RSS

Category Archives: Wheels on the Road

Bundel tulisan mengenai public transportation di seluruh dunia.

Tukang Bakpao: Indikator Kemacetan Ibukota

tukang bakpaoBagi warga Jakarta yang menemukan kepulan asap putih dari dandang stainless steel yang posisinya berada di pinggir jalan protokol, waspadalah! Itu merupakan pertanda bahwa kemacetan parah terjadi di depan sana. Kalau masih bisa putar balik, mending segera ubah arah kendaraan. Tapi kalau udah kejebak offside, ya terima nasib aja…

Bagi saya, tukang bakpao adalah pahlawan di tengah kemacetan. Selain bisa memberikan petunjuk kondisi lalu lintas, produk dagangannya bisa banget mengganjal perut. Siapa yang tahan godaan bakpao lembut isi kacang hijau atau daging ayam ini? Hangat dan lezat (ah, gara-gara nulis ini jadi kepengen makan bakpao).

Selain tukang bakpao, pedagang minuman botol juga bisa menjadi penanda kemacetan. Pernah, di tengah jalan tol saya menemukan abang-abang pedagang asongan. Biasanya mereka menjajakan minuman kemasan dan tahu goreng/kacang rebus yang sudah dibungkus cantik dalam tas kresek bening.

What, jualan di tengah jalan tol? Yoii.. Jalan tol di Jakarta mah sebenarnya tempat parkir berbayar aja. Macetnya kadang lebih parah dari jalan biasa. Jadi, jangan heran kalau si abang penjual makanan dan minuman ini bisa dengan aman dan nyaman menjajakan dagangannya, tanpa khawatir diseruduk kendaraan.

“Mijon.. Mijon.. Mijon..” atau “Tarahu.. Tarahu.. Tarahu..” Gitu cara mereka menjajakan dagangannya. Gak tau juga kenapa bisa Mijon dan Tarahu. Padahal para pedagang asongan itu sedang menyebutkan merek minuman Mizone dan dagang tahu goreng. Dan, gak tau juga kenapa para abang-abang itu udah jarang lagi menyebut, “Kua..Kua..Kua..” (maksudnya sih Aqua) untuk air mineral botolan. Mungkin minuman dingin dengan rasa manis lebih sesuai untuk menghalau dahaga di tengah kemacetan.

Bayangkan betapa sialnya warga Jakarta yang harus merasakan kemacetan tiap hari, pagi-siang-sore-malam. Rekor terburuk saya adalah mengalami empat jam stuck di tengah kemacetan (sekali jalan, dari titik A ke titik B, bukan akumulasi dalam sehari). Mungkin sebagian Anda pernah merasakan derita lebih lama. Ya nasib.

Kondisi terburuk terjadi bila di hari Jumat hujan turun sejak siang. Damn! Kalau sudah begitu, sudah bisa dipastikan jalanan bakal banjir dan macet di mana-mana. Tanpa harus melihat keberadaan “Para Indikator” pun udah bisa ketebak betapa menyebalkannya perjalanan pulang malam itu. Pffiuhh..

“The strongest of all warriors are these two: Time and Patience.” (Leo Tolstoy)

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on September 20, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , ,

The Stranger and The Journey

SG MRT inside BW“All great literature is one of two stories; a man goes on a journey or a stranger comes to town.”

(Leo Tolstoy)

 
Leave a comment

Posted by on September 3, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , , ,

Rebutan Kursi

Image

Seharian kemarin, di media sosial (bahkan sampai masuk TV dan website koran nasional) rame banget memberitakan sebuah akun Path yang bikin komen nggak simpatik dengan ibu hamil di KRL. Intinya sih si Dinda ini nggak seneng ada ibu hamil yang ujug-ujug minta prioritas duduk.

Sebagai roker sejati, saya memilih berada di posisi netral. Nggak pro Dinda, dan gak kontra Dinda. Apa yang dikeluhkan Dinda memang hampir selalu terjadi, setiap hari. Dengan berat hati, saya mengakui bahwa masih ada orang-orang bebal yang nggak mau kasih tempat duduk ke penumpang prioritas. Tapi, di sisi lain, saya juga menyayangkan ada juga penumpang prioritas yang jumawa dengan keprioritasannya.

Sayangnya, banyak yang langsung bereaksi keras kepada Dinda, menyerangnya. Mengapa kita tidak melihat latar belakang kenapa masalah itu bisa terjadi? Kok bisa seorang ibu hamil, yang jelas-jelas penumpang prioritas, sampai minta duduk sama orang yang duduk di depannya. Kok bisa penumpang yang duduk enggan ngasih tempat duduknya? Emang Indonesia udah berubah jadi negara barbar, apa?

Saya justru melihat akar masalah yang terjadi adalah ketidakmampuan PT KAI menyediakan sarana transportasi umum yang manusiawi dan tepat waktu. Selain masalah moral dan budi pekerti, tentu saja.

Memang, sekarang perjalanan dan rangkaian kereta makin banyak (eh, sekarang udah 10 gerbong lho, tadinya cuma 8 gerbong aja). Tapi, apakah seluruh perjalanan itu tepat waktu? Nggak usah jauh-jauh, sebulan terakhir ini aja, kereta error sering terjadi. Bayangkan, penumpang yang seharusnya naik KRL jam 5 pagi harus menanti kereta yang entah kapan datang, yang pada akhirnya harus berebutan masuk gerbong dengan penumpang yang seharusnya naik kereta jam 8 pagi.

Tiga jam penantian sia-sia di stasiun. Entah berapa rangkaian yang seharusnya lewat. FYI, dalam kondisi normal, di jam sibuk, kalo sesuai jadwal, tiap 5-10 menit sekali kereta masuk stasiun. Nah, kalo kereta error ya wassalam. Jadwal berubah semua. Saya yakin para penumpang juga punya kepentingan dan jadwal mepet (kalo telat potong gaji). Bukan saya membela Dinda, tapi dengan kondisi fisik dan psikologis yang sudah diombang-ambing perusahaan perkeretaapian negara, siapa yang nggak emosi?

Saya paham atas hak priveledge ibu hamil. Mereka harus menjaga dua nyawa dalam satu tubuh, dengan kondisi tubuh yang istimewa pula. Saya justru kasihan ketika para bumil ini berdesakan di kereta. Beberapa kawan sampai bela-belain berangkat 30-60 menit lebih awal, naik “kereta balik” (arah sebaliknya) biar bisa duduk sejak stasiun awal. Beberapa kawan lain menunda waktu pulang 30-60 menit dari jam pulang kantor biar bisa dapat kereta yang agak lega. Saya salut kepada mbak-mbak bumil yang seperti ini karena dia menyayangi diri dan bayi yang dikandungnya.

Ketika semuanya tak berjalan seperti rencana, termasuk perjalanan kereta yang selalu error itu, kita memang harus selalu berkepala dingin. Sabar. Kita harus memahami bahwa ada jutaan penumpang dengan jutaan sikap pula. Tapi, satu hal yang pasti, kita  harus bisa menempatkan diri dengan bijak. Kalau misalnya nanti kita hamil, mau nggak kita dicuekin? Dan sebaliknya. Seringkali kita abai dengan akar masalah yang terjadi karena terlalu emosi menanggapi apa yang terjadi di permukaan.

 

“Why is patience so important? Because it makes us pay attention.” (Paulo Coelho)

 

 
Leave a comment

Posted by on April 17, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,

Cek Posisi KRL dari Ponsel

Image

Ini adalah aplikasi yang sudah dinanti-nanti para roker (rombongan kereta), yakni fasilitas mengecek posisi KRL Jabodetabek via gadget. Layanan ini bisa diakses melalui ponsel (mau android atau blackberry apa aja boleh, yang penting bisa akses internet), tablet, maupun laptop/PC. Beberapa stasiun sudah menampilkan aplikasi ini di layar TV plasma yang tersebar di loket maupun peron. Mantab!

Sebenernya, PT KAI Commuter Jabodetabek udah memperkenalkan aplikasi ini sejak setahun silam, tepatnya mulai 26 Februari 2013. Tapi, ya begitulah.. Masih belum banyak yang ngeh. Selama ini kita masih mengandalkan metode “Cangkem” alias nanya langsung ke petugas loket atau security yang rajin banget mondar-mandir di peron stasiun.

Karena berbasis online, berarti Anda harus mengakses via http://infoka.krl.co.id/to/kode_stasiun. Kode stasiun ini adalah stasiun tempat kita berada (nunggu kereta). Misalnya Anda nunggu di stasiun Cikini maka kodenya “CKI”, kalau stasiun Manggarai kodenya “MRI”. Sabar deh, ntar saya kasih list kode stasiun di bagian bawah tulisan ini.

Dari tampilan di layar ponsel, nanti ketahuan kereta masih berada di stasiun mana. Kalau di CKI berarti cuma akan ada tiga warna yang menunjukkan tiga opsinya kereta, yakni kereta yang menuju stasiun Kota, menuju Bogor/Depok, atau menuju Bekasi. Tapi, kalau pas di MRI, bakal ada lebih banyak kode warna yang menunjukkan opsi tujuan – mengingat Manggarai adalah stasiun persimpangan (tempat penumpang oper kereta).

Buat yang masih bingung, kode “ber” itu artinya berangkat. Kalau “di” berarti itu kereta lagi mandeg di stasiun yang namanya tersebut di layar. Dan, sabar aja kalo sistemnya masih belum sempurna. Misalnya kereta dibilang masih di Gambir, tapi tiba-tiba gak lama kemudian udah nongol di Cikini (lompat satu stasiun).

Karena real time, maka tampilannya bakal berubah-ubah sesuai waktu ngekliknya. Dan yang muncul memang posisi kereta terdekat aja. Tapi, lumayan lah.. jadi Anda bisa punya waktu buat beli beli makan dulu di Sevel atau Indomart hehehe..

Soalnya, dengan aturan baru, di peron gak ada lagi orang tukang jualan. Kalo udah “kejebak offside” di dalam stasiun dalam kondisi laper, tapi posisi kereta masih jauh (atau malah belum tersedia di stasiun pemberangkatan), beuuhh.. njengkelin banget!

Sesuai janji, nih daftar kode stasiunnya. Monggo disimak:

# Jakarta Kota JAK
# Jayakarta JYK
# Mangga Besar MGB
# Sawah Besar SW
# Juanda JUA
# Gambir GMR
# Gondangdia GDD
# Cikini CKI
# Manggarai MRI
# Tebet TEB
# Cawang CW
# Duren Kalibata DRN
# Pasar Minggu Baru PSMB
# Pasar Minggu PSM
# Tanjung Barat TNT
# Lenteng Agung LNA
# Universitas Pancasila UP
# Universitas Indonesia UI
# Pondok Cina POC
# Depok Baru DPB
# Depok DP
# Citayam CTA
# Bojonggede BJD
# Cilebut CLT
# Bogor BOO
# Bekasi BKS
# Kranji KRI
# Cakung CUK
# Klender Baru KLDB
# Buaran BUA
# Klender KLD
# Jatinegara JNG
# Pondok Jati POK
# Kramat KMT
# Gangsentiong GST
# Pasar Senen PSE
# Kemayoran KMO
# Rajawali RJW
# Kampung Bandan KPB
# Ancol AC
# Tanjung Priok TPK
# Tangerang TNG
# Batu Ceper BPR
# Poris PI
# Kalideres KDS
# Rawa Buaya RW
# Bojong Indah BOI
# Pesing PSG
# Duri DU
# Tanahabang THB
# Angke AK
# Karet KRT
# Sudirman SUD
# Serpong SRP
# Rawabuntu RU
# Sudimara SDM
# Jurangmangu JRU
# Pondok Ranji PDJ
# Kebayoran KBY
# Palmerah PLM

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , , ,

Jalur Warna-Warni Rute KRL Jabodetabek

Image

Baiklah, ini adalah panduan penting buat para pengguna KRL Jabodetabek: Peta Rute Perjalanan. Seperti di luar negeri, rute-rute ini digambarkan dengan warna berbeda. Anda tinggal mengikuti rute yang ada. Kalau mau berpindah rute, cukup OPER (pindah kereta) di stasiun yang bersinggungan dengan rute-rute tersebut, misalnya di Manggarai dan Tanah Abang.

Contoh 1: Anda dari stasiun Tanjung Barat ingin menuju Jurang Mangu, berarti Anda bisa naik kereta Bogor/Depok-Jatinegara turun stasiun Tanah Abang, lalu oper kereta Serpong untuk turun di stasiun Jurang Mangu.

Contoh 2: Anda dari Palmerah ingin ke Klender, berarti Anda naik kereta Serpong-Tanah Abang turun Tanah Abang, oper kereta ke Manggarai, lalu naik kereta Bekasi dan turun ke Klender.

Begitu seterusnya. Kalau mau baca lebih lengkap soal cara naik KRL Jabodetabek bisa klik di sini. Oya, KRL Jabodetabek TIDAK BERHENTI di stasiun Gambir. Jadi kalau Anda ingin ke Gambir (untuk naik kereta ke Jawa atau naik Damri jurusan Bandara dan Lampung), terpaksa harus turun Gondangdia atau Juanda untuk melanjutkan naik bajaj atau ojek.

Untuk PERHITUNGAN TARIF di sistem ticketing yang baru, Anda cukup MENYEBUTKAN STASIUN TUJUAN dan membayar sesuai jarak perjalanan. Dulu, tarif perjalanan flat. Sebelum menggunakan sistem perhitungan tarif progresif, pihak KRL Jabodetabek mematok tarif termahal adalah Bogor-Jakarta Kota Rp8.000 dan termurah Serpong-Tanah Abang Rp5.500.

Tapi, kini, perhitungan untuk KRL Jabodetabek menggunakan sistem progresif. Untuk LIMA stasiun pertama Rp2.000 dan tiap TIGA stasiun berikutnya kelipatan Rp500.

Contoh 1: Dari Cawang ke Manggarai (silakan perhatikan rute biar lebih jelas), hanya melewati dua stasiun berarti Anda hanya bayar Rp2.000.

Contoh 2: Dari Cawang ke Kota (kembali liat jalur Kuning, yaa…), melewati 10 stasiun, berarti Anda harus bayar Rp2.000 (5 stasiun I) + Rp500 (3 stasiun II) + (2 stasiun III) = Rp3.000.

Hanya saja, dari harga tiket di atas Anda harus menambah UANG JAMINAN TIKET Rp5.000 (untuk Tiket Harian Berjaminan/THB, warnanya putih) yang nantinya bisa di-refund di stasiun tujuan.

Dan, ini pesan khusus bagi pembaca blog naningisme, sebelum bertanya, silakan membaca dan mempelajari terlebih dahulu peta rute perjalanan KRL Jabodetabek yang sudah saya sediakan. Biasakan baca dulu sebelum tanya 🙂 Monggo silakan men-download Peta Rute Perjalanan yang ada di atas dan menyimpannya di gadget, biar nanti lebih nyaman saat melakukan perjalanan naik kereta. Enjoy!

 
208 Comments

Posted by on February 16, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , , ,

Panduan Naik KRL Jabodetabek buat Pemula

Image

Kapan hari, saya janjian dengan Danti, sepupu saya, untuk berkunjung ke rumah saudara di Bintaro. Kami sengaja naik KRL Jabodetabek sampai stasiun Jurang Mangu lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek. Tapi, karena satu dan lain hal, kami menaiki kereta dengan jadwal terpaut jauh. “Ntar kita ketemuan di rumah tante saja ya,” kata dia. Okesip. Nggak masalah.

Begitu bertemu di rumah tante, dia ngomel-ngomel nggak karuan, “KAI bener-bener menyusahkan penumpang. Masak penumpang yang turun di stasiun Tanah Abang mau oper ke kereta lain beli tiketnya harus muter jauh? Naik turun tangga bisa lima menit sendiri. Udah gitu antreannya panjang pula.. bla bla bla..” Saya dengerin aja dengan senyum-senyum geje. Ada newbie, penumpang baru hehehe..

Setelah dia puas ngomel-ngomel, saya tanya. “Emang tadi naik dari Cawang bilang turun mana?” Danti, sepupu saya jawab, “Turun Tanah Abang. Kan kalo dari Cawang mau ke Jurang Mangu harus oper kereta di stasiun Tanah Abang”. Another big grin 😀

Baiklah, ini kesalahan yang sering dilakukan penumpang pemula. Di sistem rute dan tiket KRL Jabodetabek yang baru, penumpang cukup menyebutkan stasiun tujuan. Nggak perlu tujuan akhir kereta atau stasiun oper (untuk beli tiket lagi ke perjalanan selanjutnya). Mengapa? Karena ini berkaitan dengan harga tiket yang harus Anda bayar. Kalau mau peta rute KRL Jabodetabek, bisa baca artikel Jalur Warna-Warni Rute KRL Jabodetabek (monggo, bisa langsung diklik link-nya).

multi tripMisalnya, Anda dari stasiun Citayam ingin ke Cikini, sebutkan saja stasiun Cikini bukan stasiun Kota. Atau Anda dari stasiun Cawang ingin ke Jurang Mangu, sebutkan saja stasiun Jurang Mangu, bukan Serpong atau Tanah Abang (karena Anda berpikir harus beli tiket untuk naik kereta Serpong, seperti Danti).

Kalau Anda hanya sesekali menggunakan jasa KRL Jabodetabek, Anda bisa beli tiket SINGLE TRIP (Tiket Harian Berjaminan) yang warnanya putih. Harga tiket tergantung pada jarak tempuh. Untuk LIMA STASIUN PERTAMA, Anda bayar Rp2.000 dan tiap TIGA STASIUN BERIKUTNYA dihargai Rp500.

Kalau jarak tempuh Anda cuma tiga stasiun, Anda cukup bayar Rp2.000. Kalau tujuh stasiun Rp2.500. Kalau 10 stasiun Rp3.000. Dan seterusnya. Tapi, ingat, Anda harus bayar UANG JAMINAN TIKET Rp5.000. Jadi, ongkos yang harus Anda bayar tadi harus ditambah Rp5.000. Tapi, uang Rp5.000 ini bisa Anda dapatkan kembali kalau ada mengembalikan tiket di stasiun tujuan. Perhitungan pembayaran tiket bisa dibaca selengkapnya di artikel saya sebelumnya yang berjudul Sistem Tarif Progresif: Tiap Tiga Stasiun Rp500.

ImageKenapa ada uang jaminan tiket? Ini karena PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mumet ama polah orang Indonesia yang belum terbiasa dengan tiket keren yang bentuknya mirip kartu ATM. Dulu, waktu awal penggunaan e-tiket, banyak penumpang yang bawa pulang itu kartu — nggak dibalikin ke loket. Dulu, tiket Single Trip desainnya lebih cantik. Ada foto kereta segala, bukan putih polos aja. Saya rasa, ini imbas kebiasaan lama penumpang yang nggak ngasih tiket kertas ke penjaga  pintu keluar (dulu belum ada gate canggih). Akhirnya, PT KCJ bikin aturan uang jaminan itu. Kalo lo mau duit lo balik, balikin kartu tiket gw.

Refund tiket putih ini berlaku TUJUH hari. Jadi, misalnya di stasiun tujuan Anda pengen balik lagi ke stasiun awal (balik ke rumah), nggak perlu Anda refund di loket stasiun tujuan. Nanti, Anda bisa top up (isi ulang) tiket untuk kembali pulang.

Tapi, kalo Anda ogah repot atau antre buat beli, isi ulang, atau refund tiket, Anda bisa beli tiket MULTI TRIP (dulu disebut COMMET). Beli Rp50.000 nggak ada masa hangus dan bisa diisi ulang. Top up tiket Multi Trip mulai Rp10.000 sampai Rp1 juta, dengan kelipatan Rp10.000. Saldo minimal Multi Trip untuk bisa dipakai adalah Rp7.000.

layar petunjukNah, kalau tiket udah di tangan, Anda masuk peron harus tapping itu tiket ke mesin gateway. Kalau Anda pernah naik MRT di Singapura, seperti itulah.. Kalau belum pernah, berarti selamat Anda menikmati teknologi terbaru PT KAI/KCJ.

Setelah di peron, pasang telinga baik-baik, soalnya di beberapa stasiun dilewati kereta dengan tujuan berbeda-beda. Apalagi kalau Anda berada di stasiun persimpangan (tempat oper), seperti Manggarai atau Tanah Abang. Anda harus tahu kereta yang harus Anda naiki ada di peron berapa.

Di beberapa stasiun, sudah ada layar televisi plasma yang menunjukkan kereta tertentu ada di peron berapa dan lokasi kereta Anda (masih di stasiun mana dan berapa menit lagi sampai di stasiun tempat Anda menunggu). Canggih! Sayangnya, layanan ini belum ada di semua stasiun. Ke depan, bakal ada di seluruh stasiun di Jabodetabek.

ImageKRL Jabodetabek memiliki delapan rangkaian gerbong. Gerbong pertama dan terakhir, khusus untuk perempuan. Bahkan untuk kaum transgender pun dilarang naik gerbong perempuan. Jangan salah naik kalo nggak pengen dipelototin penumpang dan diusir ama security yang selalu ada di tiap gerbong.

Di tiap gerbong, ada yang namanya Tempat Duduk Prioritas. Letaknya di dekat sambungan gerbong. Jadi kalo Anda ibu hamil, bawa anak kecil, difabel, atau lansia, Anda berhak duduk di situ. Dan, buat mereka yang nggak hamil, gak bawa anak kecil, seger buger, dan belum peyot, jangan duduk di kursi prioritas kalo gak pengen digusur.

Oya, pastikan Anda nggak melebihi stasiun tujuan yang Anda sebutkan (paling tidak sesuai rumus 5 stasiun awal + kelipatan 3 stasiun berikutnya). Beberapa kereta sudah ada speaker yang memperdengarkan suara masinis atau “mbak robot rekaman” yang ngasih tau stasiun berikutnya. Tapi, kalo gak ada, Anda harus rajin liat papan stasiun.

Sebab, kalau Anda turun kebablasan bakal didenda. Untuk menyiasatinya, gak perlu panik. Anda tinggal pindah peron, naik kereta balik yang menuju stasiun tempat Anda seharusnya turun. Daripada didenda mending repot dikit kan?

tapping pintu keluarSekali lagi, biar Anda nggak “senasib” dengan Danti – yang harus memutar keluar stasiun Tanah Abang untuk beli tiket baru – Anda harus mengerti stasiun tujuan. Selama masih di stasiun persimpangan, dan Anda sudah pegang tiket sampai stasiun tujuan, Anda tinggal pindah peron. As simple as that.

Kalau udah sampai stasiun tujan, Anda tinggal tapping di gateway keluar dan refund tiket Single Trip di loket. Enjoy!

 
190 Comments

Posted by on February 16, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Peralatan Safety di KRL Eks Jepang

Image

Senin, 9 Desember 2013 siang rasanya jantung saya mau copot. Saya denger kabar kalo ada KRL Commuter Line jurusan Serpong-Tanah Abang tabrakan dengan truk tangki bensin PT Pertamina di  pintu perlintasan KRL Pondok Betung, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Secara saya merupakan pengguna setia KRL Commuter Line dan selalu berada di Gerbong Perempuan, yang letaknya di rangkaian paling depan atau paling belakang.

Kalo “cuma” insiden kereta nabrak mobil di perlintasan sebidang sih udah “biasa”. Tapi ini truk tangki BBM. Begitu mendengar kabar itu, selama beberapa detik imajinasi saya bergerak liar. Gimana kalo kereta itu meledak? Ada bola api yang berasal dari ribuan liter bensin di tangki truk yang merembet di dalam gerbong, lalu terjadi ledakan besar yang ber-impact ke perkampungan sekitar. Persis adegan ledakan di film-film Hollywood itu.

Tapi, syukurlah —ini adalah kehebatan orang Indonesia, meski terjadi kecelakaan masih ada hal-hal yang patut disyukuri — tidak ada insiden gerbong mleduk. Truk tangki BBM memang terbakar habis. Gerbong bagian depan (kabin masinis) terbakar dan gerbong pun terguling keluar rel.

Sayangnya, ada korban jiwa. Sedikitnya 86 orang menjadi korban dalam kecelakaan maut. Tujuh di antaranya meninggal dunia karena luka bakar di atas 50% yang dideritanya, termasuk tiga serangkai masinis Darman Prasetyo, Asisten masinis Agus Suroto, dan teknisi Sofyan Hadi. Ketiganya bisa saja keluar dari kabin masinis untuk semburat berlari ke gerbong belakang. Tapi mereka justru memilih untuk tetap di posnya, berusaha menghentikan laju kereta dan mengabarkan akan adanya kecelakaan kepada para penumpang. Sungguh layak jika ketiganya dianggap sebagai Pahlawan.

Anyway, tulisan ini tidak untuk mereview Tragedi Bintaro II. Karena pasti sudah banyak yang mengabarkannya. Saya ingin sharing mengenai alat keselamatan dalam gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek. Banyak yang menyayangkan tidak tersedianya palu dan pemecah kaca dalam kereta tersebut (seperti yang ada di bus TransJakarta). Pada kenyataannya Kereta Rel Listrik (KRL) eks Jepang memang tidak mengenal sistem palu pemecah kaca sebagai alat keselamatan.

Pabrikan kereta menyediakan katup angin untuk membuka kunci agar pintu dapat dibuka secara darurat oleh tangan. Kalau kemarin penduduk sekitar menyelamatkan warga dengan cara memecahkan kaca dengan bantuan helm, itu sah-sah saja. Toh dalam keadaan darurat, semua bisa dilakukan.

Menurut info dari Divisi Humas Mabes Polri, katup angin ini tersebar di dalam gerbong, yakni di bawah bangku dekat pintu dan di antara sambungan antar gerbong. Untuk menandai katup angin ini, pabrikan kereta eks Jepang menandainya dengan border penutuh berwarna merah (lihat foto). Selain di dalam gerbong, di bagian luar kereta pun terdapat katup serupa. Namun, posisinya berbeda-beda tergantung tipe KRL. Satu hal yang pasti katup atau keran atau tuas selalu berwarna merah untuk memudahkan pencarian.

Bagaimana cara menggunakannya? Langkah pertama, cari posisi katup itu berada –secara lokasi katup berbeda-beda tergantung tipe KRL. Kalau sudah menemukannya, buka penutup lalu tarik katup atau tuas sepenuhnya, sampai terdengar suara angin yang terlepas (Psssss.. seperti balon kempes atau orang kentut –tentu aja gak pake bau). Kemudian, pintu pun bisa dibuka dengan mudah.

Ini prosedur safety. Jadi, meskipun Anda tahu cara membuka pintu secara manual, tidak serta merta Anda boleh membukanya di luar keadaan darurat. Jangan sampai karena iseng, Anda membuka katup angin saat kereta berjalan. Ini bener-bener bakal membahayakan penumpang yang ada di dalam kereta, apalagi pas kondisi kereta superpenuh dan penumpang kayak pepes dengan tubuh menempel sepenuhnya di pintu kereta. Bijaklah dalam melaksanakan prosedur safety  >> Sumpah, ini bukan pesan sok serius, tapi memang harus serius dalam menghadapi situasi darurat.

“For safety is not a gadget but a state of mind.”  (Eleanor Everet)

 
Leave a comment

Posted by on December 12, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,