RSS

Category Archives: Pariwara dan Para Pewarta

Bundel tulisan mengenai iklan, jurnalisme, dan program siar yang ada di layar kaca. tenang saja, tak ada resensi sinetron di blog ini.

A Hair-Raising Message

Penumpang stasiun kereta bawah tanah (subway) di Swedia, pada Februari 2014 cukup terhibur dengan iklan sampo yang gambarnya bisa bergerak saat ada kereta mendekat. Di papan iklan yang terpasang di peron, rambut si bintang iklan bisa bergerak — seperti tertiup angin — pas ada kereta mendekat. Iklan viral ini menyedot perhatian banyak orang.

Pada Oktober 2014, sebuah yayasan kanker di Swedia membuat iklan mirip dengan iklan sampo itu. Tapi dengan sedikit perubahan. Saya tak perlu banyak menguraikan detilnya, silakan liat sendiri di video yang udah saya embed. Iklan ini sangat powerful, dengan penggarapan indah dan sarat makna.

Petter Odeen merupakan creative director untuk iklan A Hair-Raising Message. Ia bekerja sama dengan Karolina Smedberg sebagai produser, Sebastian Smedberg sebagai art director, Sedir Ajeenah sebagai copywriter, Daniel Griffel sebagai fotografer, dan Micke Ring sebagai digital director. Mereka bekerja untuk advertising agency Garbergs yang berpusat di Stockholm, Swedia. Post production iklan tersebut dikerjakan oleh The Line.

.

Catatan: 50 Krona setara dengan sekitar Rp78.000. SEK1 (Swedish Krona) = IDR1.561 sesuai rate saat tulisan ini dibuat

 
2 Comments

Posted by on January 13, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , , ,

Send Them Letter

australia-post

Perusahaan pos negara tetangga, Australia Post punya iklan bagus untuk menggalakkan kegiatan surat menyurat. Salah satunya iklan cetak (print ad) bertuliskan “If you really want to touch someone, send them a letter.” Australia Post merilis iklan ini menjelang Valentine’s Day 2007. Ada beberapa versi, selain si gadis memeluk pujaan hatinya, ada juga versi ibu sepuh memeluk anak gadisnya dan versi ayah memeluk putri ciliknya.

Print ad ini dikembangkan secara kreatif oleh agensi iklan M&C Saatchi, Melbourne, Australia. Dengan Steve Crawford sebagai creative director, Murray Bransgrove menjadi head of art, Rebecca Hannah sebagai art Director. Sementara itu, Doogie Chapman telah menjalankan tugas dengan baik sebagai copywriter, Christopher Tovo sebagai fotografer, dan Ed Croll yang bertugas sebagai retoucher.

Kalo iklan PT Pos Indonesia? Hmm.. kagak pernah tau. Tapi pemberitaan yang menjelaskan tiap kantor pos besar sebagai pusat pengambilan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), atau tempat pencairan dana-dana bantuan pemerintah, membuat orang tetap “cinta” mengunjungi kantor Pos hehehe..

.

“If you really want to touch someone, send them a letter.”

sdff

 
Leave a comment

Posted by on January 13, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , ,

Slow Journalism: Digging Deeper

salopek_lynch

Slow journalism is making an effort to dig more deeply into stories, going beyond the headlines, and summaries that fly around the high-speed, high-tech world in an instant.

The fast pace of the modern lifestyle — born from high-speed, hand-held, wireless connectivity — has not only change the way we send, receive, and consume information, but has transformed the way journalist operate. This has led some of them to make a concerted effort to slow down and take a different tack.

“Slow journalism is deep journalism — journalism that is informed by deep immersion in the story at ground level,” explains National Geographic Fellow Paul Salopek. As a foreign correspondent, Salopek has worked in Africa, the Balkans, the Middle East, Central Asia, and Latin America.

Salopek is conducting an experiment in this modern expression of a timeless human pursuit. He’s engaging with the major stories of our time at the natural speed of his own footsteps as he retraces our ancestors’ migration from Africa to South America with his Out of Eden Walk.

Beginning in January 2013, Salopek takes the first of 30 million footsteps for the epic trek following the pathways of our ancestors. Along the way he’s not just looking for the latest news updates, he’s revealing the texture of the lives of people he encounters: nomads, villagers, traders, farmers, and fisherman who live within front-page stories, but normally don’t make the news themselves.­

National Geographic invite us to pause and join this “digital campfire” discussion by watching the live video feed (to appear here) on Tuesday, January 13 at 6:30 PM EST. We can also ask questions on Twitter with the hashtag #digitalcampfire.

.

“When everybody else is moving faster, and you slow down, you create an immediately fascinating way into your story that people don’t otherwise get in their lives.”

(Evan Osnos)

 
Leave a comment

Posted by on January 11, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , ,

Bukan Jurnalisme Adu Cepat

multimediajournalism-photo

Untuk jadi jurnalis di zaman ini mulailah dengan berlatih menganalisa data dan menulis essay. Bukan cepet-cepetan dapet berita atau mainin sensasi doang. Kalo mau jadi jurnalis hebat, setidaknya pelajari tiga jurnalis yang cukup oke mengolah data sekaligus merangkai kata. Mereka adalah Dahlan Iskan, Bondan Winarno, dan Farid Gaban.

Dahlan Iskan kuat di narasi dan pengembangan kalimat, Ia juga kuat di fakta dan investigasi langsung. Bondan Winarno kuat dalam mengolah data dan menjadikannya informasi yang bernas. Kemudian Farid Gaban, tak bisa disangkal lagi, dia adalah dialektika antara fakta, persepsi dan data.

Profesi jurnalis bukan profesi tukang atau profesi yang punya patokan. Jurnalis adalah intelektual. Ia berdiri di atas keyakinannya dalam merumuskan paparan kepada publik. Bukan menjerumuskan.
.
(Anton DH Nugrahanto)
 
2 Comments

Posted by on January 9, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: ,

Beda Gaya Sini dan Sana

IMG_20141231_212649

“Bad things don’t happen to writers. It’s all material.” (Garrison Keilor)

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags:

Jurnalisme Tanpa Rasa

IMG_13049767939635

Orang Indonesia punya banyak rasa dan suka main perasaan. Termasuk para jurnalis. Sebagai (mantan) jurnalis, saya sering geram dengan reporter zaman sekarang yang kayaknya gak punya empati. Sudah tau yang ditanya lagi dalam kondisi berduka, tapi tetep juga bertanya, “Bagaimana perasaan Anda?” Rasanya pengen nglempar bunga — lengkap beserta potnya — ke reporternya.

Saya punya potongan komik bagus, karya akun kxjati, buatan 2010. Sudah lama, tapi masih pas untuk menggambarkan kondisi jurnalisme saat ini. Entah apa yang terjadi di dalam newsroom saat ini, tapi kondisi “jurnalisme tanpa rasa” terus terjadi dan sayangnya makin parah.

Lihat saja bagaimana salah satu stasiun televisi mendapatkan teguran keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena menayangkan korban insiden Air Asia QZ8501 yang terapung di Selat Karimata dengan busana tak lengkap. Tanpa blur! Dengan sensor blur aja udah melanggar kode etik, apalagi ini ditayangkan tanpa blur. Salah kuadrat.

Wahai adik-adik reporter, apakah kalian tahu batasan sebuah gambar tergolong sadis? Tanyakan pada diri sendiri. Lalu, tanyakan pada kawan jurnalis lain, terutama perempuan, apakah gambar itu membuat mereka tidak nyaman? Menyitir kata mbak Uni Lubis, tetap menyiarkan gambar yang tergolong sadis meski dengan di-blur, sebenarnya hal itu termasuk dalam kondisi “Saya tahu itu melanggar kode etik jurnalistik, tapi saya mengabaikannya.”

Saya paham betul, industri media sekarang benar-benar dalam persaingan sengit. Jargon terdepan mengabarkan (tapi kenyataannya malah mengaburkan), sepertinya menjadi pas untuk menggambarkan hal itu. Para jurnalis – baik di lapangan atau di dalam newsroom/control room, seakan-akan berkejaran dengan waktu, dalam hitungan detik. Demi mengabarkan berita paling cepat. Tapi, tidak paling tepat.

Maafkan saya, wahai kawan reporter, jika saya berani mengatakan bahwa sebagian dari kalian terlalu malas untuk melakukan konfirmasi dan cover both side. Check – re-check – re-recheck. Apa yang didapat, langsung ditulis via gadget, lalu diunggah dan kemudian dinikmati oleh masyarakat. Begitu pula dengan teknologi video streaming yang memudahkan siaran live di luar studio, walau dari ujung dunia sekalipun. Namun sayang, teknologi yang mendukung kecepatan publisitas itu terkadang melupakan satu faktor penting: editing.

Editing bukan soal “poles memoles” atau “potong memotong”, tapi memastikan apa yang keluar dari satu institusi pers adalah karya jurnalistik yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

.

“The media has changed. We now give broadcast licenses to philosophies instead of people. People get confused and think there is no difference between news and entertainment. People who project themselves as journalists on television don’t know the first thing about journalism. They are just there stirring up a hockey game.”

(Gary Ackerman)

 
Leave a comment

Posted by on January 6, 2015 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: ,

Image

Pizza Ads on Train

Pizza Ads on Train

Bagaimana nasib dietmu jika kau berada di kereta yang penuh dengan iklan menarik seperti ini? Well, diet is starting tomorrow..

 
6 Comments

Posted by on February 19, 2014 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , ,