RSS

Teknologi yang Sok Pintar

16 Oct

Wayne Checks In/Durham

Sedari kecil saya selalu berkata bahwa, “Teknologi merupakan hasil pemikiran para pemalas.” Tapi, kemudian banyak yang protes. Ah, mana mungkin pemalas mana mau susah-susah berpikir, apalagi sampai melakukan percobaan ratusan bahkan ribuan kali untuk sebuah penemuan penting? Weit, dengarkan penjelasan saya dulu, maksud saya adalah teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup manusia — yang makin lama makin males bin manja.

Tak percaya, baiklah kita kupas beberapa contoh. Dahulu kala, ketika manusia kecapekan mengangkat barang, seorang pemalas (tapi cerdas) yang hidup di antara mereka segera menatah batu hingga berbentuk roda. Hasilnya, gelindingkan saja roda maka proses angkat junjung gak ribet lagi. Capek dengan dorong dan tarik, lagi-lagi seorang pemalas bin cerdas segera mengungkapkan ide untuk menciptakan mesin yang akan dipasang di roda tersebut. Maka, jadilah mobil. Wuzzz..

Tentu saja, evolusi roda ke mobil gak seinstan itu. Saya hanya menggambarkan betapa teknologi memang diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Tapi, ada juga teknologi yang sepertinya memudahkan, tapi justru merepotkan. Salah satunya adalah teknologi touchscreen dan auto text yang ada di ponsel.

Iya sih, touch screen di ponsel atau komputer bakal membuat tugas jari lebih ringan. Tak perlu effort terlalu besar untuk menekan keypad atau mengarahkan kursor ke titik tujuan. Cukup sentuh, tunjuk, beres. Tapi, kita harus ingat bahwa jari bukanlah penunjuk yang presisi. Apalagi kalau jari tangan kita tak selentik jari para model cincin kawin itu. Walhasil typo error sering terjadi saat jari segede jahe tak compatible dengan layar touchscreen ukuran mini.

Selain typo error akibat ukuran jari segede jahe, kesalahan juga sering diakibatkan “terlalu pintarnya” ponsel. Ponsel jaman sekarang tuh banyak yang sotoy dan sok jadi cenayang. Mereka mencoba menawarkan fungsi autotext. Paling menyebalkan kalau mereka sok tau dan mengubah seenak udel hasil ketikan kita menjadi hasil pikiran mereka.

Misalnya kalau kita ketik “hr” yang di bahasa Indonesia berarti “hari” di layar suka muncul “hour”. Gak lucu kan kita maksudnya mau tanya “Kamu datang hari apa” tapi tertulis “Kamu datang hour apa?” Errr.. semacam bahasa Melayu salah kalimat tanya. Atau penyakit BlackBerry yang gak menyulitkan menyingkat kata “lantai”. Kalau saya tulis “lt” secara otomatis mereka bakal kasih kode latitude, Hadeehhh..

Ponsel-ponsel canggih juga secara otomatis menyimpan tambahan kosa kata yang sering kita pakai. Autotext yang canggih.Tapi, akibat kecanggihan auttext, seorang kawan pernah dibikin ketawa ngakak ketika namanya berubah menjadi nama hewan.

Ceritanya, anak buah kawan saya hendak menulis, “Nanti meeting jam berapa, bu tam?” (si kawan saya ini bernama Tami). Tapi, karena terburu-buru send dan tak mengecek hasil yang tertera di layar, berdasarkan autotext kalimat tersebut berubah menjadi “Nanti meeting jam berapa, bu ayam?” Waks, bosnya dipanggil ayam hahaha..

“I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” (Albert Einstein)

 
Leave a comment

Posted by on October 16, 2014 in Random Thought

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: