RSS

Monthly Archives: December 2013

Video

Iklan Menyentuh Hati dari Lifebuoy

Saya menemukan iklan Lifebuoy versi Saving Life (India) ini tanpa sengaja. Via Youtube. Biasanya, saya selalu tak sabar meng-klik tulisan “skip ad” pada iklan yang mejeng sebelum video favorit diputar di Youtube. Tapi, tidak demikian dengan iklan Lifebuoy yang ini. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Menikmati iklan itu dari awal sampai akhir, sampai habis tiga menit penuh.

Tak seperti iklan sampo atau obat batuk yang diawali dengan musik atau voice over penuh semangat, iklan Lifebuoy besutan Lowe Lintas and Partners ini justru diawali dengan suara lenguhan sapi dan ciap ayam. Ini aneh. Ini iklan apa trailer film?

Rasa penasaran makin dibangun berbarengan dengan rasa penarasan si anak ketika melihat jejak tangan di tanah (0:10). Iki tangane sopo? Selanjutnya kita akan dibuai dengan musik India-he yang penuh kendang-kempul itu, tanpa menyadari si pembuat iklan dengan cerdasnya telah mengikat penonton untuk memperhatikan alur cerita iklan sampai habis.

Hingga pada detik ke-20, si Muthu, bocah kecil yang penasaran, menemukan ayahnya sedang berjalan dengan kedua tangannya menuju sebuah tempat. Masyarakat pun ramai-ramai mengikuti ayah Muthu (termasuk saya dan penonton iklan ini), juga seorang turis perempuan yang penasaran dengan serombongan penduduk lokal melintas persawahan dengan hebohnya (menit 1:10).

Turis perempuan itu pun akhirnya mengikuti rombongan hingga ayah Muthu berhasil mencapai bukit – dengan segala rintangan medan – dan bertemu pendeta. Ternyata, si ayah ini hendak mengucap syukur pada Tuhan bahwa hari itu Muthu berulang tahun yang ke-5.

“Apa pentingnya usia ke-5?” tanya si turis perempuan (menit 2:15), seakan mewakili rasa penasaran seluruh penonton. Ternyata, si ayah sangat bersyukur karena Muthu merupakan anak satu-satunya yang berhasil hidup selamat sampai usianya menginjak lima tahun. Trenyuh!

Di India, dan mungkin di negara berkembang lainnya, angka kematian bayi dan balita masih cukup tinggi. Penyakit semacam diare dan pneumonia digadang menjadi penyebab utama. Di sini, Hindustan Unilever (via Lifebuoy) dengan cerdasnya menggagas iklan yang mengedukasi pentingnya cuci tangan (tentu saja pake sabun Lifebuoy!)

Pendekatan iklan Lifebuoy versi Saving Life ini benar-benar menyentuh alam bawah sadar manusia mengenai pentingnya mencuci tangan, diperlihatkan dengan betapa bersyukurnya si ayah karena Muthi berhasil selamat sampai usia lima tahun dan kalimat penutup yang mak jleb! “Lebih dari 2 juta anak di bawah 5 tahun meninggal akibat diare dan pneumonia.”

Tidak sekadar menyajikan iklan kampanye cuci tangan dengan visualisasi bocah-bocah SD berlarian melintasi pipa-pipa panjang berujung keran dan mencuci tangan ramai-ramai pake sabun di depan sekolah, Ah, ini mah resep estede bangetttt..

Bila iklan yang tayang di Youtube (dan Facebook) berdurasi tiga menit, pihak Hindustan Unilever juga akan membuat versi 90 detik untuk tayang di televisi. Chief Creative Officer R. Balki dan Creative Director Amer Jaleel berhasil memberikan arti baru mengenai periklanan. This is the new advertising – where you don’t advertise.

 
4 Comments

Posted by on December 24, 2013 in Pariwara dan Para Pewarta

 

Tags: , , , , ,

Manusia

Image

Isa a.s datang membawa kasih. “Kasihilah seterumu dan doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw datang membawa rahmat. “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit akan merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya. Karena itu keduanya bangga dengan kemanusiaan.

 
Leave a comment

Posted by on December 23, 2013 in Random Thought

 

Tags: ,

Image

View From My Window

View From My Window

I took this picture this morning. Feel lucky when I got a clear view of the mount Salak, Bogor, West Java. But, I don’t think I can enjoy this beautiful scene again, since the apartment was in excellent condition planning on staying there – about 500 meter in front of my window – in the very near future.

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2013 in Random Thought

 

Tags: , ,

Mereka Ada di Luar Sana..

Image

Saya menulis artikel ini di tengah ‘tsunami naskah’. Di mana saya harus menyelesaikan editing puluhan naskah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Percayalah, ini bukan artikel curcol mengenai sulitnya mengedit naskah yang ditulis bukan oleh jurnalis profesional atau deadline mepet. Tapi saya ingin sharing mengenai keadaan di luar sana yang tertulis di artikel-artikel yang sedang saya hadapi saat ini.

Kebetulan saya menemukan beberapa artikel mengenai kegiatan Posyandu. Yup, kegiatan timbang menimbang bayi dan balita di Pos Pelayanan Terpadu itu. Di beberapa artikel, ibu-ibu Persatuan Istri Karyawan dan Bidan Kecamatan mengeluhkan bagaimana Kader Posyandu yang turn over-nya tinggi dan nggak paham dengan materi dasar Posyandu. Mereka pun lalu menggagas pelatihan privat bagi para kader, one on one, agar para kader paham bener dan gak malu buat bertanya.

Materi yang diberikan antara lain mengenai dasar-dasar kesehatan bayi dan balita (oke lah, kan ini Posyandu). Selain itu, mereka juga mengajari kader untuk mengisi dan mengolah data. Baiklah, mengolah data memang sedikit sulit, harus ada tekniknya, tapi mengisi data? Uhm, bukankah itu hanya mengisi kolom yang ada? Menurut bu Bidan memang seperti itu, hanya mengisi kolom. Tapi, masalahnya di desa-desa di pedalaman sana, kadang para Kader yang tidak memiilki pendidikan tinggi pun kesulitan untuk menentukan apa yang mau ditulis.

Mereka juga mengajari para kader mengenai 5 Langkah Kegiatan Posyandu, yakni tugas-tugas kader di hari buka Posyandu. Mulai menulis nama bayi/balita dan ibunya, menimbang bayi/balita, mencatat berat, mengisi KMS, memberikan sosialisasi kesehatan, imunisasi, pelayanan KB, memberikan makanan tambahan dan vitamin, dsb. Okelah, soal ini orang awam seperti saya pun harus belajar biar ngerti.

Kemudian, mereka juga mengajari cara mengatur meja, alur pergerakan para peserta Posyandu (abis dari meja ini trus ke meja itu, dsb), dan soal menerapkan disiplin kepada ibu-ibu yang datang. Sebab, selama ini para peserta Posyandu berebutan menimbang bayi dan balitanya, lalu buru-buru mengambil jatah makanan tambahan, lalu pulang. That’s it. Tanpa mau mendengarkan sosialisasi kesehatan.

Sesaat setelah membaca kalimat demi kalimat dalam artikel itu, saya tercenung…

Banyak hal yang membuat saya berpikir dan tersadar. Pertama, tidak semua orang beruntung mendapatkan pendidikan tinggi dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Selama ini seringkali saya menyamakan orang lain bisa mengikuti cara berpikir saya. Saya suka bete kalo ketemu orang yang udah diajari tapi nggak ngeh-ngeh juga.

Selama ini saya mendapatkan ‘kenikmatan’  karena berada di lingkungan yang memilki kebiasaan, cara berpikir, dan tingkat pendidikan/kecerdasan yang hampir setara. Saya salut kepada rekan-rekan yang berada di lapangan, di luar sana, di desa antah berantah, di pulau yang mungkin tidak tertera di peta Republik Indonesia, yang sering berinteraksi dengan mereka yang kurang beruntung dalam hal pendidikan namun tetap sabar. Ternyata, secara tidak sadar, saya sudah menjadi ‘orang kota yang menyebalkan’…

Kedua, ini yang paling krusial, soal sosialisasi kesehatan. Kalimat “para peserta Posyandu (yang datang) berebutan menimbang bayi dan balitanya, lalu buru-buru mengambil jatah makanan tambahan, lalu pulang” membuka mata saya bahwa masih banyak perempuan di luar sana yang ‘hanya’ peduli makanan tambahan (yang sehat dan pasti gratis – hal kedua yang paling penting), tanpa peduli ilmu tambahan.

Bagaimana ibu-ibu itu bisa memastikan kesehatan anak-anaknya kalau mereka nggak ngerti apa yang harus dilakukan? Saya nggak yakin mereka bakal buru-buru ke dokter, baca buku/majalah kesehatan, apalagi googling mengenai penyakit yang diderita keluarganya. Paling banter beli obat OTC di warung terdekat, yang nggak ngerti expired-nya udah lewat apa belum atau malah apes dapet obat palsu.

Ibu adalah kunci dari keberlangsungan sebuah bangsa. Rusaklah mental dan moral seorang ibu, maka rusaklah mental dan moral sebuah negara (hello, thanks to sinetron yang berhasil ‘merusak nalar’ ibu-ibu di negeri ini). Sebab, di tangannyalah anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dibentuk. Ketika seorang ibu mendidik anak secara salah, maka seumur hidup anak itu akan kehilangan arah (beruntung kalau si anak pas gede bisa nyadar). Kalau terus dibiarkan, ini bakal menjadi siklus yang tak terputus.

Maka, wahai kalian, kalo ada program pemberdayaan wanita, jangan dicemooh. Masih banyak perempuan di luar sana yang gak dapat akses informasi, pendidikan, kesehatan, dsb. Kalau ada perempuan di luar sana yang berhasil, saya akan mengangkat topi lebih tinggi karena mereka mampu menghadapi rintangan lebih banyak daripada yang dihadapi orang kota. Mungkin perempuan kota merasa sudah berdaya dan setara dengan pria. Tapi, di luar sana belum tentu. Kita harus sadar sesadar-sadarnya kalau Indonesia bukan cuma Jawa, apalagi Jakarta.

 

“You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation.” (Brigham Young)

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2013 in Random Thought

 

Tags: , , ,

Peralatan Safety di KRL Eks Jepang

Image

Senin, 9 Desember 2013 siang rasanya jantung saya mau copot. Saya denger kabar kalo ada KRL Commuter Line jurusan Serpong-Tanah Abang tabrakan dengan truk tangki bensin PT Pertamina di  pintu perlintasan KRL Pondok Betung, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Secara saya merupakan pengguna setia KRL Commuter Line dan selalu berada di Gerbong Perempuan, yang letaknya di rangkaian paling depan atau paling belakang.

Kalo “cuma” insiden kereta nabrak mobil di perlintasan sebidang sih udah “biasa”. Tapi ini truk tangki BBM. Begitu mendengar kabar itu, selama beberapa detik imajinasi saya bergerak liar. Gimana kalo kereta itu meledak? Ada bola api yang berasal dari ribuan liter bensin di tangki truk yang merembet di dalam gerbong, lalu terjadi ledakan besar yang ber-impact ke perkampungan sekitar. Persis adegan ledakan di film-film Hollywood itu.

Tapi, syukurlah —ini adalah kehebatan orang Indonesia, meski terjadi kecelakaan masih ada hal-hal yang patut disyukuri — tidak ada insiden gerbong mleduk. Truk tangki BBM memang terbakar habis. Gerbong bagian depan (kabin masinis) terbakar dan gerbong pun terguling keluar rel.

Sayangnya, ada korban jiwa. Sedikitnya 86 orang menjadi korban dalam kecelakaan maut. Tujuh di antaranya meninggal dunia karena luka bakar di atas 50% yang dideritanya, termasuk tiga serangkai masinis Darman Prasetyo, Asisten masinis Agus Suroto, dan teknisi Sofyan Hadi. Ketiganya bisa saja keluar dari kabin masinis untuk semburat berlari ke gerbong belakang. Tapi mereka justru memilih untuk tetap di posnya, berusaha menghentikan laju kereta dan mengabarkan akan adanya kecelakaan kepada para penumpang. Sungguh layak jika ketiganya dianggap sebagai Pahlawan.

Anyway, tulisan ini tidak untuk mereview Tragedi Bintaro II. Karena pasti sudah banyak yang mengabarkannya. Saya ingin sharing mengenai alat keselamatan dalam gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek. Banyak yang menyayangkan tidak tersedianya palu dan pemecah kaca dalam kereta tersebut (seperti yang ada di bus TransJakarta). Pada kenyataannya Kereta Rel Listrik (KRL) eks Jepang memang tidak mengenal sistem palu pemecah kaca sebagai alat keselamatan.

Pabrikan kereta menyediakan katup angin untuk membuka kunci agar pintu dapat dibuka secara darurat oleh tangan. Kalau kemarin penduduk sekitar menyelamatkan warga dengan cara memecahkan kaca dengan bantuan helm, itu sah-sah saja. Toh dalam keadaan darurat, semua bisa dilakukan.

Menurut info dari Divisi Humas Mabes Polri, katup angin ini tersebar di dalam gerbong, yakni di bawah bangku dekat pintu dan di antara sambungan antar gerbong. Untuk menandai katup angin ini, pabrikan kereta eks Jepang menandainya dengan border penutuh berwarna merah (lihat foto). Selain di dalam gerbong, di bagian luar kereta pun terdapat katup serupa. Namun, posisinya berbeda-beda tergantung tipe KRL. Satu hal yang pasti katup atau keran atau tuas selalu berwarna merah untuk memudahkan pencarian.

Bagaimana cara menggunakannya? Langkah pertama, cari posisi katup itu berada –secara lokasi katup berbeda-beda tergantung tipe KRL. Kalau sudah menemukannya, buka penutup lalu tarik katup atau tuas sepenuhnya, sampai terdengar suara angin yang terlepas (Psssss.. seperti balon kempes atau orang kentut –tentu aja gak pake bau). Kemudian, pintu pun bisa dibuka dengan mudah.

Ini prosedur safety. Jadi, meskipun Anda tahu cara membuka pintu secara manual, tidak serta merta Anda boleh membukanya di luar keadaan darurat. Jangan sampai karena iseng, Anda membuka katup angin saat kereta berjalan. Ini bener-bener bakal membahayakan penumpang yang ada di dalam kereta, apalagi pas kondisi kereta superpenuh dan penumpang kayak pepes dengan tubuh menempel sepenuhnya di pintu kereta. Bijaklah dalam melaksanakan prosedur safety  >> Sumpah, ini bukan pesan sok serius, tapi memang harus serius dalam menghadapi situasi darurat.

“For safety is not a gadget but a state of mind.”  (Eleanor Everet)

 
Leave a comment

Posted by on December 12, 2013 in Wheels on the Road

 

Tags: , , , ,

Image

Tschüss!

Tschüss!

I have learned that if you must leave a place that you have lived in and loved and where all your yesterdays are buried deep, leave it any way except a slow way. Leave it the fastest way you can. Never turn back and never believe that an hour you remember is a better hour because it is dead. Passes years seem safe ones, vanquished ones, while the future lives in a cloud, formidable from distance.

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2013 in Random Thought

 

Tags:

Image

Unstolen Day

Unstolen Day

Make a choice to embrace this day. Don’t let your today be stolen by the ghost of yesterday or the ‘to-do-list’ of tomorrow. It’s inspiring to see all the wonderfully amazing things can happen in a day.

 
Leave a comment

Posted by on December 3, 2013 in Random Thought

 

Tags: