RSS

Monthly Archives: September 2013

Readers Don’t Want to Wait until Tomorrow

Image

Satu dekade lalu, untuk mendapatkan berita, masyarakat Indonesia masih mengandalkan koran, majalah, televisi, atau radio. Kini, masyarakat mulai beralih ke internet. Adanya koneksi internet di berbagai gadget, mulai laptop, tablet, iPad, hingga telepon selular (ponsel), memungkinkan masyarakat mengakses sumber berita lebih cepat, tanpa harus menunggu koran esok hari atau majalah yang terbit minggu depan, atau siaran TV nanti malam.

Akamai Intelligent Platform menerbitkan State of the Internet Report terbaru. Menurut laporan itu, kini ada 733 juta alamat IPv4 individual dari 243 negara/wilayah. Angka ini memperlihatkan bahwa penetrasi internet global tumbuh 10% per tahun. Dari laporan berbeda terungkap bahwa di Indonesia, sebanyak 13% dari total penduduknya atau sekitar 30 juta orang telah menggunakan internet. Data ini tentu mengubah peta industri media konvensional. Mereka harus mau menyesuaikan diri jika ingin tetap bertahan.

Menurut World Association of Newspaper, ada perbedaan antara media lama dan media baru. Karakteristik media lama adalah kontrol berada di tangan pemilik, iklan disajikan untuk semua orang, ukuran produknya sama, diterbitkan dan didistribusikan sekali, serta penjualan yang fokus pada brand awareness. Sedang karakteristik media baru adalah kendali ada di konsumen, hanya terbit sekali namun didistribusikan berkali-kali, serta fokus penjualan pada preferensi, daya beli, dan retensi.

Selain itu, masyarakat masa kini mengkonsumsi informasi dari berbagai platform. Kalau di media cetak hanya pada jam-jam tertentu, media online—karena kepraktisan dan kecepatan penyajian—menjadi bisa sepanjang waktu. Menurut Survei Digital Kompas pada 2012, di pagi hari antara jam 05.00 hingga 07.00 masyarakat cenderung mengakses berita melalui koran dan televisi. Memasuki jam 10.00 hingga 13.00, masyarakat mengakses informasi melalui televisi atau jejaring sosial (internet) baik melalui gadget PC, laptop, atau ponsel. Sedang malam hari masyarakat mengakses berita melalui televisi.

Dari sisi kedalaman berita, media cetak hanya bisa masuk pada tahap pengembangan, tindak lanjut, dan kesimpulan. Sebab, masyarakat harus menyediakan waktu khusus untuk membaca koran atau majalah. Sedang media online dan televisi bisa diakses secara lebih fleksibel dan lebih cepat. Namun, tak bisa dipungkiri, validitas masih dipegang oleh media konvensional, seperti koran dan majalah.

Dari kacamata bisnis, menurut Bryne Partnership Limited, sejak 2009 hingga 2012 terjadi penurunan porsi iklan di media cetak. Sementara iklan di internet meningkat, walau itu didominasi oleh search engine seperti Google dan Yahoo (70% dari share internet). Sedang data dari World Association of Newspapers and News Publishers (WAN IFRA) 2011, untuk Asia Tenggara menunjukkan bahwa media televisi mendominasi perolehan iklan, diikuti media cetak dan online.

Itulah perubahan yang terjadi di bisnis media sekarang ini. Walau baru memiliki pengalaman satu dasawarsa lebih sedikit di bisnis media, saya merasakan sekali betapa perubahan di bisnis ini begitu cepat. Saya pernah memimpin sebuah media yang harus ambruk gara-gara kami tak siap (atau belum siap) menghadapi segala perubahan ini, terutama dari sisi perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat dan perubahan profil demografi pembaca.

Untuk bisa selamat, para pemimpin media tak bisa lagi hanya berharap keberuntungan oplag penjualan di lapak –apalagi menyombongkan diri karena memiliki sekian reporter siap tempur. Pesaing utama media saat ini adalah citizen journalism. Hanya dengan mengabarkan via jejaring sosial, semua orang tahu. Bahkan, reporter pun kadang mengetahui ada kejadian penting setelah memantau dunia maya.

Profil demografi pembaca yang semakin muda membuat cara pembaca dalam mencari berita pun berubah. Jika dulu mereka masih mau menunggu koran esok pagi, kini tidak lagi. Pembaca ingin mendapatkan informasi lebih cepat (dan tentu saja seharusnya tetap tepat dan akurat!). Bahkan, kalau bisa, berita terbaru dapat mereka ketahui dalam hituangan detik. Di sini, media online, televisi, dan radio jauh lebih unggul ketimbang media berbasis cetak –yang membutuhkan sekian waktu untuk menyelesaikan segala proses produksi.

Perubahan selera konsumen dan adanya media elektronik tentu mengubah wajah industri media. Bagi pelaku media konvensional yang tidak cepat tanggap, mereka akan tergulung dan kehilangan pembacanya (trust me, it’s really happen). Namun, bagi media yang sadar dengan fenomena ini, mereka bisa mengubah ancaman menjadi peluang. So, be prepared!

(a sneak peek of my next book)

“New media is like a megaphone. It amplifies your ability to reach more people.” (Mark Batterson)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2013 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , , ,

Image

Surrender to the Wind

Surrender to the Wind

Something amazing happens when we surrender and just live to love. We melt into another world, a realm of power already within us. The world changes when we change. The world softens when we soften. The world loves us when we choose to love the world.

 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

An In-betweener

Image

Kalo saja ada organisasi nirlaba yang memberikan Move On Award kategori Per-galau-an, mungkin saya bakal mendaftarkan diri. Siapa tahu menang. Banyak keputusan untuk move on yang saya lakukan sepanjang tahun ini. Ada yang berhasil, ada yang gagal (baca: masih juga galau melangkah).

Keputusan move on paling heroik saya lakukan di awal 2013. Dengan gagah berani saya mengajukan surat pengunduran diri ke pakbos supergeje. Banyak alasan yang mendasari keputusan itu. Tak perlu saya sebut semua. Namun, satu hal yang pasti saya mengambil keputusan itu demi diri saya. Saya ingin menerima kesempatan baru dan orang-orang baru yang bisa membuat hidup saya lebih bahagia.

Percayalah, menjadi seorang jurnalis bisa membuat Anda memenangkan dunia. Tapi tidak membuat Anda memenangkan kehidupan pribadi Anda sendiri. But, still I am proud to be a journalist. Menjadi freelance journalist memberikan saya kesempatan untuk berada di dua dunia – antevasin, in-betweener, sebelum saya yakin untuk menapaki dunia baru. Saya yakin untuk profesi apapun yang menuntut komitmen 100% pada tugas dan Anda berniat berpindah haluan, hal ini juga bakal berlaku. Semuanya pake step by step cyynn.. Nggak bisa langsung pindah jebret. Ntar kaget.

Bila saatnya tiba, saya akan menyerahkan diri sepenuhnya pada kehidupan yang paling pribadi: keluarga. Saya ingin menjadi istri dan ibu yang baik. Sebuah babak baru. Saat ini saya sedang belajar menapaki fase itu. Meski belum tertebak endingnya, satu hal yang pasti, saya amat bersyukur dan menikmati fase dan kesempatan ini. Saya anggap ini sebagai jembatan bagi saya untuk 100% move on.

Saya yakin ketika saya berani melangkah, pasti ada kehidupan yang lebih baik di depan saya. Bukankah kita tidak bisa menemukan hal-hal baru (dan baik) di luar sana kalo kita nggak berani jalan ke garasi, buka pintu mobil, menghidupkan mesinnya, dan memacunya ke tempat tujuan kita?   *eits, tentu saja sudah pake acara buka pintu garasi ya, kecuali Anda memang berniat menabraknya hehehehe…*

“It’s for the best. I know it is. I’m choosing happiness over suffering. I know I am. I’m making space for the unknown future to fill up my life with yet to come surprises.” (Elizabeth Gilbert, Eat, Pray & Love)

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , , , , ,

Image

Terjatuh

Terjatuh

Mengapa yang jatuh mengaduh? Karena yang jatuh tak lagi akan utuh. Begitu pula jatuh Cinta. #romantismegeje

 
Leave a comment

Posted by on September 28, 2013 in Random Thought

 
Image

Peacefully Move On

Peacefully Move On

The truth is, unless you let go, unless you forgive yourself, unless you forgive the situation, unless you realize that the situation is over, you cannot move forward. But sometimes, the hardest part isn’t letting go, but rather learning to start over.

 

 
Leave a comment

Posted by on September 23, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Video

Da Vicky Code

Sebenernya, secara nggak sengaja saya nonton acara press conference pertunangan Zaskia Gotik (Goyang Itik, bukan Gothic yang aliran seni bangunan itu..) dan Vicky Prasetyo (yang belakangan baru diketahui kalo itu juga nama alias dari Hendaryanto) di acara gosip Cek & Ricek di RCTI. Waktu itu, saya udah mulai curiga dengan bahasa-bahasa aneh yang dari si tokoh pria ini.

Oleh karena nontonnya hanya sepintas lalu, saya pikir cuma kuping saya yang error atau otak saya yang lagi hang. Tapi, begitu video editannya muncul di Youtube, saya baru ketawa ngakak. Ooohh.. ini toh yang kapan hari itu. Ternyata emang bahasanya yang kacau, bukan saya yang kurang intelek hehehe..

Berikut quotation dari si mas Vicky:
“Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.”

“Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan.”

“Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga…”

*hening sejenak* *berpikir keras*

Apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan? Kalimat-kalimat yang diucapkan mas Vicky memang setinggi langit. Sungguh sulit untuk dipahami. Rumit. Ini adalah Da Vicky Code yang harus segera dipecahkan!

BIsa ditebak, di tengah masyarakat Indonesia yang gampang banget terpengaruh ini kata-kata mas Vicky ini lantas jadi booming. Diikutin. Maka, timbullah aliran Vickynisme atau Vickynisasi. Kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisisasi, kudeta, statusisasi bla bla bla..

Menurut Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud), Sugiyono, seperti dikutip Republika, wabah bahasa Vickinisasi ini termasuk penyakit bahasa. Dalam ilmu linguistik disebut intervensi. Orang menggunakan menggunakan bahasa Indonesia dicampur asing walau tidak pas.

Menurut Sugiyono, apa yang terjadi pada fenomena ‘Vickinisasi’ sebanarnya lebih pada penyakit gejala sosial daripada gejala linguistik. Ia menciptakan istilah bahasa-bahasa baru, agar dipandang pintar oleh masyarakat yang lain.

Si Vicky ini seolah menjadi gambaran orang-orang jaman sekarang (termasuk para pejabat negeri ini, yang tak akan saya sebut nama daripada ntar kena UU ITE hehe..). Biar keliatan keren dan pinter mereka pake basa Indonesia gado-gado. Dan, sialnya (atau hebatnya) istilah-istilah kacau ala Vicky ini secara sadar maupun tidak sadar diikuti oleh masyarakat. Termasuk saya, atau mungkin juga Anda. Mungkin ini sebuah konspirasi kemakmuran agar tak terjadi labil hati.

Ah, saya jadi inget pengalaman pengen nampol orang-orang yang ngomong ciyus miapah akhir tahun lalu. Percayalah, gejala (atau kata si bapak ini penyakit) bahasa Vickinisasi ini gak bakal bertahan lama.

 
Leave a comment

Posted by on September 14, 2013 in Bicara Bahasa

 

Tags: , ,

Image

No Longer Being a Ghost Writer (for a while)

No Longer Being a Ghost Writer (for a while)

Akhirnya buku Shopping Saham Modal Sejuta! edar juga…

Kapan tepatnya buku ini mulai nongol di rak toko buku Gramedia, saya dan Jere sebenernya nggak ngeh. Taunya, ada pembaca yang kirim e-mail ke akun resmi kita nanyain soal Gain Institute, cikal bakal lembaga training buat investor saham yang dibuat sepaket ama kehadiran buku ini.

Buku ini intinya tentang belajar berinvestasi saham. Bener-bener dari NOL, buat kelas pemula biar gak jiper dengan jenis investasi ini. Mulai dari pengetahuan dasar tentang investasi, istilah-istilah saham, sampai cara ngitung return yang bakal di dapat. Di buku ini pembaca gak bakalan nemu tulisan yang ngajari gimana dapet untung sekian puluh juta hanya dengan modal sejuta. Karena buku ini memang bukan jenis short cut buat dapetin return yang super gede dalam waktu super singkat — seperti yang banyak ditawarkan buku jaman sekarang.

Saya ama Jere sepakat buat fair dalam menulis. Selain yang indah-indah dalam dunia investasi saham, kita juga nunjukin potensi kemungkinan terburuk yang bakal diterima. Tapi, di antara dua kutub good and bad ini, kita ngajarin cara mengurangi risiko kerugian (ini yang paling penting). Gaya bahasa buku ini sengaja dibikin ringan. Karena kita pengen menjelaskan istilah langitan ke bahasa yang lebih membumi.

Proses penyusunan buku ini cukup singkat. Untuk proses menulisnya hanya sekitar satu bulan karena kita berdua adalah jelmaan Bandung Bondowoso yang mampu membangun 999 candi dalam semalem hahahaha.. Gak ding. Intinya kita memang punya speed menulis yang cukup tinggi, tapi dengan akurasi tetep terjaga. Dan, beruntung, editor kita, si om Dharma, juga tipe pekerja cepat. Jadi overall, penyusunan buku ini gak lebih dari tiga bulan. From scratch. Dari sekadar ngopi sore-sore di Pacific Place, menulis, editing, sampai draft cetak.

Satu hal yang perlu dicatat, setelah belasan tahun jadi jurnalis dan melahirkan ratusan (atau mungkin ribuan) tulisan, Shopping Saham Modal Sejuta! adalah buku pertama yang mencantumkan nama saya di sampul. Officially as a writer. No longer being a ghost writer.

Apa itu ghost writer? Ghost writer sering disebut sebagai penulis bayangan atau penulis profesional yang dibayar untuk menyusun buku, teks, pidato, skenario film, lirik lagu — anything. Bedanya dengan penulis biasa, ghost writer tidak mencantumkan namanya, tapi justru mencantumkan nama orang lain yang menggunakan jasanya. Ini adalah profesi legal.

Bukan karena saya merupakan salah satu ghost writer di muka bumi ini, lalu saya berkoar bahwa ghost writer adalah profesi yang cukup bergengsi. Di negara maju (dan sekarang mulai merambah negara berkembang), para tokoh, pengusaha, politisi, selebriti menyewa jasa mereka untuk menuliskan buku, artikel, teks, pidato, skenario film, lirik lagu, dll dll dll. Misalnya, Obama punya speechwriter (ghost writer khusus untuk bikin speech/pidato) si mas Jon Favreau yang ganteng itu. Profesi ini juga pernah difilmkan di tahun 2010 dengan pemain Ewan McGregor ama Pierce Brosnan.

Pada dasarnya, sistem kerja ghost writer seperti redaktur, yaitu menulis. Tapi, bedanya, ghost writer gak cuma merapikan draft tulisan yang dikirim reporter, tapi bisa jadi ia menulis ulang (re-write) hasil tulisan yang dibikin klien. Atau membuat tulisan dari hasil mewawancarai klien, karena klien memang nggak bisa atau nggak sempat nulis.

Intinya, ghost writer harus mampu menulis sesuai logika berpikir dan gaya bahasa si klien. Seolah dia adalah penjelmaan si klien. Ini yang kadang gak dimiliki penulis biasa. Ghost writer gak boleh memasukkan opini pribadinya dalam tulisan, tapi bener-bener hanya penyambung isi otak klien ke hasil tulisan. Layaknya hantu, nama ghost writer gak boleh menunjukkan penampakannya. Yang boleh muncul adalah nama klien atau orang yang membayarnya.

Anyway, daripada hanya membahas profesi ghost writer, I am proud to announce that my latest book, “Shopping Saham Modal Sejuta!” is now available in bookstore near you. Enjoy reading 🙂

 
5 Comments

Posted by on September 8, 2013 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , ,