RSS

Halo, Pak Hansip!

21 Sep

hansip

Kalau ngaku sebagai Warga Negara Indonesia tulen, apalagi yang “keluaran lama” alias udah hidup sejak era Orde Baru, pasti udah kenal banget sama yang namanya Hansip. Baju seragamnya ijo, pake topi pet, sepatu booth warna item, dan sabuk item dengan mata sabuk warna gold. Keren dah pokoknya. Mereka selalu ada di tiap kegiatan kampung, terutama untuk urusan menjaga keamanan warga. “Markas”-nya adalah gardu Siskamling.

Sayangnya, sebentar lagi kita gak bakal bisa ketemu lagi ama Pak Hansip. Sebab, per 1 September 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membubarkan Hansip melalui Perpres No. 88 tahun 2014. Sebagai gantinya, nanti Satpol PP bakal menggantikan peran Hansip dan turun sampai level kelurahan.

Pertanyaan ‘iseng’ saya adalah, apakah Pak Satpol PP nanti bakal seramah Pak Hansip?

Dalam memori saya, Pak Hansip adalah sosok yang helpful. Mau bantuin motong dahan dan ranting pohon (gak cuma pas kerja bakti), selalu mukul kentongan atau tiang listrik pas ronda malam, sampai njagain kalo ada hajatan warga, mulai kawinan sampai urusan Pilkada dan Pemilu (ngangkutin kotak suara, masang tenda dan kursi, dll dll dll).

Sementara itu, dalam benak saya, Satpol PP adalah sosok garang yang gemar melakukan razia PKL. Sebab, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Satpol PP menghancurkan lapak tukang nasi uduk dan menggulingkan gerobak tukang soto langganan saya. Dan, jadilah pagi itu kita kebingungan nyari sarapan. Tujuannya sih baik, untuk penertiban PKL. Tapi, ah sudahlah…

Anyway, saya ingin sharing mengenai latar belakang pembentukan Organisasi Pertahanan Sipil (Hansip) ini. Presiden Soeharto membentuk Hansip melalui Kepres No. 55 tahun 1972. Waktu itu, Hansip merupakan komponen Hankam (Pertahanan Keamanan) dan komplemen ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sekarang disebut TNI).

Syahdan, — benernya sih menurut si Rudi Valinka, pemilik akun @Kurawa — selain untuk urusan pertahanan keamanan lingkungan, bapak Presiden Soeharto membentuk Hansip sebagai langkah kamuflase atas tingginya angka pengangguran di Indonesia. Waktu itu, pak Harto, setelah mendapatkan masukan dari para begawan ekonominya, mengambil langkah strategis nan bijak: Pemerintah harus membuat proyek padat karya rutin setiap tahun bagi yang muda dan kuat, serta membentuk pekerjaan informal bagi yang tak lagi muda.

Sebenernya, hampir semua negara kesulitan menampung rakyatnya yang jobless, memiliki latar belakang pendidikan rendah, dan usia tak lagi muda (yang otomatis jauh dari kriteria badan tegap dan kekar). Dengan bijaksana, pak Harto menampung kelompok ini dalam posisi “terhormat” tapi negara tak perlu terbebani soal penggajian. Apalagi, di zaman itu, sudah diterapkan Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Alhasil, keberadaan Hansip dibutuhkan kedua belah pihak, yakni Pemerintah dan Warga.

Insentif yang didapat para Hansip ini hanya Rp150.000 per bulan (tapi sering dapat bayaran dari warga yang menggunakan jasanya, misalnya saat hajatan atau tebang pohon tadi). Bandingkan dengan Pemerintah Singapura memberikan gaji UMR untuk para senior citizen (yang mirip dengan kelompok Hansip ini), yang bertugas mengatur antrean taksi, membantu penyeberang jalan, atau menjadi pembersih meja makan di sejumlah food court. Jadi kalo Hansip dianggep membebani APBN jelas gak mungkin. Tapi, mungkin saja keberadaannya dianggep sebagai bayang-bayang Orde Baru (wah, langsung kebayang senyum pak Harto).

Memang, peran Hansip tak begitu kentara di wilayah perkotaan, terutama di perumahan kelas menengah atas. Tugasnya udah di-cover pak Satpam (yang sapaan kerennya adalah “Security”). Tapi, di wilayah pinggiran dan kelas menengah bawah, keberadaan Hansip masih dibutuhkan. Sebab, tak semua kampung punya kas yang cukup untuk menggaji Satpam. Oya, bedakan antara keduanya, Hansip bersifat voluntary, sedangkan Satpam (dan Satpol PP) sifatnya employee.

Semoga Pemerintah Jokowi memiliki strategi tak kalah bijak dengan pak Harto untuk menampung kelompok masyarakat yang semula disalurkan menjadi Hansip ini. Sampai jumpa lagi, pak Hansip! Terima kasih untuk peranmu selama ini.

“He who is of calm and happy nature will hardly feel the pressure of age. But, to him who is of an opposite disposition youth and age are equally burden” (Plato)

 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2014 in Random Thought

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: