RSS

Category Archives: Smartpreneur

Bundel tulisan mengenai kisah para entrepreneur yang berhasil mewujudkan ide menjadi sebuah bisnis.

Pengen Punya Bisnis Co-Working Space

1 parisoma(1)

Hampir dua tahun menjadi mobile worker, membuat saya menjadi semacam cafe-goers. Bukan sok mau ngopi, tapi untuk kerja, meeting, dan numpang colokan.

Bagi mobile worker (entah itu entrepreneur, freelancer, self employee — apapun sebutannya), tempat kerja tidak dibatasi satu ruang dalam satu gedung yang di situ-situ saja. Selain di kafe, kami bisa kerja di taman (bukan sok-sok-an nih, beneran, taman di Freedom Institute enak banget buat nyari inspirasi, apalagi meja tamannya dilengkapi colokan), public library, atau bahkan kamar tidur.

Tapi, tak selamanya bekerja di luar itu indah. Meja kafe entah kenapa dibikin sempit. Apalagi kedai kopi satu itu – mejanya bunder-bunder mini, bikin laptop-laptop kami saling beradu punggung. Thus, kalo kerja sendiri, apalagi saya beruntung menemukan tempat strategis di pojokan lengkap dengan colokan listriknya, saya sering dapet pandangan iri dari pengunjung lain. Seakan-akan saya sudah menguasai sumber energi terpenting bagi kehidupan mereka (iya juga sih, hp ama laptop mereka bisa mati kalo gak dicolok listrik).

Bekerja di kafe banyak gangguan. Tak hanya gangguan pada ketebalan dompet dan perut Anda, tapi pekerjaan sering terbengkalai karena tidak sengaja bertemu teman lalu mengobrol. Belum lagi kalo kafenya pasang musik terlalu kenceng atau malah banyak makhluk manis yang entah mengapa berlalu lalang di tempat itu. Hufft.

Kini, ada cara baru untuk mendapatkan tempat kerja, co-working space. Bukan sekadar berbagi ruang kerja, tapi juga sebagai tempat untuk berinteraksi dan berkoneksi dengan orang lain. Bedanya dengan kafe? Format co-working space memang tempat kerja, bukan tempat hang out apalagi arisan. Lu nongkrong, karena lu memang mau kerja bareng-bareng.

Biasanya, co-working space berada di area virtual office, tempat kerja bareng-bareng yang juga menyediakan alamat surat dan segala fasilitas yang dibutuhkan kantor. Sebut saja, ruangan nyaman dengan meja dan kursi kerja, sambungan telepon fixed line dan operator (kan namanya virtual office), alamat surat, faks, mesin fotokopi, printer dan scanner, wifi kenceng, sampe nyediain makanan dan minuman. Tentu aja, masing-masing akan di-charge.

Oiya, alamat surat dan alamat kantor menjadi penting karena bisa dipakai untuk mengurus SIUP atau ditaruh di kartu nama. Kayaknya gak asik banget kalo naruh alamat rumah di kartu nama bisnis, apalagi kalo alamat kita ternyata berada di dalam gang yang kudu nyebut RT/RW segala agar suratnya nyampe. Haduh, pasaran rate bisa turun kalo begini..

Sewa co-working space dan virtual office bisa per jam, per bulan, atau tahunan. Kalo gak pake apa-apa, cuma butuh meja, kursi, ama colokan aja sih bayarnya tidak begitu mahal. Sebagai contoh, untuk fasilitas co-working space di Comma cukup bayar Rp50.000 per 2 jam atau Rp200 seharian. Kalau bulanan dan tahunan tentu lebih murah. Sedangkan di SMESCO sewa bulanan sekitar Rp1,5 jutaan. Di Surabaya, tentu saja lebih murah lagi. Saya sewa virtual office nggak nyampe Rp1 juta (eh sekarang harganya naik, jadi 2 jutaan), tapi rate co-working space Rp15.000 per jam.

Di luar negeri, model bisnis sewa ruang kerja seperti ini udah jamak. Di Singapura ada The Hub, Officio di Boston, BlankSpaces di LA, dan di Indonesia mulai ada Comma di Kebayoran Baru, Jakarta; Code di Margonda, Depok; Graha Virto di Surabaya, atau Hubud di Ubud, Bali. Sedangkan penyedia virtual office ada Regus yang jaringannya global, SMESCO, atau CEO Suite.

Memang seberapa banyak sih yang butuh ruang kerja bareng? Kalo Anda menemukan orang-orang yang fokus dengan laptop di kafe atau Sevel atau McD, mereka lah target market Anda. Belum lagi mereka yang “terpaksa” bekerja di kamar kos atau ruang tidur. Percayalah, bekerja di rumah tak harus literally diartikan bekerja di rumah. Kami-kami hanya tak ingin terbelit birokrasi kantoran, tapi masih membutuhkan ruang khusus untuk bekerja dan berinteraksi.

Menurut studi yang dilakukan Deskmag, sebuah majalah yang membahas inovasi tempat kerja, seperti dilansir FastCompany, sebanyak 90% dari orang-orang yang melakukan co-working mengaku memiliki rasa percaya diri tinggi. Lebih lanjut, dari hasil studi terungkap fakta bahwa 71% partisipan mengaku mengalami peningkatan kreativitas ketika bekerja di co-working place dan 62% mengaku standar kerja mereka terdongkrak naik.

Andaikan ada pembaca blog ini yang berkenan jadi investor untuk bisnis co-working palce, please let me know. I will present my business plan in front of you. Seriously.

.

“Business only has two function — marketing and innovation” (Peter Drucker)

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on December 4, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,

The Winning Underdog

Topdog_Underdog_review_1Sepekan ini semua jenis media begitu ramai dengan fenomena IPO Alibaba yang memecahkan rekor dunia sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah. Dunia maya pun diisi oleh cerita tentang Alibaba dan Jack Ma, sang founder, dan bagaimana perusahaan raksasa internet Cina ini bisa mengguncangkan dunia.

Mengapa peristiwa Alibaba ini begitu ramai dan dielu-elukan? Padahal sejak dulu Alibaba hanyalah ti putih melati, dan merah delima adalah Pinokio. Mengapakah? Padahal rekor IPO sebelumnya yang dipecahkan oleh raksasa kartu kredit Visa di tahun 2006, atau Agricultural Bank of China di tahun 2010, nggak gitu-gitu amat. Dan saya pun yakin, kalau Alibaba ini adalah perusahaannya Li Ka-Shing atau cucunya Rockefeller, respon masyarakat tidak akan sebegitu ramai.

Ya, ini ramai karena Alibaba didirikan oleh Jack Ma, seorang mantan guru bahasa Inggris yang baru memulai membangun perusahan eCommerce di usia 35 tahun, yang gajinya dulu hanya $20 per bulan, yang lamaran kerjanya sempat ditolak oleh KFC, dan kini menjadi orang terkaya nomor satu di Cina dengan nilai perusahaan melebihi $ 166 Billion. Ini ramai karena Jack Ma adalah seorang underdog yang lalu menang. And everybody loves a winning underdog story.

Nah, sejak dulu, cerita tentang winning underdog selalu menarik, baik fakta maupun fiksi; mulai dari David vs Goliath, Cinderella, Rocky, Steve Jobs, CT Si Anak Singkong, Jack Ma, dan banyak lainnya. Tapi, pernahkah anda bertanya: mengapa ini menarik? Karena dramatis, mengejutkan, dan menginspirasi, ya, memang. Twist, drama, dan inspirasi jadi alasan logis kenapa cerita ini menarik hati.

Tapi, menurut saya, ada alasan yang lebih mendasar. Cerita winning underdog menjadi menarik bagi banyak orang karena di lubuk hati yang terdalam, kita semua merasa bahwa kita adalah underdog. Dalam kasus Jack Ma, kisah ini menginspirasi karena kita dan dia memiliki kesamaan: sama-sama underdog, entah karena kita terlambat memulai, bukan dari keluarga kaya, sempat mengalami jalur karir yang dibawah kelayakan, atau tidak memiliki kompetensi sempurna di bidang yang kita geluti.

Kisah ini memberikan rasionalisasi dalam optimisme kita, bahwa jika Jack Ma saja bisa, berarti kita juga bisa. Dan lebih dari itu, kisah seperti ini memberikan sentuhan emosi dalam optimisme kita; bahwa dalam kegagalan dan kekurangan yang sempat menyiksa hati, ternyata ada bukti yang menggariskan bahwa di akhir nanti, hasilnya bisa indah tak terperi. Kisah seperti ini memotivasi dan membawa emosi.

Tapi motivasi semacam ini adalah kulit terluar, remeh, layaknya remah gehu pedas yang tersisa di bungkus bekas lembar jawaban dan terbuang di pinggir jalan, lalu tertiup angin hembusan dan tercebur ke comberan: temeh. Mari benturkan ke realita: ada berapa juta orang yang jadi guru bahasa Inggris, dibayar lebih rendah dari $20, dan lamaran kerjanya sempat ditolak? Banyak sekali. Tapi, ada berapa orang yang menorehkan kesuksesan seperti Jack Ma? Hanya satu. What makes him the winning underdog? Untuk mengetahuinya, kita perlu memaknainya melebihi motivasi, hingga beberapa level.

Jack-Ma-ForbesLevel satu, visionary underdog. Menjadi underdog yang menang harus memiliki visi yang besar? Ya, pasti. Tapi, pastikan juga kalau visinya benar. Begini maksudnya: saat mendengar kisah sukses Jack Ma, apa yang membuat Anda iri? Kekayaan hingga $21 billion? Menjadi cover di Forbes? Diwawancara di CNBC? Jadi terkaya nomer wahid? Jika itu yang menggerakkan kita, maka lupakanlah; karena kita sudah kalah. Sejarah selalu mencatat, para winning underdog itu tidak pernah mengejar kekayaan dan ketenaran.

Dalam sebuah pidato di Stanford, Jack Ma pernah menyampaikan, “Sisakan saya 0,001 dari kekayaan saya saat ini, maka itu masih terlalu banyak untuk seorang Jack Ma”. Karena, jika ditelusuri sejak awal, visinya tidak pernah mengarah ke kepemilikan harta. Ia hanya ingin membuat satu eCommerce yang mampu membantu banyak UMKM di Cina, agar bisa bersaing secara global. Visi ini terus Ia dengungkan hingga kini, di surat terbuka pengunduran dirinya sebagai CEO, atau surat anjuran beberapa hari sebelum IPO. The winning underdog selalu berorientasi pada karya yang bisa memberikan dampak luas.

Level dua, un-underdog underdog. The winning underdog, tidak pernah merasa menjadi underdog, walaupun realita menunjukkan demikian. Coba saksikan “Crocodile from the Yangtze”, dan dengarkan apa yang Jack Ma sampaikan ke belasan timnya di awal pembentukan Alibaba. Seorang mantan guru bahasa Inggris,  menyampaikan semangatnya untuk membangun satu eCommerce global raksasa yang akan menantang dan mengalahkan eCommerce lain dari Sillicon Valley, padahal coding pun Ia tak bisa.

Ia bicara tentang kompetisi global, rencana IPO, di apartemen kecil, di depan belasan orang, padahal produknya pun belum ada. Jack Ma memiliki keyakinan luar biasa dan sikap mental yang sudah meraksasa sejak awal. Dia menjadi underdog yang sudah menang, bahkan sebelum dibunyikannya genderang perang, karena dia tidak pernah melihat dirinya sebagai underdog.

Level tiga, the fighting underdog. Ini basi, tapi percayalah: there is no win without a fight. Jutaan orang saat ini terinspirasi oleh Jack Ma, lalu terlelap seharian dan terus bermimpi. Underdog semacam itu hanya akan menjadi pungguk yang merindukan bulan, bukannya mengumpulkan minions lalu mencuri bulan. Di kelanjutan pidatonya di tahun 1999 itu, Jack Ma bilang, “We will have to pay the pain for the next 3-5 years; that’s the only way we can succeed”. Dia menanamkan etos kerja yang lebih besar, dengan siap tersiksa, untuk mencapai visi besarnya. Dan dia tahu betul, dia ada di medan perang yang tepat untuk mengeksekusi strategi dengan cermat.

Dia memilih jalur tempur di internet commerce, bukan berjualan jangkrik aduan di pinggir terminal. Bisnis modelnya yang scalable berpadu dengan langkahnya yang actionable: maknyus. Maka, pastikan kita selalu memiliki daya juang yang besar, untuk sesuatu yang besar yang memang layak diperjuangkan. Dan ini memang tentang eksekusi: all you have to do is get up, and get your shit done.

Level empat, independent underdog. Yang bermasalah dalam sebuah kisah sukses adalah banyaknya orang yang mengekor terhadapnya. Tetiba semua ingin membuat eCommerce, agar kelak mereka bisa kaya raya, seperti Jack Ma. Visinya terpengaruhi, dan jalan hidupnya terkoreksi. Jika sampai begini, di titik ini kita telah kalah. Para underdog yang menang, tidak meletakkan visinya pada cerita sukses yang menjadi masa lalu; mereka justru mengukir masa depan. Mereka mencari, menggugat, dan mencerahkan jalannya dengan perjuangan yang mereka nikmati.

Please, write your story; make a history. Mari jadikan kisah sukses ini motivasi, tapi jangan sampai ini menjadi indikasi. Janganlah ini membuat jalan juang kita meredup, atau mengaburkan kita dalam memaknai kebahagiaan hidup. Torehlah sejarah waktu kita dalam garis menenangkan yang memang ingin kita hayati. Dan pastikan, semuanya ada dalam guratan yang ridho, dan diridhoi. Karena inilah level terakhir, the real winning underdog:

Bukankah kita hanya mengharapkan sebenar-benarnya kemenangan?

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke bagian orang-orang yang menyembahKu. Dan masuklah ke surgaKu” (Al-Fajr : 27-30)

(Artikel ini ditulis oleh Gibran Huzaifah ITB’07, CEO Cybreed. Saya dapet dari milis salah satu grup entrepreneur. Tulisan ini termasuk kategori wajib di-sharing. Sementara foto utamanya itu benernya cover poster pertunjukan teater Topdog, Underdog. Gambarnya bagus. Dagu buldog kalo dibalik jadi kayak mahkota. Mewakili banget)

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

The Emotional Rollercoaster of Being an Entrepreneur

roller coaster

Entrepreneurship is definitely not for everyone and especially not for the faint of heart. Some people are born to be entrepreneurs, while others will fall into it naturally. If you can’t see yourself leaving the comfort of a solid corporate salary and starting a new brand from scratch, then maybe the entrepreneurial lifestyle isn’t best for you.

Entrepreneurship takes a lot of time and sacrifice. You literally need to be ready to give up everything from job security, financial stability, social life and sometimes even friendships to dedicate however long it takes to build the business. Expect to work long hours with little pay, and always be on high alert for whatever you might be faced with.

You must have an unwavering belief that what you are doing will succeed. Ultimately, entrepreneurship is started and driven forward by passion, and businesses who aren’t fueled by it will have a hard time becoming notable. It is clear and inspiring when companies are operating for a greater purpose other than profit.

It is very possible that despite your best efforts it may not work out, and you have to be ready and willing to accept failure. Failure is extremely important in the process, and with it comes invaluable lessons and experiences which will carry on throughout your time as an entrepreneur. Remember, you’re probably going to fall down, but the world doesn’t care how many times it happens as long as it’s one fewer than the number of times you get back up.

Successful entrepreneurs are comfortable with taking on a massive responsibility load, being challenged and trailblazing their way through the roller coaster ride. Honestly ask yourself whether or not you’re able to handle the constant stress and unexpected twists and turns that the ride will no doubt take. You have to not only be able to take it as it comes, but thrive on it and change the course yourself.

Ini curcol akut. Sekian. Terima kasih. Huffftt.. *ngelapkeringet*

“It’s been quite a roller coaster ride, but I’ve grown and learned a lot about myself.”
(Christina Aguilera)

 
Leave a comment

Posted by on March 4, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

Sunlight Mama Lemon…

Image

Sumpah, saya pengen ngakak pas gak sengaja denger seorang pramuniaga melantunkan lirik “Sunlight mama lemon.. Sunlight mama lemon…” saat lagu Diamond punya Rihanna diputer kenceng-kenceng.

Bukan apa-apa sih, si mbak ini bukan pramuniaga cairan pencuci piring. Dia lagi cover version lirik lagu itu menjadi lagu original punya si mbak. Lirik aslinya yang “Shine bright like a diamond” dengan cerdas diubah jadi “Sunlight mama lemon”. Kasih jempol buat mbaknya deh…

Ada yang istimewa dengan pusat perbelanjaan di Indonesia. Mereka gemar banget pasang musik kenceng-kenceng, kadang sampe batas kuping pekak. Nggak bisa ya volumenya dikecilin dikit?

Sejumlah pusat perbelanjaan kadang tak memiliki konsep musik yang jelas – jika mereka mau memasukkan musik sebagai salah satu strategi ritel (baca: mendongkrak hasrat belanja). Sepertinya, kalo mau suudzon, si ‘music director’ asal puter CD bajakan musik sesuai selera mereka.

Pernah, di sebuah mal di kawasan Jakarta coret, saya mendapati lagu-lagu mellow diputar di Sabtu siang – tentang patah hati lah, diselingkuhi lah, cinta bertepuk sebelah tangan lah.. Hello, you are trying to capitalize music to boost a shopping experience. Bukan mengusir pengunjungnya biar cepet-cepet pulang trus nangis-nangis geje di pojokan.

Pengelola pusat perbelanjaan dan restoran di Indonesia mungkin harus belajar lebih banyak soal musik dan perilaku pelanggan. Bisa jadi mereka melihat keberadaan musik hanya sebagai pelengkap, biar gak terkesan sunyi senyap (sampe kunci jatuh pun kedengeran). Padahal, musik bisa mempengaruhi hasrat belanja dan kondisi mood pelanggan.

Tapi, ada juga yang sudah memperhatikan soal backsound ini dengan baik dan benar. Contohnya Toko Buku Gramedia. Di surga belanja buku itu, tidak sembarang musik bisa diputar. Sudah ada aturan baku yang ditetapkan manajemen pusat. Semuanya merupakan musik-musik bertempo lambat dan tenang, dengan volume yang tidak keras tapi bisa menjangkau ruang dengar seluruh ruangan. Sebanyak 80% merupakan musik instrumen dan simfoni, sisanya lagu pop barat, dan hanya memberi jatah sedikit untuk lagu pop Indonesia.

Buat yang calon entrepreneur yang males riset soal penggunaan musik di bisnis ritel, nih saya kasih kisi-kisinya, sumbernya dari http://www.businessinsider.com. Nanti tinggal googling sendiri untuk penjelasan lebih lanjut.

1. Musik bertempo tinggi yang diputar dengan volume tinggi akan membuat konsumen bergerak lebih cepat (misalnya berkeliling rak dalam sebuah supermarket), tanpa mengurangi volume penjualan. Penelitian Cain-Smith & Curnow (1966).

2.  Musik dengan tempo rendah akan membuat konsumen bergerak lebih lambat, tapi mereka akan membeli lebih banyak barang. Termasuk di restoran, musik yang diperdengarkan lamat-lamat akan membuat pengunjung betah dan mengorder lebih banyak menu. Penelitian Milliman (1982 & 1986); Caldwell & Hibbert (1999).

3. Musik klasik cenderung mempengaruhi konsumen untuk membeli lebih banyak barang-barang berharga mahal (mewah). Penelitian Areni & Kim (1993).

4. Musik klasik di sebuah restoran akan membuat konsumen memesan lebih banyak menu (dan lebih mahal), ketimbang saat restoran tersebut memutar musik pop atau tanpa memutar musik. Penelitian Shilcock & Hargreaves (2003).

5. Namun, tidak semua ritel cocok menggunakan musik klasik sebagai perangsang mood berbelanja. Sebab, musik klasik selalu diidentikkan dengan toko yang hanya menawarkan barang-barang mewah saja. Penelitian Yalch & Spangenberg (1993).

6. Musik Perancis yang diputar di sebuah toko wine akan membuat konsumen membeli wine Perancis. Sedangkan musik Jerman yang diputar di toko wine yang sama, akan membuat konsumen membeli wine Jerman. Penelitian North, Hargreaves & McKendrick (1999).

7. Konsumen merasa seakan-akan merasa antrean atau pelayanan dilakukan dalam waktu singkat saat mereka menengar musik yang disukai. Penelitian Stratton (1992).

8. Calon konsumen akan cenderung membatalkan niat berbelanja (atau mempercepat waktu berbelanja) jika mendapati toko yang memutar musik yang tidak disukainya. Penelitian Bruno Brookes – Immedia (2011).

Nah, kan bener kan.. Kalo musik gak bikin betah, mending cari tempat lain deh.. Masalahnya, kebanyakan mal di Indonesia demen banget muter musik kenceng. Tapi, eh, kenapa tulisan ini jadi mirip artikel berita ya?

“The well-satisfied customer will bring the repeat sale that counts.” (James Cash Penney)

 
5 Comments

Posted by on July 7, 2013 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,

Bisnis Modulus Demi Fulus

Image

Saya masih ingat, saat baru mulai merantau di Jakarta, belum genap setahun bekerja, sudah menghadapi Lebaran — yang berarti harus mudik. Dengan gaji di bawah UMR, pada waktu itu, jelas sebuah masalah besar untuk membeli selembar tiket mudik ke kampung halaman.

Tak patah akal. I think it was because of the power of kepepet, semangat entrepreneurship saya mendadak menjulang tinggi. Mungkin mengalahkan Burj al Dubai tumpuk tujuh (Monas tumpuk tujuh? Lewaaaattt…). Setelah menyelesaikan liputan di kawasan Lapangan Banteng, dengan semangat ’45, saya berkeliling Pasar Senen. Dan, entah kenapa, saya bisa kepikiran untuk memulai bisnis dagang celana jins! Sampe sekarang aja masih heran..

Entah gimana ceritanya saya kepikiran untuk membawa satu tas kresek segede gaban berisi celana jins, celana press (model Lea permanent press gitu deh), dan celana cargo ke kantor, dua bulan sebelum Ramadhan. Dan, entah dituntun apa, saya bisa mengira-ngira dengan tepat si A bakal beli model ini dan warna ini, si B beli model itu dan warna itu. Semesta seakan-akan berkonspirasi untuk membantu saya.

Perhitungan saya cukup tepat. Saya memulai dagang tiga bulan sebelum Lebaran. Saya jualnya pake sistem kredit. Jelas bakal laris. Mana ada sih yang gak suka beli barang kreditan? Meski kulakannya di pasar, saya bisa dapet barang bagus. Tergantung milihnya aja sih hehehe… Dagangan saya sold out. Bahkan, harus berulang kali ke distributor (halah, bahasane.. bilang aja bakule) untuk mengambil barang lagi.

Di bulan Ramadhan, papi saya kebetulan sedang ada di Jakarta. Kalo gak salah sih waktu itu ada urusan pekerjaan. Dan, pas jadwal kosong, beliau saya ajak berkeliling Pasar Senen untuk mengambil dagangan tahap ke sekian, sekalian minta tolong bawain tas-tas kresek super gede itu hehehe..(anak durhaka!) Saya bilang, “Ini usaha biar bisa beli tiket mudik, pi.” Mungkin antara kasian dan bangga, papi saya yang mbayar sebagian dagangan. Lumayan.

Singkat cerita, saya bisa beli tiket mudik. Dua lembar tiket kereta eksekutif ada di tangan dan masih ada sisa keuntungan buat beli baju baru. Mantab dah pokoknya.

Tahun ini, saya mengulanginya kembali. Sekarang sih bukan dagang celana jins, tapi bisnis parsel. Bukan pula demi selembar tiket mudik, melainkan demi momentum dan mendapatkan tambahan penghasilan.

Bersama tetangga kamar, kami merintis bisnis parsel. Nggak bisa dibilang tanpa modal, karena kami masih harus membeli wadah dan pernak-pernik parsel dan mencetak katalog. Keuntungan sebagai wartawan, saya punya saudara dan kawan sepekerjaan yang bersedia meminjami kamera canggih, membantu memotret, dan mendesain katalog. Hampir semua tanpa bayar, kecuali proses cetak yang memang harus bayar (plus menghargai desainer karena hasil katalognya keren).

Untuk produk sample-nya pun kami nggak modal. Semua hasil minjem. Mulai minjem saudara, teman, sampai tetangga. Nggak pake malu. Modulus bae lah, modal dengkul mulus plus senyum manis. Nggak cuma itu, mereka yang barangnya kami pinjam itu sekalian kami nego untuk jadi reseller. Iming-imingnya komisi. Untungnya, mereka bersedia.

Pontang-panting! Tanpa mengantongi SIM, kami naik motor berkeliling Depok untuk mengambil pinjaman kamera dan produk-produk Tupperware yang akan dijadikan model pemotretan. Melihat kami berbocengan, menggembol barang segede gaban, dan memanggul ransel berisi kamera pinjaman, seorang sahabat berkata, “Kalian perempuan perkasa.” Heee.. kami cuma nyengir.

Perjuangan belum berakhir. Kami masih harus memasarkan, kulakan, menyusun, dan mengantarkan parsel-parsel itu ke tempat tujuan. Semoga bisnis ini berhasil. Doakan kami.. [tokohkartunjepangmode_on]

Ganbatte!!

 

“No one ever drowned in sweat.” (United States Marine Corps)

PS: monggo mampir ke blog dagangan saya 🙂

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2013 in Smartpreneur

 

Tags: , , ,

Google Street Vehicles: 1001 Cara Mengambil Gambar

Google-trekker
Untuk medan yang tak bisa dijangkau mobil, tim Google Street View memilih menggunakan sepeda roda tiga atau berjalan kaki demi mendapatkan foto terbaik.

Sekitar sepuluh mobil berwarna putih dengan bola aneh berwarna biru yang terpasang di atap, tengah berseliweran di jalanan Jakarta. Jangan heran, mobil “aneh” itu adalah Google Street View Car. Sejak akhir November silam, mobil putih dengan pintu hijau itu memang dirancang khusus untuk merekam foto kondisi dan panorama kota.

Untuk sementara, Jakarta menjadi kota pertama di Indonesia yang akan direkam. Selanjutnya, puluhan mobil Google Street View akan merekam kota-kota lain dan daerah terpencil di sebagian wilayah Indonesia. “Proyek Google Street View akan dimulai dari Jakarta dan segera dilanjutkan ke kota-kota lain,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, saat meresmikan beroperasinya layanan Street View di Tanah Air. Indonesia merupakan negara ke-45 yang disambangi Street View dari Google.

Menurut Andrew McGlinchey, Product Manager Google, pihaknya menurunkan lebih dari 10 mobil, yang dilengkapi kamera yang sanggup berputar 360 derajat, untuk merampungkan kegiatan pengambilan foto untuk proyek Street View. Kegiatan ini membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Setelah foto-foto dikumpulkan, pihak Google akan mengelola dan mengunggahnya ke layanan Google Street View. Setelah semua selesai, pengguna dapat “berjalan-jalan” secara virtual keliling Jakarta, mulai 2013. Andrew mengaku kendala terberat yang akan dihadapi adalah kemacetan Jakarta.

Versi Sepeda Roda Tiga

Namun, selain mobil, Google ternyata amat fleksibel memilih kendaraan untuk merekam foto. Di sejumlah negara, bila mobil tak sanggup mengambil gambar di wilayah tertentu, misalnya kawasan pejalan kaki atau jalan-jalan sempit, mereka menggunakan Google Trikes. Sepeda roda tiga.

Bila harus mengambil foto panorama resor ski di lereng gunung bersalju, Google menggunakan kendaraan salju (snowmobile). Namun, apapun kendaraan yang dipilih, semua akan dipasangi kamera yang mampu berputar 360 derajat.

Atau bila harus mengambil foto panorama di puncak gunung yang tak bisa dijangkau kendaraan apapun, tim proyek Google Street View akan memanggul kamera yang dipasang di ransel.

Meski menggunakan moda transportasi yang berbeda, tiap moda dilengkapi sembilan kamera (yang berada dalam satu bola besar). Kamera tersebut dijaga tetap berada sekitar 2,5 meter dari permukaan tanah atau jalan. Selain itu, setiap moda Street View dilengkapi GPS untuk menentukan posisi dan tiga laser scanner. Ketiga alat ini untuk merekam gambar agar hasil Street View dapat ditampilkan dalam versi tiga dimensi (3D) dengan perspektif animasi.

Selain kamera, GPS, dan laser scanner, kendaraan Street View juga dilengkapi antena 3G/GSM/Wi-Fi untuk memindai area hotspot. Piranti terakhir inilah yang kemudian banyak menuai protes di sejumlah negara karena alasan keamanan dan privasi. Di negara-negara tersebut, Google mencopot antena demi permintaan pemerintah setempat terkait perlindungan privasi. $$$ ARI WINDYANINGRUM

 

PERALATAN YANG DITANAM DI GOOGLE STREET VEHICLES

  1. Kamera. Di dalam satu bola besar terdapat sembilan kamera kecil yang mampu berputar 360 derajat. Kamera ini harus berada sekitar 2,5 meter dari atas tanah, tak peduli bola kamera tersebut dipasang di mobil, sepeda roda tiga, atau ransel tim Google Trekker.
  2. Global Positioning System (GPS). Tim Google Street View akan mentransmisikan sinyal dari perangkat GPS ke satelit dan sebaliknya. Perangkat GPS mengirimkan informasi mengenai lintang, bujur, dan ketinggian mengenai sebuah lokasi tertentu.
  3. Laser Scanner. Alat pindai ini untuk merekam gambar agar hasil Street View dapat ditampilkan dalam versi tiga dimensi (3D) dengan perspektif animasi.
  4. Antena 3G/GSM/Wi-Fi. Antena yang terpasang di kendaraan Google Street View mampu memindai area hotspot. Lebih jauh, alat ini ternyata mampu mengambil data dari jaringan yang tidak aman. Otoritas keamanan di sejumlah negara melarang Google menggunakan antena ini demi perlindungan privasi dan keamanan.

 

(As published on majalah OPTIMIZer ed 01/Maret 2013)

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2013 in Smartpreneur

 

Tags: , , ,

Google Street View Dilarang Berkeliaran di Beberapa Kota

ImageSejumlah negara hanya membolehkan Google StreetView melayani kota-kota tertentu. Sebagian lain memilih menawarkan Museum View atau Ski Resor View.

Bagi orang Indonesia, museum bukan tujuan wisata utama. Banyak yang berpikir apa asyiknya mengunjungi museum yang hanya memajang barang-barang antik peninggalan sejarah. Tapi, ternyata di luar negeri, museum merupakan salah satu tujuan wisata yang diburu turis. Lihat saja bagaimana Museum Louvre di Paris, Perancis yang selalu kebanjiran pengunjung.

Dari kaca mata Google Inc., ini merupakan potensi tersendiri. Alhasil, mereka menawarkan Google Art Project, semacam Google Street View untuk museum (Museum View). Intinya sama, Google mengajak pengguna untuk berjalan-jalan menyusuri museum, menikmati harta karun dari masa lalu.

Beberapa museum yang sudah masuk list Museum View antara lain Museum Van Gogh di Amsterdam, Museum Louvre di Paris, Museum Seni Metropolitan di New York, Museum Reina Sofia di Madrid, hingga Museum Nasional Irak di Baghdad. Pengguna bisa menikmati lebih dari 1.000 karya seni dari 400 artis.

Tak hanya itu, Google memberikan akses luar biasa bagi pengguna untuk menikmati karya seni sampai ke detil, hingga ukuran mikroskopis. Menggunakan aplikasi Picasa, pelanggan bisa mengeksplorasi lukisan hingga ke penekanan kuas (brushstrokes).

Irak merupakan negara Timur Tengah pertama yang membuka akses Google Street View, meski terbatas untuk berjalan-jalan di dalam museum. Negeri 1001 malam itu bergabung dengan Google Art Project alias Google Museum View sejak 2011.

Baru setahun kemudian Israel, negara kedua di kawasan Timur Tengah, membuka pintu lebih lebar bagi Google Street View untuk panorama jalan. Di negara ini, mobil-mobil Google Street View diperbolehkan mengambil foto jalan dan panorama kota.

Objek Wisata Favorit

Tak semua negara memberikan akses 100% bagi proyek Google Street View untuk mengambil foto panorama wilayah di dalam kedaulatan negaranya. Bahkan, Amerika Serikat, yang dianggap negara paling demokratis sejagat sekaligus negara tempat berpusatnya Google pun, tidak memberikan ijin kepada perusahaan itu untuk mengambil foto di beberapa wilayahnya.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat dan Pentagon mendesak Google untuk membatalkan peluncuran Google Street View untuk wilayah Washington D.C dan sekitarnya. Pihak berwenang meminta perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergei Brin ini menghapus foto-foto di basis militer maupun wilayah tertentu yang memiliki tingkat keamanan ketat (restricted area).

Jerman pun hanya membolehkan proyek Google Street View melayani 10 kota utama di negara tersebut. Selain Berlin, Google Street View di Jerman hanya boleh merekam foto jalan dan panorama München, Hamburg, Düsseldorf, Hannover, Koln, Essen, Dortmund, Dresden, dan Leipzig. Sisanya, tidak diperbolehkan.

Nama besar Google ternyata bukan jaminan ketika berhadapan dengan hukum dan perundangan di negara tujuan. Di Kanada, misalnya, tim Google Street View sudah mulai mengambil gambar Montreal sejak September 2007, hanya berselang empat bulan setelah Street View dirilis. Akan tetapi, foto panorama pertama ibukota negara tersebut baru bisa dinikmati publik dua tahun berikutnya, tepatnya pada 7 Oktober 2009. Penundaan ini berkaitan dengan Undang-Undang Privasi (privacy law) yang digadang pemerintah Kanada.

Setidaknya, ada tiga tempat terlarang bagi kamera Google, yaitu Labrador, Gaspe Peninsula, dan Fort McMurray, Alberta. Sebaliknya, pemerintah Kanada memberikan akses penuh untuk tujuan wisata andalan negara tersebut, di antaranya resor ski di Whistler Blackcomb dan wilayah paling utara Kanada: Prudhoe Bay, Alaska.

Objek wisata memang area yang relatif aman untuk dibuka kepada seluruh dunia. Bahkan Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menegaskan hanya ada 16 wilayah Indonesia yang terbuka untuk proyek Google Street View. Wilayah tersebut adalah kota-kota besar di negeri ini dan destinasi wisata unggulan.

Untuk urusan destinasi wisata, pemerintah Australia amat kreatif. Salah satu negara yang tergabung dengan Google Street View di tahap awal ini menawarkan proyek Seaview. Mereka meminta Google mendokumentasikan dan mempublikasikan 360 panorama bawah laut di wilayah negaranya. Proyek Seaview telah dimulai September 2012 dan diharapkan dapat dirilis Februari 2013.

Dari puluhan negara di dunia yang tergabung dalam proyek Google Street View, hanya Belanda yang memberikan akses 100% di seluruh wilayah kedaulatannya. Per Juni 2012, tim Google Street View telah menyusuri 5 juta kilometer jalanan di 3.000 kota dunia. Tentu saja, angka ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. $$$ ARI WINDYANINGRUM 

 

(As published on majalah OPTIMIZer ed 01/Maret 2013)

 

 

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2013 in Smartpreneur

 

Tags: , , ,