RSS

Monthly Archives: August 2012

Twitter helps adverts be targeted on its network

Twitter has taken further action to encourage advertisers to use it. It will allow marketers to chose from 350 different types of interest to help target the most relevant audience. Users will then be selected based on who they follow, the contents of their previous messages and other behavior on the social network. Facebook uses a similar system.

The company said it would be a more powerful method than just knowing the users’ age or marital status. It is the latest development in Twitter’s profit-making strategy – it started charging firms to post messages identified by a “promoted by…” tag on its network two years ago.

“By targeting people’s topical interests, you will be able to connect with a greater number of users and deliver tailored messages to people who are more likely to engage with your Tweets,” wrote Kevin Weil, Twitter’s director of product management, in a post on the site’s advertising blog. “When people discover offers and messages about the things they care about on Twitter, it’s good for both marketers and users.”

The checklist of categories includes Bollywood movies, pet dogs and television cartoons. Advertisers can also target people with similar interests to specific accounts. It gives the example of an indie band promoter being able to select the accounts of other similar musicians and then have their ads shown to people Twitter thinks like that kind of music. It marks a further attempt by Twitter to sharpen its business strategy.

The social network made changes recently to restrict the creation of third-party applications. Any new app that wants to serve more than 100,000 users must now seek the company’s explicit permission. Critics said it could stifle the development of innovative third-party products.

(As published on bbc.co.uk, Aug 31, 2012)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2012 in Dunia Dalam Berita

 

Tags: ,

Kicauan Tentang Aksi Lumpur Miliaran Rupiah

Setelah gagal mengikuti Kontes Rancangan Bisnis di kampus, Will Dean mengajak sahabat untuk mewujudkan mimpi. Hanya berbekal proposal yang pernah ditolak dan dana Rp73 juta, mereka merintis Tough Mudder. Dalam dua tahun, omzet perusahaan mencapai Rp225 miliar. Semua berkat social media.

William Dean adalah mahasiswa program MBA Harvard Business School yang aktif dan kreatif. Pada 2009, dengan penuh percaya diri, Will mendaftarkan diri untuk mengikuti Kontes Menyusun Rancangan Bisnis (Business Plan Contest) yang secara rutin diadakan kampusnya. Ia menyodorkan proposal bisnis mengenai pertandingan musim semi yang akan diikuti oleh 500 peserta, yang berasal dari masyarakat umum. Secara detil, ia menyusun anggaran kegiatan, marketing, dan rencana sponsorship.

Alih-alih mendapatkan dukungan dari pihak universitas, profesor pembimbingnya justru mematahkan rencana Will. “Business plan ini terlalu optimistis. Anda tidak mungkin mampu mengumpulkan sedemikian banyak orang dalam waktu singkat, apalagi untuk berpartisipasi dalam kegiatan semacam ini,” kata Will, menirukan penuturan professor David Godes, dosen pembimbingnya.

Tak patah arang, Will menggandeng sahabatnya semasa bersekolah di Oundle School in Northamptonshire, Guy Livingstone, seorang mantan pengacara, untuk melanjutkan rencana bisnisnya. Kali ini, mereka merujuk pada sebuah organisasi di Eropa yang sukses menggelar kegiatan serupa selama lima tahun berturut-turut.

Bila organisasi di Eropa itu mengajukan anggaran US$5 juta (setara sekitar Rp36 miliar) per tahun, Will dan Guy hanya mengajukan anggaran tak lebih dari US$8.200 (sekitar Rp73 juta) untuk rentang waktu yang sama. “Profesor hanya geleng-geleng kepala melihat kenekatan saya. Tapi, saya menjadi terpacu untuk mewujudkan rencana bisnis ini,” ungkap Will, seperti dikutip New York Times.

Menyadari hanya memiliki dana terbatas, keduanya amat menggantungkan diri pada social media untuk mencari peserta dan melakukan kegiatan marketing lainnya. Di tahun yang sama, sesaat setelah proposal bisnisnya ditolak Harvard, Will dan Guy bersikukuh mendirikan Tough Mudder, sebuah organisasi bisnis yang menggagas kegiatan olah raga di luar ruang, terutama yang berkaitan lumpur.

Sebenarnya, apa sih rancangan bisnis Tough Mudder yang ditolak mentah-mentah oleh profesor Harvard? Dean, yang pernah bekerja sebagai Counter Terrorism Officer untuk pemerintah Inggris ini, menerangkan bahwa perusahaannya menawarkan jalur lari sepanjang 16-32 kilometer, namun bukan jalur lurus melainkan dengan beragam rintangan. Seperti kubangan lumpur, kolam berisi es batu, hingga rintangan berupa lilitan kabel bervoltase 10.000 volt! “Saya melihat lomba lari maraton atau triatlon terlalu membosankan dan sedikit antisosial, karena tiap peserta ingin menjadi yang terdepan. Di Tough Mudder, peserta boleh saling membantu ketika menghadapi rintangan mahasulit,” kata Will.

Kegiatan lari rintangan ini hanya digelar di akhir pekan. Pada Sabtu dan Minggu, mulai pukul 8.00 pagi, gelombang pelari akan diberangkatkan setiap 20 menit. Namun, sebelum mereka melakukan start, pihak Tough Mudder akan menekankan mengenai teamwork dan aturan lomba, termasuk meninggalkan lumpur dan sampah di lokasi finish.

Di area finish, pihak Tough Mudder menggandeng entrepreneur lokal untuk mengisi bazar, seperti booth yang menyediakan makanan, minuman, baju, hingga rajah tato. Dari sini terlihat bahwa perusahaan mendapatkan pemasukan dari biaya pendaftaran peserta, tiket masuk bagi masyarakat atau keluarga yang tidak mengikuti lari rintangan, serta biaya pendaftaran dan fee dari bazar.

Menggelembung Berkat Social Media

Singkat cerita, dengan anggaran yang terbatas itu, Tough Mudder mulai membangun rintangan. Untuk biaya pemasaran, di tahap awal, mereka hanya menganggarkan US$20 (Rp180.000) untuk memasang iklan di Facebook, selain aktif berkicau di Twitter, mengunggah video di YouTube, atau memperbarui data kegiatan di LinkedIn, Google+ , dan blog.

Kedigdayaan social media untuk mempromosikan kegiatan Tough Mudder memang luar biasa. Kegiatan pertama Tough Mudder dihelat pada Mei 2010, di resor ski Bear Creek, dekat Allentown, Pennsylvania, AS. Bila di atas kertas Will menargetkan akan ada 500 peserta, ternyata di Hari H ada 4.500 peserta yang datang. “Ini benar-benar di luar perkiraan kami,” cetus Will, bungah. Di tahun yang sama, mereka juga menggelarnya di Northern California dan New Jersey.

Pada 2011, mereka menggelar kegiatan di Texas, Georgia, Pennsylvania, Vermont, Southern California, Colorado, Wisconsin, Northern California, Texas, Virginia, New Jersey, Indiana, dan Florida. Tahun ini, Tough Mudder menjadwalkan akan menggelar 35 kegiatan di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Inggris. “Tahun depan kami akan menggelar sekitar 60 kegiatan di seluruh dunia,” tegas Will, sembari menyebutkan beberapa negara Eropa, Jepang, Selandia Baru, dan Afrika Selatan sebagai calon tuan rumah, pada 2013.

Untuk mengikuti kegiatan selama dua hari penuh itu, tiap peserta harus membayar biaya pendaftaran antara US$90 (Rp810.000) hingga US$155 (Rp1,4 juta). Padahal, jumlah peserta terus membeludak. Kini di tiap venue, ada sekitar 15.000 hingga 20.000 peserta yang berpartisipasi.

Menurut catatan perusahaan, mereka mendapatkan omzet lebih dari US$2 juta (Rp18 miliar) di tahun pertama penyelenggaraan dan berlipat menjadi US$25 juta (Rp225 miliar) di tahun kedua. Sayangnya, Tough Mudder belum merilis pendapatan mereka di tahun ini.

Tentu saja, karena kegiatan membesar, otomatis Will dan Guy membutuhkan lebih banyak karyawan. Bila sebelumnya mereka hanya mempekerjakan 45 orang, kini ada 4.000 lamaran yang masuk, termasuk untuk posisi pengelola akun social media. Maklum, di Facebook mereka memiliki sekitar 2,2 fans dan 52.667 follower di Twitter.

Dalam salah satu artikelnya, Forbes menyebutkan Tough Mudder berhasil meningkatkan popularitas melalui social media, selain aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Dengan anggaran pemasaran yang terbatas, perusahaan mampu mencapai kesuksesan. Dalam Social Media Marketing Industry Report 2012, menunjukkan bahwa social media mampu mendongkrak popularitas perusahaan dan produk/jasa yang ditawarkannya, ini berarti social media berhak dimasukkan dalam komponen bauran pemasaran (marketing mix).

Dari laporan survei tersebut diketahui bahwa mayoritas reponden, yakni para entrepreneur atau eksekutif yang aktif mengakses social media, mengakui bahwa dengan menggunakan social media marketing akan ada peningkatan pengetahuan masyarakat akan perusahaan/produk mereka, peningkatan traffic, peningkatan loyalitas merek, dan peningkatan peringkat pencarian di internet. Menurut laporan tersebut, perusahaan yang mengintegrasikan social media dalam bauran pemasaran, paling tidak dalam tiga tahun, mampu meningkatkan penjualan hingga 58%.

Tentu saja, Tough Mudder memiliki strategi cerdas dalam melakukannya, tak hanya asal mengunggah video atau berkicau di dunia maya. Tim kreatif dan social media di bawah kepemimpinan Will dan Guy berhasil membangun citra perusahaan dengan baik. “Tak diragukan lagi, social media telah mengubah cara berbisnis dan memperkenalkan produk kami kepada masyarakat,” tegas Will. $$$ ARI WINDYANINGRUM

(As published on Majalah DUIT! ed 09/September 2012)

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2012 in Smartpreneur

 

Tags: , , ,

Bahasa Inggris Berawal dari Turki?

Bahasa Inggris ternyata adalah turunan dari bahasa yang pernah muncul di Turki 8000-9500 tahun lalu, menurut sebuah penelitian.

Para ilmuwan merunut asal semua bahasa Indo-Eropa ke Anatolia, kawasan kuno di Asia barat yang kini menjadi Turki modern. Bahasa Indo-Eropa mencakup spektrum bahasa yang luas, Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, Rusia, Polandia, Persia, Hindi, serta Yunani kuno termasuk di dalamnya. Para ilmuwan percaya semua bahasa ini berasal dari nenek moyang sama.

Para pakar berpikir bahwa bahasa-bahasa Indo-Eropa menyebar dari Timur Tengah seiiring dengan pertanian. Ilmuwan yang dipimpin oleh Remco Bouckaert dari University of Auckland di Selandia Baru mencari sumber bahasa-bahasa Indo Eropa menggunakan metode dari ahli biologi evolusi. Caranya, para peneliti mencari ‘cognate’ atau kata-kata dengan asal yang sama. Satu contoh adalah “mother”, “mutter” (Jerman) dan “madre” (Spanyol) yang berarti ibu. Kesamaan kata ini tidak mungkin muncul secara kebetulan.

Dengan membuat model evolusi ratusan kata-kata sama, para peneliti berhasil menemukan tempat lahir bahasa Inggris, yaitu kawasan yang kini adalah Turki modern. Penelitian ini diterbitkan di jurnal Science.

(as published on Yahoo! Indonesia/Press Association)

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2012 in Bicara Bahasa

 

Tags: , ,

2 Jam untuk 5 Menit

Menyandang predikat sebagai old city, bila dilihat dari sejarah pendiriannya, Ngayogyakarta Hadiningrat selalu memberi pelajaran baru bagi siapa saja yang singgah. Seperti lebaran kali ini, saya dan keluarga mudik ke Jogja. Lahir di Surabaya lalu berkarir di Jakarta, membuat “darah” Jogja saya sedikit “luntur” (Baca: tipikal Putri Keraton yang sabar telah musnah, dan berganti menjadi tipikal Premanwati yang gabrukan hehehehe..).

Sepertinya, keluarga besar tahu strategi untuk “mengembalikan” saya ke jalan yang benar adalah dengan Diplomasi Sepiring Nasi.  Malam itu, kami berencana makan bakmi Jowo. Tante sudah melakukan reservasi sejak pukul 18.00. Batin saya, ini restoran semegah apa sih, mau makan aja wajib reservasi.

Hanya butuh sepuluh  menit untuk mencapai Bakmi Jowo Pak Furqoni yang terletak di kawasan Jogokaryan. Tak ada yang istimewa. Hanya warung kecil dengan empat meja yang berada di teras sebuah rumah. Di gerobak nasgor, tergantung tiga ekor ayam bugil yang sudah dinyatakan tewas. Ini sih gak ada bedanya dengan warung nasgor yang ada di Jakarta.

Namun kemudian saya melihat dua anglo dengan dua wajan kecil yang nangkring di atasnya. Perasaan saya langsung nggak enak. Begitu tante saya muncul, si ibu penjual langsung menyapa ramah. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini:

“Jeng-jeng, kapan makanan kami siap?” tanya tante.

“Sebentar ya jeng (langsung liat buku catatan). Sekitar jam tujuh seprapat ya jeng..” jawab si ibu.

Saya langsung melihat jam dinding yang dipasang tepat di dekat pintu masuk. Set dah, sejam lagi? Perut sudah mulai kukuruyuk.  Seporsi demi seporsi makanan dimasak. Ternyata, di warung Bakmi Jowo Pak Furqoni ini memang memakai sistem reservasi. Meski yang beli belum datang, makanan sudah dimasak terlebih dahulu. Si ibu penjual, yang merangkap sebagai kasir dan manager on duty, selalu memberikan ancar-ancar waktu kapan makanan siap.

Semenit, dua menit, sepuluh menit berlalu. Teh manis hangat yang berada di depan saya perlahan menyusut. Isinya berpindah ke dalam tubuh. Sabar.. sabar.. ini namanya ujian kesabaran ya nduk. Satu jam berlalu, saya mulai harap-harap cemas. Mudah-mudahan prediksi ibu penjual pas. Abis ini makanan kami siap.

Ternyata oh ternyata, sebelum kami reservasi ada satu keluarga yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu, datang tak lama setelah kami duduk. Serombongan 10 orang! Dan, ini parahnya, tiap-tiap orang punya special request. Ada yang pesen bihun rebus gak pake vetsin (ini mah biasa), ada yang pesen mi goreng tapi sayurannya dimasukin terakhir biar masih kriuk-kriuk, ada yang pesen magelangan tapi mi-nya campur antara mi kuning dan bihun, ada yang  mau mi rebus dengan telur bebek ceploknya ¾ matang, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Sebenarnya mau ada special request atau tidak, sama saja. Karena si bapak koki memasak seporsi demi seporsi. Jika satu porsi lama pembuatannya sekitar 5 menit, berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 10 porsi? Silakan hitung sendiri. Tapi, ini untungnya, ada dua anglo yang tersedia.

Makin malam, makin banyak pengunjung yang hadir, selain telepon masuk untuk reservasi . Si ibu penjual selalu sigap membaca buku catatan sebelum menjawab, “Nanti makanan baru bisa dimasak pukul 21.30 yaaa..” Padahal waktu si pengunjung datang, jarum jam belum genap menunjukkan pukul 20.00. Walah! Ini sih bener-bener ujian kesabaran. Tak terhitung lagi calon konsumen yang memilih balik kanan ketimbang harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan pesanannya. Tampaknya, si bapak penjual tak masalah ketika menghadapi banyak pengunjung yang batal pesan.

Tepat pukul 20.10, sepiring cabe rawit terhidang. Makanan pembuka? Bukaann.. ini adalah pertanda makanan kami tengah disiapkan. Lima menit kemudian, dua porsi nasi goreng terhidang. Alhamdulillah, setelah menunggu dua jam… Penantian yang sepadan. Rasanya memang enak.

Kisah selesai? Belum. Ternyata, saya hanya butuh lima menit untuk menghabiskan sepiring nasi goreng Jawa — yang saya nantikan selama dua jam! “Ini masih mending, sekarang ada dua anglo. Beberapa bulan lalu, masih satu anglo,” kata om saya, sembari menikmati Bakmi Jowo rebus yang fenomenal itu. Sabar.. sabar.. sabar…

“If you are patient in one moment of anger, you will escape a hundred days of sorrow.” (Chinese proverbs)

 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2012 in Smartpreneur

 

Tags:

Sorryman Returns

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2012 in Random Thought

 

Tags: ,

Indonesia Bangkit

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2012 in Random Thought

 

Tags: ,

Merdeka!

Merdeka itu bukan berarti semau gue. Merdeka itu bukan sekadar mengumbar kalimat “Kebebasan”. Merdeka itu bukan asal membangkang dan menentang yang berseberangan. Merdeka itu bukan berarti bebas menginjak mereka yang minoritas. Merdeka itu bukan berarti boleh menghamburkan hasil kekayaan alam semaunya.

Merdeka itu berarti ikhlas merawat bangsa meski pemerintahnya centang perenang. Merdeka itu berarti bersikukuh untuk tetap berdiri di saat seluruh mimpi dihancurkan oleh para pecundang negeri. Dirgahayu Indonesia! Semoga kita makin memahami arti Kemerdekaan yang sesungguhnya.

 

Kita selamanya akan terjajah kalau mentalnya masih inlander, alergi terhadap asing, merasa kaya, dan banyak orang pinter yang minteri. (Widjajono Partowidagdo)

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2012 in Random Thought

 

Tags: , ,