RSS

Category Archives: How to..

Bundel tulisan mengenai tips dan strategi, mulai dari hal-hal serius sampai gak serius.

Dealing with Writer’s Block

Image

Writer’s block is often caused by conflicted feelings. We want the writing to perfect, but we want the article done as soon as possible. We know what we know, but we don’t know what our readers know. We know how the article should sound, but we don’t have all the facts we need. We know what we have to say, but we are afraid that it won’t measure up to our expectation, our editor’s expectation, or our reader’s expectation.

Sounds familiar, huh? If you are writers, journalists, bloggers, students or anything you do based on writing, all of these feelings are normal and natural. Everyone finds writing a challenge.

When you are not just blocked, but you are stonewalled, try freewriting. Just sit down for 5-10 minutes and write down everything you can think about the topic. Without stop for the whole 5-10 minutes. Free yourself from paragraphs and sentences.

Right now, just writing down before you forget all data you have. If you can’t think of anything to say, write “blah, blah, blah” over and over. Just say it the way you think it. Once you know what you mean, it easier to refine the phrasings.

Freewriting is good for uncovering ideas. It’s a good way to find inspiration. But the main purpose of freewriting is you are moving. You are warmed up to continue your writing. When the block has passed (maybe not all, but some), you can rearrange ideas, put thought into complete sentences, edit, and polish.

“Writing about a writer’s block is better that not writing at all”
(Charles Bukowski)

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2014 in How to..

 

Tags: ,

17 Ways to Tie Shoes

Setelah berusaha mengukuhkan hati untuk tidak membeli dan mengenakan sneaker maskulin (biar keliatan perempuan gitu lho), ternyata hati saya gak kuat juga. Bulan lalu, saya bertandang ke toko sepatu sejuta umat. Dengan langkah gagah perkasa, saya segera menuju rak sepatu pria. Hanya butuh 3 menit untuk mengeksekusi pembelian. Aha! Mengapa sepatu cowok lebih nyaman dipake ya?

Dan, untuk melengkapi ke-error-an otak saya beberapa minggu terakhir, saya unggah postingan foto paling gak mutu: Tips Mengikat Tali Sepatu dengan 17 Gaya. Selamat mencoba!

Image

 
Leave a comment

Posted by on March 1, 2013 in How to..

 

Tags:

Punya Banyak Follower. Njur Ngopo?

ABDI dalemJujur, kadang hati suka terusik kalau melihat blog (atau tweet) orang lain — yang menurut saya kualitasnya biasa-biasa aja tapi comment dan follower-nya bejibun. Saya langsung bertanya-tanya: ini salah saya yang gak mau tampil atau salah mereka yang terlalu ngartis ya?

Ramainya sebuah blog bisa diakibatkan banyak faktor, di antaranya pemilihan bahasa html yang ciamik (yang membuat banyak orang “nyasar” ke blog kita karena kita sudah “bersekongkol” dengan mbah Gugel), rajin bertandang ke blog lain dan tak lupa ngasih jempol, serta rajin woro-woro di media sosial. Faktor lainnya karena si pemilik blog sudah terkenal dari sononya. Selebritis.

Ilmu bersekongkol dengan mbah Gugel dalam bahasa ilmiah disebut search engine optimization (SEO). Ilmu ini tidak serumit ilmu santet maupun ilmu pelet. Percayalah. Selama kita bisa menemukan keyword yang tepat untuk blog/web, lalu memasangnya di tempat tepat, dengan proses yang tepat, niscaya mbah Gugel akan selalu setia membantu kita. (Kalau ada yang mau penjelasan mengenai SEO bisa DM saya, nanti tak jelasin sampe mudheng.)

Akan tetapi, saya justru memilih membebaskan blog ini dari ajian ‘pelet Gugel’. Saya ingin para penikmat (reader) dan pengikut (follower) blog naningisme adalah mereka yang memang mengikuti perkembangan blog ini. Orang-orang yang menyukai kualitas tulisannya, bukan orang nyasar karena kesengsem salah satu keyword.

Di samping enggan memasang ‘pelet gugel’, mungkin saya orang yang tak cukup memiliki keberanian atau kerajinan untuk mengunggah judul postingan baru di media sosial. Memang sih kalau isengnya lagi kumat, saya kadang mengunggah link postingan baru ke facebook atau twitter. Tapi kadar keseringannya bisa dihitung dengan jari.

Mungkin, itulah yang membuat blog saya tampak sepi. Tak banyak ingar bingar orang-orang yang tak saya kenal. Saya ingin membuat pengikut naningisme bertambah secara alami. Lagipula ini adalah blog pribadi, bukan blog jualan apalagi web korporat.

Dari data statistik terlihat yang mengunjungi blog ini ya orang itu-itu saja, dari IP address situ-situ saja. Kadar nyasar tak lebih banyak dari pembaca tetap. Sebagai blogger normal, saya tentu merasa bungah ketika jumlah pengikut makin banyak. (Meski kemudian bakal muncul pertanyaan lanjutan: memang apa pentingnya punya banyak pengikut?)

Melalui postingan yang paling geje ini, saya ingin berterima kasih kepada penikmat dan pengikut setia blog naningisme. Karena kesetiaan Anda membaca, saya akan setia menulis untuk Anda. Selamat menikmati sajian berkualitas nan sarat makna.

 

 Don’t walk in front of me; I may not follow. Don’t walk behind me; I may not lead. Just walk beside me and be my friend. (Albert Camus)

 
Leave a comment

Posted by on February 25, 2013 in How to..

 

Tags: , ,

Gado-Gadoku Dimuat..

Sering saya terheran-heran dengan ulah narasumber yang begitu antusias ketika tulisan mengenai dirinya dimuat di majalah. Beberapa membeli puluhan majalah – kebanyakan dengan memohon-mohon untuk dapat diskon hehehe.. – untuk dibagikan kepada sanak saudara. Ada yang mengunggah foto artikel yang dimuat ke jejaring sosial. Bahkan, ada yang menggunting artikel tersebut, menaruhnya ke dalam bingkai, lalu memasang di dinding. Nggak segitunya kaleee..

Bagi saya yang pekerjaan utamanya menulis di majalah, hal-hal seperti itu menjadi aneh dan absurd. Mungkin karena sudah terbiasa menemukan tulisan sendiri muncul di majalah. Jujur, ketika majalah yang saya kelola beredar, saya tidak membaca tulisan yang ada di dalamnya. Lha wong saya yang mengedit artikel-artikel itu. Ibaratnya, letak titik komanya juga inget hehehehe..

Hal pertama yang saya lakukan ketika membuka majalah yang baru keluar dari percetakan adalah mencium bau harum kertasnya. Mhmm, ini tak akan bisa dirasakan kalo majalah udah berubah format menjadi digital. Cium noh gadget.. Hal kedua adalah memeriksa hasil cetakan, terutama untuk foto. Saya bisa ngomel-ngomel panjang lebar kalau foto yang udah bagus ketika sudah dicetak hasilnya jadi under (terlalu buram, kehitaman) atau over (terlalu terang). “Ini gimana sih bla bla bla bla..” Manajer cetak dan desainer saya sudah hafal dengan kebiasaan buruk ini. Hal ketiga adalah menaruh majalah itu begitu saja di meja. Hanya dibaca bila perlu. Maksudnya kalau ada pembaca atau klien iklan yang mengirimkan e-mail atau menelepon, kita bisa memberikan respon terbaik.

That’s it. Jadi, saya masih terheran-heran dengan ulah narasumber. Setidaknya, sampai tadi pagi…

Dengan spontan saya berteriak kegirangan, “Gado-Gadoku dimuat Femina!” Sebenarnya, ini sudah kesekian kali tulisan saya muncul di majalah perempuan itu. Tapi, baru kali ini berupa tulisan panjang dan, ahem, dapat honor hehehehe.. Tak ada respon heboh dari teman-teman redaksi. Mungkin pikiran mereka sama dengan saya, “Nggak segitunya kaleee…” Hanya satu respon berbeda dari seorang reporter baru, “Memang ibu punya bisnis gado-gado?” Gubrak! Ah, tak apalah.. Namanya juga anak baru.

 

Tips Menulis untuk Rubrik Gado Gado

  1. Rubrik Gado Gado di majalah Femina, sesuai namanya, topik bahasannya beragam. Kadang jenaka, kadang menyentuh. Namanya juga rubrik kiriman pembaca, yang nulis pun beda-beda. Pilihan topik bisa apa saja, mulai soal matinya kucing kesayangan sampai pengalaman naik kereta.
  2. Bagi mereka yang tidak terbiasa menulis, coba untuk membuat outline tulisan: pembuka-isi-penutup. Hal ini menjadi penting agar tulisan tidak loncat-loncat. Klimaks tulisan bisa di awal atau di akhir. Bila klimaks berada di bagian akhir, usahakan agar pembaca tidak bisa menebak ending-nya. Bukankah kita menyenangi kisah yang tak mudah ditebak?
  3. Untuk judul, pilih satu atau dua kata. Jangan terlalu panjang, nanti halamannya nggak cukup. Paling penting pilihan kata untuk judul harus catchy atau menimbulkan rasa penasaran.
  4. Format penulisan:
    • Panjang naskah 2-3 halaman (2.500-3.000 karakter), spasi ganda, font Arial size 12.
    • Satu paragraf maksimal tiga kalimat.
    • Satu kalimat maksimal 15 kata.
    • Tidak ada sub judul.
    • Sisipkan kata-kata ekspresif, seperti Aduh, Wah, Oh, dan sebagainya.
    • Kirim ke kontak@femina.co.id
  5. Pihak redaksi Femina akan menghubungi penulis empat bulan setelah pengiriman artikel (via e-mail). Baik untuk memberitahu artikel akan dimuat atau tidak dimuat.
  6. Bila dimuat, penulis akan diminta mengirimkan surat pernyataan di atas materai bahwa tulisan belum pernah dimuat di media lain (termasuk blog) dan merupakan karya orisinal (bukan terjemahan, apalagi jiplakan!). Oleh karena artikel yang saya kirim pernah diterbitkan di blog ini, pihak Femina meminta tulisan “diturunkan” terlebih dahulu dari blog sampai tulisan dimuat di majalah tersebut.
  7. Setelah mengirimkan surat pernyataan, penulis harus menunggu empat minggu sebelum tulisannya dimuat.
  8. Dan, sekitar satu minggu setelah pemuatan, penulis tinggal menunggu transferan honor penulisan. Manteb to?
 
8 Comments

Posted by on November 28, 2012 in How to..

 

Tags: , ,

5 Aturan Dasar Naik Kereta Ekonomi

Dulu saya ketakutan setengah mati kalau disuruh naik KRL ekonomi. Udah gak pake AC, penumpangnya sampe tumpe-tumpe [jupe mode_on], banyak copet, dan seorang kawan saya mati didorong copet keluar dari kereta. Saya harus mikir 1.000 kali untuk menaiki kereta subsidi pemerintah itu. Gimana gak disubsidi, perjalanan dari Bogor sampe Jakarta cuma Rp2.000! Hare gene mana ada transportasi murah meriah antar kota antar propinsi?

Setelah jadi roker dan mengerti beberapa aturan dasar-dasar keselamatan KRL Ekonomi, saya mulai berani naik kereta sejuta umat itu. Memang, ada beberapa peraturan yang harus dipahami penumpang awam sebelum uji nyali naik kereta ekonomi di jam-jam sibuk. Aturan pertama dan utama adalah selalu waspada terhadap copet yang kita nggak tahu ada di mana. Biasanya copet ambil posisi di dekat pintu. Sebisa mungkin begitu masuk langsung meringsek ke dalam, apapun yang terjadi, dorong orang depan sampe dia ngomel dan melototin pun sah-sah aja. Mending dipelototin daripada HP dan dompet melayang bukan?

Aturan kedua, jangan berpenampilan mencolok. Itu cincin berlian ama gelang emas ronceng mending dicopot dulu deh.. Saya selalu sedia tas kain buluk ke mana pun pergi. Kalau kepepet naik kereta ekonomi dan kebetulan pake tas mahal yang harganya jutaan rupiah (halah!), saya selalu masukin tas mahal itu ke dalam tas buluk. Nenteng tas buluk terasa lebih aman. Toh di dalam kereta ekonomi gak ada paparazi yang bakal masukin foto kita ke majalah Indonesia Tatler. Lagian itu fotografer niat amat sampe nguntit ke kereta ekonomi sambil bawa-bawa kamera, padahal ngliat kaki sendiri aja gak bisa hehehehe.. Kalau bawa ransel taruh di depan badan. Ini bukan MRT Singapura, bung!

Aturan ketiga, fleksibelkan badan untuk meliuk ke kanan-kiri-depan pas tukang jualan lewat. Harap diingat di kereta ekonomi yang namanya tukang jualan dan pengamen itu tetep berkeliaran. Gak peduli kereta super penuh, sampe penumpangnya berasa jadi pepes pun mereka tetap berbisnis. Ada yang jual buah-buahan, minuman dingin (lengkap dengan boks pendingin yang ada esnya), makanan, kartu perdana selular, kamus Indonesia-English-Indonesia, mainan anak-anak, sampe DVD lagu-lagu Islami (sayangnya saya belum nemu yang jualan DVD porno di atas kereta hehehe..). Naluri kewirausahaan yang patut diacungi empat jempol.

Aturan keempat, apapun yang terjadi anggep aja itu adalah perjalanan yang menyenangkan. Tetaplah tegar meski bau ketek penumpang sebelah lebih ampuh untuk melumpuhkan diri ketimbang amoniak yang disemprot ke sapu tangan (kok jadi inget adegan film-film spionase jadul ya?). Begitu pula pas kaki keinjek atau badan dipres dari kiri-kanan — anggep aja itu treatment pelangsingan tubuh murah meriah.

Aturan kelima, jangan sekalipun angkat telepon atau balas SMS apalagi BBM. Udah tau kereta isinya banyak copet masih juga pamer smartphone? Nantang maut itu mah.. Mending diomelin klien atau pakbos ketimbang kehilangan data-data penting. Kalaupun apesnya kena todong gerombolan copet yang terkutuk, pasrah aja (naudzubillahimindzalik, ketok meja tiga kali). Jangan melawan. Seorang kawan harus meregang nyawa gara-gara dia mempertahankan ponselnya.

Saran saya jangan lupa banyak baca doa kalau harus naik kereta ekonomi dan jangan tunjukkan wajah ragu-ragu. Inget, copet bisa baca wajah penumpang mana yang kira-kira gampang dijadikan mangsa. Tapi, apapun itu naik kereta ekonomi itu fun! Bule aja berani hehehehe..

 
Leave a comment

Posted by on November 15, 2012 in How to..

 

Tags: ,

Cara Mendapatkan Sertifikat HAKI

1. Formulir Pendaftaran. Ada dua cara untuk mendapatkan sertifikasi, yakni secara mandiri dan dengan bantuan konsultan HAKI. Bila melakukan secara mandiri, Anda bisa menuju kantor Ditjen HAKI di kawasan Daan Mogot, Tangerang, Banten atau bila berada di luar daerah bisa menuju Kanwil Kemenkumham atau www.dgid.go.id untuk mendapatkan formulir pendaftaran.

2. Membayar Biaya. Setiap permohonan pendaftaran HAKI akan dikenai biaya antara Rp125.000 hingga Rp600.000, tergantung jenis HKI. Pemohon harus membayar via transfer rekening ke BNI no rek. 19718067 a.n Ditjen HAKI.

3. Melengkapi Berkas. Pemohon harus melengkapi berkas pendamping formulir pendaftaran. Di antaranya kelengkapan identitas (foto kopi KTP, akta pendirian Badan Hukum, dsb), surat pernyataan bahwa HAKI yang didaftarkan benar milik pemohon, berkas yang akan didaftarkan (etiket merek, contoh ciptaan, gambar desain, atau spesifikasi paten), bukti pembayaran.

4. Memasukkan Berkas Pendaftaran. Setelah seluruh berkas lengkap dan membayar biaya yang diperlukan, pemohon harus menuju loket-loket pendaftaran di kantor Ditjen HAKI. Tiap loket akan diberi nama sesuai jenis HAKI. Jangan salah memasukkan berkas pendaftaran ke loket yang dituju.

5. Proses Pemeriksaan dan Pengumuman. Seluruh berkas permohonan yang masuk akan diperiksa oleh pihak Ditjen HAKI mengenai kelengkapan administrasinya. Untuk beberapa jenis HAKI, proses pemeriksaaan masih dilakukan secara manual. Setidaknya, untuk mendapatkan sertifikasi HAKI, berkas pemohon harus melakui proses Pemeriksaaan Administrasi, Pemeriksaaan Substantif, dan masa Pengumuman (memberikan waktu pada pihak lain untuk mengajukan keberatan). Adapun waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut antara 6-24 bulan.

Biaya-Biaya yang Harus Dikeluarkan
PATEN:
Permohonan pendaftaran Paten  =  Rp575.000 per permohonan
Permohonan pendaftaran Paten Sederhana  =  Rp125.000 per permohonan
Tambahan biaya  =  Rp40.000 per klaim
Pemeriksaaan Substantif Paten  =  Rp2.000.000 per permohonan
Pemeriksaaan Substantif Paten Sederhana  =  Rp350.000 per permohonan

MEREK:
Permohonan pendaftaran Merek  =  Rp600.000 per permohonan per kelas (maks 3 macam     barang/jasa)
Tambahan permohonan pendaftaran Merek  =  Rp50.000 per macam per kelas (jika lebih dari 3 macam barang/jasa)

HAK CIPTA:
Permohonan pendaftaran Ciptaan  =  Rp200.000 per permohonan
Permohonan Ciptaan program komputer  =  Rp300.000 per permohonan

DESAIN INDUSTRI:
Permohonan pendaftaran Desain Industri Usaha Kecil  =  Rp300.000 per permohonan
Permohonan pendaftaran Desain Industri Non Usaha Kecil  =  Rp600.000 per permohonan

Pengambilan Sertifikat HKI  =  Rp100.000 per permohonan

(Sumber:  Direktorat Jenderal HAKI Depkum HAM. As published on Majalah DUIT! ed 04/April 2012)

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2012 in How to..

 

Tags: , ,

Menghapus Akun Mereka yang Telah Pergi

Di era digital seperti sekarang ini, mencari orang yang tak punya akun social media maupun akun e-mail ibarat mencari kutu di rambut perempuan yang hobi nyalon. Nyaris tak ada. Kedua akun itu seperti alamat maya seseorang. Kendati si empunya akun sedang melanglang buana, ia tetap bisa dihubungi. Tapi, bagaimana jika si pemilik akun pergi menghadap Sang Pemilik Kehidupan?

Apapun yang kita tuliskan di akun social media menjadi jejak-jejak digital (digital footprints) milik kita. Sebenarnya, selama apapun, jejak itu masih tetap diikuti. Namun, pernahkan Anda berpikir apa yang terjadi pada jejak dan aset digital pada saat kita meninggal nanti?

Bisa jadi friend atau follower atau orang-orang yang menyimpan alamat e-mail mereka yang tiada, tak langsung menghapus nama yang bersangkutan dari daftar kontak. Bahkan, kadang, kita sendiri nggak ngeh mengenai status kematian mereka yang ada dalam daftar kontak.

Beberapa tahun lalu, saya sempat mencoba menelepon seorang narasumber. Dihubungi berkali-kali via telepon genggamnya, tak diangkat. Di-SMS, tak membalas, begitu juga saat saya mengirim e-mail dan message di akun social media-nya. Sungguh aneh, padahal si bapak ini tipe-tipe orang yang mudah dihubungi media. Hingga kemudian seorang kawan mencoba menelepon si bapak, untuk keperluan berita berbeda.

Di ujung telepon, kawan saya ini mendengar suara perempuan muda. Nah lo! Dengan suara tercekat, si perempuan di ujung telepon ini mengaku bahwa ia putri dari sang narasumber. “Bapak sudah meninggal dua bulan lalu, mbak,” katanya, seraya meminta kawan saya untuk menghapus nama ayahnya di daftar kontak narasumber dan mengabarkan kepada rekan-rekan jurnalis lainnya.

Putri narasumber kami ini mengaku tak mengetahui password akun social media dan e-mail ayahnya. Sehingga tak bisa membalas e-mail atau mengunggah status (tentu saja dengan perkenalan terlebih dahulu) yang mengabarkan mangkatnya sang ayah.

Saya mendadak teringat pengalaman mengirimkan e-mail kepada orang yang sudah tiada gara-gara membaca femina, di akhir pekan lalu. Salah satu artikelnya menulis mengenai nasib akun yang tak lagi bertuan, karena si empunya akun sudah tiada. Selain mengupas mengenai cara menghapus akun, saya juga baru menyadari bahwa Facebook menyediakan fitur khusus bagi mereka yang telah tiada.

Bila kita (yang masih hidup) memiliki pilihan laman profile dan fan page, pihak Facebook menyediakan laman khusus bernama Memorial Page bagi mantan user situs jejaring sejuta umat ini. Laman Memorial ini tak bisa diakses begitu saja melalui log in, tidak memiliki fasilitas status up date, dan contact information. Jelas saja. Sudah pasti bakalan horor kalau tiba-tiba muncul status yang bunyinya, “Surga Pinggiran cuacanya panas, cyn. AC-nya mati…”

Di beberapa negara bagian AS sudah memberlakukan regulasi untuk menutup akun social media yang pemiliknya sudah meninggal dunia. Tak hanya itu, password mereka yang sudah meninggal diperlakukan sebagai ‘aset digital’ yang tidak bisa sembarangan digunakan. Bahkan, oleh anggota keluarganya sendiri. Sayangnya, di Indonesia belum ada aturan seperti itu.

Lantas, bagaimana cara untuk menutup akun almarhum? Cara paling mudah adalah jika pihak keluarga mengetahui password yang bersangkutan. Opsi kedua, pihak keluarga mengirimkan surat pemberitahuan ke kantor pusat social media yang bersangkutan, lengkap dengan dokumen pendukung, seperti fotokopi kartu identitas dan surat kematian.

Biasanya, daftar dokumen dan alamat pengiriman dokumen dapat ditemukan di laman help atau support social media. Tapi pada dasarnya, keluarga yang mengirim surat hanya bisa menutup atau menghapus akun tersebut. Mereka tidak bisa mengedit atau mengubah konten akun (baca: jejak digital) yang sudah ada.

Berikut daftar tautan untuk menutup akun tak bertuan:
Facebook : http://www.facebook.com/help/contact.php?show_form=deceased
Twitter : http://support.twitter.com → pilih bagian Report A Violation – Policy Information – How to Contact Twitter About A Deceased User.
YouTube : http://support.google.com/youtube/bin/request.py?&contact_type=momentdeath
Gmail : http://support.google.com/mail/bin/answer.py?hl=en&answer=14300#0

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2012 in How to..

 

Tags: , , , , ,