RSS

Anak Baru

15 Oct

Learn-to-Fly

Pagi tadi saya mendapatkan telepon dari provider televisi berbayar. Saya sudah berlangganan sejak lama dan si mbak telemarketer ini menawarkan tambahan paket. Agak belepotan saat ia menjelaskan. Campuran antara grogi dan tak fasih menyebutkan judul-judul program yang memang kebanyakan berbahasa Inggris. Saya tersenyum mendengarkan.

Pernah pula, belum juga tepat pukul 9 pagi, saya mendapatkan telepon dari sebuah bank asing. Saya memang pakai kartu kredit dari mereka. Mungkin karena saya langsung menjawab telepon di nada panggil pertama, kentara sekali kalau si mbak sempat gugup. Ia menyapa selamat pagi dengan terbata-bata lalu menawarkan produk baru, masih dengan suara bergetar. Saya tak menghentikan pembicaraan telepon itu dan mendengarkan saja dengan tersenyum.

Anak baru. Begitu pikir saya. Mungkin saya termasuk urutan awal orang-orang yang harus mereka hubungi di hari pertama bekerja. Jadilah saya “harus menikmati” kegugupan on their first assignments.

Jujur, saya sangat menghargai usaha para anak-anak baru ini. Saya justru memilih untuk mendengarkan dengan baik, tersenyum di balik gagang telepon, lalu menolak dengan halus (kalau memang harus menolak tawaran mereka), dan mengucapkan salam sambil berkata, “Thank you and have a nice day!” Biar mereka nyaman dan semangat lagi.

Kondisi mungkin berbeda kalau saya dihubungi oleh rekan mereka yang lebih berpengalaman (kelihatan banget dari cara dan nada suaranya), saya mungkin bisa jadi orang ketus yang langsung menolak tawaran sebelum kata ke-10 yang mereka ucapkan. “Maaf, saya tidak tertarik.” Lalu tutup telepon. Klek.

Mengapa saya begitu lunak menghadapi anak baru? Jawabannya simpel. Karena saya – dan pasti Anda juga – pernah menjadi “anak baru” di mana pun kita berada. Akan selalu ada momen pengalaman pertama yang dipenuhi rasa gugup, tak percaya diri, bingung sendiri, gak tau mau ngapain, plus takut sama atasan.

Saya ingat betul ketika masih baru pertama kali menjadi reporter. I did not know what to do. Si anak pemalu ini tetiba harus melakukan janji temu dengan orang penting – yang selama ini cuma bisa dilihat di layar televisi. Mungkin si bapak paham kalau saya reporter baru. Karena cara saya mengajukan pertanyaan persis seperti polisi yang menginterogasi maling ayam hahaha..

“Pertanyaan pertama, apa yang dimaksud dengan bla bla bla? Bagaimana caranya? Pendapat bapak?” Saya cuma membaca persis apa yang ditulis redaktur di lembaran TOR. Kepala saya mendongak saat ia menjawab, lalu menunduk untuk membaca pertanyaan. Begitu saja. Tanpa ada basa-basi. Tanpa ada usaha memperdalam jawaban. Karena saya memang belum tahu caranya melakukan wawancara seperti Najwa Shihab.

Sungguh bersyukur si bapak, yang posisinya sudah sangat tinggi di perusahaannya, waktu itu tidak mempersulit proses wawancara. Ia menjawab dengan baik, bersikap menyenangkan, dan memberikan beberapa info off the record. Bagi saya, saat itu, ukuran kesuksesan mewawancarai narasumber pertama adalah saat ia “bersikap menyenangkan”. Tidak mempersulit. Tidak berbelit. Dan, menghargai tugas saya sebagai jurnalis. Ya, sikap positif itu terus saya kenang sampai sekarang.

Percayalah, di bidang apapun Anda berada, sebagai anak baru, mental kita belum terasah untuk menerima kegagalan, penolakan, atau hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Sebagai anak baru, kita akan merasa senang dan bangga kalau ada yang menghargai atau sekadar ternyum dan berkata-kata baik — meskipun sebenarnya mereka hanya “abang-abang lambe” belaka. Tapi, bisa jadi itu mood booster terbaik sepanjang hari, atau mungkin for the rest of their life.

I always do believe that every pro was an amateur and every expert was a beginner. Mungkin, dengan kerja kerasnya, si anak baru yang Anda temui itu kelak akan menjadi ahli di bidangnya. Atau mungkin lebih sukses dari Anda. Who knows.

“A professional is an amateur who didn’t quit” (Richard Bach)

 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2014 in Random Thought

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: