RSS

Monthly Archives: February 2013

Punya Banyak Follower. Njur Ngopo?

ABDI dalemJujur, kadang hati suka terusik kalau melihat blog (atau tweet) orang lain — yang menurut saya kualitasnya biasa-biasa aja tapi comment dan follower-nya bejibun. Saya langsung bertanya-tanya: ini salah saya yang gak mau tampil atau salah mereka yang terlalu ngartis ya?

Ramainya sebuah blog bisa diakibatkan banyak faktor, di antaranya pemilihan bahasa html yang ciamik (yang membuat banyak orang “nyasar” ke blog kita karena kita sudah “bersekongkol” dengan mbah Gugel), rajin bertandang ke blog lain dan tak lupa ngasih jempol, serta rajin woro-woro di media sosial. Faktor lainnya karena si pemilik blog sudah terkenal dari sononya. Selebritis.

Ilmu bersekongkol dengan mbah Gugel dalam bahasa ilmiah disebut search engine optimization (SEO). Ilmu ini tidak serumit ilmu santet maupun ilmu pelet. Percayalah. Selama kita bisa menemukan keyword yang tepat untuk blog/web, lalu memasangnya di tempat tepat, dengan proses yang tepat, niscaya mbah Gugel akan selalu setia membantu kita. (Kalau ada yang mau penjelasan mengenai SEO bisa DM saya, nanti tak jelasin sampe mudheng.)

Akan tetapi, saya justru memilih membebaskan blog ini dari ajian ‘pelet Gugel’. Saya ingin para penikmat (reader) dan pengikut (follower) blog naningisme adalah mereka yang memang mengikuti perkembangan blog ini. Orang-orang yang menyukai kualitas tulisannya, bukan orang nyasar karena kesengsem salah satu keyword.

Di samping enggan memasang ‘pelet gugel’, mungkin saya orang yang tak cukup memiliki keberanian atau kerajinan untuk mengunggah judul postingan baru di media sosial. Memang sih kalau isengnya lagi kumat, saya kadang mengunggah link postingan baru ke facebook atau twitter. Tapi kadar keseringannya bisa dihitung dengan jari.

Mungkin, itulah yang membuat blog saya tampak sepi. Tak banyak ingar bingar orang-orang yang tak saya kenal. Saya ingin membuat pengikut naningisme bertambah secara alami. Lagipula ini adalah blog pribadi, bukan blog jualan apalagi web korporat.

Dari data statistik terlihat yang mengunjungi blog ini ya orang itu-itu saja, dari IP address situ-situ saja. Kadar nyasar tak lebih banyak dari pembaca tetap. Sebagai blogger normal, saya tentu merasa bungah ketika jumlah pengikut makin banyak. (Meski kemudian bakal muncul pertanyaan lanjutan: memang apa pentingnya punya banyak pengikut?)

Melalui postingan yang paling geje ini, saya ingin berterima kasih kepada penikmat dan pengikut setia blog naningisme. Karena kesetiaan Anda membaca, saya akan setia menulis untuk Anda. Selamat menikmati sajian berkualitas nan sarat makna.

 

 Don’t walk in front of me; I may not follow. Don’t walk behind me; I may not lead. Just walk beside me and be my friend. (Albert Camus)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 25, 2013 in How to..

 

Tags: , ,

Image

Delicious Ambiguity

delicious ambiguity

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2013 in Random Thought

 

Tags:

Selalu Ada Setangkup Haru dalam Rindu

ImageTiada yang sebernas lagu Yogyakarta milik KLa Project yang mampu mengoyak perasaan tiap kali saya berkunjung ke Jogja. Selalu ada setangkup haru dalam rindu. Entah rindu kepada siapa. Tapi, saya selalu mengharu biru ketika berada di kota itu. Mungkin rindu untuk kembali. Kembali bersamamu.

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2013 in Random Thought

 

Tags:

Nenteng Kantor ke Mane-Mane…

ImageLEGA. Itu mungkin satu-satunya kata yang tepat untuk mendefinisikan segala rasa di hati pasca mundur dari perusahaan tempat saya bekerja selama delapan tahun terakhir. Sebodo teuing kagak dapet pesangon, kagak dapet gaji terakhir, kagak pake acara salaman dengan orang sekantor, kagak dapet ucapan terima kasih tak terhingga dengan cucuran air mata penuh haru dari pak bos, yang penting eike bebaaass.. *joget-joget*

Meski di surat cinta untuk pak bos tanggal resmi saya mundur itu per 31 Januari 2013, sejak awal Januari saya sudah menikmati hari-hari tanpa harus ngantor lagi. Karena saya yaqqin seyaqqin yaqqin-nya kalo gaji Januari kagak bakal dibayarken, karena satu dan lain hal, dan ternyata perhitungan saya benar adanya. Aha! Gak rugi bandar kitaaa..

Dua minggu pertama, saya benar-benar menikmati hari. Bangun siang, nonton KDrama dan serial investigasi pembunuhan seharian, tidur, males-malesan, nongkrong di tempat-tempat asik, ganggguin temen-temen yang lagi pusing ama kerjaan, you name it lah. Kapan lagi bisa menikmati hari. 

Tapi, ternyata, status “pengangguran” hanya bisa saya nikmati tak lebih dari 14 hari. Kabar saya resign langsung menyeruak ke seluruh jagat (sumpah, ini kalimat lebay), yang membuat saya kebanjiran tawaran kerja sama, mulai dari menulis buku untuk salah satu BUMN hingga mengedit internal magazine sebuah multinational company.

Alhamdulillah. Itu kata yang pas untuk mendeskripsikan segala kesempatan (kedua) yang hadir dalam hidup saya. Sungguh di luar dugaan, project-project itu justru saya dapat dari seorang kawan, bukan kawan dekat — yang tidak pernah terpikirkan bahwa dia akan membantu saya di kemudian hari. Waktu itu saya hanya membantu memberikan ide untuk bukunya dan sedikit membantu proses pengeditan. Ini membuat saya selalu yakin pada skenario Tuhan: there’s no coincidence, because everything is happen for a reason.

Dan, begitu saya mengiyakan tawaran tersebut, saya justru memiliki kesibukan di atas normal. Maklum, saya menjadi penulis pengganti yang harus menyelesaikan buku setebal 200 halaman kurang dari satu bulan. Proses ini berarti mencakup wawancara, transkrip, menulis, mengedit, sampai merevisi tulisan berulang kali – sesuai permintaan klien. Proyek Bandung Bondowoso.

Acara lari pontang-panting ini masih harus ketambahan proses melahirkan dua majalah baru dan mengedit sebuah majalah internal sebuah perusahaan konglomerasi. Plus mengurusi nasib perusahaan digital multimedia – hasil kongsian dengan sesama mantan jurnalis (TV) – yang loading eh jalannya lemot karena modal yang minim beud. Sabar menanti invoice yang tak cair jua, cyn. Lengkap sudah lelahnya.

Status Pengangguran segera berubah menjadi Pengacara — Pengangguran Banyak Acara. Saya mengundurkan diri dari kantor. Saya tak lagi memiliki kantor tetap. Tabungan saya makin menipis. Tapi saya justru menyewa virtual office di jalan Gatot Subroto. Seorang sahabat bilang antara smart dan gendeng itu beda tipis. Sayang, dia tak mau memberi tahu saya berada di bagian mananya, smart-nya atau gendengnya.

Namun, apapun itu, satu impian saya telah terwujud: saya bekerja di rumah. Saya bener-bener nggak suka kalau harus ngantor setiap hari dari pagi sampai sore sepanjang usia produktif, berada di belakang meja, di dalam ruangan (apalagi kubikel kecil), mengerjakan pekerjaan yang sama tiap hari, apalagi kalau sebelum dan sesudahnya harus menikmati kemacetan lalu lintas. Hadeh, bisa-bisa saya gila sebelum waktunya.

Saya menikmati hidup saya yang sekarang. Saya bisa mengatur sendiri durasi dan load kerja berdasarkan tenggat waktu, bukan kuota jam kerja harian ala karyawan. Saya bisa bekerja di mana saja, di rumah, di kafe, di ruang kantor yang sudah saya sewa mahal-mahal, atau bahkan di perjalanan kereta api antar kota antar propinsi. Selama laptop saya terkoneksi dengan internet, itulah kantor (baru) saya…

“A dream doesn’t become reality through magic. It takes sweat, determination, and hard work.”
(Colin Powell)

 
2 Comments

Posted by on February 12, 2013 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , ,