RSS

Category Archives: Batik Addict

Bundel tulisan mengenai kain tradisional dan budaya Indonesia.

Mata Kuliah Batik di Sekolah Mode Italia

Jujur, saya tak tahu apakah pengetahuan mengenai kain tradisional sudah masuk kurikulum sekolah mode di Indonesia. Tapi, yang jelas, ketika saya membaca berita di situs berita Antara, saya menemukan artikel menarik. Batik segera masuk kurikulum sekolah mode di Italia. Olala!

Menurut Bianca Lami, direktur Artistik Koefia, sekolah mode tertua di Italia, pihaknya berencana memasukkan pengetahuan kain batik dan desain batik ke dalam kurikulum pelajaran Koefia. Sementara itu Raffaele D’Ambrosio, wakil ketua DPR Italia menyatakan mereka tertarik dengan batik Solo. Baik Lami maupun D’Ambrosio mengetahui Solo sebagai salah pusat batik Indonesia dari internet. “Saya tahu dari internet bahwa Solo merupakan ibukota batik. Di kota itu banyak industri batik. Bahkan, saya dengar ada kampung dengan nama batik. Saya ingin melihatnya secara langsung,” kata Lami.

Lebih lanjut, Lami mengatakan bahwa setelah diakui UNESCO, batik sebagai warisan budaya Indonesia, akan menjadi tren dii dunia fashion di kemudian hari. “Kami ingin mengembangkan fashion heritage. Jika bisa menggabungkan budaya Solo dengan Eropa, lewat selembar kain, saya kira hasilnya akan sangat bagus,” kata dia. Sekolah Mode Koefia berencana membuat program studi Desain Batik dengan durasi pembelajaran tiga tahun.

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , ,

Kampung Batik Jakarta

Bicara soal batik, kita pasti mengenal beberapa kampung yang menjadi sentra produksi dan sentra penjualan batik. Seperti Kampung Batik Laweyan di Solo atau Kampung Batik Trusmi di Cirebon. Tapi, ternyata, kini juga ada kampung Batik di Jakarta, tepatnya di Pal Batu, Tebet, Jakarta Selatan.

Adalah empat pecinta batik yang memprakarsai pendirian kampung batik di Ibukota. Mereka adalah Ismoyo W. Bimo, Iwan Darmawan, Budi Haryanto, dan Safri. “Saya yang pertama memiliki ide untuk memulai kampung batik di Jakarta. Setelah berbicara dengan beberapa teman, saya menemukan empat orang yang memiliki ide yang sama,” tutur Ismoyo W. Bimo, seperti dikutip beritasatu.com, awal Mei lalu.

Syahdan, pada 2010, keempatnya bertemu dan membuat rancangan awal kampung batik di Jakarta. Setelah mencari lokasi ke sana ke mari, mereka sepakat Pal Batu adalah lokasi paling tepat. “Daerah ini dekat dengan sentra-sentra batik Jakarta di jaman dulum seperti Tanah Abang, Bendungan Hilir, Thamrin, Palmerah, dan sekitarnya,” terang Bimo. Belum lagi, jelas dia, di kawasan itu tak banyak industri yang tumbuh dan masyarakatnya komunal.

Ia mengaku mengambil inspirasi dari kampung-kampung batik yang sudah ada. Hanya saja, kampung batik di Jakarta memiliki tantangan lebih besar, mengingat sentra batik di Pal Batu ini bukan berdasar dari perajin. Itu sebabnya, Bimo, yang dianggap memiliki jaringan dengan perajin batik di seluruh Nusantara, diberi tugas untuk mengkoordinir perajin dari daerah untuk berbagi pelajaran dengan komunitas Kampoeng Batik di Jakarta.

“Sebenarnya ini berdasar kecintaan kami terhadap batik. Kami ingin melestarikan batik. Sejak lama saya, yang kolektor batik, mencari tahu tentang batik. Lalu dari sana saya menemukan, Jakarta memiliki batiknya sendiri, dengan ciri khas tumpal dan motif ondel-ondel, monas, dan lainnya,” ujar Bimo, yang mengaku tergabung dalam komunitas Batik Banget. Kini, Kampoeng Batik telah memiliki tujuh gerai penjual batik. Tentu saja, ke depan, akan makin banyak pedagang batik Betawi di kawasan ini.

Sejak tahun lalu, Kampoeng Batik menyelenggarakan acara bertajuk Jakarta Batik Carnival, sebuah kegiatan untuk mengeksplorasi potensi batik menjadi suatu tampilan menarik. Kegiatan yang digelar dua hari ini dirancang dengan event karnaval massal. Bimo berharap Kampoeng Batik bisa menjadi sentra pengrajin batik Betawi dan menjadi destinasi alternatif wisata belanja batik.

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , ,

Batik Mega Mendung ala Perancang London

Batik Mega Mendung! Mungkin itu yang spontan terlintas saat menyaksikan corak menyerupai awan berarak-arak di langit, yang melekat pada penampilan sejumlah model di London Fashion Week 2011. Corak batik khas Cirebon itu mewujud melalui kreasi Julien Macdonald yang memainkan gradasi warna biru di atas lembar kain putih.

Motif batik Mega Mendung hanya tertuang dalam tiga dari sekitar selusin karya Julien yang hadir dalam rangkaian koleksi Spring Summer 2012. Secara khusus, Julien tidak tidak menyebut corak tersebut sebagai batik Mega Mendung. Ia hanya mengatakan bahwa kreasinya terinspirasi dari desain tato cetak Asia, yang ia sebut sebagai tato naga. “Aku ingin mengajak orang-orang yang menikmati karya saya sedikit berkelana ke Asia,” katanya, seperti dikutip dari vogue.com.

Seperti biasa, Julien membangun karakter tegas dalam koleksi halter dress, setelan tuxedo jackets, waistcoat dresses, topi ala militer, dan sepatu gladiator. Dan, motif Mega Mendung tampaknya cukup galak dan terkesan Asia. Pikiran Julian tampaknya melayang ke China saat menyebut sentuhan Asia pada karyanya.

Mungkin ada benarnya. Menilik sejarah batik Mega Mendung memang selalu mengarah pada kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon di masa lalu, ketika Sunan Gunung Jati menikahi Ratu Ong Tien dari China. Pernikahan tersebut menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon.

Para pembatik keraton menuangkan perkawinan budaya itu dalam motif batik. Namun, tetap ada perbedaan antara motif Mega Mendung khas Cirebon dan China. Misalnya, pada motif Mega Mendung asal China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran. Sedangkan motif Mega Mendung ala Cirebon garis awan cenderung lonjong, lancip, dan segitiga.

Menurut faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas yang merupakan gambaran dunia luas, bebas, dan transidental. Konsep mengenai awan turut memengaruhi kesenirupaan Islam di abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , , ,

10 Motif Batik Batam Telah Dipatenkan

Sebanyak 10 motif Batik Batam telah dipatenkan di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Saat ini ada 10 motif batik Batam yang telah dipatenkan di HKI sejak tahun 2008,” kata Kepala Seksi Pembinaan Industri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kota Batam, Sugeng Widigdo di Batam.

Adapun 10 motif batik Batam yang sudah dipatenkan adalah Awan Larat, Bunga Sakat Mayang Terurai, Bunga Sakat Dara Merajok, Siput Gonggong Kuntum Berendam dan Siput Gonggong Bunga Semayang. Selain itu juga motif Rajung bersusun, Bunga Kundur Awan Menjulang, Bunga Hutan, Perio Kere Sulor Bekait dan Kasih Bersambut.

“Kebanyakan motif yang telah dipatenkan tersebut dari Daik Lingga nama kerajaan Melayu tertua di Kepri dengan motif dasar Wajik-Wajik adalah motif lama,” jelas Sugeng.

Warna dasar yang utama terdapat pada motif batik Batam adalah merah, hijau dan hitam, katanya. “Saat ini, kita juga sudah mengembangkan motif batik Batam baru yaitu `Batam Madani` yang terdapat gambar jembatan Barelang (Batam, Rempang dan Galang, red),” kata Sugeng.

Guna mengembangkan motif batik Batam dimasyarakat, maka Disperindag melakukan pembinaan berupa pelatihan kepada para perajin batik di kota tersebut. “Untuk mengembang Sumber Daya Manusia (SDM) kita sudah memberi pelatihan perajin batik ke Yogya, Solo dan Pekalongan,” kata Sugeng. Lebih lanjut ia mengharapkan baju dengan motif batik Batam dapat digunakan sebagai baju dinas tiap hari Kamis di Batam, seperti kebiasaan hari Jumat menggunakan baju kurung bagi wanita baik dewasa maupun anak-anak.

 

(ANTARA News, 8 Desember 2011)

 
1 Comment

Posted by on April 2, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , ,

Lazuli Sarae: Ketika Warisan Budaya Tertoreh di atas Denim

Sekumpulan alumni ITB ini merintis bisnis yang menorehkan batik di atas bahan denim (jins). Mereka berhasil mewujudkan bisnis dari hasil Tugas Akhir, dan menjadikan sesuatu yang menguntungkan.

Ide itu mahal. Apalagi jika sudah berbentuk sebuah produk yang unik. Mungkin hal sangat tepat untuk sebuah usaha yang dilakoni Ivan Kurniawan dan Maretta Astri Nirmanda. Betapa tidak, kreativitas mereka tertuang pada produk jadi berupa batik on denim yang rupanya memiliki nilai seni yang tinggi dan yang pasti dengan nilai jual yang setimpal pula. Terlebih jiwa muda yang menaungi diri mereka menjadi nilai tambah dalam mengeksplorasi ide-ide yang ada di dalam benaknya.

Seperti dikisahkan Ivan, yang kini fokus pada Business and Marketing Development Lazuli Sarae. keinginannya memulai sebuah usaha sudah terbesit sejak bangku kuliah. Namun lantaran keterbatasan modal dan belum berani untuk memulainya, niat tersebut pun diurungkannya. “Kebetulan saya dan Retta satu angkatan. Sedari kuliah kami sudah memiliki rencana untuk memulai usaha. Tapi, sampai akhirnya kami lulus dan masing-masing bekerja, belum juga kesampaian untuk mendirikan bisnis sendiri,” terang Ivan.

Hingga kemudian keinginan memulai bisnis timbul lagi setelah melihat pengumuman Kompetisi menyusun Business Plan, sebagai bagian dari Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan, pada 2010. Nah, dari situ, Ivan menghubungi Retta. “Waktu itu, kami memilih untuk mewujudkan bisnis dari Tugas Akhir salah seorang kawan kami, Gilang. Waktu itu, judul TA-nya menarik, yakni Eksplorasi Reka Batik pada Bahan Denim. Kami pun sepakat mengekplorasi ide tersebut,” urai Ivan.

Tak salah memilih, ide bisnis itu terpilih menjadi Ide Terbaik dengan menyabet gelar juara Kedua, sekaligus memenangkan The Best Presentation Award pada kompetisi tersebut. Sebagai bentuk penghargaan, Ivan dan Retta mendapatkan hadiah senilai Rp10 juta, yang kemudian digunakan sebagai modal awal dalam mengembangkan ide bisnis. “Awalnya, kami mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan konsep batik di atas bahan demin. Tapi, itu bukan penghalang untuk mewujudkan mimpi,” tegas pria pemegang Sarjana Teknik Informatika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Berbekal modal dari hasil kompetisi itu, Ivan dan Reta mulai menyusun strategi, membuat alur produksi, serta melakukan riset terhadap produk yang ingin diciptakannya. Di tengah perjalanan, Ivan mengaku semangat bisnisnya sempat memudar. “Semangat kami sempat pudar karena kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” aku dia. Hingga kemudian, pada Januari 2011, keduanya sepakat untuk mengundurkan diri dari tempat pekerjaan masing-masing dan fokus mengembangkan bisnis batik on denim dengan brand Lazuli Sarae.

Untuk mendapatkan nama brand Lazuli Sarae, Ivan seakan ingin menunjukkan adanya perpaduan dua budaya. Kata ‘Lazuli’ berasal dari bahasa Persia yang berarti biru. “Warna biru menggambarkan warna bahan denim,” jelas Ivan. Adapun kata ‘Sarae’ berasal dari bahasa Sunda yang artinya mengagumkan. “Kami ingin memadukan denim dan batik, yang secara kultural berasal dari dua budaya berbeda, modern dan tradisional,” imbuh dia.

Bagi Ivan, industri fashion di Indonesia terbilang sangatlah maju dan memiliki peran besar dalam pembangunan perekonomian. Karenanya, Ivan pun optimistis dengan keunggulan dan keunikan produk yang ditawarkannya, Lazuli Sarae dapat diterima pasar. “Kami amat terkesan ketika melihat masyarakat mengapresiasi produk yang kami buat. Luar biasa! Umpan balik dari para apresiator dan kunjungan masyarakat saat pameran, memberikan pelajaran sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menciptakan produk bernilai tinggi,” ujar Ivan bersemangat.

Singkat cerita, Lazuli Sarae pun mulai eksis dengan mengikuti beragam pameran-pameran, seperti INACRAFT 2011 (Jakarta International Handicraft Trade Fair), PPKI 2011, dan semacamnya demi mengenalkan produk batik on denim juga brand usahanya. Kini, produk Lazuli Sarae selain dijual di gerainya di Bandung, juga melalui media online. Selain itu, mereka juga meka juga berkonsinyasi dengan sejumlah gerai pusat di Jakarta, seperti SMESCO Gallery, Pendopo Rumah Batik dan Kerajinan Alam Sutera, Sarinah Thamrin, serta Pejaten Village.

Akulturapolis

Dijelaskan Ivan, produk yang ditawarkan Lazuli Sarae memang mengedepankan konsep perpaduan nilai tradisional (batik) dan modern (denim). Produk yang dibuatnya pun murni hasil pembatikan secara tradisional, dan memiliki motif yang unik. Tak ayal, harga yang ditawarkannya pun disesuaikan dengan hasil kerja keras mereka dalam menuangkan ide kreatifnya, yakni berkisar Rp350.000 hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

“Orang beranggapan batik kami ditempel di atas bahan denim. Padahal, kami membatik di atas bahan denim. Itu sebabnya, dari segi proses membutuhkan waktu lama, kadang sampai satu bulan,” kata Ivan. Ia menuturkan proses pembuatan batik on denim memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena banyak detail.

Ketika disinggung omzet yang diperoleh selama ini, Ivan mengatakan sangat fluktuatif. Namun, ia menyebutkan rata-rata yang didapatkan Lazuli Sarae mencapai Rp14 juta setiap bulan. “Pernah kami mendapatkan satu pesanan yang nilainya puluhan juta. Tapi, itu tidak terjadi setiap waktu,” katanya. Ivan menuturkan Lazuli Sarae membidik segmen menengah atas.

Pada koleksi terbarunya, Lazuli Sarae mengedepankan busana dengan tema kehidupan urban, baik untuk lini busana formal dan non formal. Secara spesifik. Ivan ingin mengusung tema Akulturapolis yang berarti kota yang penuh percampuran budaya, Ivan menginginkan produknya bisa seperti kota tersebut. “Tema Akulturapolis seperti konsep batik on deman Lazuli Sarae, yakni memadukan nilai tradisional dan modern sehingga menghasilkan sesuatu yang indah tanpa menghilangkan kedua nilai tersebut,” jelas pria yang pernah bekerja menjadi Apprentice at Business Partner Organization di IBM Indonesia ini.

Ivan mengungkapkan inovasi adalah sebuah kunci dalam mengembangkan sebuah usaha. Karenanya, ia akan terus melakukan pengembangan produk yang ditawarkannya. Ivan mengaku membutuh waktu lama dalam menuangkan ide-idenya,. Dalam satu sesi desain, misalnya, tim Lazuli Sarae membutuhkan waktu minimal enam bulan untuk menciptakan desain-desain barunya. “Kami akan terus melakukan penelitian dan pengembangan dari sisi produk dan pasar untuk menghasilkan inovasi dan diferensiasi. Ke depannya kami berharap Lazuli Sarae dapat menjadi bagian dalam memperkuat ekonomi kreatif di Indonesia,” pungkasnya.

Untuk itu, Ivan memiliki vendor dan pengrajin terpercaya untuk membuat setiap produknya. Menurutnya, dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan pasar yang dituju, keahlian dan kelihaian mereka sangat dibutuhkan. “Saya melakukan pendekatan dengan bekerja sama dengan vendor yang mau belajar dan berkembang bersama. Sebab, vendor yang sudah mapan biasanya mematok harga tinggi dan kuantitas minimal pesanan yang belum cocok untuk kami. Justru ketika Lazuli Sarae bekerja sama dengan vendor yang juga sedang berkembang, akan tercipta banyak pembelajaran bagi kedua belah pihak untuk mencapai hasil yang diinginkan bersama,” urai dia. $$$ IMAM ARIF MAULANA

 

Lazuli Sarae
Jl. Plesiran No. 10
Bandung, Jawa Barat
Telp : 0812 203 0607
E-mail : ivan@lazulisarae.com
http://www.lazulisarae.com

(Will be published on Majalah DUIT! ed 04/April 2012)

 
1 Comment

Posted by on March 20, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , , , ,

Life Time Achievement Award untuk Pembatik Senior

Akhir Januari 2012, empat pembatik senior di wilayah Jawa Barat mendapatkan penghargaan Life Time Achievement dari Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB). Penghargaan ini merupakan apresiasi atas pengabdian lima pembatik senior yang sudah menggoreskan cantingnya sejak usia muda. Keempat pembatik senior itu adalah Ny. Kenah (yang kini berusia 69 tahun) asal Kab. Garut, Ny. Tapiah (70) asal Kab. Indramayu, Ny. Muraci (72) asal Kota Cirebon, dan Ny. Siti Khodijah (81) asal Kab. Tasikmalaya.

Keempatnya didatangkan langsung dari kotanya ke Kota Bandung untuk menerima penghargaan dari Shendi Rahmania Yusuf, ketua YBJB. Menurut Shendi, mereka pantas mendapatkan apresiasi atas pengabdian mereka. Selain mendapatkan penghargaan, keempatnya mendapatkan bantuan tunai Rp2,5 juta dan seperangkat kompor gas untuk membatik dari Kementerian Koperasi dan UKM. “Penghargaan ini merupakan apresiasi atas pengabdian keempat pembatik senior yang sejak muda hingga usia tua masih menekuni batik,” tutur Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat

Menurut Shendy Yusuf, untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas industri batik, pihaknya melakukan pelatihan batik, pembekalan manajemen wirausaha, dan bantuan desain. Dalam kesempatan itu, PT Indonesia Power juga menyalurkan dana bergulir bagi 10 perajin batik di Jawa Barat senilai masing-masing Rp10 juta. Dana bantuan bergulir itu diambilkan dari dana CSR PT Indonesia Power.

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , ,

Batik Semarang 16: Menawarkan Batik ‘Rasa’ Semarang

GambarMendirikan bisnis produksi batik ternyata tak mudah. Umi S. Adi Susilo menciptakan motif khas Semarang karena kota itu tak memiliki motif khas. Selain itu, Umi sempat mendapatkan komplain tetangga yang mengeluhkan makin banyak mobil customer yang terparkir di sekitar tempat usahanya.

“Setiap kali mengadakan pameran dan pelatihan membatik, saya selalu ditanya apakah ada batik Semarangan? Orang sudah mengenal batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, maupun Lasem, tapi tak ada yang mengetahui batik Semarang,” kata Umi S. Adi Susilo, pendiri Batik Semarang 16, membuka percakapan. Setelah melakukan riset, ia mengetahui Semarang sempat menjadi pusat produksi batik sejak jaman Kerajaan Mataram, terlihat dari adanya kampung kuno bernama Kampung Batik. Hanya saja, tradisi membatik itu hilang bersamaan dengan pembumihangusan sentra ekonomi Semarang oleh Jepang. Alhasil, “Semarang tak punya motif khas untuk batik,” keluh Umi.

Tak hanya berkeluh kesah, Umi mendirikan sanggar Batik Semarang 16. Sanggar batik ini selain memproduksi batik dengan motif karya sendiri, juga menggelar pelatihan membatik untuk masyarakat dan siswa sekolah. Dalam suasana keragu-raguan mengenai identitas batik Semarangan, Umi berkreasi menghasilkan batik dengan motif khas. Ciri khas karya Batik Semarang 16 adalah motif dan ragam hias yang mengambil inspirasi dari artefak dan kekhasan kota Semarang, seperti motif Lawang Sewu hingga Tahu Gimbal!

“Mencari ciri khas membutuhkan proses panjang. Termasuk di dalamnya menerima komentar minor soal keberadaan batik yang berani-beraninya menyebut khas Semarang,” aku Umi. Ia lalu melibatkan akademisi, ilmuwan, dan kalangan budayawan untuk menciptakan motif, memilih warna, dan mempelajari selera masyarakat sebelum melempar produk. Umi lalu menyebut nama sejarawan Dewi Yuliati dan arsitek Widya Wijayanti yang terlibat dalam pencarian motif Semarangan. “Saya mempertahankan tradisi riset,” tegasnya. Baik riset dalam penciptaan motif, pengkomposisian warna, maupun pembuatan inovasi desain fashion.

Warna Alami

Ketertarikan Umi S. Adi Susilo pada batik berawal ketika seorang kawan memamerkan koleksi batiknya, yang mencapai satu lemari penuh. Kagum dengan motif dan warna, Umi pun terdorong untuk mengetahui cara pembuatan batik. Selama delapan tahun, Umi memperdalam ilmu batik, hingga Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta. “Sayangnya, kebanyakan perajin batik ‘menutup’ ilmu mereka,” keluh pemenang UKM Berprestasi Femina 2008 ini. Selama memperdalam ilmu batik, Umi rela melakukan perjalanan pulang-pergi Jakarta-Semarang demi mengikuti pelatihan membatik di Museum Tekstil Jakarta.

Di rumah, Umi kerap mereproduksi batik-batik Belanda yang diproduksi di Semarang, seperti batik Ossterom dan Franquenmont. Setelah beberapa waktu, timbul keinginan untuk mengenalkan batik kepada masyarakat. “Awalnya, saya memberikan pelatihan membatik untuk kelompok ibu-ibu pengajian. Dari situ, pelatihan lalu meluas,” kata perempuan kelahiran Bekasi, Agustus 1970 ini. Baru kemudian, ia masuk ke sekolah-sekolah, dari tingkat SD hingga SMA. “Saya ingin melakukan regenerasi batik,” imbuh dia.

Dengan dukungan para pengajar di Museum Tekstil Jakarta, Umi merintis Semar 16 Batik Course, cikal bakal Batik Semarang 16, yang berlokasi di jalan Singosari, Semarang. Oleh karena pelatihan membatik tak hanya menggoreskan canting dan malam ke kain mori, tapi juga untuk proses pewarnaan dan penjemuran, Umi butuh lokasi yang lebih memadai. “Saya sempat mendapatkan komplain dari tetangga karena makin banyak mobil customer yang parkir di sekitar tempat usaha,” ungkap Umi, yang mengawali bisnis dari skala rumahan ini.

Sedari awal, Batik Semarang 16 memilih proses pewarnaan alami untuk batiknya.Ia menggunakan secang, jelawe, tingi, nila, somba, tunjung, tegeran, tawas, dan indigo. Proses pewarnaan alami ini butuh proses lebih lama daripada pewarnaan sintetis. Untuk mengatasi bau dan limbah pewarnaan batik, Umi bekerja sama dengan Universitas Diponegoro untuk membangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sederhana. Hingga kemudian, perempuan yang dikaruniai tiga anak ini memutuskan memindahkan lokasi workshop, pelatihan, dan galeri Batik Semarang 16 ke desa Sumberejo, kecamatan Tembalang, Semarang. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 2.500 meter persegi.

Di lokasi ini, terdapat beberapa unit bangunan, misalnya galeri sebagai ruang pamer, unit mencanting, unit pewarnaan, hingga sebuah joglo yang berada di tengah kolam. Di joglo ini Umi sering menggelar diskusi mengenai batik atau mengadakan pertunjukkan seni yang tak butuh tempat luas. “Saya memiliki konsep bahwa sanggar ini menjadi tujuan orang yang ingin belajar batik. Lebih jauh lagi, saya berharap kelak bisa menjadi museum batik meski berskala mikro,” ungkap perempuan yang pernah mendesain batik untuk kulkas dan mesin cuci keluaran produsen elektronik asal Korea Selatan ini.

Motif Terdaftar HAKI

Saat ini, perusahaan yang total investasinya mencapai Rp1 miliar ini telah memasuki masa panen. Setiap bulan, Batik Semarang 16 mencatatkan pendapatan hingga Rp100 juta per bulan dari memproduksi 1.000 yard batik. Akan tetapi, bukan kesuksesan finansial yang Umi cari. “Ada kebanggaan tersendiri ketika kita mampu melestarikan budaya dan memberdayakan masyarakat sekitar,” ucap pemenang The Best ExecutiveAward 2010 dari Citra ini.

Untuk memproduksi batik, Umi melibatkan 35 orang yang bekerja di sanggar batik itu. Sebagian besar dari mereka adalah kaum perempuan dari Metesih, wilayah di sekitar sanggar. “Kebanyakan mereka adalah peserta pelatihan sejak sanggar saya masih bernama Semar 16 Batik Course,” kata Umi. Lebih lanjut, Umi menjelaskan bahwa ibu-ibu pembatik ini menyelesaikan proses membatik di rumah. Baru setelah menyelesaikan selembar batik, mereka akan mengumpulkan ke tempat Umi untuk menerima upah. “Kegiatan ini turut membantu ekonomi keluarga mereka. Ada keluarga yang dulunya tak memiliki motor, sekarang bisa membeli motor,” ucap Umi, bangga. Selain menciptakan motif khas Semarangan, Batik Semarang 16 juga menerima pesanan batik dengan motif pesanan.

Sebagai identitas batik khas Semarangan, di antara ratusan motif yang sudah diciptakan tim Batik Semarang 16, terdapat 219 motif yang telah terdaftar di Ditjen HAKI. Umi membaginya ke dalam lima motif induk, yakni ikon semarang, seperti Tugu Muda, Gereja Blenduk, Blekok Srondol, Lawang Sewu, Jembatan Mberok, dan Asem. Untuk ikon Sejarah Semarang ada motif Cheng Ho dan Marabunta.

Sedangkan pada ikon Kuliner Semarang terdapat motif Lumpia, Mie Kocok, dan Tahu Gimbal. Adapun motif yang termasuk ikon Flora dan Fauna antara lain Merak Njeprak, Merak Mlerok Latar Asem, dan Cattleya. Adapun motif dengan ikon Kombinasi Klasik Kontemporer yang terdaftar di HAKI antara lain motif Parang Tugu Muda, Sido Roning Asem, dan Ceplok Cattleya. “Saya mendapatkan pendampingan dari Klinik HAKI UNDIP,” kata Umi.

Selain memproduksi dan mengadakan pelatihan batik, Batik Semarang 16 terus menyosialisasikan batik khas Semarangan ke berbagai kesempatan, misalnya mengikuti pameran maupun fashion show. “Anne Avantie, Lenny Agustin, Rudi Chandra, Taruna Kusumayadi, Jeanny Ang, dan sejumlah desainer papan atas Indonesia pernah mengekplorasi batik khas Semarangan dari kami,” papar Umi, bungah. $$$ ARI WINDYANINGRUM DAN JULIA WIRAYANTI (KONTRIBUTOR)

Batik Semarang 16
Desa Sumberejo, Kelurahan Meteseh,
Kecamatan Tembalang, Semarang
Telp : 024-707 88692, 0811289444
Pin BB: 23811C5D
E-mail : umi@batiksemarang16.net
Facebook: BatikSemarangEnamBelas
http://www.batiksemarang16.net

(As published on Majalah DUIT! edisi 04/VII/April 2012)

 
Leave a comment

Posted by on March 15, 2012 in Batik Addict

 

Tags: , ,