RSS

Category Archives: Who’s The Boss?

Bundel tulisan mengenai manajemen dan kepemimpinan.

Kendali

7209175-graphic-ship-at-sea

“Jika kau harus mendayung di antara dua karang, dalam arus gelombang yang sangat liar, dan semua hal menjadi seolah tak terkendali, maka satu-satunya yang harus kau kendalikan adalah dirimu..”

(Ucapan seorang jurnalis tua kepada lelaki yang -saat itu- hendak dicalonkan sebagai Presiden)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2015 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Kursi Prioritas dan Gantian Duduk

Image

Hmm, sejak kasus Dinda yang memberikan komen negatif kepada ibu hamil di Path jadi makin banyak orang perhatian dengan sistem transportasi umum Indonesia. Mudah-mudahan bukan cuma yang jelek yang diekspose, masih banyak kok hal-hal baik yang bisa dirasakan masyarakat dengan adanya KRL Jabodetabek.  *sumpah, ini bukan blog berbayar*

Satu poin yang paling penting soal keistimewaan KRL adalah soal kecepatan. Ketika yang lain terkena macet berjam-jam di jalan raya, para roker (rombongan kereta) melaju kencang. Kalo naik KRL, saya cuma butuh waktu sekitar 30 menit dari rumah ke kantor, sementara kalo naik mobil bisa sampe 2,5 jam sodara-sodaraaa…

Bayangkan betapa “saktinya” para roker yang menembus kemacetan Ibukota itu. Tanpa harus memakai kancut merah di luar seperti Superman. Eh, tapi, harus diimbuhi syarat dan ketentuan berlaku. Kondisi tersebut tidak berlaku jika kereta error, entah karena peralatan sinyal kesamber petir, wessel bermasalah, gardu listrik mleduk, ada antrean kereta Jawa, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Banyak PR yang harus diperbaiki PT KAI dan KRL Jabodetabek.

kursi prioritasBaiklah, kembali ke topik, sekarang kita bicara soal Kursi Prioritas. Dalam rangkaian perjalanan KRL Jabodetabek, Kursi Prioritas terletak di dekat sambungan gerbong (bordes). Deretan kursi itu bisa memuat sekitar enam sampai delapan orang (berhadapan), tergantung jenis kereta. Bila dilihat dari namanya, Kursi Prioritas, berarti peruntukannya hanya untuk mereka yang membutuhkan prioritas, seperti senior citizen (manula), kaum difabel, ibu dengan membawa balita, dan ibu hamil.

Deretan kursi ini memang tidak dikosongkan sejak pemberangkatan pertama. Siapa aja boleh duduk di situ. Mbak dan mas yang masih seger buger boleh kok duduk di situ. Hanya saja, Kursi Prioritas adalah “kursi panas”. Jadi bila di tengah perjalanan ada eyang yang sampun sepuh naik kereta, dan deretan kursi yang lain sudah penuh, maka mereka yang duduk di “kursi panas” itu yang bakal “diprioritaskan” untuk digusur duluan.

Namun, jika di deretan Kursi Prioritas itu sudah penuh (oleh mereka yang memang harus diprioritaskan), ya berarti penumpang yang duduk di kursi reguler harus rela untuk gantian berdiri. Soal gantian duduk (atau gantian berdiri) sebenernya adalah pelajaran mendasar di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dulu. Soal sopan santun dan budi pekerti.

Saya masih inget bu guru yang selalu mengulang-ulang kalimat bahwa kita harus memberi tempat duduk buat orang tua dan ibu hamil. Tapi, entah kenapa sekarang jadi satu hal yang mengkhawatirkan. Seolah-olah udah langka banget mbak atau mas yang rela berdiri untuk ngasih kursinya ke mereka yang lebih membutuhkan.

kursi prioritas - difabelNggak cuma Dinda yang bete dengan bumil yang ujug-ujug minta duduk. Kapan hari sempat beredar foto mas-mas difabel justru duduk di lantai, tepat di depan Kursi Prioritas. Sementara, yang duduk di kursi panas itu adalah mas-mas ganteng yang masih seger buger. Dan, yang barusan tersebar adalah mas-mas yang tidur pulas, sementara di depannya ada ibu-ibu yang berdiri. Masih di deretan Kursi Prioritas juga.

Kalau dibilang lelah, semua pasti lelah. Nggak ada penumpang kereta (apalagi pas jam pulang kantor) yang gak lelah. Apalagi kalo ketambahkan “jackpot” kereta error. Tapi, kesadaran untuk memberikan prioritas bagi mereka yang istimewa kayaknya tetap harus deh. (Mau nambahin kalimat, “Kita kan bangsa berbudaya,” kok rasanya aneh banget ya? Berasa kita udah berubah jadi bangsa barbar yang gak berbudaya). Tak ada salahnya berbuat baik, toh nanti juga kebaikan bakal kembali ke kita. I believe in Karma.

Jujur, kadang kasian aja sama mas-mas di gerbong campur. Mereka sampe harus nyumpel kuping pake earphone dan pura-pura tidur pules dulu biar nggak perlu ngasih duduk ke penumpang perempuan yang berdiri di depannya. Tenang, mas, saya masih kuat berdiri kok hehehehe…

 

“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
(Leo Tolstoy)

 

 
1 Comment

Posted by on April 19, 2014 in Who's The Boss?

 

Tags: , , ,

Pak Bos yang Berwibawa

ImageSuatu hari, seorang pimpinan tertinggi sebuah perusahaan tiba-tiba melakukan sidak ke pabrik untuk melihat kinerja para pegawai. Di pabrik, ia menemukan seorang pria muda yang sehat dan bugar tengah duduk santai di lantai, dengan punggung bersandar ke dinding. Sementara di ruangan itu semua pegawai sedang sibuk bekerja.

Si bos segera menghampiri pria muda yang sedang bersantai itu. Si pemuda segera berdiri. Ia gugup melihat para petinggi perusahaan menuju ke arahnya.

“Berapa kau dapat penghasilan sebulan?” tanya pak bos dengan nada suara berat, menahan amarah.

“Du.. du.. dua juta per bulan, pak. Maaf, ada apa ya pak?” tanya si pemuda, kebingungan.

Tanpa banyak bicara, si bos segera mengeluarkan dompet dan mengambil pecahan Rp100.000-an. Ia lalu mengulurkan beberapa lembar kepada si pemuda. “Ini gajimu tiga bulan ke depan, Rp6 juta. Pesangonmu. Cepat keluar. Pergi dari sini. Awas, jangan kembali lagi!” kata si bos, bersungut-sungut.

Dengan gugup dan setengah takut, si pemuda itu segera meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak bicara dan tanpa menoleh ke belakang.

Lalu, dengan gesture dan wajah berwibawa, si bos mendekati pegawai lain yang menyaksikan adegan tersebut. Si bos berkata, “Itulah nasib karyawan yang bersantai di pabrik ini. Saya akan berhentikan saat ini juga. Tidak ada tawar menawar. Tidak ada ampun. Kalian semua mengerti?”

“Mengerti, pak” sahut para pegawai pabrik itu.

Kemudian si bos melanjutkan sidak. Ia kemudian bertanya kepada manajer pabrik yang sedari tadi berdiri mematung di sampingnya. “Anda tahu, dari divisi mana pemuda tadi?”

Semua hening. Dengan ragu-ragu, manajer itu berkata, “Dia tidak bekerja di sini, pak. Dia penjual es cendol keliling yang sedang menunggu gelasnya….”

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2013 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Sayang Masih So Young

yang mudaSaya ingat persis ketika masuk SD usia saya baru menginjak enam tahun. Waktu itu, haram hukumnya bagi anak yang belum berusia tujuh tahun untuk bisa duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak patah arang, ayah saya melakukan satu hal yang menurut saya WOW banget.. Beliau membuatkan akta kelahiran “aspal”! Yup, usia saya dituakan satu tahun agar saya bisa masuk SD.

Singkat cerita, saya bisa masuk SD favorit. Bisa mengikuti pelajaran. Bisa jadi ketua kelas. Bisa jadi juara kelas. Tak ada yang mempermasalahkan tahun lahir di rapor hingga suatu ketika eyang saya mencak-mencak. Mungkin kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kekinian bunyinya bakal begini, “Gimana ceritanya kamu lahir Agustus 1979? Orang tua kamu aja baru married November 1979. Memang kamu lahir sebelum ortu kamu nikah?” Ups, dianggep anak di luar nikah nih saya.

Akhirnya, tahun kelahiran di rapor saya pun dikoreksi.  Manajemen sekolah yang tadinya bersikukuh siswa yang masuk harus berusia tujuh tahun atau lebih menjadi luluh dan memberi kelonggaran. Toh saya bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan selalu mencapai angka jauh di atas rata-rata kelas. Secara resmi, jadilah saya Siswa Termuda.

Sejarah menjadi yang termuda tak berakhir di situ. Ketika kuliah, saya mengulangi prestasi serupa. Saya hanya butuh 3,5 tahun untuk meraih gelar kesarjanaan dengan nilai di atas rata-rata. Jadilah saya menjadi salah satu Wisudawan Termuda.

Begitu juga ketika bekerja. Suatu ketika, manajemen kantor sedang kesambit malaikat. Sekali dalam sejarah (lebay, tak perlu dikonfirmasi), mereka mengadakan sebuah acara yang isinya bagi-bagi hadiah untuk karyawan. Mulai dari karyawan dengan masa kerja terpanjang, paling setia berada di satu divisi, paling tua, paling muda, hingga karyawan dengan minus kaca mata paling tinggi. Waktu itu saya ikutan naik ke atas panggung untuk mendapatkan kado untuk gelar Karyawan Termuda.

Lagi-lagi, sejarah menjadi yang termuda berulang kembali. Pakbos mempercayai saya untuk memimpin sebuah penerbitan pers. Jadilah saya Pemred Termuda. Usia belum genap 30 tahun, tapi sudah membawahi staf yang usianya ada yang dua kali lipat usia saya. Di masa awal kepemimpinan, tak ada masalah berarti. Everything is under control. Seiring berjalannya waktu, masalah mulai muncul. Ah, masalah selalu ada di tiap pekerjaan (mengutip tukang cuci yang berhasil menerangkan teori “The Invisible Hand” di Stasiun Kota).

Namun, pada suatu ketika gelar Termuda benar-benar menyulitkan saya. Ada yang tak suka gaya kepemimpinan saya. Entah benar-benar tak suka gaya kepemimpinan atau tak suka dipimpin orang yang lebih muda, saya tak tahu. Ada yang meremehkan strategi yang saya susun, kebijakan yang saya ambil, you name it.

Ketika keputusan yang saya ambil memberikan dampak positif, dianggap berkah. Alhamdulillah ya sesuatu. Tapi, begitu keputusan yang saya ambil memberikan dampak negatif, jedaarrr… Tudingan mengenai umur, ketidakbecusan, ketidakbijaksanaan, kekurangpengalaman menjadi jampi-jampi untuk memojokkan diri saya, persis seperti tikus di pojokan tembok yang ditodong bazooka.  Tembakkan bazooka sekali maka yang luluh lantak tak hanya si tikus, tapi juga tembok dibelakangnya. Udah mati gosong, kerubuhan tembok pula. Apes.

Tapi, apakah salah menjadi anak muda? Apakah salah menjadi yang termuda? Apakah salah menjadi pemimpin di usia muda? Apakah salah ketika yang muda harus memimpin mereka yang usianya lebih tua? Apakah si pemimpin muda ini harus terus-terusan berhasil agar kepemimpinannya diakui? Apakah anak muda tak boleh salah? Apakah anak muda tak boleh gagal?

Memang, saya mengakui saya memiliki banyak kekurangan. Saya baru sanggup mengelola emosi setahun terakhir. Saya masih suka jiper ketika harus bertemu orang banyak, karena sebetulnya saya ini pemalu bin introvert  (haqqul yaqqin banyak yang protes hehehe..). Saya belum banyak makan asam garam di dunia bisnis. Saya masih harus banyak meng-upgrade pengetahuan dan pengalaman. Saya masih harus banyak belajar. Saya mengaku belum mencapai tingkat kebijaksanaan setara dewa-dewa di langit.

Pengalaman saya, ketika menjadi yang termuda kita harus bekerja dua kali lebih keras. Ini bukan soal intelegensia, tapi lebih kepada pembuktian: ini bukan soal umur, cyn. Meyakinkan yang saya raih ini bukan soal nasib baik a.k.a keberuntungan saja, ada kerja keras di belakangnya. Menurut pengalaman saya yang masih muda belia ini, dalam kepemimpinan selalu ada problematikanya. Gak mudah bagi seorang pimpinan untuk menyikapi segala sesuatu yang terjadi di institusi yang dipimpinnya. Apalagi saat menghadapi realitas yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ujian maha pelik bagi seorang pemimpin, apalagi buat pemimpin yang masih bau kencur dan yang dipimpin usianya berlipat-lipat, adalah ketika kita menghadapi situasi yang tidak nyaman, baik itu konflik dengan diri sendiri maupun konflik yang terjadi dalam institusi yang dipimpinnya.

Menurut profesor Robert J. Sternberg, istilah bijak atau wisdom diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan kecerdasan dan pengalamannya untuk mencapai kebaikan dan keseimbangan antara intrapersonal, kepentingan pribadi, dan ekstrapersonal. Kemampuan-kemampuan tadi wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Sternberg tidak pernah mengklaim wisdom melulu berkaitan dengan age.

Oleh karena ini bukan blog ajang bela diri, saya mengaku disamping pernah mencapai segala keberhasilan, saya juga pernah mengalami kegagalan. Saya cuma manusia biasa. Bukan dewa. Akan tetapi, yang pasti, segala kegagalan (dan begitu juga keberhasilan) yang saya alami itu adalah serangkaian pembelajaran agar saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi di masa depan — catat: manusia ya, bukan dewa! Proses never ending learning inilah yang akan menjadikan saya lebih objektif ketika menghadapi segala masalah (yang kadang bikin miris dan hati teriris-iris).

“Wisdom doesn’t automatically come with old age. Nothing does – except wrinkles. It’s true, some wines improve with age. But only if the grapes were good in the first place.” (Anonymous)

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: , , ,

Dan Newsweek pun Mengakhiri Era Media Cetak

Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya begitu terpukau pada komik Pak Janggut yang menjadi sisipan majalah Bobo. Di komik itu, pak Janggut memiliki cermin yang bisa melihat masa depan. Ada lukisan yang gambarnya bisa bergerak – yang 25 tahun kemudian “lukisan” itu baru saya sadari sebagai televisi layar plasma yang bisa digantung dengan anggun di dinding ruangan. Ada pula gambar orang yang membaca majalah dari sebuah papan, yang kini saya sadari ia tengah membaca digital magazine. Pak Janggut mengatakan majalah dan koran yang berbasis kertas sudah lama punah.

Rasanya, tak perlu menunggu sampai satu abad untuk membuktikan kata-kata tokoh kartun itu. Bisnis media cetak berbasis kertas lambat laun mulai punah. Dan, sebagai penanda adalah ketika majalah terkemuka di Amerika Serikat, Newsweek memutuskan menghentikan edisi cetaknya, akhir tahun ini. Dan, kata-kata Tina Brown, editor Newsweek makin mengukuhkan “kebenaran” cerita Pak Janggut itu. “Era cetak majalah dengan tinta akan berakhir di Newsweek pada 31 Desember 2012,” kata Tina, seperti dikutip Huffington Post, Kamis (18/10).

Newsweek bukan majalah kemarin sore. Mereka telah menemani pembaca selama 80 tahun. Newsweek juga bukan majalah sembarangan. Mereka memiliki empat edisi Bahasa Inggris dan 12 edisi global dengan bahasa yang disesuaikan dengan area sirkulasi, seperti Bahasa Jepang, Korea, Polandia, Rusia Spanyol, Arab, dan Turki.

Masih menurut mbak Tina, pembaca setia Newsweek masih tetap membaca dan berlangganan majalah tersebut. Namun, pembaca tak bisa lagi merasakan sensasi wangi kertas atau melipat halaman untuk menandai hal penting. Sebab, majalah akan berformat digital dan hanya bisa diakses melalui smartphone, tablet, laptop, maupun PC. Newsweek pun akan berubah nama menjadi Newsweek Global, karena bisa diakses secara global melalui jaringan internet.

Dalam catatan resminya, Tina menyatakan dengan format digital, Newsweek akan dapat merengkuh lebih banyak pembaca dari seluruh dunia. Apalagi sudah banyak yang melek teknologi dan menggunakan gadget teknologi. Tapi, tentu saja, penghentian edisi cetak akan mau tak mau akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan. Paling mudah saja, publisher tak lagi butuh orang-orang yang bekerja di percetakan – yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, bila mereka melayani cetak majalah dalam jumlah besar. Ingat, dalam hal ini oplah Newsweek sempat menyentuh 4 juta eksemplar sekali terbit.

Mengapa Newsweek berhenti mencetak? Alasannya, kemerosotan oplah. Berdasarkan perhitungan Biro Audit Sirkulasi, media bermarkas di New York ini terus merugi. Menurut catatan Biro Audit Sirkulasi seperti yang dikutip ABC News, pada tahun 2000, oplah Newsweek mencapai 3.134.046 eksemplar. Tujuh tahun kemudian, oplahnya masih stabil di angka 3.128.391 eksemplar. Dan, pada semester I/2012, oplah merosot hingga separuhnya, hanya 1.527.157 eksemplar!

Prestasi pada semester I/2012 benar-benar memukul Newsweek. Sebab, sebagai posisi runner up majalah dengan sirkulasi terbesar di AS, capaian Newsweek hanya separo oplah Time, sang jawara, yang oplahnya masih mencapai 3.276.822 eksemplar. Padahal, tim redaksi sudah melakukan segala daya upaya untuk menyelamatkan kapal, mulai dari melakukan redesain tampilan dan konten. Sebagai pemimpin redaksi, Tina sudah menegaskan bahwa majalahnya akan melakukan reportase in-depth dan analisa, tak hanya sebatas pada rubrik politik dan hubungan internasional, tapi juga untuk pop culture dan fashion. Ternyata, itu tak banyak menyelamatkan penjualan.

Kerugian yang diderita tiap edisi Newsweek terus meningkat. Bahkan, setelah majalah diambil alih oleh Sidney Harman, seorang tokoh audio berusia 92 tahun, pada 2010 tak terlihat perubahan berarti. Harman akhirnya ikut bergabung dengan Tina Brown dan mendirikan The Daily Beast, sebuah situs Web yang dimiliki oleh IAC/Inter ActiveCorp.

Masa suram Newsweek makin terlihat ketika Harman meninggal pada musim semi 2011. Saat itu, ahli warisnya mengatakan akan terus mendukung Newsweek meski terseok-seok. Tapi, pada musim panas lalu, keluarga mengumumkan tidak akan berinvestasi lagi pada Newsweek. Kabarnya, Newsweek memiliki kerugian hingga US$40 juta per tahun. Sialnya, Barry Diller, pemimpin IAC serta pemilik The Daily Beast dan Newsweek, mengatakan, tidak akan menanggung terus kerugian tersebut.

Tina dengan pengalaman yang seabrek, ia pernah menjadi editor di majalah Vanity Fair, The New Yorker, dan Talk, ternyata harus angkat tangan. Ia mengatakan bahwa dia tak memiliki kontrol atas apa yang terjadi pada industri majalah yang lebih luas. “Anda tidak bisa langsung mengubah era informasi yang begitu cepat. Tidak ada satu pun orang yang mampu menyanggah dengan tren digital,” katanya.

Menurut Richard Stengel, managing editor Time, majalah cetak merupakan benda yang sangat mahal. Untuk membuat satu majalah diperlukan proses pembabatan pohon, penuangan tinta di atas kertas, penyusunan dalam kontainer, dan barulah sampai ke tangan pembaca. Ya, saya setuju dengan pendapat Richard. Ongkos cetak yang makin melambung membuat tiap bulan saya harus sakit perut melihat tagihan dari percetakan. Kini, pilihannya hanya ada dua: berubah atau mati. Itu saja.

“The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.”
(Albert Einstein)

Baca juga:  Digital Magazine: Riding the Wave!

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: , , , , ,

Memimpin dengan Hati

“Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.” (Widjajono Partowidagdo)

Itu status yang saya unggah di akun jejaring sosial, Senin (23/4) pagi. Baru sekian detik mengunggah, sudah ada beberapa orang yang memberikan jempol tanda suka. Ada beberapa alasan mengapa terjadi serangan jempol bertubi-tubi pada status itu. Pertama, karena status itu dikutip dari seorang Widjajono Partowidagdo, mantan wakil menteri ESDM baru saja meninggal dunia saat melakukan pendakian Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (21/4). Jadi orang masih dalam masa bela sungkawa. Kedua, karena masyarakat merindukan pemimpin yang menyayangi orang-orang yang dipimpinnya. Ketiga, karena kata-katanya makjleb banget. Boleh jadi, ketiga alasan di atas benar.

Belakangan, negeri ini kehilangan sosok pemimpin (bangsa) yang bisa dicintai sekaligus mencintai rakyatnya. Dulu, kita sempat punya presiden Soekarno. Dari kisah yang saya dengar, karena saya belum lahir, bagaimana orang Indonesia mendengarkan pidato pak Karno dengan saksama, setia menunggu beliau lewat, dan seterusnya. Sekarang? Boro-boro. Kalau ada pejabat ngomong kepanjangan di televisi, tangan rasanya gatal ingin memindah channel. Pencitraan! Begitu pula saat ada iring-iringan pejabat lewat, tak ada lagi antusiasme menanti di pinggir jalan sambil mengibarkan bendera-bendera kecil. Pengennya sih si pejabat segera lewat biar jalanan bisa kembali dilewati khalayak ramai.

Saya melihat ada pintalan rasa di sini. Ketika masyarakat mendapatkan cinta dan kasih sayang pemimpin, maka ia akan mencintai dan menyayangi pemimpinnya. Vice versa. Sebenarnya ini pengetahuan dasar banget. Dalam ilmu agama, dijelaskan. Di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (kemudian berubah menjadi PPKn – yang aku terlalu malas untuk mengingat kepanjangannya), juga dijelaskan. Sayangnya, kini banyak oknum pemimpin yang tak lagi memiliki hati untuk mencintai orang-orang yang dipimpinnya. Entah itu pemimpin di ranah pemerintahan, perusahaan, hingga urusan ‘akamsi’ (baca: anak kampung sini).

Hingga kemudian, pak Widjan memberikan warisan kalimat di milis Ikatan Alumni ITB. Sebelum ke Tambora, pak Widjan sempat mengirimkan e-mail, yang diduga merupakan tulisan terakhir beliau. Saya copas saja yaa..

Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.

Saya biasa tidur jam 20.00 WIB dan bangun jam 02.00 WIB pagi lalu salat malam dan meditasi serta ceragem sekitar 30 menit, lalu buka komputer buat tulisan atau nulis email. Dalam meditasi biasa menyebutkan: “Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, aku sayang kepadaMu dan sayangilah aku… Tuhan Engkau Maha Pencipta, segala kehendak-Mu terjadi…” Lalu saya memohon apa yang saya mau… (dan diakhiri dgn mengucap) “Terima kasih Tuhan atas karuniaMu.”

Subuh saya salat di masjid sebelah rumah lalu jalan kaki dari Ciragil ke Taman Jenggala (PP sekitar 4 kilometer). Saya menyapa satpam, pembantu dan orang Jualan yang saya temui di jalan dan akibatnya saya juga disapa oleh yang punya rumah (banyak pejabat, pengusaha dan diplomat), sehingga saya memulai setiap hari dengan kedamaian dan optimisme karena saya percaya bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi dan saya selain sudah memohon dan bersyukur juga menyayangi ciptaan-Nya dan berusaha membuat keadaan lebih baik. Oh ya, Tuhan tidak pernah kehabisan akal, jadi kita tidak perlu kuatir. Percayalah…

Ternyata, rambut awut-awutan pak Widjan tak seawut-awutan hatinya. Koleganya, Jero Wacik, sang Menteri ESDM yang murah senyum itu mengatakan bahwa Widjajono memulai kedamaian dengan cara sederhana. Ia menyapa orang-orang yang ditemuinya, baik itu satpam, tukang sapu, atau yang lain. Sungguh berbeda dengan sejumlah pemimpin yang saya kenal secara personal. Beberapa enggan lagi menyapa orang-orang yang ‘tak sekasta’ dengannya.

Ah, dari pada saling tunjuk hidung, mending kita memulai dari diri sendiri saja. Jika kita sudah jadi pemimpin yang punya hati, alhamdulillah. Mari kita lanjutkan. Tapi kalau belum, tak ada salahnya untuk memulai kebaikan dari sekarang. Detik ini. Sekarang juga. Sapa dan senyum ke orang-orang yang kita pimpin. As simple as that. Kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkan dan menggantungkan nasib pada mereka.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,

Birokrasi Kompleks

Menjadi “anak pub” (baca: anak pab-rik) sudah cukup ribet, tapi masih ada musuh yang lebih ribet dari segala keribetan, yakni birokrasi! Saya masih ingat iklan sebuah produk rokok yang menggambarkan birokrasi kompleks, tinggal nyetempel doang kok pake lama.. Berkembangnya birokrasi superkompleks di organisasi profit dan non profit (termasuk instansi pemerintahan) merupakan rintangan besar untuk produktivitas.

Birokrasi memaksa perawat jaman sekarang menghabiskan separuh waktu mereka untuk mengisi formulir, dan bukannya merawat pasien yang butuh pertolongan segera. Birokrasi mengharuskan para guru menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis laporan dan mengikuti konferensi, bukannya menyiapkan pelajaran, menilai tugas, dan mendampingi siswa. Dan, ini poin yang saya suka, birokrasi mencegah eksekutif muda menjadi pemimpin – dengan mengubah mereka menjadi pemroses kertas kerja, bukannya menjadi pengembang manusia.

Mari sejenak merenung. Apakah dalam satu dasawarsa terakhir volume laporan dan pekerjaan tulis menulis semakin meningkat? Apakah jumlah sekretaris, asisten administrasi, dan permintaan kertas HVS makin banyak? Apakah kita semakin banyak menghabiskan waktu untuk meeting dan pekerjaan tulis menulis?

Kalau banyak jawaban “Ya” berarti kita tengah berevolusi menjadi warga negara yang menghabiskan begitu banyak tenaga dan waktu untuk menciptakan keruwetan birokrasi, bukannya melakukan pekerjaan produktif. Kita (tak terkecuali negeri ini, perusahaan ini, atau lingkungan RT ini – you name it lah), memiliki banyak sekali birokrasi yang tak perlu. Karena, pada dasarnya, manusia menyukai dan menghargai orang-orang yang dapat menciptakan birokrasi itu.

Jujur saja, kalau melihat kantor kecamatan dengan banyak orang menunggu di depan pintu – untuk sekadar meminta tanda tangan pak camat plus stempel berwarna ungu yang basah atau bikin e-KTP, dalam hati kita akan berkata, “Wah, kantor ini ada kehidupan.” Berbeda bila kita melihat kantor kecamatan yang kosong melompong karena semua sudah menggunakan sistem komputerisasi real time online, yang memungkinkan warga bisa mengakses atau memverifikasi data kependudukan dari rumah masing-masing. Kita akan merasa, “Ini kantor kecamatan apa kuburan ya? Nggak ada kesibukan sama sekali.” Terkesan lebay, tapi ilustrasi semacam ini bisa diterapkan untuk segala jenis kantor.

Di sebuah perusahaan, mudah sekali kita mengukur produktivitas dan mendeteksi pemborosan usaha yang sia-sia. Namun, sayangnya, hasil deteksi itu hanya sekadar menjadi angka-angka dalam lembar laporan. Alhasil besar sekali godaan untuk mencampuradukkan antara aktivitas dan produktivitas. Perusahaan akan tergoda untuk memberi penghargaan terhadap aktivitas – tak peduli value yang terkandung di dalamnya.

Mereka yang bekerja paling lama, menulis laporan paling panjang, paling sering mengeluarkan pendapat saat meeting tapi tanpa substansi, justru cenderung lebih dihargai ketimbang mereka yang bertanya, “Mengapa harus begitu jika sebenarnya tidak perlu?” Manajer yang menghamburkan anggaran, mengikuti banyak meeting dengan klien tapi minim hasil (pokoknya kelihatan sibuk, jarang ada di ruangan), dan menciptakan begitu banyak laporan tertulis, justru mendapatkan promosi, kenaikan anggaran, dan bahkan asisten baru untuk membantunya menangani beban kerja yang begitu melimpah ini. Sementara itu, manajer yang tanpa banyak bicara mampu melakuan penghematan biaya, menuntaskan pekerjaannya, dan menekan seminimal mungkin terjadinya hal-hal sepele, justru dianggap kurang dinamis dan kurang memiliki komitmen.

Jika sebuah organisasi sudah mulai memberikan penghargaan kepada perilaku-perilaku sok sibuk, maka akan semakin merebaklah perilaku semacam itu. Birokrasi yang semakin ribet akan terakumulasi menjadi bola salju raksasa berwujud aktivitas-aktivitas yang menjadi akhir dengan sendirinya. Kegiatan meeting akan diadakan setiap minggu, laporan tertulis disampaikan setiap bulan, aktivitas cetak mencetak akan dilakukan setiap hari. Waktu dan tenaga berharga yang sebenarnya dapat digunakan untuk mencapai hasil positif justru dihabiskan untuk aktivitas tak perlu. Setiap orang mengeluhkan birokrasi dan terlampau banyaknya mereka bekerja, tapi birokrasi akan tetap ada dan terus tumbuh sepanjang ada penghargaan terhadapnya.

 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2012 in Who's The Boss?

 

Tags: ,