RSS

Monthly Archives: September 2014

Negeri Para Bedebah

 system

“Ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan tidak memiliki visi misi. Tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terlalu rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis. Bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka.”

(Tere Liye)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , ,

The Winning Underdog

Topdog_Underdog_review_1Sepekan ini semua jenis media begitu ramai dengan fenomena IPO Alibaba yang memecahkan rekor dunia sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah. Dunia maya pun diisi oleh cerita tentang Alibaba dan Jack Ma, sang founder, dan bagaimana perusahaan raksasa internet Cina ini bisa mengguncangkan dunia.

Mengapa peristiwa Alibaba ini begitu ramai dan dielu-elukan? Padahal sejak dulu Alibaba hanyalah ti putih melati, dan merah delima adalah Pinokio. Mengapakah? Padahal rekor IPO sebelumnya yang dipecahkan oleh raksasa kartu kredit Visa di tahun 2006, atau Agricultural Bank of China di tahun 2010, nggak gitu-gitu amat. Dan saya pun yakin, kalau Alibaba ini adalah perusahaannya Li Ka-Shing atau cucunya Rockefeller, respon masyarakat tidak akan sebegitu ramai.

Ya, ini ramai karena Alibaba didirikan oleh Jack Ma, seorang mantan guru bahasa Inggris yang baru memulai membangun perusahan eCommerce di usia 35 tahun, yang gajinya dulu hanya $20 per bulan, yang lamaran kerjanya sempat ditolak oleh KFC, dan kini menjadi orang terkaya nomor satu di Cina dengan nilai perusahaan melebihi $ 166 Billion. Ini ramai karena Jack Ma adalah seorang underdog yang lalu menang. And everybody loves a winning underdog story.

Nah, sejak dulu, cerita tentang winning underdog selalu menarik, baik fakta maupun fiksi; mulai dari David vs Goliath, Cinderella, Rocky, Steve Jobs, CT Si Anak Singkong, Jack Ma, dan banyak lainnya. Tapi, pernahkah anda bertanya: mengapa ini menarik? Karena dramatis, mengejutkan, dan menginspirasi, ya, memang. Twist, drama, dan inspirasi jadi alasan logis kenapa cerita ini menarik hati.

Tapi, menurut saya, ada alasan yang lebih mendasar. Cerita winning underdog menjadi menarik bagi banyak orang karena di lubuk hati yang terdalam, kita semua merasa bahwa kita adalah underdog. Dalam kasus Jack Ma, kisah ini menginspirasi karena kita dan dia memiliki kesamaan: sama-sama underdog, entah karena kita terlambat memulai, bukan dari keluarga kaya, sempat mengalami jalur karir yang dibawah kelayakan, atau tidak memiliki kompetensi sempurna di bidang yang kita geluti.

Kisah ini memberikan rasionalisasi dalam optimisme kita, bahwa jika Jack Ma saja bisa, berarti kita juga bisa. Dan lebih dari itu, kisah seperti ini memberikan sentuhan emosi dalam optimisme kita; bahwa dalam kegagalan dan kekurangan yang sempat menyiksa hati, ternyata ada bukti yang menggariskan bahwa di akhir nanti, hasilnya bisa indah tak terperi. Kisah seperti ini memotivasi dan membawa emosi.

Tapi motivasi semacam ini adalah kulit terluar, remeh, layaknya remah gehu pedas yang tersisa di bungkus bekas lembar jawaban dan terbuang di pinggir jalan, lalu tertiup angin hembusan dan tercebur ke comberan: temeh. Mari benturkan ke realita: ada berapa juta orang yang jadi guru bahasa Inggris, dibayar lebih rendah dari $20, dan lamaran kerjanya sempat ditolak? Banyak sekali. Tapi, ada berapa orang yang menorehkan kesuksesan seperti Jack Ma? Hanya satu. What makes him the winning underdog? Untuk mengetahuinya, kita perlu memaknainya melebihi motivasi, hingga beberapa level.

Jack-Ma-ForbesLevel satu, visionary underdog. Menjadi underdog yang menang harus memiliki visi yang besar? Ya, pasti. Tapi, pastikan juga kalau visinya benar. Begini maksudnya: saat mendengar kisah sukses Jack Ma, apa yang membuat Anda iri? Kekayaan hingga $21 billion? Menjadi cover di Forbes? Diwawancara di CNBC? Jadi terkaya nomer wahid? Jika itu yang menggerakkan kita, maka lupakanlah; karena kita sudah kalah. Sejarah selalu mencatat, para winning underdog itu tidak pernah mengejar kekayaan dan ketenaran.

Dalam sebuah pidato di Stanford, Jack Ma pernah menyampaikan, “Sisakan saya 0,001 dari kekayaan saya saat ini, maka itu masih terlalu banyak untuk seorang Jack Ma”. Karena, jika ditelusuri sejak awal, visinya tidak pernah mengarah ke kepemilikan harta. Ia hanya ingin membuat satu eCommerce yang mampu membantu banyak UMKM di Cina, agar bisa bersaing secara global. Visi ini terus Ia dengungkan hingga kini, di surat terbuka pengunduran dirinya sebagai CEO, atau surat anjuran beberapa hari sebelum IPO. The winning underdog selalu berorientasi pada karya yang bisa memberikan dampak luas.

Level dua, un-underdog underdog. The winning underdog, tidak pernah merasa menjadi underdog, walaupun realita menunjukkan demikian. Coba saksikan “Crocodile from the Yangtze”, dan dengarkan apa yang Jack Ma sampaikan ke belasan timnya di awal pembentukan Alibaba. Seorang mantan guru bahasa Inggris,  menyampaikan semangatnya untuk membangun satu eCommerce global raksasa yang akan menantang dan mengalahkan eCommerce lain dari Sillicon Valley, padahal coding pun Ia tak bisa.

Ia bicara tentang kompetisi global, rencana IPO, di apartemen kecil, di depan belasan orang, padahal produknya pun belum ada. Jack Ma memiliki keyakinan luar biasa dan sikap mental yang sudah meraksasa sejak awal. Dia menjadi underdog yang sudah menang, bahkan sebelum dibunyikannya genderang perang, karena dia tidak pernah melihat dirinya sebagai underdog.

Level tiga, the fighting underdog. Ini basi, tapi percayalah: there is no win without a fight. Jutaan orang saat ini terinspirasi oleh Jack Ma, lalu terlelap seharian dan terus bermimpi. Underdog semacam itu hanya akan menjadi pungguk yang merindukan bulan, bukannya mengumpulkan minions lalu mencuri bulan. Di kelanjutan pidatonya di tahun 1999 itu, Jack Ma bilang, “We will have to pay the pain for the next 3-5 years; that’s the only way we can succeed”. Dia menanamkan etos kerja yang lebih besar, dengan siap tersiksa, untuk mencapai visi besarnya. Dan dia tahu betul, dia ada di medan perang yang tepat untuk mengeksekusi strategi dengan cermat.

Dia memilih jalur tempur di internet commerce, bukan berjualan jangkrik aduan di pinggir terminal. Bisnis modelnya yang scalable berpadu dengan langkahnya yang actionable: maknyus. Maka, pastikan kita selalu memiliki daya juang yang besar, untuk sesuatu yang besar yang memang layak diperjuangkan. Dan ini memang tentang eksekusi: all you have to do is get up, and get your shit done.

Level empat, independent underdog. Yang bermasalah dalam sebuah kisah sukses adalah banyaknya orang yang mengekor terhadapnya. Tetiba semua ingin membuat eCommerce, agar kelak mereka bisa kaya raya, seperti Jack Ma. Visinya terpengaruhi, dan jalan hidupnya terkoreksi. Jika sampai begini, di titik ini kita telah kalah. Para underdog yang menang, tidak meletakkan visinya pada cerita sukses yang menjadi masa lalu; mereka justru mengukir masa depan. Mereka mencari, menggugat, dan mencerahkan jalannya dengan perjuangan yang mereka nikmati.

Please, write your story; make a history. Mari jadikan kisah sukses ini motivasi, tapi jangan sampai ini menjadi indikasi. Janganlah ini membuat jalan juang kita meredup, atau mengaburkan kita dalam memaknai kebahagiaan hidup. Torehlah sejarah waktu kita dalam garis menenangkan yang memang ingin kita hayati. Dan pastikan, semuanya ada dalam guratan yang ridho, dan diridhoi. Karena inilah level terakhir, the real winning underdog:

Bukankah kita hanya mengharapkan sebenar-benarnya kemenangan?

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke bagian orang-orang yang menyembahKu. Dan masuklah ke surgaKu” (Al-Fajr : 27-30)

(Artikel ini ditulis oleh Gibran Huzaifah ITB’07, CEO Cybreed. Saya dapet dari milis salah satu grup entrepreneur. Tulisan ini termasuk kategori wajib di-sharing. Sementara foto utamanya itu benernya cover poster pertunjukan teater Topdog, Underdog. Gambarnya bagus. Dagu buldog kalo dibalik jadi kayak mahkota. Mewakili banget)

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2014 in Smartpreneur

 

Tags: , ,

Path

Crowd Crossing Street

“One thing: you have to walk, and create the way by your walking; you will not find a ready-made path. It is not so cheap, to reach to the ultimate realization of truth. You will have to create the path by walking yourself. The path is not ready-made, lying there and waiting for you. It is just like the sky; the birds fly, but they don’t leave any footprints. You cannot follow them; there are no footprints left behind.”

 
3 Comments

Posted by on September 23, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Pain

 falling bike

 “Pain is a pesky part of human being. I’ve learned it feels like a stab wound to the heart, something I wish we could all do without, in our lives here. Pain is a sudden hurt that can’t be escaped. But, then I have also learned that because of pain, I can feel the beauty, tenderness, and freedom of healing. Pain feels like a fast stab wound to the heart. But, then healing feels like the wind against your face when you are spreading your wings and flying through the air! We may not have wings growing out of our backs, but healing is the closest thing that will give us that winds against our faces.”

 
Leave a comment

Posted by on September 23, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Halo, Pak Hansip!

hansip

Kalau ngaku sebagai Warga Negara Indonesia tulen, apalagi yang “keluaran lama” alias udah hidup sejak era Orde Baru, pasti udah kenal banget sama yang namanya Hansip. Baju seragamnya ijo, pake topi pet, sepatu booth warna item, dan sabuk item dengan mata sabuk warna gold. Keren dah pokoknya. Mereka selalu ada di tiap kegiatan kampung, terutama untuk urusan menjaga keamanan warga. “Markas”-nya adalah gardu Siskamling.

Sayangnya, sebentar lagi kita gak bakal bisa ketemu lagi ama Pak Hansip. Sebab, per 1 September 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membubarkan Hansip melalui Perpres No. 88 tahun 2014. Sebagai gantinya, nanti Satpol PP bakal menggantikan peran Hansip dan turun sampai level kelurahan.

Pertanyaan ‘iseng’ saya adalah, apakah Pak Satpol PP nanti bakal seramah Pak Hansip?

Dalam memori saya, Pak Hansip adalah sosok yang helpful. Mau bantuin motong dahan dan ranting pohon (gak cuma pas kerja bakti), selalu mukul kentongan atau tiang listrik pas ronda malam, sampai njagain kalo ada hajatan warga, mulai kawinan sampai urusan Pilkada dan Pemilu (ngangkutin kotak suara, masang tenda dan kursi, dll dll dll).

Sementara itu, dalam benak saya, Satpol PP adalah sosok garang yang gemar melakukan razia PKL. Sebab, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Satpol PP menghancurkan lapak tukang nasi uduk dan menggulingkan gerobak tukang soto langganan saya. Dan, jadilah pagi itu kita kebingungan nyari sarapan. Tujuannya sih baik, untuk penertiban PKL. Tapi, ah sudahlah…

Anyway, saya ingin sharing mengenai latar belakang pembentukan Organisasi Pertahanan Sipil (Hansip) ini. Presiden Soeharto membentuk Hansip melalui Kepres No. 55 tahun 1972. Waktu itu, Hansip merupakan komponen Hankam (Pertahanan Keamanan) dan komplemen ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sekarang disebut TNI).

Syahdan, — benernya sih menurut si Rudi Valinka, pemilik akun @Kurawa — selain untuk urusan pertahanan keamanan lingkungan, bapak Presiden Soeharto membentuk Hansip sebagai langkah kamuflase atas tingginya angka pengangguran di Indonesia. Waktu itu, pak Harto, setelah mendapatkan masukan dari para begawan ekonominya, mengambil langkah strategis nan bijak: Pemerintah harus membuat proyek padat karya rutin setiap tahun bagi yang muda dan kuat, serta membentuk pekerjaan informal bagi yang tak lagi muda.

Sebenernya, hampir semua negara kesulitan menampung rakyatnya yang jobless, memiliki latar belakang pendidikan rendah, dan usia tak lagi muda (yang otomatis jauh dari kriteria badan tegap dan kekar). Dengan bijaksana, pak Harto menampung kelompok ini dalam posisi “terhormat” tapi negara tak perlu terbebani soal penggajian. Apalagi, di zaman itu, sudah diterapkan Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Alhasil, keberadaan Hansip dibutuhkan kedua belah pihak, yakni Pemerintah dan Warga.

Insentif yang didapat para Hansip ini hanya Rp150.000 per bulan (tapi sering dapat bayaran dari warga yang menggunakan jasanya, misalnya saat hajatan atau tebang pohon tadi). Bandingkan dengan Pemerintah Singapura memberikan gaji UMR untuk para senior citizen (yang mirip dengan kelompok Hansip ini), yang bertugas mengatur antrean taksi, membantu penyeberang jalan, atau menjadi pembersih meja makan di sejumlah food court. Jadi kalo Hansip dianggep membebani APBN jelas gak mungkin. Tapi, mungkin saja keberadaannya dianggep sebagai bayang-bayang Orde Baru (wah, langsung kebayang senyum pak Harto).

Memang, peran Hansip tak begitu kentara di wilayah perkotaan, terutama di perumahan kelas menengah atas. Tugasnya udah di-cover pak Satpam (yang sapaan kerennya adalah “Security”). Tapi, di wilayah pinggiran dan kelas menengah bawah, keberadaan Hansip masih dibutuhkan. Sebab, tak semua kampung punya kas yang cukup untuk menggaji Satpam. Oya, bedakan antara keduanya, Hansip bersifat voluntary, sedangkan Satpam (dan Satpol PP) sifatnya employee.

Semoga Pemerintah Jokowi memiliki strategi tak kalah bijak dengan pak Harto untuk menampung kelompok masyarakat yang semula disalurkan menjadi Hansip ini. Sampai jumpa lagi, pak Hansip! Terima kasih untuk peranmu selama ini.

“He who is of calm and happy nature will hardly feel the pressure of age. But, to him who is of an opposite disposition youth and age are equally burden” (Plato)

 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2014 in Random Thought

 

Tags: , ,

Tukang Bakpao: Indikator Kemacetan Ibukota

tukang bakpaoBagi warga Jakarta yang menemukan kepulan asap putih dari dandang stainless steel yang posisinya berada di pinggir jalan protokol, waspadalah! Itu merupakan pertanda bahwa kemacetan parah terjadi di depan sana. Kalau masih bisa putar balik, mending segera ubah arah kendaraan. Tapi kalau udah kejebak offside, ya terima nasib aja…

Bagi saya, tukang bakpao adalah pahlawan di tengah kemacetan. Selain bisa memberikan petunjuk kondisi lalu lintas, produk dagangannya bisa banget mengganjal perut. Siapa yang tahan godaan bakpao lembut isi kacang hijau atau daging ayam ini? Hangat dan lezat (ah, gara-gara nulis ini jadi kepengen makan bakpao).

Selain tukang bakpao, pedagang minuman botol juga bisa menjadi penanda kemacetan. Pernah, di tengah jalan tol saya menemukan abang-abang pedagang asongan. Biasanya mereka menjajakan minuman kemasan dan tahu goreng/kacang rebus yang sudah dibungkus cantik dalam tas kresek bening.

What, jualan di tengah jalan tol? Yoii.. Jalan tol di Jakarta mah sebenarnya tempat parkir berbayar aja. Macetnya kadang lebih parah dari jalan biasa. Jadi, jangan heran kalau si abang penjual makanan dan minuman ini bisa dengan aman dan nyaman menjajakan dagangannya, tanpa khawatir diseruduk kendaraan.

“Mijon.. Mijon.. Mijon..” atau “Tarahu.. Tarahu.. Tarahu..” Gitu cara mereka menjajakan dagangannya. Gak tau juga kenapa bisa Mijon dan Tarahu. Padahal para pedagang asongan itu sedang menyebutkan merek minuman Mizone dan dagang tahu goreng. Dan, gak tau juga kenapa para abang-abang itu udah jarang lagi menyebut, “Kua..Kua..Kua..” (maksudnya sih Aqua) untuk air mineral botolan. Mungkin minuman dingin dengan rasa manis lebih sesuai untuk menghalau dahaga di tengah kemacetan.

Bayangkan betapa sialnya warga Jakarta yang harus merasakan kemacetan tiap hari, pagi-siang-sore-malam. Rekor terburuk saya adalah mengalami empat jam stuck di tengah kemacetan (sekali jalan, dari titik A ke titik B, bukan akumulasi dalam sehari). Mungkin sebagian Anda pernah merasakan derita lebih lama. Ya nasib.

Kondisi terburuk terjadi bila di hari Jumat hujan turun sejak siang. Damn! Kalau sudah begitu, sudah bisa dipastikan jalanan bakal banjir dan macet di mana-mana. Tanpa harus melihat keberadaan “Para Indikator” pun udah bisa ketebak betapa menyebalkannya perjalanan pulang malam itu. Pffiuhh..

“The strongest of all warriors are these two: Time and Patience.” (Leo Tolstoy)

 
4 Comments

Posted by on September 20, 2014 in Wheels on the Road

 

Tags: , ,

Blink!

hard rock lift

Say Hello to glittering crystal inside the Hard Rock Hotel Singapore’s lift. Blink blink!

“I know it seems hard sometimes but remember one thing. Through every dark night, there’s a bright day after that. So, no matter how hard it get, stick your chest out, keep your head up, and handle it.”

(Tupac Shakur)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2014 in Random Thought

 

Tags: , , ,