RSS

Monthly Archives: July 2010

Metromini: Sport Jantung Sebenar-benarnya

Sejatinya, Metromini adalah nama perusahaan penyedia jasa angkutan umum di Jakarta. Bentuknya bus mini (mikrobus).

Warnanya yang mencolok, atas oranye, bawah biru, dengan setrip putih, membuat Metromini mudah dikenali. Apalagi dengan stigma pengemudi yang gak tau tatakrama itu (pada punya SIM gak sih?), membuat brand Metromini lebih moncer bila dibanding brand angkutan sejenis, seperti Kopaja, Miniarta, atau Deborah.

Pada dasarnya, bus-bus mini itu memiliki kapasitas penumpang hanya 25 orang.

Begini perhitungannya: di samping sopir, ada dua lajur tempat duduk. Di belakang sopir (sisi kanan) ada lima lajur. Sisi kiri (di antara dua pintu yang tak pernah tertutup) ada tiga lajur. Masing-masing lajur tadi berisi dua kursi, kecuali deretan belakang yang bisa ditempati oleh 5-6 orang. Jadi, kalo dalam kondisi normal (rata kursi, istilah mereka untuk menyatakan seluruh kursi terpenuhi) kapasitas Metromini hanya 25 penumpang.

Meski demikian, seringkali satu Metromini dijejali oleh 50 bahkan 70 orang. Mereka ini rela berdiri, bahkan bergelantungan di pintu. Apalagi kalau lagi zaman demo atau musim pertandingan bola di Senayan atau Lebak Bulus, para penumpang rela duduk di atas atap. *Boys and girls, please don’t try it at home.. It’s verrry verry dangerrrousss..*

Kalau dibandingkan dengan brand lainnya, Metromini memang jawaranya. Menyitir istilah ekonomi, Metromini itu Top of Mind bagi angkutan umum. Satu hal yang pasti, Metromini dikenal dengan stigma super duper ngawur. Gimana nggak ngawur, si sopir nyetir itu mobil kayak di jalan milik nenek moyangnya. Malang-megung ra jelas. Bodi belakang di mana, bodi di depan di mana. Udah gitu berhentinya gak pake kira-kira. Dan, yang pasti.. asap knalpotnya hitam pekat!! Bikin pengendara kendaraan yang di belakangnya hanya pasrah terima nasib.

Para sopir Metromini biasanya berasal dari daerah tertentu di Indonesia. Jadi nggak usah heran kalau mereka berkomunikasi dengan sopir lain dengan dialek yang sedikit membentak-bentak dan ada sering diakhiri dengan kata-kata “Lay..“.

Hal yang menonjol, para sopir ini demen banget mengalungkan handuk di leher dan duduk miring (tidak menghadap lurus ke depan), melainkan sedikit condong ke kiri. Sebab, badan menyandar ke jendela kanan. Pokoknya, gayanya super keren deehh.. Berasa paling top markotop.

Dari sisi armada, Metromini juga ajaib. Ini dibuktikan dengan tidak berfungsinya sejumlah instrumen kendaraan. Contoh paling kongkret adalah tidak adanya speedometer. Hal ini jelas menguntungkan pak sopir, sebab dia bisa mempraktekkan ilmu kiralogi berkendara hehehehe..

Pernah suatu ketika, mesin Metromini yang kutumpangi tiba-tiba meleduk. Pipa saluran pembuangan asap, yang tololnya, saat itu ditaruh di belakang pak sopir (yang sialnya tepat di depan tempat dudukku) tiba-tiba mengeluarkan asap tebal. Kontan, puluhan penumpang semburat ke luar. *Woi.. siapa yang gak takut itu Metromini meleduk? Kompor elpiji aja makin sering meleduk*

Soal jendela yang bolong, atap yang bocor, kursi yang “bentet” (pecah) yang membuat pantat kadang kejepit kursi plastik sialan itu, sampai bagian bawah bus yang keropos – yang membuat penumpang bisa ngintip aspal jalanan, adalah fasilitas tambahan dari Metromini.

Ya, gimana Metromini mau sempurna? Wong tarifnya cuma Rp2.000 (pelajar dan penumpang jarak dekat cuma Rp1.000). Tanpa subsidi pemerintah pula.

So, if you want to try something challenging, just try Metromini. Anda pasti akan merasakan Sport Jantung sebenar-benarnya. Gak perlu keluar uang ratusan ribu buat nyoba wahana di Dunia Fantasi deh hahahha..

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on July 24, 2010 in Wheels on the Road

 

Tags: , , ,

Cara Turun dari Metromini yang Masih Berjalan

Baiklah, saat ini kita mulai belajar “survive” dari kejamnya ibukota, terutama dari ulah sopir Metromini yang terkutuk hehehehe… *Peace, bang!*

Bagi warga Jakarta, udah mahfum banget kalo jarang ada sopir Metromini yang berbudi luhur. Bersedia menyetir dengan penuh tata krama, termasuk menurunkan penumpang di halte dengan penuh hati-hati. One in a million deh.

Adalah hal yang biasa bagi warga ibukota (kaum marjinal, tentu saja. Kalo kaum borjuis mah “gak lepel” naek angkot) untuk naik-turun Metromini dalam hitungan sepersekian detik. Harus berkejaran dengan waktu. Sebab, pak sopir juga kejar setoran.

Agar selamat turun dari Metromini yang sedang berjalan (kondisi langsam), ada hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Siapkan mental baja. Berdirilah dekat pintu keluar. Bila tujuan sudah dekat, ketuklah atap atau ketok-ketok kaca/tiang besi atau bisa juga pamerkan suara indah Anda untuk berteriak, “Kiri, Pir!”, “Kiri, Bang!” atau “Kiri, ya..”
  2. Bila Metromini tak berhenti sempurna, jangan takut, karena memang begitu kebiasaan mereka.
  3. Kalau sudah begini, pastikan kaki KIRI Anda terjulur ke luar pintu terlebih dahulu.
  4. Buatlah sudut 30 derajat antara kaki kiri dan aspal.
  5. Pastikan tumpuan berat tubuh berada di kaki kiri.
  6. Dalam hitungan ketiga (jangan lupa berdoa dan tarik nafas), jejakkan kaki KIRI Anda ke bumi.
  7. Yak! Bila kaki kiri sudah mendarat, dalam hitungan sepersekian detik, kaki kanan ikut menjejak ke bumi. Ingat, pendaratan dua kaki harus kurang dari 1 detik.
  8. Saat mendarat, condongkan badan ke depan (sedikit aja) untuk menyeimbangkan badan. Kalau malu mbungkuk-mbungkuk (berkesan kayak nenek-nenek), gerakkan tangan kanan ke depan badan. Intinya sih sama: keseimbangan badan. Hal ini penting bagi perempuan yang mencangklong tas di salah satu bahu. Kalau bawa tas ransel sih nggak begitu masalah.
  9. Dan, ya.. Anda berhasil turun dari Metromini yang masih berjalan. Hore!!

Bagi Anda yang masih ragu-ragu, silakan mempraktekkan teori di atas. Jangan dihafal, tapi diresapi. Biarkan tubuh Anda bergerak secara refleks.

Untuk para perempuan, tenang… pendaratan dari Metromini yang masih berjalan masih cukup aman untuk Anda yang mengenakan sepatu dengan heel (hak) sampai dengan 5 cm. *Saya sudah mempraktekkannya sendiri kok. So, don’t worry*

JANGAN sekali-kali turun dari angkot dengan kaki KANAN. Anda pasti akan terjungkal dan kaki dijamin bakal keseleo. *Saya juga sudah praktekkan hal ini. So, don’t try it without any expert supervision*

Ingat, kaki kanan hanya untuk naik kendaraan, kaki kiri untuk turun kendaran. Selamat mencoba hehehe… 😉

 
1 Comment

Posted by on July 23, 2010 in How to..

 

Tags:

Belajar dari Bayi

Nobody can go back and start a new beginning. But anyone can start today and make new ending.

(Maria Robinson)

Menjadi lebih tua, kadang belum tentu lebih bijaksana. Lihat diri kita puluhan tahun lalu, kita relatif lebih punya sikap “tidak menyerah”. Saat usia belum genap satu tahun, kita begitu terbiasa dengan lebam dan luka. Meski berkali-kali jatuh, gedebrak-gedebruk, waktu itu kita tetap berusaha berdiri dan melanjutkan berlari. Seolah memiliki paham “jatuh bangun dan luka itu biasa dalam hidup”.

Namun, begitu usia bertambah, di usia yang seharusnya kita menjadi lebih bijaksana, kita yang lebih tua ini justru tidak bijaksana. Kita takut untuk jatuh, takut untuk bangun lagi, takut untuk merasakan sakit. Sebab, kita yang lebih tua ini sudah pernah merasakan nikmatnya keseimbangan, berada di ketinggian, dan hal-hal indah lainnya.

 
Leave a comment

Posted by on July 22, 2010 in Random Thought

 

“Sateeee….”

Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis TV swasta nasional di Gedung Putih, Presiden AS Barack Obama dengan amat fasih menirukan suara teriakan orang jual sate, “Sateee…”

Ya, suara teriakan “Sateee..”, dok-dok tukang nasi goreng, tuk-tuk (atau teng-teng) tukang bakso, krek-krreek tukang patri, nung-nung tukang es lilin, ning-nong-ning-nong (atau neng-neng-neng-neng) perlintasan kereta api, “hu tahuu..” tukang tahu, jingle Susu Nasional, atau jingle Es Krim Walls berhasil menggoda ruang dengarku dan diam-diam menyusup ke lorong memoriku.

Suara-suara itu selalu mengingatkanku akan negeriku Indonesia.

Namun, ada satu suara yang menurutku adalah cerminan jaminan keamanan negeri ini, yakni suara benturan batu ke tiang listrik sebagai penanda jam.

Satu suara benturan “Teng…”, berarti jam 1 malem, “Teng.. teng..” berarti jam 2 malem. Biasanya sih yang iseng mukulin tiang listrik malem-malem itu adalah bapak-bapak yang lagi kena giliran ronda.

Kalo Anda mendengar suara itu, positive thinking aja lah kalo maling TV (yang biasanya selalu digambarkan berpakaian hitam, kupluk hitam yang menutupi wajah, plus sarung buluk buat mbuntel TV  curian) gak bakal beroperasi malam itu. Sebab, di poskamling ada bapak-bapak yang sukarela menjaga keamanan kampung. *Hm, gak sukarela juga sih benernya.. Daripada dipelototin pak RT hehe..*

Oleh karena bapak-bapak ronda itu bukan ‘orang profesional’ (baca: bukan anggota security dari perusahaan penyedia jasa pengamanan), insiden benturan batu ke tiang listrik bakal berakhir pada pukulan keempat, “Teng.. teng.. teng.. teng..”. Itu artinya, udah jam 4 pagi, udah mau Subuh. Bapak-bapak ronda udah mau pulang. Soalnya besok harus berangkat kantor hahaha..

Namun, kalau tadi kita bicara suara artifisial – yang dibikin oleh manusia, ada satu suara hewan yang selalu bikin aku kangen dengan negeriku ini: “ngkrik.. ngkrik..” suara jangkrik!

Boro-boro di luar negeri, suara jangkrik udah mulai jarang terdengar di kota-kota besar di Indonesia. Padahal, bagiku, suara jangkrik adalah ‘sound therapy‘ biar cepet tidur lelap. Zzzz…

 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2010 in Random Thought

 

Mayasari Bakti: Perusahaan Keluarga yang Dikelola dengan Feeling

Ade Ruhyana Mahpud lebih sering terlihat berpakaian biasa-biasa saja. Baju lengan pendek, celana formal dan sepatu sandal. Sebuah cincin berlian melingkar di jari-jari manisnya. Tampil santai, hangat jika diajak bicara, sesekali muncul guyonan-guyonan yang menyegarkan.

Padahal, ia mengelola sejumlah perusahaan, termasuk beberapa yayasan. ”Sudahlah semuanya ini kami lakukan dengan ikhlas kok. Bukankah kalau kita meninggal kita tak akan membawa harta benda,” ujar Ade yang juga Managing Director PT Mayasari Bakti. Berkali-kali ia mengingatkan bahwa apa yang dilakukan bukan untuk mengejar pengakuan. Namun bagi pria kelahiran 31 Juli 1955 ini menilai sebagai sebuah kewajiban.

Semula Ade enggan diajak wawancara. Namun melalui seorang kenalan, akhirnya Ade bersedia menerima wawancara dengan Republika. Pada suatu sore di sebuah kantor di kawasan Jalan Fatmawati, Jakarta, wartawan Republika Damanhuri Zuhri dan Aris Eko mewawancarainya. Berikut petikannya.

Armada Mayasari Bakti tampaknya terus bertambah?

Alhamdulillah. Ibarat orang berenang kami sudah di tengah laut. Kalau investasi saja kemungkinan bisa terus jalan atau tenggelam. Apalagi tidak investasi, pasti tenggelam. Jadi ya sudah investasi terus. Setiap tahun kami investasi sekitar Rp 50 miliar. Dana sebesar ini terutama untuk meremajakan armada.

Bagaimana Anda menghitung faktor resikonya?

Kalau untuk bisnis transportasi tampaknya berjalan begitu saja. Sudah feeling. Ya kita yakin saja. Selain sudah bertahun-tahun mengelola bisnis transportasi, kami memang fokus dalam bidang ini. Bahkan saat ini bisnis transportasi yang kami tekuni juga sudah didukung oleh anak-anak perusahaan yang bergerak dalam bidang vulkanisir maupun karoseri.

Jadi investasi sebesar itu hanya didasarkan feeling?

Ya, tapi banyak berdasarkan feeling itu kan karena pengalaman. Tidak mungkin feeling timbul kalau tidak ada pengalaman. Kami sudah bertahun-tahun menekuni bisnis transportasi ini.

Tapi bukankah yang memulai usaha ini ayah Anda?

Ya, kadang-kadang saya lihat figur bapak yang mencintai pekerjaan ini. Sampai sekarang bapak saya itu fokus mengelola bisnis transportasi. Selain itu bisnis transportasi membutuhkan pengambilan keputusan secara cepat atau tidak bisa ditunda-tunda. Itulah sebabnya kalau Anda lihat pada perusahaan transportasi, pemilik senantiasa terjun langsung mengendalikan jalannya perusahaan.

Bagaimana dengan manajemen Mayasari Bakti?

Sampai sekarang selain Bapak, saya dan saudara-saudara saya memegang saham secara merata. Di samping itu direksi beberapa perusahaan juga masih dipimpin oleh saudara-saudara saya. Sehingga kalau mau rapat pemegang saham atau rapat direksi ya saling telpon saja, terus bertemu kemudian rapat. Begitu saja.

Tidak diserahkan kepada profesional?

Ya kita sama-samalah. Malah Bapak masih berkonsentrasi ke operasional.

Jadi pengelolaan perusahaan Anda itu benar-benar secara kekeluargaan.

Saat ini 90 persen direksi masih dari keluarga. Bapak, ibu dan saudara-saudara saya komisaris, Namun saya juga menjabat direktur, kakak direktur teknik dan operasi, teman ayah Atin Soetisna menangani personalia.

Apa tidak repot jika mendelegasikan tugas dan pekerjaan?

Ya ada. Tapi banyak senangnya. Jadi meski pengelolaan secara keluarga, alhamdulillah tidak pernah rugi.

Bagaimana kiat keluarga Anda bisa berhasil mengelola bisnis transportasi ini?

Bisnis transportasi itu risiko menghadapi depresiasi tergolong tinggi. Kalau uang ini diselewengkan bisa hancur. Tapi kalau itu diinvestasikan lagi maka berjalan terus.

Tapi saat terjadi krisis bukankah banyak perusahaan yang justru membatalkan investasi?

Saya justru berpandangan sebaliknya. Saya berpikir, saat itulah kesempatan yang baik untuk berinvestasi, terlepas ada uang atau tidak. Sebab saat banyak perusahaan lain tak mampu melakukan investasi maka saingan berkurang. Selain itu saya berpikir tak akan terjadi krisis terus.

Kebetulan ketika itu bapak saya sedang sakit. Namun saya minta kepada bapak agar saya diberi kesempatan. Maka pada saat krisis itulah kami melakukan investasi untuk armada bus ‘Doa Ibu’ dan ‘Karunia’.

Kebetulan ketika 1998 itu bus-bus di Jepang banyak yang tidak laku. Harganya juga sedang jatuh. Orang-orang dari Jepang itu malah menawarkan ke saya. Kemudian saya jawab saya tidak punya uang dan tak mungkin pinjam uang di bank. Tapi malah pihak Jepang itu tetap ngotot agar saya ‘mengambilnya’ dengan pembayaran 24 bulan.

Jadi ini semua lagi-lagi adalah saya percaya karena feeling, kepercayaan dan tawakal kepada Allah. Sebab saat normal kami jelas akan mengalami kesulitan. Selain itu untuk mengambil pasar akan sulit karena semua orang akan berebut investasi.

Mengurus bisnis transportasi seperti perusahaan Anda bukankah amat tergantung pada pengelolaan para awak kendaraan?

Memang komplek sekali, kenapa? Coba Anda bayangkan supir lulusan SD, SMP, SMA dikasih mobil (modal) yang harganya ratusan juta. Kemudian mobil itu dibawa ke mana-mana. Jadi semua itu atas dasar atau faktor kepercayaan saja. Tapi karena saya menikmati dan mencintai pekerjaan itu ya terus saja.

Kapan Mayasari Bakti didirikan?

Mayasari Bakti berdiri pada 1970, tapi bapak saya bergerak di transportasi sejak 1960. Cikal bakalnya bus dengan trayek Tasikmalaya ke Cirebon dan Tasikmalaya ke Bandung. Mayasari itu menurut bapak singkatan dari nama-nama keluarga kami.

Apa benar Mayasari Bakti tidak menggunakan jasa perbankan?

Saya kira itu salah. Kita tetap pakai perbankan dari Bapindo (sekarang bergabung menjadi Bank Mandiri-red) sampai sekarang. Kemudian kami juga dibantu pembiayaan oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI).

****

Bapindo (yang kini menjadi Bank Mandiri-red) dan tetangga merupakan dua pihak yang amat berperan saat awal berdirinya perusahaan yang didirikan H Mahpud di Tasikmalaya. Pasalnya, saat ayah Ade Ruhyana Mahpud itu mengajukan pinjaman ke Bapindo semula ditolak karena aset yang dijaminkan tak bisa memenuhi persyaratan karena terlalu kecil nilainya.

Kegagalan mendapat pinjaman ke bank itu diceritakan kepada para tetangganya. Namun tak diduga para tetangga dengan suka rela meminjamkan aset-aset yang dimilikinya untuk dijadikan jaminan. Atas dukungan para tetangga itulah PT Mayasari Bakti akhirnya mendapat pinjaman dan terus berkembang hingga kini.

Kepercayaan tampaknya menjadi modal utama bagi Ade Ruhyana dan keluarga besarnya menahkodai perusahaan yang kini asetnya sudah senilai lebih dari Rp 1 triliun. Meski awalnya didukung pinjaman, namun kini utang perusahaan tergolong kecil untuk ukuran perusahaan yang memiliki aset sebesar itu. ”Utang kami hanya sekitar 5 persen,” ujar suami Ida Farida Makmun.

Kini selain mengoperasikan sekitar 2.500 armada angkutan, PT Mayasari Bakti telah membentuk anak-anak perusahaan yang bergerak dalam bidang karoseri, vulkanisir, dealer Hino serta perusahaan lain yang masih terkait dengan bisnis transportasi. Tak hanya menguasai angkutan kota di Jakarta, perusahaan ini juga menyediakan jasa angkutan penumpang antarkota.

Peran tetangga nyaris tak pernah dilupakan. Hanya saja kepedulian itu lebih banyak diujudkan dalam bentuk sejumlah yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah Al Mutaqin dan rumah sakit Islam di Tasikmalaya. Pendirian sejumlah masjid (termasuk merenovasi Masjid Agung Tasikmalaya-red) yang juga banyak menyita waktu Ade.

Pengelolaan yang masih mengandalkan peran keluarga tampaknya justru membuat Ade mudah mengambil sikap. Seperti untuk mengadakan rapat-rapat baik untuk perusahaan atau yayasan, Ade lebih sering memilih melakukan selepas sholat subuh. ”Ya kita tinggal saling telpon saja. Selain itu kalau pagi rasanya kita enak membahasnya,” papar ayah dari Alvi Riyadi H, Zulfikar Pujiadi S, Farizan Firdaus, dan Mohamad Andriana ini.

****

Kapan Anda mulai ikut menangani Mayasari?

Saya berkecimpung di Mayasari sejak 1985. Pada 1981 saya menekuni usaha kontraktor, karena saya lulusan Teknik Sipil. Namun waktu datang ke Jakarta ada teman Bapak yang punya pabrik di kawasan Cengkareng. Teman Bapak ini adalah pengusaha keturunan Cina yang menjadi supplier yang juga memiliki pabrik break system.

Pada saat itulah perusahaannya tengah mengalami kesulitan dan meminta bantuan kepada Bapak. Oleh Bapak, saya disuruh mengaudit perusahaan tersebut. Mungkin orang tua taunya saya ini sarjana, jadi apa saja bisa, ha ha ha.

Anda melakukan perintah audit?

Jadi meski saya lulusan Teknik Sipil maka terpaksa saya mengaudit perusahaan tersebut. Hasilnya saya menyimpulkan bahwa jika kami membeli 50 persen saham butuh dana Rp600 juta. Itu tahun 1986. Setelah terjadi transaksi maka saya menjadi Presiden Direkturnya.

Bagaimana Anda mengelola perusahaan itu?

Saya memulai dengan menghadapi kondisi perusahaan yang utangnya bertumpuk, dana habis, ekonomi terpuruk lagi. Namu saya tidak patah arang. Saya bekerja keras. Hasilnya, alhamdulilah akhirnya tahun 1987 muncul deregulasi yang mendorong lokalisasi.

Sebab setelah muncul ketentuan ini kami didatangi oleh pihak Honda dari Jepang. Sebab saat itu hanya ada dua perusahaan yang memiiki ijin pembuatan kampas rem. Selain perusahaan kami, satu lagi perusahaan dalam kelompok Gemala.

Apa yang ditawarkan pihak Jepang?

Mereka menyatakan mau menanamkan modal. Namun syaratnya harus bisa menguasai lebih 50 persen. Namanya perusahaan mau bangkrut ya saya oke-oke saja. Setelah negosiasi akhirnya pihak Jepang menguasai 60 persen, saya 20 persen dan pemilik awal 20 persen. Namun dalam perjalanan pemilik awal menjual sahamnya sehingga tinggal saya 20 persen sisanya pihak Jepang. Alhamdulillah sampai sekarang lumayan bagus, lah.

Jadi ini menurut saya merupakan pengalaman saya ‘disekolahkan’ oleh ayah saya, disuruh belajar kepada pengusaha keturunan Cina. Setelah perusahaan sudah bagus kembali keadaannya, saya sampaikan kepada bapak bahwa saya capek. Saya sampaikan pula kalau nanti perusahaan bangkrut maka saya tak lagi ikut bertanggung jawab. Namun alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan dengan baik.

Mengapa banyak orang Sunda di Mayasari?

Yaa… banyak orang Sundanya tapi orang Jawa juga banyak, demikian juga etnis lainnya, tidak ada larangan.

Ada syarat khusus untuk bisa masuk ke Mayasari?

Tidak juga, biasa aja persyaratannya, tes. Malah mungkin di perusahaan kami ini banyak yang tidak benar dalam penerimaan karyawan. Sebab kadang-kadang ada oknum-oknum yang minta uang.

Bagaimana Anda menyeleksi atau mengelola awak armada yang umumnya rendah tingkat pendidikan serta memiliki lingkungan kerja yang keras?

Memang dari awal kita betul-betul melakukan seleksi seperti biasa dilakukan oleh perusahaan lain. Tak ada seleksi yang menyangkut larangan untuk agama tertentu. Dalam perusahaan kami ada yang beragama Islam maupun non Islam. Bahkan salah satu direksi kami orang Bali, sedang yang bertugas menangani surat-surat orang Batak. Semua berbaur di perusahaan ini. Selain itu kita juga memberikan pendidikan bagi karyawan.

Model pendidikan apa yang Anda kembangkan di perusahaan ini?

Prinsip kita sopir itu sudah pasti pandai menjalankan kendaraan. Oleh sebab itu dalam pendidikan yang kita kembangkan 60 persen materinya adalah agama. Sebab bukankah kita ini pada dasarnya hanya bisa berdoa dan berusaha. Segalanya itu ditentukan oleh ‘yang di atas’.
Saat ini sudah berjalan 19 angkatan, totalnya berjumlah sekitar 500-an karyawan yang telah mengikuti. Mereka mengikuti pendidikan selama dua hari dua malam.

Pendidikan itu untuk karyawan baru atau termasuk yang lama?

Pendidikan ini berlaku untuk seluruh karyawan. Selama mengikuti pendidikan mereka off namun mendapatkan uang makan. Saat ini karena jumlah karyawan yang banyak maka belum semuanya bisa mengikuti pendidikan.

Awak kendaraan sebagian besar lulusan SMA ke bawah, apa Anda tidak sulit mengurusinya?

Biasa-biasa saja, yang penting kita jangan menjauhi mereka. Saya sering minta rokok atau sepakbola bersama mereka. Selain itu mereka itu kan sudah terlalu disibukkan oleh pekerjaannya di lapangan. Oleh sebab itu kami membuatkan kegiatan untuk penyegaran rohani. Setiap pekan pada masing-masing poll kita adakan pengajian. Kita undang ustadz-ustadz untuk memberikan siraman rohani.

Memang masih banyak awak kendaraan yang suka main judi ataupun minum-minuman keras. Menjadi kewajiban kami untuk menyadarkannya.

Jadi bukan sekedar materi saja?

Iyalah, wong kita mau mati kok. Kepuasan kan bukan dari materi saja. Yang paling membahagiakan itu kalau kita bisa memberi kepada masyarakat kecil. Saya paling takut pada masyarakat kecil daripada orang-orang kaya. Saya paling takut kalau dijauhi sama orang-orang kecil. Sebab kalau kita sudah dijauhi orang-orang kecil itu susah hidup. Meski bukan berarti kita tidak boleh makan di Hilton.

Berapa jumlah karyawan?

Sekitar 6.000 orang. Itu sejak dari tukang sapu hingga direksi. Prinsip saya jumlah karyawan itu perbandingannya tidak boleh lebih dari satu mobil untuk empat karyawan.

Bagaimana Anda mendisiplinkan awak kendaraan memasukan pendapatan?

Di Mayasari kami tidak memberlakukan setoran. Tapi kami menentukan bahwa untuk satu ‘rit’ maka sudah ada ketentuannya untuk masing-masing trayek. Namun kalau mogok tak menyetor. Selain itu ada juga persentase. Di sini kami menggunakan checker yang bertugas menghitung jumlah penumpang pada suatu tempat tertentu suatu trayek. Misal untuk trayek Cibitung dan Cikupa ada 20 checker.

Jadi adalah tidak mungkin sopir tak membawa uang setelah menjalankan kendaraan. Meski demikian masih terjadi juga awak kendaraan yang nakal berusaha tak memasukan uang penumpang ke perusahaan.

Sering kita lihat bus Mayasari banyak penumpang yang bergelantungan. Mengapa hal itu seakan dibiarkan?

Saya kira hal itu persoalan yang sulit. Sebab penumpang yang berangkat dari Bekasi meski bus sudah penuh sesak mereka memaksakan diri naik.

Bagaimana dengan budaya kerja yang dibangun di Mayasari?

Kami menekankan pentingnya persamaan kolektif, sehingga karyawan juga dianggap keluarga sendiri.

Untuk keluarga karyawan apa yang diberikan perusahaan?

Untuk anak-anak karyawan kami memberikan beasiswa bagi yang masuk ke perguruan tinggi. Meski anak-anak para sopir sudah banyak yang menjadi sarjana. Kami juga ikut bangga atas kemauan keras mereka.

(published on Republika, date unknown)

 
2 Comments

Posted by on July 21, 2010 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,

WAGs of the Bus Crews

Lagi-lagi soal privilege yang diterima sewa langganan bus PAC Mayasari Bhakti. Tapi ini hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.

Nggak jauh beda dengan klub sepak bola kelas dunia yang punya komunitas WAGs alias Wifes and Girlfriends (baca: istri dan pacar), kru bus juga punya WAGs. Mereka ini punya privilege kelas platinum, dibandingkan sewa langganan.

Hal yang paling menyenangkan adalah: Gak perlu bayar ongkos bus!

Kalo si pacar atau suami “ngawal” di bus itu, si cowok tinggal bilang kalo WAGs-nya ada di dalam. Si cewek tinggal kasih senyum termanis ke petugas checker. Dan, ya.. sudah.. gak perlu bayar deh.

Kalau udah jadi Istri, mau duduk di bus jurusan mana pun pasti dapet privilege itu. Meski sang suami nggak “ngawal” bus itu. Tentu saja masih dalam jaringan Mayasari Bhakti.

Tapi, kalo statusnya masih Pacar, ya masih tergantung cowoknya. Itu sebabnya kalo pagi-pagi ada beberapa kru bus, yang meski gak bertugas, tetap berada di jalanan. Selain untuk menegaskan privilege para WAGs, juga untuk menemani sang pujaan hati hingga tempat tujuan. Ah, so sweet… ^_^

 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2010 in Wheels on the Road

 

Tags: , ,

Pelihara Ikan di Dalam Sepatu

Satu tren yang pernah tercipta di jagat mode adalah sepatu beralas akuarium.

VIVAnews – Sepatu bukan lagi sekadar alas kaki, tapi telah menjadi bagian dari gaya hidup pemakainya. Tak heran jika sejumlah desainer sepatu terus berkreasi menciptakan tren.

Pada tahun 1970-an, dunia mode memperkenalkan tren sepatu ‘disco goldfish’. Ciri khas sepatu ini memiliki akuarium mini di bagian hak atau solnya, yang biasanya terbuat dari bahan transparan semacam kaca akrilik.

Beberapa model didesain dengan menempatkan knop di bagian sol atau hak. Saat hendak dikenakan, knop bisa dibuka untuk memasukkan air dan ikan. Setelah digunakan, ikan bisa dikembalikan lagi ke akuarium yang lebih nyaman. Namun, ada juga yang melengkapinya dengan tombol gelembung udara untuk memberi napas ikan seperti akuarium pada umumnya.

Namun, belakangan tren sepatu itu lenyap. Banyak orang tak tega menempatkan ikan di dalam alas sepatu. Meski banyak pemakai menempatkan ikan hanya selama beberapa jam saat sepatu digunakan, namun seringkali ikan lebih cepat mati. Guncangan dan minimnya oksigen dalam sepatu membuat ikan cepat sekarat.

Itulah yang kemudian mendorong para desainer yang mencintai jenis sepatu ini memproduksi sepatu dengan tampilan ikan artifisial. Berbagai variasi yang diciptakan tetap sama, mulai dari model high heels, boot, pantofel, hingga sepatu olahraga.

(Vivanews. Senin, 19 Juli 2010, 14:39 WIB)

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2010 in Dunia Dalam Berita

 

Tags: ,