mungkin bisa jadi orang ketus yang langsung menolak tawaran sebelum kata ke-10 yang mereka ucapkan. “Maaf, saya tidak tertarik.” Lalu tutup telepon. Klek.

Mengapa saya begitu lunak menghadapi anak baru? Jawabannya simpel. Karena saya – dan pasti Anda juga – pernah menjadi “anak baru” di mana pun kita berada. Akan selalu ada momen pengalaman pertama yang dipenuhi rasa gugup, tak percaya diri, bingung sendiri, gak tau mau ngapain, plus takut sama atasan.

Saya ingat betul ketika masih baru pertama kali menjadi reporter. I did not know what to do. Si anak pemalu ini tetiba harus melakukan janji temu dengan orang penting – yang selama ini cuma bisa dilihat di layar televisi. Mungkin si bapak paham kalau saya reporter baru. Karena cara saya mengajukan pertanyaan persis seperti polisi yang menginterogasi maling ayam hahaha..

“Pertanyaan pertama, apa yang dimaksud dengan bla bla bla? Bagaimana caranya? Pendapat bapak?” Saya cuma membaca persis apa yang ditulis redaktur di lembaran TOR. Kepala saya mendongak saat ia menjawab, lalu menunduk untuk membaca pertanyaan. Begitu saja. Tanpa ada basa-basi. Tanpa ada usaha memperdalam jawaban. Karena saya memang belum tahu caranya melakukan wawancara seperti Najwa Shihab.

Sungguh bersyukur si bapak, yang posisinya sudah sangat tinggi di perusahaannya, waktu itu tidak mempersulit proses wawancara. Ia menjawab dengan baik, bersikap menyenangkan, dan memberikan beberapa info off the record. Bagi saya, saat itu, ukuran kesuksesan mewawancarai narasumber pertama adalah saat ia “bersikap menyenangkan”. Tidak mempersulit. Tidak berbelit. Dan, menghargai tugas saya sebagai jurnalis. Ya, sikap positif itu terus saya kenang sampai sekarang.

Percayalah, di bidang apapun Anda berada, sebagai anak baru, mental kita belum terasah untuk menerima kegagalan, penolakan, atau hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Sebagai anak baru, kita akan merasa senang dan bangga kalau ada yang menghargai atau sekadar ternyum dan berkata-kata baik — meskipun sebenarnya mereka hanya “abang-abang lambe” belaka. Tapi, bisa jadi itu mood booster terbaik sepanjang hari, atau mungkin for the rest of their life.

I always do believe that every pro was an amateur and every expert was a beginner. Mungkin, dengan kerja kerasnya, si anak baru yang Anda temui itu kelak akan menjadi ahli di bidangnya. Atau mungkin lebih sukses dari Anda. Who knows.

“A professional is an amateur who didn’t quit” (Richard Bach)

 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2014 in Random Thought

 

Tags:

Fly, Fly Away

balloons - girl

“Life is a series of natural and spontaneous changes. Don’t resist them – that only creates sorrow. Let reality be reality. Let things flow naturally forward in whatever they like.”

(Lao Tzu)

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2014 in Random Thought

 

Tags: , ,