RSS

Jurnalisme Tanpa Rasa

06 Jan

IMG_13049767939635

Orang Indonesia punya banyak rasa dan suka main perasaan. Termasuk para jurnalis. Sebagai (mantan) jurnalis, saya sering geram dengan reporter zaman sekarang yang kayaknya gak punya empati. Sudah tau yang ditanya lagi dalam kondisi berduka, tapi tetep juga bertanya, “Bagaimana perasaan Anda?” Rasanya pengen nglempar bunga — lengkap beserta potnya — ke reporternya.

Saya punya potongan komik bagus, karya akun kxjati, buatan 2010. Sudah lama, tapi masih pas untuk menggambarkan kondisi jurnalisme saat ini. Entah apa yang terjadi di dalam newsroom saat ini, tapi kondisi “jurnalisme tanpa rasa” terus terjadi dan sayangnya makin parah.

Lihat saja bagaimana salah satu stasiun televisi mendapatkan teguran keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena menayangkan korban insiden Air Asia QZ8501 yang terapung di Selat Karimata dengan busana tak lengkap. Tanpa blur! Dengan sensor blur aja udah melanggar kode etik, apalagi ini ditayangkan tanpa blur. Salah kuadrat.

Wahai adik-adik reporter, apakah kalian tahu batasan sebuah gambar tergolong sadis? Tanyakan pada diri sendiri. Lalu, tanyakan pada kawan jurnalis lain, terutama perempuan, apakah gambar itu membuat mereka tidak nyaman? Menyitir kata mbak Uni Lubis, tetap menyiarkan gambar yang tergolong sadis meski dengan di-blur, sebenarnya hal itu termasuk dalam kondisi “Saya tahu itu melanggar kode etik jurnalistik, tapi saya mengabaikannya.”

Saya paham betul, industri media sekarang benar-benar dalam persaingan sengit. Jargon terdepan mengabarkan (tapi kenyataannya malah mengaburkan), sepertinya menjadi pas untuk menggambarkan hal itu. Para jurnalis – baik di lapangan atau di dalam newsroom/control room, seakan-akan berkejaran dengan waktu, dalam hitungan detik. Demi mengabarkan berita paling cepat. Tapi, tidak paling tepat.

Maafkan saya, wahai kawan reporter, jika saya berani mengatakan bahwa sebagian dari kalian terlalu malas untuk melakukan konfirmasi dan cover both side. Check – re-check – re-recheck. Apa yang didapat, langsung ditulis via gadget, lalu diunggah dan kemudian dinikmati oleh masyarakat. Begitu pula dengan teknologi video streaming yang memudahkan siaran live di luar studio, walau dari ujung dunia sekalipun. Namun sayang, teknologi yang mendukung kecepatan publisitas itu terkadang melupakan satu faktor penting: editing.

Editing bukan soal “poles memoles” atau “potong memotong”, tapi memastikan apa yang keluar dari satu institusi pers adalah karya jurnalistik yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

.

“The media has changed. We now give broadcast licenses to philosophies instead of people. People get confused and think there is no difference between news and entertainment. People who project themselves as journalists on television don’t know the first thing about journalism. They are just there stirring up a hockey game.”

(Gary Ackerman)

 
Leave a comment

Posted by on January 6, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: