RSS

Pengen Punya Bisnis Co-Working Space

04 Dec

1 parisoma(1)

Hampir dua tahun menjadi mobile worker, membuat saya menjadi semacam cafe-goers. Bukan sok mau ngopi, tapi untuk kerja, meeting, dan numpang colokan.

Bagi mobile worker (entah itu entrepreneur, freelancer, self employee — apapun sebutannya), tempat kerja tidak dibatasi satu ruang dalam satu gedung yang di situ-situ saja. Selain di kafe, kami bisa kerja di taman (bukan sok-sok-an nih, beneran, taman di Freedom Institute enak banget buat nyari inspirasi, apalagi meja tamannya dilengkapi colokan), public library, atau bahkan kamar tidur.

Tapi, tak selamanya bekerja di luar itu indah. Meja kafe entah kenapa dibikin sempit. Apalagi kedai kopi satu itu – mejanya bunder-bunder mini, bikin laptop-laptop kami saling beradu punggung. Thus, kalo kerja sendiri, apalagi saya beruntung menemukan tempat strategis di pojokan lengkap dengan colokan listriknya, saya sering dapet pandangan iri dari pengunjung lain. Seakan-akan saya sudah menguasai sumber energi terpenting bagi kehidupan mereka (iya juga sih, hp ama laptop mereka bisa mati kalo gak dicolok listrik).

Bekerja di kafe banyak gangguan. Tak hanya gangguan pada ketebalan dompet dan perut Anda, tapi pekerjaan sering terbengkalai karena tidak sengaja bertemu teman lalu mengobrol. Belum lagi kalo kafenya pasang musik terlalu kenceng atau malah banyak makhluk manis yang entah mengapa berlalu lalang di tempat itu. Hufft.

Kini, ada cara baru untuk mendapatkan tempat kerja, co-working space. Bukan sekadar berbagi ruang kerja, tapi juga sebagai tempat untuk berinteraksi dan berkoneksi dengan orang lain. Bedanya dengan kafe? Format co-working space memang tempat kerja, bukan tempat hang out apalagi arisan. Lu nongkrong, karena lu memang mau kerja bareng-bareng.

Biasanya, co-working space berada di area virtual office, tempat kerja bareng-bareng yang juga menyediakan alamat surat dan segala fasilitas yang dibutuhkan kantor. Sebut saja, ruangan nyaman dengan meja dan kursi kerja, sambungan telepon fixed line dan operator (kan namanya virtual office), alamat surat, faks, mesin fotokopi, printer dan scanner, wifi kenceng, sampe nyediain makanan dan minuman. Tentu aja, masing-masing akan di-charge.

Oiya, alamat surat dan alamat kantor menjadi penting karena bisa dipakai untuk mengurus SIUP atau ditaruh di kartu nama. Kayaknya gak asik banget kalo naruh alamat rumah di kartu nama bisnis, apalagi kalo alamat kita ternyata berada di dalam gang yang kudu nyebut RT/RW segala agar suratnya nyampe. Haduh, pasaran rate bisa turun kalo begini..

Sewa co-working space dan virtual office bisa per jam, per bulan, atau tahunan. Kalo gak pake apa-apa, cuma butuh meja, kursi, ama colokan aja sih bayarnya tidak begitu mahal. Sebagai contoh, untuk fasilitas co-working space di Comma cukup bayar Rp50.000 per 2 jam atau Rp200 seharian. Kalau bulanan dan tahunan tentu lebih murah. Sedangkan di SMESCO sewa bulanan sekitar Rp1,5 jutaan. Di Surabaya, tentu saja lebih murah lagi. Saya sewa virtual office nggak nyampe Rp1 juta (eh sekarang harganya naik, jadi 2 jutaan), tapi rate co-working space Rp15.000 per jam.

Di luar negeri, model bisnis sewa ruang kerja seperti ini udah jamak. Di Singapura ada The Hub, Officio di Boston, BlankSpaces di LA, dan di Indonesia mulai ada Comma di Kebayoran Baru, Jakarta; Code di Margonda, Depok; Graha Virto di Surabaya, atau Hubud di Ubud, Bali. Sedangkan penyedia virtual office ada Regus yang jaringannya global, SMESCO, atau CEO Suite.

Memang seberapa banyak sih yang butuh ruang kerja bareng? Kalo Anda menemukan orang-orang yang fokus dengan laptop di kafe atau Sevel atau McD, mereka lah target market Anda. Belum lagi mereka yang “terpaksa” bekerja di kamar kos atau ruang tidur. Percayalah, bekerja di rumah tak harus literally diartikan bekerja di rumah. Kami-kami hanya tak ingin terbelit birokrasi kantoran, tapi masih membutuhkan ruang khusus untuk bekerja dan berinteraksi.

Menurut studi yang dilakukan Deskmag, sebuah majalah yang membahas inovasi tempat kerja, seperti dilansir FastCompany, sebanyak 90% dari orang-orang yang melakukan co-working mengaku memiliki rasa percaya diri tinggi. Lebih lanjut, dari hasil studi terungkap fakta bahwa 71% partisipan mengaku mengalami peningkatan kreativitas ketika bekerja di co-working place dan 62% mengaku standar kerja mereka terdongkrak naik.

Andaikan ada pembaca blog ini yang berkenan jadi investor untuk bisnis co-working palce, please let me know. I will present my business plan in front of you. Seriously.

.

“Business only has two function — marketing and innovation” (Peter Drucker)

 
11 Comments

Posted by on December 4, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , , , ,

11 responses to “Pengen Punya Bisnis Co-Working Space

  1. ervika

    December 4, 2014 at 8:09 pm

    Wahhh…. ide baguss itu…. semangatttt! You CAN DO!😀

     
  2. naningisme

    December 5, 2014 at 10:04 am

    I will. Lifin sekalian jadi investornya deehh..😀

     
    • ervika

      December 5, 2014 at 1:59 pm

      Hahaha… semoga saya bisa😀

       
  3. Nurul Aini NA

    January 8, 2015 at 7:34 pm

    kalau kota Semarang peluang bisnis
    coworkingplace gimana ya ? kbtulan di Semarang blm ada.

     
    • naningisme

      January 29, 2015 at 11:02 am

      Kalo Semarang sih bisa, selama rate-nya cocok. Bidik aja mahasiswa. Mereka kan harus bikin tugas. Tapi, lihat lagi gimana kebiasaan mahasiswa Semarang. Harus diriset dulu🙂

       
  4. volareamanda

    January 29, 2015 at 10:15 am

    Iihh iya nih lagi kepikiran banget pengen punya bisnis coworking space, mumpung ada ruko kosong. Belum pernah jadi freelancer sih, tapi emang gak enak banget kalo emsti kerja sesuatu di kafe, ato kalo ukuran mahasiswa ya KFC ato McD. Hahaha.. pengen nyobain nongkrong di virtual office jadinya..

     
    • naningisme

      January 29, 2015 at 11:00 am

      Yup yup. For now on, ini bisnis lumayan oke. Selama kita bisa create crowd di tempat itu, misalnya ngadain workshop tiap hari sabtu/minggu. Biar selalu ada yang datang. Kalo udah kenal kan pada pengen ngulangin datang lagi hehehe..

      Coba di Comma di Kebayoran Baru deh, siapa tau ketemu Yoris Sebastian😀

       
      • volareamanda

        January 29, 2015 at 11:11 am

        seandainya aja di Jakarta :((

         
  5. auliamumtaza

    March 18, 2015 at 1:01 pm

    ada yang ngusulin di Semarang ya? boleh nih kolaborasi, di Semarang emang belum ada, masih prospektif dan terus tumbuh sebagai kota terbesar di Jawa Tengah, mahasiswa dan kampusnya juga banyak, nggak kalah ama Suarabaya, siap mengkuratori *secara Comma user juga, pengen nyoba ngembangin di daerah🙂

     
    • naningisme

      March 20, 2015 at 1:36 pm

      Nah, monggo saling kontak dan kolaborasi🙂

       
  6. hendro liman

    April 6, 2015 at 8:40 am

    Celah bisnis bagus ini pak..
    Saya ada lahan luas 1000 m2

    No. Telp bapak berapa?

    Saya di 081321 728335

    Thanks

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: