RSS

Monthly Archives: December 2014

Memotong Memori

memories

Tuhan punya segala cara untuk berkomunikasi dengan umatNya. Hanya, kadang kita budheg aja. Atau terlalu bego untuk memahami apa pesan yang ingin disampaikanNya. Terkadang kita baru memahami hikmahnya beberapa saat kemudian.

Seperti ketika DIA menyapa saya dan keluarga di hari Minggu siang lalu. Rampok bertandang ke rumah kami. Namanya juga tamu tak diundang, jadi dia datang ketika kami gak berada di rumah dan mengambil barang-barang yang ada di rumah kami, termasuk tiga gadget saya yang penuh dengan data penting, surat-surat penting, perhiasan, dan tanda jasa dari pemerintah (termasuk dari Presiden RI) milik orang tua juga ikutan dibawa kabur.

Lemes? Pasti. Shock? Iya lah. Sedih? Jangan ditanya. Hanya saja, kami banyak bersyukur bahwa Tuhan masih melindungi kami. Masih ada harta dan data yang tersisa, serta yang terpenting, keselamatan jiwa raga. Kami sudah mengikhlaskan apa yang sudah diambil. Sebab, kami yakin Dia akan memberi pengganti yang lebih sesuai bagi kami.

Ada hikmahnya juga ketika si maling yang terkutuk itu sukses membawa lari laptop, tablet, dan blackberry dari meja kamar saya, itu berarti saya juga harus merelakan seluruh memori yang ada di dalamnya, termasuk foto-foto ketika saya berkeliling dunia, nomor kontak para mantan, sampe catatan percakapan dengan sejumlah mantan (haha.. gak selebay itu kali).

Apapun itu, dengan kehilangan tiga gadget sekaligus, saya dipaksa untuk memotong memori. Mungkin ini cara DIA yang paling indah untuk mengeluarkan saya dari jebakan nostalgia. Ada untungnya juga saya yang malas mem-backup data yang tak berkaitan dengan pekerjaan. Kalo sudah begini, saya seakan terlahir kembali. Kerena tak ada lagi cara untuk mengenang masa lalu.

.

“People have an annoying habit of remembering things they shouldn’t”

(Christopher Paolini)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 24, 2014 in Random Thought

 

Tags:

Mending Jadi Bekas Orang Gak Bener…

devil and angel

Do you ever wake up and think to your self that today you are different. Well, I am not the same person I was at 13. Nor the same person I was at 23. I am not even the same person I was at 33. I am today the best version of myself but still far from perfect.

Ah, ketauan juga umur saya berapa. Sudah tua. Meski secara otomatis kita menua, ternyata untuk menjadi lebih bijaksana itu memang sebuah pilihan. Bahasa kerennya: getting older is a must, getting wiser is a choice. Saya memilih untuk menjadi lebih bijaksana di sisa usia yang tak seberapa ini.

Mengapa harus memilih? Sebab, banyak juga yang umurnya udah tua, tetep aja gak bijaksana. Bahkan, ada juga kawan-kawan yang makin tua justru makin menjadi. Bandelnya telat. Kalo sudah begini, saya cuma bisa komen, “Lu dulu ngapain aja? Kenapa baru sekarang lu nglakuin hal-hal gak bener?”

Ngaku aja, I rebelled. I did what I wanted. I lived how I wanted or so I thought. I am not the perfect example of a nice lady. I destroyed it by being envious, by being jealous, by letting anger cloud my judgement. Namanya juga anak muda. Sumbunya pendek. Apalagi saat masih ababil, saya melakukan hal-hal konyol yang kalo dipikir pake otak orang dewasa (baca: sekarang), saya cuma bisa ngomong ke diri sendiri, “Ngapain juga gw dulu ngelakuin hal itu? Gak bener ini..”

Tapi, saya yakin pada satu hal, mending kita jadi bekas orang gak bener daripada jadi bekas orang bener (yang berarti sekarang jadi orang gak bener). Hidup itu soal improvement. Perjalanan menuju kesempurnaan. Memang, gak ada manusia yang sempurna. Tapi, berusaha menjadi lebih baik itu wajib hukumnya.

.

“No matter who you are, no matter what you did, no matter where you’ve come from, you can always change, become a better version of yourself.”  (Madonna)

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2014 in Random Thought

 

Tags: ,

Some Birds Ain’t Meant to be Cage

open cage 785x549

“Some birds are not meant to be caged, that’s all. Their feathers are too bright, their songs to sweet and wild. So you let them go, or when you open the cage to feed them they somehow fly out past you. And the part of you that knows it was wrong to imprison them in the first place rejoice, but still, the place where you live is much more drab and empty for their departure.”

(Stephen King)

 
Leave a comment

Posted by on December 12, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , , , ,

Pengen Punya Bisnis Co-Working Space

1 parisoma(1)

Hampir dua tahun menjadi mobile worker, membuat saya menjadi semacam cafe-goers. Bukan sok mau ngopi, tapi untuk kerja, meeting, dan numpang colokan.

Bagi mobile worker (entah itu entrepreneur, freelancer, self employee — apapun sebutannya), tempat kerja tidak dibatasi satu ruang dalam satu gedung yang di situ-situ saja. Selain di kafe, kami bisa kerja di taman (bukan sok-sok-an nih, beneran, taman di Freedom Institute enak banget buat nyari inspirasi, apalagi meja tamannya dilengkapi colokan), public library, atau bahkan kamar tidur.

Tapi, tak selamanya bekerja di luar itu indah. Meja kafe entah kenapa dibikin sempit. Apalagi kedai kopi satu itu – mejanya bunder-bunder mini, bikin laptop-laptop kami saling beradu punggung. Thus, kalo kerja sendiri, apalagi saya beruntung menemukan tempat strategis di pojokan lengkap dengan colokan listriknya, saya sering dapet pandangan iri dari pengunjung lain. Seakan-akan saya sudah menguasai sumber energi terpenting bagi kehidupan mereka (iya juga sih, hp ama laptop mereka bisa mati kalo gak dicolok listrik).

Bekerja di kafe banyak gangguan. Tak hanya gangguan pada ketebalan dompet dan perut Anda, tapi pekerjaan sering terbengkalai karena tidak sengaja bertemu teman lalu mengobrol. Belum lagi kalo kafenya pasang musik terlalu kenceng atau malah banyak makhluk manis yang entah mengapa berlalu lalang di tempat itu. Hufft.

Kini, ada cara baru untuk mendapatkan tempat kerja, co-working space. Bukan sekadar berbagi ruang kerja, tapi juga sebagai tempat untuk berinteraksi dan berkoneksi dengan orang lain. Bedanya dengan kafe? Format co-working space memang tempat kerja, bukan tempat hang out apalagi arisan. Lu nongkrong, karena lu memang mau kerja bareng-bareng.

Biasanya, co-working space berada di area virtual office, tempat kerja bareng-bareng yang juga menyediakan alamat surat dan segala fasilitas yang dibutuhkan kantor. Sebut saja, ruangan nyaman dengan meja dan kursi kerja, sambungan telepon fixed line dan operator (kan namanya virtual office), alamat surat, faks, mesin fotokopi, printer dan scanner, wifi kenceng, sampe nyediain makanan dan minuman. Tentu aja, masing-masing akan di-charge.

Oiya, alamat surat dan alamat kantor menjadi penting karena bisa dipakai untuk mengurus SIUP atau ditaruh di kartu nama. Kayaknya gak asik banget kalo naruh alamat rumah di kartu nama bisnis, apalagi kalo alamat kita ternyata berada di dalam gang yang kudu nyebut RT/RW segala agar suratnya nyampe. Haduh, pasaran rate bisa turun kalo begini..

Sewa co-working space dan virtual office bisa per jam, per bulan, atau tahunan. Kalo gak pake apa-apa, cuma butuh meja, kursi, ama colokan aja sih bayarnya tidak begitu mahal. Sebagai contoh, untuk fasilitas co-working space di Comma cukup bayar Rp50.000 per 2 jam atau Rp200 seharian. Kalau bulanan dan tahunan tentu lebih murah. Sedangkan di SMESCO sewa bulanan sekitar Rp1,5 jutaan. Di Surabaya, tentu saja lebih murah lagi. Saya sewa virtual office nggak nyampe Rp1 juta (eh sekarang harganya naik, jadi 2 jutaan), tapi rate co-working space Rp15.000 per jam.

Di luar negeri, model bisnis sewa ruang kerja seperti ini udah jamak. Di Singapura ada The Hub, Officio di Boston, BlankSpaces di LA, dan di Indonesia mulai ada Comma di Kebayoran Baru, Jakarta; Code di Margonda, Depok; Graha Virto di Surabaya, atau Hubud di Ubud, Bali. Sedangkan penyedia virtual office ada Regus yang jaringannya global, SMESCO, atau CEO Suite.

Memang seberapa banyak sih yang butuh ruang kerja bareng? Kalo Anda menemukan orang-orang yang fokus dengan laptop di kafe atau Sevel atau McD, mereka lah target market Anda. Belum lagi mereka yang “terpaksa” bekerja di kamar kos atau ruang tidur. Percayalah, bekerja di rumah tak harus literally diartikan bekerja di rumah. Kami-kami hanya tak ingin terbelit birokrasi kantoran, tapi masih membutuhkan ruang khusus untuk bekerja dan berinteraksi.

Menurut studi yang dilakukan Deskmag, sebuah majalah yang membahas inovasi tempat kerja, seperti dilansir FastCompany, sebanyak 90% dari orang-orang yang melakukan co-working mengaku memiliki rasa percaya diri tinggi. Lebih lanjut, dari hasil studi terungkap fakta bahwa 71% partisipan mengaku mengalami peningkatan kreativitas ketika bekerja di co-working place dan 62% mengaku standar kerja mereka terdongkrak naik.

Andaikan ada pembaca blog ini yang berkenan jadi investor untuk bisnis co-working palce, please let me know. I will present my business plan in front of you. Seriously.

.

“Business only has two function — marketing and innovation” (Peter Drucker)

 
11 Comments

Posted by on December 4, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,